Kuwalaya (Bagian 12)

Indra menyarungkan pedangnya, sementara Felisa menatap Ruci dengan horor. Keduanya sama-sama menghampiri kancil itu dengan ragu, keduanya juga sama-sama diam ketika tubuh Ruci sudah tepat di depan mereka. Indra yang pertama kali bereaksi, ia mencabut jarum dari rubuh Ruci dan melemparnya jauh-jauh. Kemudian ia mendesah.
"Apa-apa dia mati?" Felisa bertanya hati-hati. Ia sendiri sama sekali tidak suka ide itu.
Indra menggeleng, "Tidak semudah itu membunuh Pargata, kurasa" katanya "Dia pingsan"
Felisa menghela nafas lega, tapi kemudian wajahnya mengeras kembali. "Tunggu, apa kau tadi berniat membunuhnya?"
"Hah?"
"Apa kau tadi berniat membuatku membunuhnya?"
"Nona, aku tidak mengerti ucapanmu" Indra benar-benar dipenuhi kebingungan. Baginya, pertanyaan Felisa barusan itu tidak lebih aneh dari mana yang lebih dulu antara ayam dan telur.
"Kau mendengarku," suara Felisa sama sekali tidak terdengar ramah "Kau, tadi, hendak menggunakanku untuk membunuh dia. Iya kan?"
"Aku jadi bingung." Ungkap Indra jujur "Apa kau baru saja mengeluh karena kita nyaris membunuh makhluk yang nyaris membunuh kita?"
Ditanya seperti itu, Felisa jadi gugup tapi suara dari mulutnya tetap lantang "Y-ya! Racun itu memang bisa membunuh bukan? Kalau saja dia tidak sekuat itu, kalau saja dia bukan Pargata. Hei! Kau yang bilang melawan alam itu dilarang! Astaga aku nyaris jadi pembunuh!"
Indra masih melongo menghadapi pembelaan dari Felisa "Kau ... Apa kau sungguh-sungguh ingin mempermasalahkan hal itu? Sekarang?"
"Woy!" sahutan melengking yang jelas-jelas bukan milik keduanya itu terang saja mengaggetkan keduanya. Ruci sudah bisa membuka matanya sejak tadi, tapi pita suaranya baru saja menuruti perintah otaknya "Sekarang aku mau diapakan?"
***
Butuh waktu, tapi Indra dan Felisa berhasil kembali ke hutan. Agak sulit juga, sebab keinginan Indra untuk cepat-cepat sampai di hutan dan mengikat kancil itu sebelum ia bisa berkutik tidak sejalan dengan kecepatan Felisa berlari, maupun dirinya yang harus memanggul Ruci.
Tapi, syukurlah, otot-otot Ruci tidak kembali pulih secepat yang Indra takutkan. Sejauh ini, yang bisa Ruci hanya bisa berbicara, dan satu-satunya poin minus soal itu hanyalah sebab Ruci bukan kancil yang pendiam. Dan ini sangat-sangat-menggangguku, karena terisolasi di Hutan Utara, apa yang bisa Ruci bicarakan tanpa membuat bingung Indra dan Felisa hanya tentang aku. Ruci menggosipiku sepanjang jalan.
Untunglah baik Indra dan Felisa sama-sama tidak mendengarkannya. Dan maksudku secara harfiah. Keduanya bergelung dengan pikirannya masing-masing. Indra bingung dengan banyak hal yang baru saja terjadi, tentang Felisa, tentang Ruci, terutama Ruci-dia memilih untuk mencap semua manusia Lotama itu aneh, dan mencoba melupakan soal Felisa-. Dan Felisa, aku tidak mengerti sama sekali. Daripada berpikir, lebih tepat kalau Felisa sedang merasakan.
Dan perasaannya berkecamuk dengan liar. Dia marah, takut, khawatir, dan ... menyesal. Aku sendiri kaget bagaimana emosinya bisa tiba-tiba berubah begitu cepat dari tadi pagi. Apa yang memicunya? Tapi yang pasti, melihatnya murung begitu aku jadi merasa-entahlah-bersalah?
Kuda Buraksa meringik ketika mereka sampai, awalnya mereka terdengar kegirangan tapi begitu melihat kondisi Ruci mereka lebih terdengar marah.
"Tidak apa-apa," ujar Ruci "hanya sedikit terjerat"
Indra memutar matanya dan memutuskan untuk duduk. Felisa memilih pergi dari tempat itu, berkata dia akan mencari buah-buahan.
