Surat Cinta Cahaya Pagi (Bagian 04)

Kakak - Adik
Jumat, 17 Maret 2017

Canggung.

Sora sudah terbiasa menghabiskan sorenya sendirian di rumah. Khususnya dua tahun ini. Dan bukannya ia mengeluh, memang siapa sih yang tak suka menguasai rumah? Baginya saat-saat sore di rumah adalah surga. Dia bisa melakukan apapun, secara harfiah. Memainkan musik keras-keras, ikut bernyanyi dengan bebas, bahkan aturan berpakaian juga di hapus.

Tapi hari ini sepertinya memang spesial sekali. Setelah pagi tadi sibuk urusannya dengan Pak Soleh, lalu kakak-kakak kelas yang super kepo, ia juga dibuat merinding dengan kelakuan Genji. Seolah menemukan dia sudah pulang sebelum maghrib itu tidak kurang aneh.

Yah, Sora harus merelakan sorenya yang damai, karena ia juga tak mau mempertanyakan kelakuan kakaknya. Toh percuma, Genji tak akan jujur. Seperti yang selalu dilakukannya setiap Sora bertanya alasan hal-hal tidak biasa yang dilakukannya. Jadi rencananya adalah mengurung diri di kamar sampai pagi.

Rencana yang sayangnya harus gagal.

Ayahnya tiba-tiba pulang jauh lebih cepat dari biasanya. Itu benar-benar kejutan, yang rasanya lebih mengagetkan dari dua pukulan yang ia terima hari ini (satu, ketika Sora mengira ia akan bisa mengejar Pak Soleh menggapai pintu kelas, tapi beliau sampai lebih dulu dan membanting pintu di belakangnya dan mengenai Sora. Kedua, kau tau). Sekali lagi bukannya Sora protes, ia hanya lebih suka kalau ayahnya mengabarinya lebih dulu.

Sekarang mereka bertiga duduk mengelilingi meja makan. Makan sambil mengobrol. Ayah dan Genji menguasai percakapan, membicarakan banyak hal, walau umumnya soal rencana Genji setelah lulus nanti.

Sora bisa saja pergi sekarang, ke kamarnya. Lagi pula dia tidak banyak dibutuhkan saat ini, tapi kalau dia pergi ayahnya pasti bertanya tentang apa salah. Padahal tidak ada yang salah.

"Ngomong-ngomong, Sora kan punya gebetan sekarang, Yah" kata-kata Genji membuatnya tersedak. Sora cepat-cepat mengambil air. Dasar kakak tidak tau terima kasih. Sora sudah berbaik hati menutup mulut supaya Genji tidak malu, sekarang dia berusaha membuat Sora diceramahi.

Ayahnya mengangkat alis, "Jangan pacaran dulu, masih kecil"

"Tidak, kok"

"Loh, tadi sore bukannya kau pulang bersama Ikhsan? Kemudian pergi entah kemana,"

Sora bisa merasakan tenguknya meremang. Ia tidak berani menoleh, tapi yakin ayahnya sedang menatapnya sekarang. Inilah yang terjadi kalau kau jadi satu-satunya perempuan di rumah.

"Tidak, siapa bilang?" Sora menyipitkan matanya, kakaknya tidak menatapnya langsung saat bicara begitu. "Aku kan les hari ini makanya tidak langsung pulang" dan harusnya Genji tau hal ini, bukannya menuduhnya macam-macam.

"Oh" kata Genji, dan masih tidak melihatnya.

Sora memutar bola matanya. Benar-benar.

***

Besoknya, hari Sabtu. Hari yang menyebalkan. Matahari bersinar terik sekali, membuat Sora semakin malas. Sora menghela nafas, tiga bulan lagi. Tiga bulan lagi dia akan terbebas dari kewajiban harus datang ke sekolah tiap hari Sabtu untuk ekstrakurikuler Pramuka yang wajib di sekolahnya bagi anak-anak tahun pertama. Sebenarnya, Sora bisa saja membolos tapi mengingat apa yang pernah terjadi ketika ia mencobanya, ia memilih untuk tetap pergi.

Untungnya, ia tidak harus pergi pagi-pagi sekali. Walau sama saja sebenarnya, sebab ini hari Sabtu, yang artinya tidak akan ada angkot yang ke arah sekolahnya setelah pukul delapan nanti. Sekarang masih pukul tujuh, ia akan pergi setengah jam lagi.

Tadinya sih begitu, sebelum Genji tiba-tiba saja menghampirinya yang sedang sarapan di ruang tamu. Ia masih mengenakan pakaian yang ia pakai kemarin malam, artinya dia belum mandi.

"Sora, memangnya hari ini kau sekolah?"

Sora hanya bergumam mengiyakan, tumben dia bertanya.

