Surat Cinta Cahaya Pagi (Bagian 06)

Penunggu Lorong
Sabtu, 18 Maret

Tuk.

Ada kepuasaan aneh yang Satria rasakan setelah memelototi jam tangannya sejak tadi. Tiga puluh menit. Sudah tepat setengah jam sejak ia menunggu di sini.

Lorong ruang-ruang ekskul selalu terkenal dengan kemisteriusannya. Mungkin karena tempat ini jarang didatangi, kecuali pada sore hari ketika anak-anak mengambil peralatan yang mereka butuhkan. Selain itu, orang lebih memilih untuk melaksanakan kegiatan ekskul mereka di tempat lain.

Satu-satunya ruangan ekskul yang sering di pakai adalah ruang musik. Dipakai bergilir oleh anak-anak mustra, tari, padus dan teater. Kadang ada keributan kecil soal jadwal, dan karena kebetulan dulu semua ketua ekskul itu sekelas dengannya. Sering ada drama menarik terjadi di kelas.

Anak tari dan teater beralasan mereka butuh dinding cermin yang di pasang di sana. Anak padus beralasan ruangan kedap suara itu sempurna untuk menyanyi. Dan anak mustra selalu bilang kalau empat set angklung dan dua set gambang dan degung terlalu berat untuk dipindah-pindahkan.

Meski begitu, sebenarnya justru ruang musik lah yang membuat seluruh lorong ruang ekskul mengerikan. Anak padus bilang ruangan itu kedap suara. Tapi sudah berapa banyak orang yang mengaku mendengar denting degung ketika ruangan itu sedang kosong?

Anak mustra membuatnya semakin konyol dengan 'memuja' alat-alat musik mereka. Terutama degung itu. Mereka melarang semua orang melangkahi peralatan yang tingginya kurang dari setengah meter itu, berkata itu tidak sopan. Alasannya benda-benda itu lebih tua dari mereka. Dulu memang ada degung yang sudah tua sekali. Tapi yang di ruang musik kan baru. Lalu mereka bilang bukan fisik degung. Hih.

Tik-tok-tik-tok.

Satria memilih fokus pada detak jam tangannya. Dia tidak percaya pada hantu, tapi kau kan tidak tau kalau ada hantu yang tersinggung karena tidak dipercayai dan mulai menghantuimu. Kalimat itu terdengar kontradiktif, tapi Satria tak mau memedulikannya.

Ah, kenapa pula mereka menyuruhnya menunggu di sini. Memang sih dia sendiri yang meminta tempat yang sepi, karena Satria tidak mau malu berdiri tidak jelas dan dilihat adik-adik kelas seperti anak hilang. Tapi kenapa harus tempat ini.

"... Satria!"

Ah, akhirnya. Tiga puluh tiga menit, tumben sekali mereka sudah datang. Satria menoldh ke arah ruang musik, namun ternyata yang memanggilnya bukan orang yang ia tunggu.

Sora menghampirinya dalam seragam pramuka. Satria kembali mengecek jamnya, masih jam setengah delapan. Seingatnya ekskul pramuka baru di mulai jam sembilan.

"Oh, hai" balas Satria "Apa yang kau lakukan di sini?"

"Mau ke kelas, lewat sini kan lebih cepat"

Satria mengangguk, benar juga, dari sini kalau mau ke kelas X-1, dia tinggal naik undakan sekali.

"Karena kebetulan ketemu, aku mau bay—" gerakan tangan Sora yang mencoba meraih punggungnya terhenti. Wajahnya memucat dan mulutnya terbuka separuh.

"Kau tau? Kau harus hentikan itu" Ini kedua kalinya Satria melihat Sora dengan ekspresi seperti itu. Ia tidak punya masalah dengan itu sebenarnya tapi sekarang ini mereka sedang ada di lorong paling gelap di seluruh Banjarsari.

Sedetik kemudian Sora menepuk dahinya sambil mengumpat, yang langsung diikuti dengan pekikan kesakitan.

"Itu juga" Satria memperhatikan, benjol di kepala gadis itu semakin merah saja. Meski jujur saja, Satria mungkin juga akan lupa soal nyeri di dahi kalau dia ada di posisi Sora.

"Aku bodoh sekali" kata Sora sambil menatap bungkus roti yang sejak tadi di genggamnya.

"Karena memukul dahi yang benjol, atau karena lupa bawa tas?"

"Keduanya" ucapnya sambil menghela nafas berat. "Sekarang jam berapa?"

