Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2017

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 20

Pukul satu pagi, Alya melirik jam dinding yang ada di lobi. Kepalanya masih terasa berputar mencari informasi tentang apa yang sedang terjadi, meninggalkan ekspresi tidak jelas antara awas dan bingung. Fauzi, jujur saja, selalu ingin tertawa melihat ekspresi itu, ekspresi bangun tidur Alya dalam keterkejutan bisa dikatakan lucu, gadis itu seolah berusaha menipu semua orang bahwa sejak awal ia tidak tidur sama sekali. Yang jelas-jelas gagal.
Tapi itu bukan fokusnya untuk saat ini. Pukul satu pagi, rumah sakit sepi bukan main. Masih terdengar suara kasak-kusuk obolan para perawat yang jaga malam di ruang perawat, tapi selebihnya, hanya suara angin malam dan nyanyian jangkrik yang bisa mereka dengar. Dan Fauzi rasa, empat jam tadi ckup untuk gadis itu tadi beristirahat. Yah, jika mengingat Alya habis menggotong dua pria dewasa, berkeliling rumah sakit membangunkan orang-orang selama enam jam dan tidak lupa jelas-jelas kurang tidur sejak pagi, sepertinya masih kurang, sangat kurang malah…

Kuwalaya (Bagian 11)

Gambar
“Baiklah tuan dan nyonya!” seru Ruci dengan volume suara yang aku sendiri heran bagaimana dia mengeluarkannya, maksudku matahari baru saja naik, dia pikir apa yang dia lakukan? “Aku harap kalian siap!”
Felisa bangun dengan kebingungan, ia belum sepenuhnya sadar dari mimpi yang baru saja melingkupinya. Sementara Indra sudah sejak tadi menghunuskan pedangnya. Tak ada suara apapun lagi, selain dersik angin yang berembus dengan kencang menerbangkan debu.
“Apa ... apa yang terjadi?” kata Felisa sembari keluar dari reruntuhan rumah itu, ia menutupi wajahnya mencoba menghalangi debu-debu itu.
“Kalian tidak mengira bisa mendapatkan Kuwalaya dengan mudah kan?” Ruci berteriak lagi.
Tanah tiba-tiba berguncang, sangat keras, aku harus terbang bersama merpati lain supaya tidak terganggu. Felisa menoleh ke belakangnya dan melihat rumah itu sudah benar-benar hancur tertabrak angin puyuh yang menari-nari dan kini datang kearahnya. Ia membelalakkan matanya.
“Uh-oh”
“Lari bodoh!” Indra berteriak sambi…