Aku tadinya hendak mengikutinya, tapi teringat bagaimana Tirta jika dia sedang marah, aku mengurungkan niatku. Lagipula, aku bahkan tidak bisa membantunya. Aku kan tidak mungkin membongkar penyamaranku begitu saja hanya untuk menghiburnya. Aku memang menyukai Felisa, tapi ada yang lebih penting.
Ruci, dengan keadaannya sekarang, aku harus memastikan dia tidak melanjutkan omong kosongnya tentangku-sesuatu seperti 'Nah, merpati itu sedang mengawasi kita sekarang'-
Setelah memastikan bahwa tali yang baru saja ia ikat pada Ruci sudah benar-benar terikat kuat, Indra dduduk bersila sambil menatap Ruci dengan tajam. Ruci sendiri, seolah setuju akan hal itu dengan mengangguk setelah bergerak-gerak mencoba melepaskan ikatannya.
"Tapi, kita sama-sama tau kalau ini tak ada gunanya, kan?" ia mengedipkan sebelah matanya.
"Dan itulah yang membuatku bertanya-tanya" balas Indra "bahkan sebenarnya kau bisa saja tidak dalam kondisi ini jika kau mau"
"Kenapa harus bingung-" Ruci sengaja berhenti sebentar, ia mengerutkan kening, lalu melanjutkan "Indra?" lalu tersenyum puas-jika kancil memang bisa tersenyum-menyadari keterkejutan di pikiran Indra kendati pria itu tak menunjukkannya. "Kau harusnya bersyukur karena aku tidak membaca pikiranmu saat 'pertarungan' tadi, bahkan jika itu bisa disebut pertarungan"
"Itu dia maksudku. Tapi kenapa? Apa untungnya?"
"Tidak ada!" tawa Ruci kini terdengar menyakitkan "Dan ya, aku bisa saja membuka ikatan ini lalu melakukan apapun yang aku mau setelahnya. Tapi tidak, aku tidak melakukannya, 'kenapa?' kau tanya? Kau sungguh ingin tau jawabannya?"
Indra tidak menjawab, tapi tiba-tiba saja ia jadi enggan. Menghadapi seorang gadis emosional dalam satu hari sudah terlalu banyak baginya, ia tak mau mendengar keluhan Ruci-jika memang itu yang akan ia lakukan-.
"Karena ini tugasku, takdirku, menguji para Yodha mereka bilang! Dan kalian mengecewakanku! Apa aku bisa protes? Tidak! Lalu setelah ini apa? Hidup sebagai kancil biasa? Apa yang akan dikatakan hewan lain padaku? Aku ini Pargata, dan aku kalah oleh manusia biasa dengan kemampuan menyedihkan seperti kalian? Apa mereka bahkan mengerti apa itu takdir? Aku memang ditakdirkan untuk kalah, tapi siapa yang peduli?
"Kenapa kalian bahkan harus datang? Kenapa memburu Kuwalaya? Apa kisah Hutan Utara tak membuatmu gentar? Apa nasib Yodha lainnya tak membuatmu takut? Kenapa kalian datang dan mempermalukanku? Aku tak akan terkalahkan jika tak pernah bertarung kan?"
"Hei" Indra menghentikannya "Kau punya masalah"
"Oh! Tentu saja aku punya masalah! Aku punya banyak masalah! Zar benar, kehidupanku di sini benar-benar konyol!"
Aku harus menahan diriku sendiri saat mendengar nama gagak itu di sebut. Zar benar-benar biang masalah.
Indra tidak menanggapi. Ia tak punya waktu untuk itu. Lagipula, Felisa yang baru saja kembali dengan tangan penuh buah lebih menarik perhatiannya. Perutnya berbunyi kali ini, ia memang belum makan sejak kemarin.
Felisa duduk dan menaruh buah-buahan itu, perasaannya sudah lebih baik sekarang, mungkin tadi ia hanya lapar saja. Ia mengambil sebuah apel dan mulai menatap Ruci dengan penuh tanya.
"Kau lapar?" ia mengangsurkan apel itu.
Ruci mendengus.
"Kita memulai perkenalan dengan agak buruk, ya kan? Maksudku aku sangat mengerti tidak setiap hari kita dibius seseorang di hari pertama bertemu"
Indra hanya memberi tatapan tersinggung, tapi tetap merasa tak bersalah. Toh itu adalah alasan kenapa ia ada di sini bersama anak-anak ini, menjaga mereka dari marabahaya.
