Refleksi 2017

imgsrc

Lets write this while I'm feeling happy.

Aku juga gak tau kenapa aku ngerasa bahagia. Mungkin karena aku berhasil menjalani beberapa resolusi tahun baruku? Atau karena ayam goreng hari ini banyak kremesnya? Atau karena aku baca lumayan banyak halaman hari ini? Entahlah, yang penting aku ngerasa bahagia.

2017 sudah berlalu ya? Aku kira keadaan tak akan jadi lebih buruk lagi setelah 2016 dan aku salah besar.

Aku mengalami banyak sekali penurunan tahun ini. Pertama, jumlah buku yang kubaca, ini mengecewakan sekali, bikin aku putus asa aja hahaha. Kedua, aku bahkan gak bisa beralasan kalau hal itu karena aku disibukkan dengan kegiatan akhir sekolah juga karena kuliah. Karena tebak, aku gak lolos snmptn maupun ptn impian.

Nilai kuliahku bikin aku stress, padahal cuma satu aja yang mengerikan angkanya, tetep aja bikin mood berantakan selama beberapa minggu.

Dibeberapa saat di 2017, mood ancur ini bikin aku mengambil keputusan yang bikin aku ngakak sendiri. Kayak waktu perpisahan, di tengah keramaian aku ngerasa sendiri. Aku sedih banget. Dan bukan karena sedih gara-gara mau pisah. Orang bilang masa SMA adalah masa terbaik dalam hidup kan, dan aku ngerasa gagal menghidupkan frasa itu.

Aku benci masa SMA ku. Masa dimana aku gak punya lingkaran pertemanan. Bukan berarti aku di bully atau di jauhi semua orang. Aku cuma ngerasa aku gak punya temen sama sekali.

Perpisahan seolah bikin semuanya jadi jelas. Atau mungkin sekedar memaksa otakku untuk mengenang masa-masa tiga tahun terakhir. Apa keputusan konyol yang kuambil? Aku pulang duluan karena aku ngerasa sedih. Aku bahkan gak foto-foto sama temen-temen sekelas atau semacam itu, foto perpisahan yang kuambil cuma dengan beberapa orang yang kebetulan duduk denganku aja. Sayang banget, padahal jarang-jarang aku pake kebaya.

Duh jadi sedih.

Tapi terlepas dari semua perasaan being worthless, lonely, dan pengen udahan aja. 2017 juga adalah tahun aku belajar.

Aku rasa, semua tekanan yang aku terima ini bikin aku jadi lebih ... tidak menghakimi orang lain. Aku punya aplikasi 'timehop' yang bikin aku bisa liat apa yang aku posting di sosial media beberapa tahun lalu. Dan aku mulai mengerti kenapa sejak dulu temanku sedikit (selain karena aku memang introvert)

Fatiah yang dulu adalah seorang idealis sejati. Ia menghabiskan waktunya untuk mengkoreksi orang lain, tak jarang, dengan nada amarah. Kesombongan melingkupi kepalanya bahwa yang ia sampaikan adalah kebenaran hingga menutup matanya untuk sadar bahwa orang lain punya hati yang bisa terluka.

Terkadang, aku merindukan semangatnya yang super individualis. Dia seratus persen tidak peduli apa yang orang katakan padanya.

Kalau aku bilang aku sudah berubah, mungkin akan ada yang protes. Mungkin sebenarnya aku belum berubah. Tapi aku merasa aku sudah tidak sejahat itu. Dan aku siap untuk menjadi lebih baik lagi.

Hal terbaik lain yang terjadi di 2017 adalah, jelas: aku kuliah.

Aku tak tau memulai sesuatu yang baru akan semenyenangkan ini. Dalam arti, kau bisa bebas melepaskan imej lamamu dan menjadi baru tanpa perlu khawatir omongan orang (Fatiah yang sekarang masih punya kekurangan).

