14 Juni 2017

Sua Kafi

(Bingung bikin judul 😪)

Yang pantas untuk di kenang, belum tentu pantas untuk di bagi. Memang. Tapi masalahnya, saya tidak bisa memastikan apa catatan ini akan selamanya berada di ponselku agar bisa kukenang. Atau sebuah kecelakaan terjadi sehingga aku tak bisa membacanya lagi.

Jadi biarpun orang-orang selalu bilang, internet is not you diary, saya tetap akan mempublikasikan ini.

Dibanding sebelum-sebelumnya. Ini adalah bukber bareng TC yang paling singkat perencanaannya. H-1 dong! Awalnya, saya dan Intan berencana pergi pada tanggal 12 Juni, bersamaan dengan jadwal rilis Bintang. Tetapi sesudah dirundingkan, kami memilih tanggal 11. Beruntung Gramedia Botani Square sudah memajang Bintang beberapa hari sebelum jadwal resmi rilisnya.

Dan yang paling spesial dari semuanya. Kali ini Galuh ikut! Beneran deh, terakhir saya ketemu Galuh itu tiga tahun lalu pas perpisahan SMP. Dan jelas kangen banget sama makhluk satu ini.

Jadi ketika itu, saya berangkat jam satu siang. Setelah membeli kuota di kounter depan gang, memasuki angkot dan mengabari Fira dan Hania. Jalanan macet waktu itu, mungkin karena itu hari Minggu. Tapi sejujurnya, kemacetan itu tidak separah macet hari Minggu di hari bukan Ramadan. Ketika Fira naik, kami langsung tertawa dan dia menanyakan kabar Wool, novel yang saya pinjam setahun yang lalu. Akhirnya, saat itu sampai kami menjemput Hania, kami membahas novel fiksi-ilmiah yang buku kedua dan keyiganya tidak diterjemahkan itu. Kemudian Hania naik, lalu kami meneruskan perjalanan sampai Ciawi.

Kami mencari-cari Intan yang katanya menunggu di bawah tugu selamat datang. Ternyata lebih sulit dari yang dibayangkan. Hania sampai berteriak saat berhasil menemukannya. Dan ya lanjutkan lagi perjalanan ke Bogor.

Saat turun di depan Happy Puppy, saya terlalu sibuk dengan kembalian angkot, sehingga agak terlambat menyadari histeria yang lain saat bertemu Galuh. Gadis itu menghalangi wajahnya seperti seorang penjahat, tapi yang jelas kami semua tertawa. Bahasan pertama Galuh adalah bertanya pada Hania apa dia sudah mencetak kartu peserta UTMI. Dan kata-kata pertama saya pada Galuh adalah bilang padanya kalau suaranya terdengar lucu. (Sebenarnya tidak juga, suaranya masih sama persis dengan yang saya ingat tiga tahun lalu, rapi tidak lama mendengarnya jadi terasa aneh)

Mila menyadarkan kami semua dan menunjukkan bahwa Happy Puppy tutup. Kami berjalan kaki ke salah satu tempat karaoke yang lain dan menyadari kenyataan yang sama. Pun ketika berjalan kaki (yang kali ini dipenuhi drama Galuh mau kabur untuk mencetak kartu pesertanya) lagi sampai Lippo. Bioskop XXI menggoda kami untuk mengecek, meski semalam sudah disepakati kalau menonton film di hari Minggu itu terlalu beresiko untuk kantong, kami tetap masuk dengan alasan Fira yang mau memenuhi panggilan alam. Duduk di salah satu lorongnya, Intan mengusulkan supaya kami menunggu saja di sana sampai jam empat, karena kalau menonton pun waktu akan terlalu lama terlewat dan kami mungkin takkan sempat untuk berbuka.

Tapi akhirnya, kami pergi ke Botani Square karena sebentar lagi Ashar. Duduk bersamanya Galuh dan Hania di dalam angkot berarti pemenuhan salah satu janji mereka semalam. Hania meminjamkan ponselnya, agar Galuh bisa menonton video-video komedi yang kami buat waktu SMP. Tawa memenuhi angkot hari itu, selain juga rasa jijik dan malu.

