Kuwalaya (Bagian 13)

Kalau aku bisa, aku ingin tertawa keras-keras sekarang ini.
Kemarin, Indra mengutukku, berkata bahwa aku mengirimkan anak-anak ini pada kematian. Kemarin, Ruci ragu padaku, berkata bahwa aku membawa Yodha yang salah, yang bahkan tak mungkin bertahan.
Sekarang lihat apa yang mereka lakukan. Mengantar Felisa ke sarang Ratu Peri, menjemput Bara katanya. Bah!
Aku sadar bahwa saat ini merasa geli bukanlah reaksi yang tepat untuk menanggapi tindakkan mereka. Justru aku harusnya khawatir, sebab kata-kata Ruci bahwa Yodha akan mati sebelum mencapai Kuwalaya seolah menjadi kenyataan. Dan sebenarnya aku memang khawatir, kalau Kuwalaya tidak terambil maka kacau sudah rencana Acarya Dharma, hancur sudah usaha Apsara untuk bangkit.
Dan yang lebih menyebalkan, aku bahkan tak bisa lakukan apa pun untuk menghentikkan mereka. Muncul begitu saja dan menyuruh mereka berhenti? Itu tak akan cukup, dan aku lebih dari tahu sekeras kepala apa Felisa itu.
Lihat saja Ruci, sejak tadi ia beberapa kali tiba-tiba berhenti melangkah, berbalik dan menanyai Felisa jika dia sungguh ingin menjemput Bara.
"Ini bisa jadi sia-sia saja kan?"
"Aku tidak peduli"
"Hei, jangan egois begitu. Indra punya karir gemilang di Istana, kalau dia mati sekarang ..."
"Aku tidak peduli, maaf Indra, tapi kalau Bara mati bukankah kau juga mati?"
Indra sama sekali tak mau terlibat dalam percakapan itu. Dia benar-benar hanya diam saja mengekor Ruci dan Felisa di depannya.
"Bara tidak mati, percayalah padaku"
"Kau tau betapa anehnya kata-kata itu?"
"Lihat siapa yang berbicara"
Ruci bahkan sengaja tidak menggunakan marga untuk sampai ke sana. Aku tau kalau Ruci ketakutan, tapi mengulur-ngulur waktu sambil berharap Felisa ingin membatalkan niatnya sama sekali tidak efektif. Lebih baik dia berhenti sekalian kan? Toh Felisa tak tau jalan ke sarang peri. Ruci memang bodoh.
'Aku bisa mendengarmu, tahu!'
Ups.
Tapi dia tetap berjalan pelan-pelan, tetap ragu mengantar Felisa. Seolah kata-kataku yang membuatnya marah tidak memberinya pencerahan sama sekali. Seakan saranku untuk berhenti, praktis tidak bisa dilakukan. Ada sesuatu yang Ruci sembunyikan dariku.
Lama mereka berjalan, mereka akhirnya sampai. Atau setidaknya begitu menurutku, karena kali ini berhentinya Ruci tidak diikuti dengan kalimat bujukkan untuk menyerah. Dia menghela nafas dan memandang Felisa dengan serius,
"Dengar," kata Ruci, "satu-satunya alasanku mau mengantar kalian kemari adalah karena aku merasa bersalah. Tapi, setelah ini, jika terjadi sesuatu, itu di luar tanggung jawabku. Sepakat?"
"Tidak" Felisa menjawab terang-terangan "kalau sejak awal kau menjaga Bara dengan baik, kita tidak perlu kemari. Kau tidak bisa lepas tangan begitu saja"
"Yah, kalau sejak awal kalian tidak ke Hutan Utara, ini tak akan terjadi" Ruci tak mau kalah.
"Kalau sejak awal kalian tidak hidup tak akan ada yang terjadi" ucapan Indra membungkam Felisa dan Ruci "sekarang berhenti berdebat, dan bawa kita masuk"
"Baiklah. Tapi pertama, aku mau jujur" Ruci menghela nafas "Tidak ada banyak cara untuj masuk sarang peri. Sebenarnya, satu-satunya cara adalah jika ada peri yang membawamu masuk, dan biasanya kau tak akan bisa keluar setelah itu"
"Jadi?" pernyataan itu terang membuat Felisa bingung, kalau tak ada cara untuk masuk bagaimana mereka akan masuk? Apakah Ruci kebetulan punya teman peri yang baik hati yang akan membiarkan mereka masuk? Kalau tidak, kenapa dia bahkan repot-repot membawa mereka ke sini?
