Surat Cinta Cahaya Pagi (Bagian 01)


Rangkuman-yang-agak-Melankolis
Kamis, 16 Maret

Teruntuk,
Langit Sore

Hari ini, seperti biasanya, aku melihatmu datang terlambat ke sekolah.
Tetap tersenyum tanpa dosa, menebarkan semangat pada anak-anak lain yang juga terlambat.
Tapi sama pula seperti biasanya, aku melihatmu berangkat dari rumah terlalu pagi.
Mampir ke sebuah gang kecil yang kecil kotor di sisi jalan. Diam di sana beberapa lama, menemani kucing-kucing kelaparan.

Hari ini, seperti biasanya, aku melihatmu tertawa terbahak bersama teman-teman yang lain.
Menjadi badut penghibur semua orang. Memecah hening, menciptakan keriangan.
Tapi sama pula seperti biasanya, aku melihatmu menatap kosong sendirian ke luar jendela.
Seolah ada hal besar yang mengganggumu. Ada hal penting yang kau sembunyikan di balik senyum seterang matahari itu.

Hari ini, seperti biasanya, aku melihatmu latihan.
Penuh semangat mengejar bola, mengoper sana-sini, menjadi bintang lapangan.
Tapi seperi biasanya pula, aku mendapatimu duduk diam di birai balkon.
Kehilangan obsesi apapun yang kau miliki saat kau ada di lapangan.

Hari ini seperti biasanya, aku masih menatapmu dari jauh.
Menganggumimu dalam diam, tanpa ada niat sedikitpun untuk mengungkapkan kata suka di depan wajahmu.
Tapi berbeda dari biasanya, kali ini aku akan membiarkanmu tahu.
Bahwa kau tidak pernah sendirian. Bahwa di luar sana ada yang mencintaimu, bahwa aku peduli padamu.

Salam,
Cahaya Pagi

Riuh tepuk tangan memenuhi ruang kelas XII-3 SMA Banjarsari, tapi Genji tidak peduli. Ia lebih kecewa ketika melihat teman-temannya cepat-cepat menarik tas ke pundak, lalu menyapa satu sama lain untuk pulang. Saat itu pukul 3.45, bel pulang sudah menjerit sejak tadi. Bahkan Bu Dewi, guru pelajaran Bahasa Indonesia yang mengisi jam pelajaran terakhir sudah keluar. Jadi wajar orang-orang benar-benar sudah tidak sabar untuk menyingkirkan pantatnya dari kursi kelas.

Di sampingnya, seorang gadis menghela nafas berat setelah membaca apa yang Genji sebut sebagai 'rangkuman yang agak melankolis' dari surat cinta yang ia dapatkan baru-baru ini.

Nama gadis berkerudung itu adalah Zalia. Sepuluh menit lalu, ia tampil sebagai siswa terakhir dalam tes praktik membaca puisi di depan kelas. Kemudian, tiba-tiba saja, tepat setelah Bu Dewi keluar kelas. Genji menyuruh semua orang untuk tetap diam di tempat, dan memaksa Zalia untuk membaca rangkuman-melankolis buatannya.

"Puas?" dengan kasar Zalia menyodorkan kertas yang dibacanya tadi pada Genji. Laki-laki tinggi itu menerimanya dengan kikuk dan bingung. Zalia tidak menunggu jawaban, ia langsung menyambar tasnya yang ada di bangku paling depan dan pergi ke luar kelas. Tak perlu diberi tahu pun, semua orang pasti tahu kalau gadis itu kesal.

Genji terpaku di tempatnya, menatap kertas itu sambil menggaruk kepala. Rencananya tidak sesuai harapannya, dan sekarang ia tak tau harus berbuat apa. Sementara kebingungan melingkupinya, ia mendengar seseorang berdecak di sampingnya.

"Tadi itu, apa?" Satria tak pernah basa-basi. Mungkin itu yang membuatnya hanya punya sedikit teman, tapi meski begitu, Genji tau orang yang satu ini adalah pemerhati yang baik.