"Jadi mari kita mulai dari awal. Namaku Felisa, dia Indra, dan temanku yang kau tahan itu namanya Bara"
"Ruci" kancil itu menjawab singkat saja.
"Nah, karena kita sudah duduk melingkar dan makan dengan damai, jadi aku rasa kita sudah saling memaafkan"
Indra mengumpat pelan, sangat pelan sampai hanya terdengar seperti bisikan. Sementara itu Ruci terang-terangan menahan tawa, tapi seperti sebelum-sebelumnya, ia gagal.
"Baiklah, terserah kau saja" mungkin lelah berpura-pura, Ruci melepaskan saja ikatan di kakinya. Dan dengan itu, maksudku tali yang mengikatnya bergerak sendiri dan lepas begitu saja. "Berteman dengan manusia, bisa seburuk apa lagi nasibku"
Lantas buah-buahan melayang kearahnya dalam pusaran angin dan jatuh dihadapannya, Ruci-seperti yang dikatakan Felisa-makan dalam damai.
Indra menyaksikan semua itu sambil mengurut kening. Kemudian memilih untuk ikut makan. Ia memutuskan untuk melupakan semua yang baru saja terjadi.
"Jadi, Ruci ..." ujar Felisa dengan mulut penuh "Di mana Bara?"
Ruci terdiam, seolah tau bahwa pertanyaan ini pada akhirnya akan keluar juga. Pemikiran bahwa tugasnya akan berakhir mengusiknya, tapi tak ada yang bisa ia lakukan.
"Maafkan aku" ia berucap dengan suara rendah "Aku sampai lupa"
Ia berdiri diatas kaki-kakinya, lalu menggoyang-goyangkan tubuhnya. Dari rambut-rambut putih di dadanya, sebuah batu seukuran jempol berwarna kuning timbul. Dan melayang kemudian jatuh di tanah.
"Pertama, ini kristal pargata-ku, hadiah karena berhasil mengalahkanku" Ruci menendang-nendang batu itu, kemudian benda itu terlempar dan di tangkap oleh Felisa "dan soal Bara, yah, anak itu tidak ada di sini"
Ruci mengetuk-ngetuk tanah, dan tiba-tiba cairan kehitaman muncul dan meluap keseliling mereka.
***
Lagi-lagi mereka harus jatuh dengan menyakitkan. Indra mengeluh sambil menelus pantatnya,
"Setidaknya beri aba-aba sebelum melakukannya," katanya. "Dan lagi, apa kita harus terus menerus melewati lubang sialan itu?!"
"Namanya Marga, dan aku tidak tau denganmu, tapi bagiku ini lebih cepat" Ruci menjawab.
Felisa memilih untuk melihat sekitarannya. Daripada sebelumnya, tempat itu terasa lebih mudah dikenali. Maksudnya, jika sevelumnya ia harus dikejutkan karena kedatangannya yang tiba-tiba muncul di lapangan kering yang luas, kali ini Felisa yakin ia masih di Hutan Utara.
Dihadapan mereka terdapat gua besar dengan sulur-sulur yang membentuk seperti tirai menutupi pintunya.
Tirai sulur itu membuka ketika Ruci mendekatinya, kancil itu kemudian masuk dan mengedikkan kepala menyuruh Felisa dan Indra mengikutinya.
Indra terdiam ragu, takut ini adalah jebakan atau semacamnya. Tapi melihat Felisa langsung mengikuti Ruci begitu saja membuat ia mau tak mau mengekor mereka juga.
Dalam gua itu ternyata lebih luas dari bayangan Felisa. Mungkin karena beberapa bagiannya menjorok ke dalam tanah sehingga tidak terlihat dari luar. Tapi tempat itu tidak begitu gelap, sebab beberapa batu berpijar yang ada di sisi-sisi jalan gua. Ia juga tak menyangka jika gua dengan banyak lorong itu bisa sesejuk ini, bukannya lembab dan panas seperti gua pada umumnya. Entahlah bagaimana siatem sirkulasi udara tempat itu, Felisa tak mau memikirkannya saat ini.
Ruci menuntun mereka ke salah satu lorong dalam gua itu, lorong itu lebih sempit daripada lorong lainnya. Felisa bergidik membayangkan Bara dikurung di ujung tempat ini, sendirian, tanpa baju. Dan anak itu juga belum makan sejak kemarin.