"Jadi, aku akan lakukan ini" Ruci menghentakkan kakinya beberapa kali. Tanah di sekitar mereka bergetar, dan melihat sekelilingnya, Felisa tau mereka melayang.
Sebuah tornado kecil mengangkat tanah tempat mereka berpijak ke atas, semakin tinggi melampaui pohon-pohon. Dari ketinggian itu, Felisa bisa melihat bahwa beberapa meter ke depan ada sebuah danau yang cukup luas.
Tak banyak tumbuhan di sekitar danau itu, kecuali perdu-perdu kecoklatan yang terlihat menyedihkan. Permukaan airnya memancarkan pendar kebiruan, dan ada semacam kabut yang yang mengelilinginya.
Danau itu terlihat menyeramkan, namun anehnya di saat yang sama mengundang siapa saja untuk berendam.
Ruci tidak hanya mengangkat mereka. Ia jugamengangkat beberapa batu berukuran sedang, dan melemparkannya ke dalam danau.
"Hei, peri-peri jelek!" ia berteriak dengan suara melengkingnya yang jelek "aku punya manusia yang lezat!"
Pernyataan terakhir itu sukses membuat Felisa dan Indra membulatkan mata mereka. Belum lagi ketika beberapa sosok tiba-tiba melesat terbang keluar dari dalam danau.
Makhluk-makhluk itu tinggi, berkulit putih pucat dengan wajah wanita yang sebetulnya cantik. Tapi melihat mereka menyeringai lapar sambil mengulurkan tangan mereka yang kurus dan berkuku tajam membuat Felisa semakin panik.
Tapi Felisa tak punya banyak waktu untuk panik, ia hanya sempat melirik kebawah untuk memastikan bahwa melompat dan kabur adalah ide yang sama buruknya dengan diam. Indra juga tidak bisa berbuat banyak, ia membuang waktunya untuk memaki Ruci atas perbuatan gilanya, dan tak sempat menghunus pedangnya.
Peri-peri itu terbang terlalu cepat, tahu-tahu saja dua lengan kurus itu sudah mencengkram bahu Indra dan Felisa, menarik mereka terbang semakin tinggi. Felisa menjerit, bukan hanya karena takut tapi juga rasa nyeri di bahunya. Ia bisa merasakan kuku-kuku peri itu menancap di kulitnya.
Dan seolah keadaan belum cukup buruk, ia di jatuhkan. Untung  saja ketinggian ia jatuh tidak cukup tinggi untuk mengubah air menjadi sekeras baja dan menghancurkan tubuhnya berkeping-keping.
Tapi setelah itu, Felisa butuh lebih banyak dari sekedar keberuntungan. Baik Felisa maupun Indra sama-sama berusaha untuk keluar begitu sampai di dalam air, tapi peri-peri itu dengan kecepatan mereka yang mengerikan sudah menunggu untuk menarik mereka kaki mereka.
Felisa meronta, berusaha keras untuk lepas. Tapi itu sia-sia saja, malah membuat ia semakin lemas. Peri itu menariknya semakin dalam ke dasar danau lalu memeluk Felisa dari belakang.
Kelelahan dan kehabisan nafas, kesadarannya mulai menghilang. Samar-samar ia bisa melihat Indra yang juga sedang di peluk oleh peri lain. Peri itu menundukkan kepalanya ke atas kepala Indra, menghisap apapun itu asap putih yang keluar dari kepala laki-laki itu. Bersamaan dengan itu, Felisa juga merasakan sensasi panas di atas kepalanya.
Tapi ia sudah tak bisa berontak lagi. Hal terakhir yang ia ingat sebelum kegelapan melahap pandangannya adalah cahaya menyilaukan yang tiba-tiba menghampirinya.
***
Kau mungkin bertanya-tanya, bagaimana aku bisa menjelaskan apa yang terjadi saat itu. Dan mungkin kau juga sudah dapat jawabannya. Benar, aku memang di dalam air, menyaksikan semua itu terjadi. Benar, aku hanya menyaksikannya, aku tidak membantu Felisa yang hampir menjemput kematian.
