11 Maret 2017

(Review) Kong: Skull Island

9 Maret 2016

Hari ini hari yang berkesan, ya? Menilik betapa hal-hal spesial di masa lalu juga sering terjadi di tanggal ini, saya mulai merasa takut.

Ngomong-ngomong, memang sudah cukup lama semenjak saya menulis. Hal-hal terjadi begitu cepat dan menyeramkan di semester dua. Padahal awal tahun lalu saya sudah bertekad untuk aktif menulis Kuwalaya, tapi meh. Bahkan kegiatan mereview pun sama nasibnya. Dan ini bulan Maret, kalender saya mengatakan saya bakal ujian selama tiga minggu berturut-turut.

Saat ini pun pikiran saya berkecamuk dengan daftar hal yang harus di lakukan. Tugas praktik bahasa Indonesia, ide cerita yang menuntut di eksekusi sejak pagi, komik strip yang harus saya edit lagi. Dan yah, Kuwalaya.

Jadi pagi ini saya awali dengan santai seperti biasa, kebetulan hari itu ketemu Eka yang kemudian mengabarkan bahwa seorang teman SD kami menikah dan saya cuma bisa bilang wow.

Kemudian US. Hari terakhir diisi dengan pelajaran matematika peminatan dan penjaskes. Dan Matematikanya ... Jangan ditanya.

Padahal dua hari lalu saat mengerjakan matematika wajib, saya merasa sangat percaya diri tapi matematika peminatan membuat saya bahkan hampir menangis dan muntah di saat yang bersamaan. Untung setelahnya penjaskes yang tidak terlalu buruk.

Setelahnya, saya dan Hania memenuhi janji kami sejak seminggu lalu. Merehatkan kepala sejenak dengan pergi ke bioskop.

Maksud hati ingin nonton Split, film thriller soal kepribadian ganda. Sayang sepertinya keburu habis masa tayangnya. Pilihan berikutnya jatuh pada Logan. Yang, walau saya bukan penggemar film x-men sepertinya cukup menarik untuk di tonton.
Sayang kami terlambat sampai sana. Dan pada akhirnya memilih Kong: Skull Island, dengan harapan banyak pada Tom Hiddleston.

Saya sempat khawatir kalau film ini tidak lebih dari film remake King Kong sebab premis yang sama tapi ternyata enggak juga.

Film Kong di mulai dengan penampakan orang yang jatuh dari langit. Bersetting tahun 1944 pada masa Perang Dunia Kedua. Dua orang pria, satu orang Amerika dan satu orang Jepang terang-terangan sedang punya masalah yang menyangkut negara mereka.

Sayang pertarungan mereka harus di jeda oleh kemunculan Gorila raksasa.

28 tahun kemudian, banyak hal telah terjadi, perkembangan iptek terutama telah membuat manusia bisa menempatkan satelit buatan untuk menghasilkan foto bumi.

Adalah seorang tua ... , seorang peneliti yang menemukan sebuah pulau misterius di Pasifik Selatan melalui foto satelit. Ia hendak mengajukan ekspedisi untuk menelitinya, herannya ... juga meminta bantuan sepasukan tentara (yang baru saja mundur dari Perang Vietnam) serta suplai senjata yang sangat banyak.

Dan kisah pun berlanjut.

Yang paling nyebelin dari film ini,adalah bagaiman mereka menjatuhkan ekspektasi saya begitu saja. Scriptnya membuat kehadiran Tom Hiddleston gak lebih selain buat promosi aja. Serius deh, situ gunanya apa?

Makin kentara ketika dia sama sekali gak dapet luka berarti setelah adegan kecelakaan pesawat. Beda banget sama tentara-tentaranya yang berdarah di mana-mana. Mentang-mentang ganteng, mukanya gak mau dirusak, hih. Bahkan waktu mereka terpisah pun, Conrad bisa di bilang dapet cobaan yang lebih mudah daripada tentara lainnya. Kalo film ini bermaksud menghadirkan dia sebagai peran utama, yah, mereka gagal. Udah mah karakternya labil dan bisa dibilang nyari aman mulu, hih. Conrad? More like Coward, I bet.

Tapi untuk hal lainnya, ntaps lah. Graphicnya keliatan nyata banget, apalagi kalo nontonnya 3D ya? Kayaknya bakal keren banget.

Hubungan antar tokohnya juga sweet banget. Saya gak ngomongin hubungan romance hero sama heroinnya lo, malah lebih terharu sama hubungan Chapman dan anaknya serta Cole sama temennya itu. Duo ini bikin ngakak mulu :D.

Jadi yah, saya gak mau bahas banyak-banyak. Kong ini lumayan. Banyak hal yang bikin kesel, tapi menghibur juga.

Dan akhirnya bikin saya merasa lebih baik setelah ulangan matematika yang bikin mau nangis itu. Saya jadi lebih tenang dan inget kalo nilai itu gak lebih dari tinta di atas kertas. Gak penting-penting banget, karena banyak hal lain yang lebih luar biasa daripada itu. Intinya, saya gak bakal mati meskipun nilai jelek.

Hal berkesan lainnya yang terjadi adalah, saya pulang di sambut kalau kucing rumah melahirkan. Dia kucing kampung yang jag ujug datang, sering banget berantem sama si emeng, but at least she's more usefull. Ngomong-ngomong kelurga saya bahkan nggak ngasih nama buat kucing ini wkwk.

Udah ah..