"Bukan apa-apa, kau dapat sesuatu?"

Satria mengangkat sebelah alisnya, "yah, tidak banyak kalau kau tanya aku" pelan-pelan ia melepas kacamatanya, menggosoknya dengan ujung kemeja seragam pramuka. "Hampir semua orang terpukau, Zalia jelas pembaca puisi yang bagus. Tapi di saat yang sama semua orang juga bingung, tadi itu bukan puisi kan?" ia melirik kertas usang yang di genggam Genji.

"Bukan, memang" Genji cepat-cepat mengantonginya. "Kau yakin tidak ada yang bereaksi berbeda, atau tidak wajar misalnya?"

"Tidak, aku yakin. Oh kecuali geng Frau yang hari ini kompak tidak masuk sekolah. Juga beberapa panitia Pensi yang langsung keluar begitu mereka selesai tes"

"Benar," Genji terdiam, ia sudah mengambil langkah ekstrim saat ini, dan kecewa tidak mendapatkan apa-apa.

"Oh, Zalia!" seru Satria tiba-tiba "Ia kesal"

"Ya, jelas" Genji beranjak dari tempatnya berdiri. Ruangan kelas kini benar-benar kosong dan hanya tinggal dia dan Satria berdua di sana. Sebentar lagi, Mang Ucup akan datang dan mengusir mereka. Sambil berjalan ke arah meja tempat duduknya, Genji melanjutkan kalimatnya. "Sama seperti pelukis yang benci tiba-tiba diminta melukis, atau penyanyi yang benci tiba-tiba diminta menyanyi, atau yah semacam itu. Jali jelas tidak senang"

"Maksudku, reaksinya, dia berbeda. Dia kesal"

"Iya, aku tau" Genji memakai tasnya dengan susah payah "Dah, Sat"

***

Ketika Genji sampai di rumah. Semua anggota keluarganya sudah tidur, atau setidaknya adiknya sudah. Kedua orang tuanya belum akan pulang sampai tengah malam nanti. Ia langsung bergegas ke kamarnya. Adiknya benci kalau ada suara berisik di dapur sementara ia sedang tidur. Lagi pula, Genji sudah makan malam tadi, di warung depan sekolah setelah menonton adik-adik kelasnya berlatih basket.

Kamarnya rapi. Buku-buku yang seingatnya ia tinggalkan berserakan di atas meja belajar tadi pagi kini di tumpuk di kolong meja. Selimut yang tadi pagi ia lipat seadanya kini terlipat rapi di ujung tempat tidur. Baju kotornya pasti sudah di bawa ke bak cucian.

Genji kadang heran sendiri kenapa adiknya mau-maunya merapikan kamar tidurnya sementara setiap hari selalu memasang muka masam di hadapannya. Tapi itu tidak penting sekarang.

Setelah menghempaskan tubuhnya ke ranjang, Genji mengurut kening.

Permainan mereka tadi memang benar-benar buruk.


Ia mengoceh pada diri sendiri, mencoba meyakinkan diri bahwa bukan salahnya marah-marah pada mereka di lapangan tadi. Bukan salahnya menjerit betapa selama ini ia muak pada mereka semua sore tadi. Bukan salahnya lepas kendali dan ...

Ia merasakan ponsel pintar di sakunya bergetar. Ada pesan masuk. Sejak tadi sore ada banyak pesan masuk, Genji mengabaikan semuanya. Dia diam-diam takut akan ada berita apa menyangkut ia yang hilang kendali tadi.

Eh, tunggu? Bergetar? Bukan bunyi notifikasi BBM atau Line, ya? Semua orang yang tau nomor ponselnya hanya masa lalu. Kecuali tentu keluarganya, yang saat ini jelas sedang tidak ada urusan dengannya.

Genji merogoh saku, kertas usang yang tadi ia minta Zalia baca di depan kelas ikut keluar ketika ia menarik ponselnya. Ia meremasnya dan melemparkannya ke tempat sampah.