Aku punya banyak teman baru dari berbagai daerah. Aku sudah tidak se awkward dulu ketika berbicara dengan anak laki-laki. Dan aku tidak perlu mendapat tatapan aneh ketika melakukan hal aneh hanya karena aku jarang melakukannya. Aku bisa mulai belajar menjadi diri sendiri.

Ngomong-ngomong soal hal aneh. Obsesi baruku tahun ini adalah kpop, atau spesifiknya: BTS. Aku senang bagaimana lirik-lirik lagu mereka mengangkat banyak isu sosial selain daripada masalah romansa (bahkan dalam interview, ketika terus disudutkan dengan pertanyaan seputar kekasih mereka menanggapi bahwa ada banyak jenis cinta di dunia. Ah, indahnya)

Aku juga senang karena video video klipnya memberikan hal yang selalu aku cintai. Sebuah cerita. Bahkan meski itu adalah cerita yang menyedihkan.

Dan aku sangat senang dengan betapa ucunya mereka. Kebahagian yang sama ketika melihat Dan and Phil. Istilahnya adorkable, dan itu selalu membuat hatiku lebih hangat.

Tahun ini juga pertama kalinya aku bikin kolaborasi sama blogger lain. Level Up Giveaway Hop bareng Bintang dan Putri. Dan itu adalah salah aatu pengalaman paling berkesan selama 2017

Oh ini juga ada tulisan yang kubuat di pertengahan tahun, ketika masuk kuliah. Aku bingung bagaimana meleburkannya dalam tulisan ini jadi biar kukutip saja sebuah penemuan yang patut dibanggakan.

"Kalian adalah generasi penerus bangsa" adalah kalimat yang saya suka sekaligus benci.

Secara keseluruhan, kalimat itu menyiratkan harapan akan masa depan yang lebih baik. Hingga menjadi motivasi bagi diri sendiri untuk bersiap menghadapi beban itu di masa depan.

Tapi di saat yang sama bukankah itu berarti: bahwa kehidupan masa kini belumlah cukup. Dan kalau memang bagitu, kemana 'generasi penerus bangsa' dari masa sebelumnya?

Apalagi melihat dari siapa kalimat-kalimat ini keluar. Sebelum mengatakan hal ini, saya akan meminta maaf terlebih dahulu karena mungkin yang akan kalian baca ini agak menyinggung bahkan terkesan kurang ajar. Tapi tolong baca sampai selesai, karena semuanya murni dari pemikiran naif remaja saya.

Jadi, sepertinya kita setuju kalau kalimat "generasi penerus bangsa" ini banyak diungkapkan oleh orang-orang yang lebih tua, lebih khusus: guru. Ini kadang jadi pikiran saya sendiri tentang apa saya sungguh akan terus menulis guru dikolom cita-cita di setiap kesempatan.

Karena jujur saja, rasanya terdengar (sekali lagi maaf) bodoh. Kita penerus bangsa yang menuntut ilmu untuk mendidik penerus bangsa berikutnya. Lalu kapan kita sendiri membangun bangsa? (tolong jangan marah dulu, saya belum selesai)

Hal yang kurang lebih mirip juga terjadi setiap saya melihat semua postingan soal bagaimana hancurnya generasi milenial dengan semua teknologi dan kurangnya sosialisasi dan bla bla bla. Baiklah, mungkin memang kejadiannya seperti itu, tapi saya sendiri mau tanya, apa yang sudah kalian lakukan untuk mencegah supaya hal itu tidak terjadi? Atau kalian terlalu menikmati mengejeki anak-anak yang hidup dengan teknologi yang lebih maju ini, fokus pada kekurangannya tanpa berusaha membuat perubahan yang kalian bilang lebih baik itu?

Tapi kembali ke topik. Intinya, diri saya yang remaja melihat adanya gap antara masa lalu dan masa depan, dan bertanya-tanya apa yang dilakukan orang-orang di masa kini. Alasan saya bisa mempertanyakan ini mungkin juga sama tidak termaafkan seperti pernyataan sebelumnya: saya, simply, tidak sadar dengan apa yang sedang terjadi di sekitar.