Yah, tapi siapa tau Ruci tidak sekejam itu.
Ruci tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. Mereka sepertinya memang sudah sampai. Sebuah ruangan yang lebih luas daripada lorong yang tadi mereka lewati.
"Kita sudah sampai?" Felisa tidak benar-benar menginginkan jawaban, hanya ingin memastikan. Ruci yang diam terpaku begitu membuat perasaannya tidak enak.
Ia mengikuti arah tatapan kancil itu, sebuah tiang kayu di tengah ruangan. Tak ada yang istimewa.
Ruci berjalan pelan mendekati tiang itu, ia menghentakkan kaki di tanah sekitar tiang itu, dan kemudian debu cahaya menyelimuti kakinya. Secara harfiah. Felisa tidak tau apa itu, atau apa maksudnya itu. Tapi aku tau. Dan mungkin sekarang pun wajahku sekeras Ruci, menyadari kekacauan macam apa yang sedang terjadi.
"Aku benar-benar minta maaf, ini murni kesalahanku" perkataan Ruci membuat Felisa dan Indra bingung.
"Apa maksudmu? Di mana Bara?" Felisa bertanya, perasaan buruk melingkupi dirinya.
"Harusnya di sini" Ruci menendang tiang kayu itu "tapi kau lihat sendiri, ia tidak ada"
Felisa mengerutkan dahi "maksudmu ia menghilang? bagaimana ..."
"Aku minta maaf, oke? Memang salahku meninggalkannya sendirian, tapi sudah bertahun-tahun aku tinggal di gua ini dan tak pernah ada satupun makhluk yang menyelinap masuk, tak aatupun"
"Kalian para Pargata benar-benar ..." Indra menghela nafas "Sudahlah, kau tau di mana dia?"
Ruci mendesah. Aku paham betul, kalau Bara hanya sekadar menghilang, Ruci mungkin tak akan segelisah ini. Bahkan seandainya anak itu kabur ke hutan dengan ancaman binatang buas sekali pun, Ruci tak akan merasa sebersalah ini. Setidaknya jika itu yang terjadi, Bara selalu punya kesempatan untuk bersembunyi, atau melawan, atau apa saja untuk melindungi diri.
Sayangnya bukan itu yang terjadi di sini. Ia bahkan tak sampai hati mengatakannya pada Felisa dan Indra.
"Aku akan katakan, kalian tak perlu repot mencarinya. Ia sudah mati"
Ruci tak sepenuhnya berbohong, entah bagaimana keadaan Bara di tangan makhluk itu sekarang, yang jelas tak ada yang dapat mencegahnya dari kematian.
Reaksi Felisa sama sekali tidak kusangka, alih-alih terkejut, ia malah semakin mengerutkan keningnya dengan marah. "Tidak, dia tidak mati" katanya mantap "jangan mendebatku soal itu, katakan di mana dia"
"Dia mungkin belum mati, tapi itu tak ada bedanya" suara Ruci makin lama makin menyedihkan "kalau kuberi tau, kalian akan kesana? Aku tak mau ambil resiko mengorbankan lebih banyak manusia, entah apa yang akan dikatakan Pargata lain tentangku"
"Astaga katakan saja!" Indra menjerit kesal. Dalam hati, perasaannya tidak karuan, jika anak itu mati, maka ia juga mati.
"Kalian memaksaku," Ruci menyerah akhirnya "Dia diculik peri"
Kasihan Felisa, dia tak tau apa-apa dan merasa lega. "Kukira bisa lebih buruk" katanya, itu adalah hal paling buruk yang bisa terjadi pada seorang manusia di hutan.
"Sebanyak apa yang kau tau soal peri?" Kini Ruci yang mengerutkan dahi.
"Makhluk kecil bersayap itu? Dongeng selalu berkata mereka penjaga hutan, makhluk baik yang jahil-"
"Mereka tidak kecil, juga tidak bersayap. Aku-Kami-Pargata-lah yang menjaga hutan. Tidak, mereka tidak baik apalagi jahil. Mereka ... Mereka monster" Ruci menghentakkan kakinya lagi, debu cahaya kembali mengapung di sana "Dan melihat jejak yang ditinggalkannya, temanmu di ambil oleh jenis yang terburuk, Sang Ratu sendiri"
imgsrc
first prev next

Komentar

Postingan populer dari blog ini

(Review) Steins;Gate

Wattpad

(Review) GOSICK