Kenapa? Kau bertanya. Karena ia tak butuh bantuanku. Felisa tak pernah butuh bantuanku, tidak dulu, tidak sekarang. Ia memang punya stok keberuntungan yang tak terhingga, tapi seperti kataku butuh lebih dari sekedar keberuntungan untuk menolongnya. Dan yang menyelematkannya kali ini memang bukan keberuntungan. Aku akan menjelaskannya kapan-kapan, tapi yang jelas saat ini Felisa baik-baik saja.
Cahaya menyilaukan yang tadi sempat dilihatnya tak lain adalah Sang Ratu Peri. Melihat penguasa seluruh danau datang, para peri langsung melepaskan Indra dan Felisa.
Wanita itu mengangkat tangannya, dan pelan-pelan selubung udara melingkupi tubuh Felisa dan Indra. Ketika ia berbalik dan berenang menjauh, tubuh Felisa dan Indra mengikutinya hingga masuk ke dalam gua di dasar danau.
Di dalam gua itu rupanya kering, dan diluar perkiraanku, terang benderang. Sebuah jalan setapak muncul beberapa meter dari mulut gua bersamaan dengan berakhirnya dinding batu gua. Di sisi jalan setapak itu, ada semacam taman dengan puluhan peri membungkuk menyambut Sang Ratu. Beberapa tampak berbisik bertanya-tanya siapa lagi manusia yang dapat 'kehormatan' di bawa Ratu Peri.
Di depan Ratu Peri kini menjulang bangunan berbentuk kotak tanpa jendela yang terbuat dari susunan batu putih, pintu masuknya di sangga dua pilar besar yang memiliki ukiran bunga dan daun.
Sang Ratu memasuki bangunan itu, dan sebuah batu bergeser dan menutup jalan masuknya ketika ia sudah di dalam.
Ia melirik ke belakang sedikit, kemudian dua gelembung besar yang berisi Felisa dan Indra bergerak pergi ke dua arah yang berbeda. Tapi keduanya sama-sama masuk ke sebuah lorong gelap di sisi-sisi ruangan.
Aku mengikuti Felisa, sudah jelas—kau bahkan tak perlu berpikir untuk mengetahuinya—. Gelembungnya berbelok ke lorong sebelah kiri dan melesat ke atas. Kemudian masuk ke sebuah pintu tak berdaun di sana.
Empat tahun tinggal di Lotama membuatku heran sendiri melihat dinding penuh pintu itu. Aku harus mengingatkan diriku bahwa saat ini aku sedang berada di dalam bangunan. Bahwa lubang-lubang di dinding itu adalah pintu, bukannya jendela. Bahwa tak perlu heran para peri tak perlu tangga untuk mencapai pintu-pintu itu. Siapa ya perlu tangga kalau kau bisa terbang?
Ruangan di dalamnya bahkan lebih aneh lagi. Tak ada apapun di dalamnya selain dinding-dinding yang dipenuhi tanaman merambat yang muncul dari lantai. Menjalar ke atap dan berkumpul di tengah-tengah, lalu mereka berpilin ke bawah dan menyebar membentuk semacam sangkar dengan bagian yang terbuka di depannya. Kontras dengan warna hijau sulur-sulur itu, terdapat gumpalan kain berwarna merah menyala di dalam sangkar yang menggantung bak kandelir itu.
Gelembung yang melingkupi Felisa bergerak ke dalam sangkar, lalu meletus dan menjatuhkan Felisa ke atas kain. Gadis itu masih belum sadarkan diri meski jatuhnya ia barusan tidak terlalu mulus.
Nah, sekarang yang aku lakukan hanyalah menunggu. Aku tidak yakin kenapa Ratu Peri membawa Felisa dan Indra kemari alih-alih membiarkan anak buahnya makan siang dengan damai. Mungkin ia tau kalau mereka ini bukan manusia biasa? Maksudku, bukan manusia dari dunia ini? Tapi kalau begitu, ia tidak perlu menyelamatkan Indra juga.
Apalagi sulur-sulur ini. Setelah memperhatikannya beberapa lama, aku menyadari bahwa semakin lama Felisa tidur di sana, kekelaman mimpinya mulai berubah. Secara keseluruhan, ia sudah melupakan teror dan perasaan putus asa yang menyergapnya di saat-saat terakhir sebelum ia pingsan tadi. Dan kelihatannya, luka-luka di tubuhnya juga menghilang.