Tahun ini saya mulai kuliah, dan bisa di bilang saya menemukan jawabannya.

Gema teriakan 'Hidup Mahasiswa!' awalnya membuat saya risih. Ada apa dengan orang-orang yang bangga dengan status pendidikannya ini, pikir saya yang clueless itu. Tapi masa orientasi mahasiswa baru rasanya betul-betul berkesan dan saya mulai memahami beberapa hal.

Ngomong-ngomong saya bilang 'berkesan' karena masa orientasi smp dan sma tidak seberkesan itu. Setidaknya ungkapan "kalian bukan anak sd/smp lagi" hanya membuat saya menggerutu sambil menyeru stfu dalam hati. Dan butuh beberapa waktu sebelum akhirnya saya sadar bahwa saya sudah berubah.

Sementara masa orientasi mahasiswa, rasanya seperti dunia jungkir balik. Selain karena tekanannya memang kerasa berat banget buat saya yang lemah fisik dan mental ini. Juga karena saya tiba-tiba diberi jawaban soal pertanyaan yang mengusik saya.

Para pemuda. Sekarang. Konkrit.

Memang masih ada masalah-masalah SMA yang aku alami lagi semasa kuliah. Tapi seharusnya keadaan tidak menjadi lebih buruk, mengingat aku audah pernah mengalaminya selama tiga tahun, aku harusnya bisa bertahan selama tiga tahun lagi. Lagipula keadaan akan berbeda karena sekarang aku tau apa masalahku, dengan begitu aku bisa mencari solusinya.

Semua akan jadi lebih baik, semuanya sudah sangat baik. Terdengar seperti delusi, tapi bukankah kau adalah apa yang kaupikirkan? Atau versi relijiusnya, ucapan adalah do'a.

P.S.
Beberapa dari kalian mungkin merasa postingan ini terlalu personal, atau sejahat menganggapnya terlalu dramatis. Aku sadar tidak bijak membagi semuanya di internet. Tapi bagiku, ini adalah salah satu usahaku untuk merasa lebih baik. Aku tidak tau siapa yang akan membaca tulisanku ini, apakah oleh orang-orang yang mengenalku, apakah teman-teman sekolahku, apakah orang asing yang mengalami masalah yang sama.

Mungkin kedengarannya seperti sebuah surat sakit hati jika aku berharap teman-temanku membaca ini. Tapi yang jelas aku hanya ingin membiarkan orang lain tau. Bukan hanya tentang apa yang aku alami selama ini tapi juga bahwa aku membaik. Kenapa? Sebab tulisanku yang sudah terlanjur ku posting sebenarnya mempunyai aura ini. Dan aku tak bisa menghapus mereka begitu saja karena beberapa berkaitan. Intinya aku ingin akhir yang bahagia.

Jadi kalau kau temanku, dan kau entah bagaimana merasa tersinggung. Aku hanya ingin bilang, ini sama sekali bukan salahmu aku menderita. Aku tidak menyalahkanmu. Tidak. Salahnya ada padaku, pada otakku, jadi jangan khawatir.

Dan untukmu yang mempunyai masalah yang sama. Aku hanya ingin bilang bahwa kau tak seperti apa yang pikiran jahatmu pikirkan. Kau berharga. Orang-orang mencintaimu. Dan aku tau betapa kau merasa kalau kata-kataku barusan tidak berarti. Tapi sungguh, kau berharga, kau bukan sampah. Kau tidak sendirian. Bahkan meski kau melakukan beberapa kesalahan itu bukanlah hal besar. Doing bad thing doesn't makes you bad person. Mulailah bicara dengan orang yang kau percaya, kalau kau tak percaya siapapun tak apa, kau bisa bicara dengan orang asing. Aku mau bicara denganmu. Masalahmu nyata, aku mengerti dan tak akan menghakimimu. Jadi mari sama-sama menjadi lebih baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Review) Steins;Gate

Fangirling

All is New