"Jam setengah delapan" balas Satria "masih sempat untuk pulang lagi, kalau kau tanya aku"

Sora bergumam sambil melirik lantai, sepertinya mempertimbangkan apa dia benar-benar harus pulang. Setelah beberapa saat dia mendesah pelan, lalu melihat tangan kanannya yang memegang roti dengan kesal.

"Aku tadinya mau bayar hutang"

"Hutang?" dahi Satria berkerut "Ikhsan tidak bilang apa-apa padamu?"

Tak disangkanya, Sora memutar bola mata. Satria tidak yakin apa maksudnya, ditambah gadis itu juga tidak membalasnya.

"Aku tak punya uang sekarang, tapi aku punya roti" katanya sambil menyerahkan sebungkus roti itu ke tangan Satria.

"Aku tidak butuh roti"

"Aku juga" jawab Sora enteng "sekarang urusan kita sudah selesai"

Butuh beberapa detik bagi Satria untuk mengerti maksud kata-kata itu, dan raut wajahnya langsung menampakkan rasa kecewa. Satria memang tidak berharap banyak sebenarnya, tapi tetap saja, kalau ia memikirkan posisi gadis itu sebagai adik yang tersudut oleh popularitas kakaknya, sepertinya mungkin sekali dia mau membantu Satria mencari aib kakaknya.

Sora berbalik dan pergi menjauh, punggungnya agak membungkuk dan di lorong yang sepi itu, Satria bisa mendengar ia kesusahan bernafas.

Satria sendirian lagi di sana, dan ia benar-benar mulai memikirkan betapa bodohnya dirinya. Bukan karena membiarkan Sora pergi hingga ia jadi sendirian, lebih kepada kenapa juga dia mau-mau nya datang ke sekolah di hari Sabtu untuk menunggu sendirian.

Untungnya sekarang lamunannya tak perlu berujung pada cerita-cerita seram Ruang Mustra. Satria sengaja makan roti dengan mulut terbuka, supaya suara kunyahannya membuatnya tetap memikirkan penyesalan alih-alih ketakutan.

Selain itu matahari sudah mulai naik, dan suasana lorong ekskul sudah tidak semenyeramkan tadi. Jadi Satria tidak terlalu kaget ketika Zalia tiba-tiba muncul di ujung lorong dengan suara yang tak terlalu enak di dengar.

"Sat ..." sambil berjalan terseok-seok gadis itu memanggilnya. Ia mengatur nafasnya dengan susah payah.

Satria mengernyitkandahi, heran. Ia tau Zalia memang terlambat, tapi entah kenapa ide kalau gadis itu berlari kemari karena alasan itu terdengar ganjil.

"Kau bawa motor kan?"

"Kenapa?" pertanyaan Zalia begitu mencurigakan, jenis pertanyaan yang tidak memberimu kesempatan untuk bilang tidak. "Kita pindah lokasi?"

"Tidak" gadis itu menarik nafas dengan berat. Pada titik ini, Satria mulai merasa kalau Zalia berlebihan, jarak dari gerbang ke tempat ini tidak sejauh itu. "Tapi, aku butuh bantuanmu"

"Ada apa?"

"Temanku, dia harus pulang ke rumahnya sekarang" Zalia nampak berpikir sebentar "Ia tak punya uang untuk naik angkot, jadi—"

"Kalau aku mengantarnya, bagaimana dengan janji kita?"

Zalia memutar bola matanya "Nurul dan Yusuf baru akan selesai sekitar dua jam lagi" katanya "Dan aku tak ada minat berdua-duaan denganmu"

"Touché" respon Satria singkat saja, ia tak mau berdebat dengan Zalia. Kasihan gadis itu, bicaranya selalu saja jadi cepat dan bernada tinggi kalau bicara dengan anak laki-laki. Dia baru menyenangkan di ajak bicara kalau ada anak perempuan yang lain. Mungkin karena gugup, entahlah. "Siapa temanmu tadi?"

"Eh, tepatnya adik kelas sih"

"Perempuan?"

"Pikiranmu itu" Zalia menggeleng-gelengkan kepalanya "Tapi iya. Pokoknya ayo" Zalia memutar badan dan berjalan dengan cepat.

Satria tak punya pilihan lain selain mengekor. Walau mungkin kelihatannya tidak begitu. Zalia berjalan agak terlalu cepat dan mereka terlihat seperti dua orang yang sama sekali tidak saling kenal.

Saat melihat Zalia berhenti dan menyapa seseorang. Satria agak terkejut. Si gadis yang disapanya menoleh dan menampakan ekspresi yang kurang lebih sama.


"Hai" Satria menyapa "rupanya urusan kita belum selesai" ia tersenyum.
first | prev | next

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Review) Steins;Gate

Fangirling

All is New