Ini hanya dugaanku, tapi sepertinya, sulur ini adalah salah satu Proyek Aswin yang dikerjakan para Adibrata di Jumi Dwipa. Nah, pertanyaanku sederhana saja. Bagaimana Ratu Peri bisa mendapatkannya? Apa Pusat Penelitian Apsara itu sudah jatuh? Apa ada pengkhianat? Seluruh hal mengenai para peri ini membuatku bingung.
Felisa akhirnya terbangun. Ia duduk dan mengerjap-ngerjapkan matanya. Tentu dalam hati ia bertanya-tanya berada di mana ia sekarang, tapi kata-kata itu tidak keluar dari mulutnya.
Ia menoleh ke sekitarnya, dan sadar bahwa suasananya sangat ganjil. Mengikuti instingnya, Felisa melompat dari sangkar itu. Ia menuju satu-satunya sumber cahaya, pintu tak berdaun yang ada di depannya. Untung saja ia tak nekat langsung melangkah ke luar.
Di bawah, peri-peri lewat ke sana ke mari begitu sibuk. Beberapa membawa nampan penuh makanan, yang lain hilir mudik membawa tumpukan kain. Beberapa sempat melihat Felisa yang memperhatikan mereka di ambang pintu. Tapi tidak menghiraukannya dan melanjutkan pekerjaan.
Felisa kembali melihat ke dalam ruangan tempat ia tadi beristirahat. Ia mencabut beberapa sulur-sulur muda yang belum begitu menempel ke tembok. Di ikatnya sulur itu ke sulur yang lebih tua, lalu ia sambung mereka semua.
Pelan-pelan ia menuruni dinding penuh pintu itu dan sampai di dasar. Ia menepuk-nepuk celana olahraga hitamnya yang kotor karena bertabrakan dengan dinding. Tidak menyadari bahwa di depannya menjulang peri dengan wajah tidak puas.
Felisa mendongkak, dan terlonjak kaget. Si peri tidak banyak bicara, ia menarik tangan Felisa dan membawanya kembali naik. Felisa meronta, mungkin karena caranya ditarik ke atas sangat tidak etis. Beberapa peri yang lewat hanya melihat mereka sekilas dan berlalu pergi.
Begitu sampai, Felisa memijit tangannya. Ia menggerutu memaki peri tidak sopan itu lalu menghela nafas. Felisa jelas bukan tipe orang yang akan menyerah begitu saja. Tapi untuk saat ini, ia akan menunggu sampai lengannya terasa lebih baik.
Lagipula, ia merasa ini agak aneh. Apa ia sedang di penjara saat ini? Kalau begitu kenapa pintunya terbuka lebar begitu? Kenapa juga ia tidak boleh keluar dengan pintu selebar itu? Dimana Indra? Dimana Bara? Ah, Ruci sungguh keterlaluan, setidaknya ia harusnya bilang pada Felisa soal rencananya, jadi ia tak akan terlalu kaget.
Beberapa waktu kemudian, sesosok peri muncul lagi dihadapannya. Felisa bertanya-tanya apakah peri satu ini yang menariknya ke atas tadi? Ia tidak yakin, mereka semua kelihatan sama. Kalaupun bukan, peri ini sama pendiamnya dengan yang tadi, ia menunjuk-nunjuk sulur hijau di samping Felisa dan membuat gestur aneh. Sepertinya meminta Felisa untuk turun.
Felisa mengerutkan dahi, tapi menurut. Ia menurunia dinding itu sambil sesekali meringis. Tangannya masih sakit.
Ketika sampai di bawah, peri itu (masih tanpa bicara) menyuruh Felisa untuk mengikutinya. Dan itu tidak sulit, sebab saat ini lorong sepi dari peri-peri yang tadi berlalu-lalang, mungkin tugas mereka sudah selesai. Entahlah.
Mereka berhenti di depan pintu kecil yang ditutupi torai dari untaian kerang. Peri tadi minggir dan mempersilakan Felisa untuk masuk.
