Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2018

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 21

Walaupun pada kenyataannya Fauzi dan Alya dapat memacu sepeda mereka dengan kecepatan maksimum karena jalanan yang lengang. Bagi Alya, perjalanan itu terasa seperti selamanya. Suasana sepi yang bagi Fauzi adalah keuntungan mereka sama sekali tidak disambut bahagia oleh Alya.
Sama seperti saat ia menginap di rumah Dokter Kamil—Leon—rasanya semuanya begitu menyeramkan. Langit pucat tanpa bintang, dengan cahaya bulan yang hanya berani mengintip sedikit. Iringan nyanyian jangkrik sama sekali tidak membuat keadaan jadi lebih baik.
Keadaan jadi jauh lebih buruk saat mereka sampai di hutan. Alya mengutuk dalam hati. Kegelapan total dihadapannya bukan sesuatu yang ia harapkan.
"Ayo!" bisikkan penuh ambisi Fauzi disampingnya membuatnya meringis.
"Ayo," balasnya pelan, sambil berusaha menghilangkan keraguan dalam suaranya.
Fauzi mengayuh sepeda didepannya, sama sekali tak terlihat gentar untuk menerobos hutan itu. Baiklah, gumam Alya, aku juga.
Tapi seperti yang diduganya, …