"Kapan kau berangkat? Aku akan mengantarmu"

Pertama, Sora mengerutkan dahi, benar-benar tidak biasa. Tapi ini kesempatan bagus, kalau dia di antar kakaknya, ia bisa menghemat uang jajannya dan selain itu ia juga bisa berangkat lebih siang.

Sora melihat ke arah jam dinding, kemudian berkata "Satu setengah jam lagi"

"Baik—" ucapan Genji berhenti karena bunyi notifikasi Line dari sakunya, dia langsung memeriksanya dan sepertinya terkejut dengan pesan yang baru di terimanya itu. "Kita berangkat sekarang!"

"Tidak mau, ini masih pagi. Lagipula kau belum mandi"

"Tidak apa-apa, ayo" nah dia tidak apa-apa. Bagaimana dengan Sora? Di sekolah pasti belum ada siapa-siapa, bahkan kakak kelasnya juga belum tentu akan datang. Apa yang akan dilakukannya? "Ayo!"

Sora mendengus, kalau begini kan tidak ada bedanya dengan naik angkot (kecuali mungkin uang sakunya tetap utuh). Tapi dia tetap mengangkat pantatnya dari sofa dan melangkah keluar, sementara Genji berlari ke dapur untuk membasuh wajah.

"Jangan menatapku seperti itu, kau marah gara-gara kemarin?" Genji keluar dari rumah mengenakan jaket tebal, masker dan topi. Meh, kalau dia tidak mau wajah jeleknya terlihat karena dia belum mandi, harusnya dia mandi dulu saja, bukannya berpenampilan ala ninja begitu.

Sora tidak bilang apa-apa. Kalau urusannya dengan Genji ia sudah terlalu sering marah akan banyak hal, jadi sebenarnya mungkin ekspresinya sekarang ini sudah jadi standar kalau berhadapan dengan Genji.

"Ini, sebagai permintaan maaf" dari kantung jaketnya ia  mengeluarkan sebungkus roti.

Sora melihat keterangan di bungkus roti itu, dan ia kehabisan kata-kata.

"Tidak perlu kaget, ayo berangkat"

Roti susu Tjimore. Roti mahal. Genji mewajarkan saja ekspresi kaget Sora, dan membiarkan dirinya merasa sombong telah melakukan hal baik. Sementara Sora sendiri merutuki Genji dalam hati. Kemudian mencoba menenangkan diri dengan berkali-kali mengingat bahwa Genji memang seperti itu, terlalu memikirkan dirinya sendiri dan tak peduli orang lain. Seperti ketika ia lupa bahwa dia ada les di hari Jumat dan menuduhnya macam-macam, seperti pagi ini dia baru tau kalau tiap hari Sabtu Sora pergi ke sekolah.

Tiga bulan lagi, Sora bukan hanya terbebas dari keharusan sekolah hari Sabtu. Tiga bulan lagi Genji lulus, dia akan kuliah, dan artinya Sora juga akan terbebas darinya.

***

Mereka berhenti di depan gerbang sekolah, dan dugaan Sora rupanya salah. Lumayan ada banyak orang di sana. Meski kebanyakan bukan anak kelas sepuluh. Sama sekali tak ada yang Sora kenal dan ini berita buruk baginya.

"Kakak!" tapi bukan bagi Genji. Sora yakin Genji juga tidak kenal sebagian anak-anak kelas sebelas yang mungkin datang untuk kerja kelompok atau ekskul ini, tapi itu bukan masalah baginya, karena siapa sih yang tidak kenal Genji.

"Halo"

Ceria sekali jawabannya, pikir Sora, memang dia kenal? Sora memilih untuk turun dari motor supaya dia bisa lebih cepat pergi

"Ini adiknya ya?" orang itu bertanya lagi.

"Iya" Sora tidak bisa melihat bagaimana ekspresi Genji, jadi ia tidak mengerti kenapa mata orang di depan mereka seperti kemasukan lalat begitu. "Tolong jagain ya"

Basa-basi.

Tak lama Genji pergi. Bukan berbalik ke arah rumahnya tapi lurus meneruskan perjalanan. Entah ia akan kemana. Ini adalah saat paling krusial di mana semua orang merasa tidak perlu lagi bersikap so imut di depan Genji, dan merasa kalau mereka punya kesempatan mengorek informasi dari Sora.


Jadi sebelum orang yang menyapa Genji tadi menyelesaikan kalimat "Hei, kau benar adiknya Genji?" Sora langsung pergi ke kelasnya. Siapa tau ia bisa bertemu orang yang betulan mengenalnya, bukannya yang sok kenal.
first | prev | next

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penempuhan Badge Ambalan SMAN1C 2014-2015 (Hari Pertama)

Penempuhan Badge Ambalan SMAN1C 2014-2015 (Hari Kedua)

Pencuri di Asrama - 1