Selain langit-langitnya yang tinggi, sama sekali tak ada yang istimewa dengan ruangan itu. Tempat yang luasnya tidak lebih luas dari ruang kelas Felisa itu berdinding kasar dan banyak debu. Seolah ruangan itu baru saja dipahat tadi pagi dan belum banyak dirapikan. Dan sebenarnya memang begitu.
Di tengah ruangan, ada meja dari batu yang berbentuk bundar. Mengingatkan Felisa dengan ruang bawah tanah di Apsara. Meja itu di kelilingi empat kurai batu yang lain, yang tiga di antaranya sudah diduduki oleh orang-orang.
Indra, Bara, dan sesosok peri ada di sana.
"Kemarilah, nak" peri itu memanggil Felisa. Suaranya terdengar merdu seperti nyanyian burung gereja di pagi hari. Dan membuat Felisa tak sempat mempertanyakan siapa peri itu.
"Maafkan aku, kami tidak biasanya menjamu manusia. Mungkin ini pertama dan terakhir kalinya" ia berucap lagi.
Felisa diam, begitu juga dengan Bara dan Indra yang duduk di sampingnya. Meski begitu bukan berarti Felisa tidak memperhatikan. Ia menyadari ada hal aneh yang sedang terjadi, keengganan mereka untuk bicara jelas salah satunya. Padahal kalau dalam situasi biasa, sudah pasti Felisa akan berteriak ketika melihat Bara, apalagi dengan pakaian aneh yang sedang dipakainya. Itu tidak lebih dari selembar kain yang di beri lubang di tengah-tengahnya, dan di loloskan di kepala Bara. Dia tidak kedinginan pakai itu?
Beberapa peri masuk dari pintu yang dilewati oleh Felisa tadi. Membawa sekeping cangkang kerang besar dengan ikan rebus di atasnya. Salah seorang dari mereka menyendokkan ikan-ikan itu ke cangkang kerang yang lebih kecil di depan Bara, Felisa, dan Indra.
"Jadi, kalian mengerti kalau jamuan ini agak terlalu sederhana. Malah sebenarnya mungkin ruangan ini juga akan langsung diabaikan begitu kalian pergi"
Felisa menatap ikan rebus di hadapannya. Ia sama sekali tidak yakin dengan hidangan itu. Tapi tangannya bergerak sendiri dan memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya. Hambar.
"Tapi tentu saja kalian tidak akan pergi begitu saja"
Felisa ingin sekali menyela dan bertanya. Tapi ia sendiri sangat enggan membuka suara. Sama halnya dengan ia yang ingin berhenti makan ikan yang hambar itu, tapi tangannya tak bisa berhenti bergerak, dan mulutnya tak bisa berhenti mengunyah. Padahal ia sepenuhnya sadar dengan apa yang ia lakukan. Ini bukan seperti dia dikendalikan.
"Kalian harus membayar untuk nyawa kalian"
Felisa berusaha, tapi rasa malasnya masih terlalu besar sehingga ia hanya mengeluarkan suara desahan yang terdengar seolah menyetujui Sang Ratu Peri katakan.
Sang Ratu Peri menjulurkan tubuhnya ke tengah meja. Ia mengelus-ngelus kepala Felisa penuh sayang, dan tersenyum lebar padanya. Itu senyum yang mengerikan. Lengkung bibirnya tertarik sangat lebar sampai ujungnya hampir menyentuh telinganya yang runcing. Felisa berjengit dalam hati (ia terlalu malas untuk berjengit sugguhan) dan kali ini sepenuhnya sadar bahwa bukan otaknya yang memerintahkan tangannya merogoh sakunya.
Sang Ratu Peri menadahkan tangannya, dan Felisa memberikan kristal pargata kuning milik Ruci. Batu itu tenggelam dalam kulit Ratu Peri yang putih pucat.
Benak Felisa di penuhi dengan perasaan tidak enak. Dia tidak suka keadaan ini, kendati sama seperti biasanya, ia tidak tahu kenapa. Ratu Peri di depannya menopang dagu tersenyum menatap mereka bertiga, dia tidak bicara lagi, hanya bergumam menyenandungkan sebuah lagu yang membuat Felisa mengantuk.


imgsrc
first | prev next

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Penempuhan Badge Ambalan SMAN1C 2014-2015 (Hari Pertama)

Fangirling

(Review) Steins;Gate