Surat Cinta Cahaya Pagi (Bagian 07)

Kalah
Jumat, 18 Maret

"Menjauh. Tunggu. Fokuslah pada hal lain."

Sebagian dari diri Genji yakin maksudnya adalah ujian nasional yang kian dekat. Sebagian dari yang lain berusaha merasionalkan bahwa apapun maksudnya, bukanlah itu. Lagi pula, untuk sekarang, ujian nasional—seberapa pun menyeramkan kedengarannya—bukanlah masalah baginya. Bukan berarti dia merasa kelewat pintar hingga yakin bisa menyelesaikannya dengan mudah nanti, pokoknya hal itu tak perlu di khawatirkan. Genji praktis tak punya beban menyoal akademiknya dan dia tak bisa lebih bersyukur lagi.

Nah, kembali, kemana tujuannya setelah ini? Jelas bukan lapangan kosong samping parkiran Pak Haji Wahid. Walau ia tak yakin juga apa akan ada orang di sana. Sekolah? Dia ragu. Tempat itu hanya lima langkah sebrang jalan dari tempatnya berdiri, banyak orang yang ia kenal di sana. Dan mereka semua tak ada hubungannya dengan apa yang baru saja Rangga bicarakan dengannya. Seharusnya ia tak ragu lagi.

Beberapa orang melambaikan tangan padanya. Genji membalasnya sambil tersenyum, yang mungkin hanya terlihat sebagai mata yang menyipit karena mulutnya tertutup. Konyol benar, kenapa dia ragu?

Genji menyebrang. Lapangan di depan lorong ekskul di penuhi anak-anak basket dan anak-anak pramuka yang berseteru. Seolah sekolah ini kurang lapangan saja. Genji mengenali salah seorang teman kelasnya yang melemparkan tatapan sinis ke banyak arah sambil sesekali berteriak soal izin, kegiatan rutin dan lain sebagainya.

Eni tak seharusnya melakukan itu. Dia bahkan bukan anak pramuka ... lagi.

"Bang! Bang! Bantuin bang!" Seseorang memanggilnya. Genji berlari kecil mendekati mereka. Sebenarnya dia sudah menghindari anak basket sejak kejadian dengan Ikhsan, pertanyaan orang-orang membuat kepalanya pusing. Tapi kali ini, entahlah, melihat dua orang yang ia kenal bertengkar rasanya salah saja.

"Denger ya, dek, hari sabtu itu memang sudah jadwalnya Pramuka upacara di sini. Kalo kamu mau latihan ekstra, jangan ganggu jadwal orang" Eni dengan rambut pendek sebahunya, berkacak pinggang sambil agak mendongkak menghadapi adik kelas di depannya.

"Udah kak, kita ke lapangan bawah saja" seseorang berusaha menariknya dari situasi. Berbeda dengan Eni yang hanya mengenakan kaus hitam polos dengan lengan panjang dan rok pramuka. Anak itu memakai pakaian pramuka lengkap, termasuk denfan bet bantara di kedua pundaknya. Jelas lah dia anak pramuka yang memang sebenarnya bertanggung jawab dengan kegiatan itu.

Adik kelas di depan Eni tersenyum. "Tuh, kak, anak pramuka kan bisa di bawah. Di bawah gak ada ring, kak, jadi kita harus di sini"

"Persetan!" Eni menghempaskan lengannya "Kenapa kita yang harus ngalah? Kenapa gak kalian yang tau diri?"

"Ni, ada ap—" Eni mengangkat tangan yang mengepal. Seperti kepalan tinju tapi arahnya terbalik dan ia melakukan gerakan itu sambil menyeretnya sedikit. Genji terlalu sering melihat gadis itu di podium dirigen dan tau bahwa ia ingin tak ada suara dan refleks diam.

"Dan" Genji menepuk bahu adik kelas itu. Wildan, menoleh dan agak terkejut melihat siapa orang di belakangnya. "Anak-anak butuh istirahat"

Sesingkat itu, setelah Wildan mendesah kecewa, ia akhirnya mundur dan mengajak teman-temannya ke warung depan sekolah. Genji tidak tau lebih banyak selain desahan kecewanya tadi. Dia tak berani menatap anak itu, entah karena kata-katanya tempo hari, yang hari ini justru bernada kontradiktif, atau mungkin fakta bahwa Genji tidak membelanya.

Eni di depannya tersenyum penuh kemenangan. Lalu menonjok pelan dada Genji.

"Trims. Menyebalkan benar penerusmu itu"

Genji hanya tersenyum pahit, lalu mengikuti Eni yang berjalan ke pinggir lapangan dan membiarkan adik-adik kelasnya mengatur anak-anak kelas sepuluh untuk berbaris. Sora ada diantara mereka.