Setelah shalat di Masjid Alumni IPB, kami langsung masuk dan mampir ke FunMart. Rupanya ada sudut karaoke kecil di sana yang bisa kami pakai untuk menghabiskan waktu. Sayang saat kami ke sana seluruh tempat itu sudah penuh, terpaksa kami menunggu sambil sesekali mengutuk seorang mbak-mbak yang tampak sendirian saja dalam sebuah bilik.




Ketika kami akhirnya mendapat sebuah bilik. Semuanya langsung riweuh memilih lagu. Bilik sebelah samar-samar terdengar sedang memainkan Surat Cinta untuk Starla, dan kami bergidik karena rupanya lagu itu ada di Top 100. Agak sulit juga memilih lagu, kebanyakan lagu-lagu di sana hanya lagu lama sehingga kalau di bilang kami memilih berdasarkan keseriusan untuk menikmatinya, ya tidak juga. Lagu-lagu yang agak modern seperti Closer tidak begitu di sambut baik, dan kami malah lebih sibuk berfoto-foto saat itu. Kemudian mengikuti naluri, lagu-lagu berikutnya yang lebih mengundang tawa menghadirkan suasana yang lebih seru. Seperti Chandelier, yang mengizinkan untuk berfals-fals ria, Kambanglah Bungo dan Never Say Never, untuk menghormati masa lalu, juga Surat Cinta untuk Starla dengan alasan ironis. Kadang, kami ikut menyanyikan lagu-lagu bilik sebelah yang lebih normal.

Pukul lima, kami sepakat sudah waktu yang tepat untuk mencari tempat, apalagi jaga-jaga kalau foodcourt Botas sudah penuh. Dan ternyata memang sudah penuh di semua tempat. Belum lagi Galuh yang terus merajuk ingin mencetak kartu peserta. Hampir setengah jam berkeliling tanpa hasil, kami memutuskan pergi ke Giant untuk membeli makanan ringan untuk berbuka. Setelah sebelum mendaftarkan nama Intan di waitinglist sebuah tempat makan.

Setelah riweuh memilah-milah aqua, kami duduk tidak jauh dari pintu masuk. Sekalian sibuk menghubungi GrabExpress untuk mencetak kartu peserta Galuh dan mengenang masa lalu di mana kami adalah sekumpulan anak cupu tukang bully, ckckck. Beberapa saat setelah Adzan Maghrib, kami kembali ke Masjid Alumni IPB. Galuh dan Hania pergi sebentar untuk mengambil hasil cetakan kartu peserta.

Ketika kembali kederetan tempat makan di lantai 2 Botas, kami harus dikecewakan oleh mbak-mbak pencatat reservasi yang justru tidak ingat kami pernah mendaftar. Foodcourt, memang masih ramai, tapi setidaknya ada kepastian orang-orang akan segera pergi. Dan ya, akhirnya kami dapat tempat dan makan dengan damai.

Dan tentu saja, setelah itu kami beli D'crepes wkwkwk. Saya dan Intan pergi duluan ke lantai bawah untuk mampir dan membeli obat di Giant, lalu memutuskan untuk mampir dan membeli Bintang di Gramedia dan langsung ke tempat karaoke mini di Funmart.

Ketika yang lain sampai. Galuh mengusulkan untuk langsung pulang karena saat itu sudah jam 8.30, time sure goues fast. Setelah transfer buku antara saya dan Intan, kami kemudian lekas pulang. 
Bahasan terakhir di angkot hari itu adalah pengalaman UN, dan SBMPTN masing-masing. Serta tentang cita-cita konyol dan hal-hal tentang sekolah.

Another great days has been passed. Saya ketawa banyak banget hari itu, dan jelas bersyukur sekali bisa bertemu mereka lagi.

Tapi toh, bersama kesulitan ada kemudahan. Mungkin karena alasan yang sama keesokkan harinya saya menemukan Si Ekor Pendek terbujur kaku. Tidak ada hubungannya sih, tapi rasanya kok kebahagiaan saya cepat sekali berlalu.

0 komentar:

Posting Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^