Genji mengerutkan kening ketika menyadari bahwa yang mengiriminya pesan singkat itu adalah Satria. Kau baik? Ia bisa melihat pesan yang di kirim Satria dari bilah notifikasi. Genji tidak tau kalau Satria suka mendengar gosip.

Ponselnya bergetar lagi.

Kau terusik, ya? Oleh 'puisi' itu?

Genji melempar ponselnya ke samping. Benda itu jatuh ke selimut.

Sok tahu. Pikir Genji. Satria selalu begitu, makanya dia hanya punya sedikit teman. Padahal ini udah semester terakhir mereka di SMA. Mengusik? Tahu apa memangnya dia?

Tiba-tiba ide itu lewat di kepalanya. Jangan-jangan Satria memang tau? Jangan-jangan justru ialah yang mengirim surat yang seolah mendaftar semua kebiasaan anehnya? Apakah dia berusaha mengacamnya?

Genji berdiri dari baringnya, dia berjalan ke arah meja belajarnya dan menarik laci. Di dalamnya, ada amplop berwarna merah muda yang lembut dengan hiasan barisan buah apel di sisi-sisinya. Bayangan bahwa Satria yang mengirimnya untuk main-main dengannya langsung hancur. Terlepas dari stereotip, tidak mungkin seorang Satria mengiriminya surat ancaman dengan cara seperti ini.

Sudah hampir sebulan yang lalu Genji menemukan surat ini. Ada di kolong bangkunya saat ia sedang membereskan meja dan bersiap pulang. Saat menemukannya, ia langsung tau itu adalah surat cinta, tapi tidak sesenang itu. Dia sudah sering menerima hal-hal seperti itu, dan sudah terlalu bosan untuk terkejut. Jadi dia hanya memasukkannya ke dalam tas dan pulang.

Surat itu mendekam lama sekali di meja belajarnya. Tidak tersentuh dan terabaikan. Lalu kebetulan saja kemarin ia tiba-tiba merasa bosan dan membukanya.

Dan untuk pertama kalinya, ia membaca sebuah surat cinta dengan dahi berkerut.

"Bismillahirahmannirahim,
Assalamu'alaikum Genji,"

Harus ia akui bahwa surat itu mempunyai pembuka yang tidak biasa. Tapi selain itu, juga banyak hal yang tak bisa dimengerti.

"Kau sepertinya melupakan pertemuan pertama kita dulu, tapi setelah mengetahui alasannya aku semakin kagum."

Kenapa? Bagaimana pengabaian bisa membuat orang lain kagum?

"Aku sungguh tidak mengharapkan balasan darimu, aku hanya ingin kau tau. Lagi pula, di terima atau di tolak, keduanya sama-sama terlalu menyakitkan untuk di dengar."

Hah?

Tapi yang paling menganggunya, adalah bagaimana surat itu menyebutkan semua kebiasaan anehnya. Kendati si pengirim mengaku bahwa ia hanya kebetulan tahu dan bukan penguntit, tetap saja ini mengganggunya.

Dan baris terakhirnya.

"Aku bukanlah siapa-siapa. Selain pengecut yang bahkan tak berani mengatakan hal ini langsung padamu. Karenanya, jangan sampai suratku ini menganggumu
Salam,
Cahaya Pagi"

imgsrc | next
Kau tak bisa menguntit seseorang dan bilang agar orang itu tak perlu merasa terganggu. Dan apa-apaan itu, Cahaya Pagi? Genji kira surat cinta harusnya berupa pengakuan cinta, dan karena itu identitas pengirim seharusnya jelas. Surat cinta macam apa yang tak ada nama pengirimnya? Lalu apa intinya ia mengirimkan surat cinta? Supaya Genji merasa lebih baik? Ia tidak merasa lebih baik saat ini.

Untuk pertama kalinya dalam pengalaman Genji membaca surat cinta, ia merasa marah.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penempuhan Badge Ambalan SMAN1C 2014-2015 (Hari Pertama)

Penempuhan Badge Ambalan SMAN1C 2014-2015 (Hari Kedua)

(Review) Steins;Gate