"Kalian ada masalah?"

Pertanyaan itu lagi "Tidak juga, aku memarahinya beberapa waktu lalu dan membuat keributan"

"Aah" gumam Eni "anak itu memang begitu"

Genji mengangkat sebelah alisnya "kau berbicara seolah kau mengenalnya"

"Tidak juga, tapi aku cukup sering adu mulut dengannya seperti tadi"

Raut wajah Genji pasti menunjukkan tanya, sebab Eni lalu menjelaskan.

"Kau kan tau, jadwal latihan mustra dan basket itu sama. Hari Rabu. Harusnya tak ada masalah karena kami jelas memakai ruang yang berbeda. Dia di lapangan, kami di ruang mustra" Eni mengambil jeda untuk meniup anak rambut yang menutupi matanya. "Hanya saja, berbeda saat masa pimpinanmu, mereka itu berisik"

"Berisik? Bagaimana?"

"Yah, anak laki-laki. Tidak setiap kali sebenarnya, sepertinya mereka hanya berteriak-teriak kalau tidak ada pelatih, atau tidak ada kau. Tapi cukup sering. Mungkin kedengarannya lucu karena mustra sendiri berisik, tapi kami kan memang begitu, kalau tidak ada suaranya apanya yang musik, ya tidak? Yang jadi masalah adalah kadang kami harus membuat video dan itu benar-benar mengganggu. Lalu pernah juga beberapa dari mereka membuat wajah jelek di jendela saat kami membuat video! Aku baru sadar saat videonya selesai. Benar-benar kacau"

"Oh" tiba-tiba Genji merasa tak enak "Maaf"

Walau ia tak merasa se-tak-enak-itu. Ruang musik kedap suara, teriakan manusia sekeras apapun dari luar harusnya tidak semengganggu itu. Juga soal wajah-wajah jelek itu, Genji tak yakin juga. Tapi ia sadar kalau Eni memang perfeksionis, apapun kalau urusan dengannya pasti repot walau akhirnya tidak mengecewakan juga.

Tetap saja, sikapnya itu membuat siapapun harus berhati-hati. Jangankan adik kelas, teman-teman seangkatannya saja segan dengannya. Mungkin karena tak ada yang menyangka, kalau gadis pendek berwajah kecil itu punya suara yang lantang yang membuat siapapun ciut. Belum lagi kenyataan dia sangat aktif di organisasi sekolah. Praktis membuatnya punya banyak teman dan menjadikannya salah satu siswa populer karena nama baik. Dia ketua mustra, sekretaris umum di pramuka, seksi bidang publikasi di osis, juga anggota taekwondo yang paling sering membawa medali emas. Semua titel sudah dia (dan semua anak kelas dua belas) lepas sejak awal tahun. Tapi Eni tetap saja sibuk mengawasi, mengabaikan teguran guru untuk fokus belajar. Tak jauh beda dengan yang dilakukan Genji dengan ekskul basketnya. Mungkin karena mereka sama-sama tak merasa harus khawatir dengan akademiknya.

"Tak apa, bukan salahmu kok" Eni berdiri dari duduknya "Kita harus pergi dari sini, upacaranya sudah hampir di mulai"

Dan mereka pergi. Genji mengikuti Eni yang berjalan menuju gerbang masuk, Eni mungkin akan menjegal beberapa orang yang terlambat datang. Dan Genji, dia mungkin akan pulang saja.

"Wah, wah, wah" suara puas Eni hanya menandakan satu hal, ada anak yang terlambat "Gak kapok kamu, dek"

"Santai dong, Ni" itu tidak terdengar seperti suara adik kelas "Princess ku nih"

"Peduli setan, Can. Kamu! Turun!"

"Sial!" desis Sora

Genji hanya bisa melihat semua kejadian itu dengan rasa tidak percaya. Kesal luar biasa, tapi juga bingung.

Sora baru saja turun dari motor Ikhsan, berjalan sambil menunduk sebal di ikuti Eni menuju tengah lapangan. Genji tau apa yang akan terjadi setelahnya, dia akan push-up lima kali sambil berteriak berjanji tak akan terlambat lagi.

Tapi senyum kemenangan Ikhsan lah yang membuatnya muak. Apa-apaan. Bagaimana? Satria menyusul beberapa saat kemudian dengan pipi biru menatap Genji dengan bersalah membuatnya lebih heran lagi. Apa yang baru saja terjadi?
first | prev | next

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Review) Steins;Gate

Fangirling

All is New