21 Januari 2017

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 20

Pukul satu pagi, Alya melirik jam dinding yang ada di lobi. Kepalanya masih terasa berputar mencari informasi tentang apa yang sedang terjadi, meninggalkan ekspresi tidak jelas antara awas dan bingung. Fauzi, jujur saja, selalu ingin tertawa melihat ekspresi itu, ekspresi bangun tidur Alya dalam keterkejutan bisa dikatakan lucu, gadis itu seolah berusaha menipu semua orang bahwa sejak awal ia tidak tidur sama sekali. Yang jelas-jelas gagal.

Tapi itu bukan fokusnya untuk saat ini. Pukul satu pagi, rumah sakit sepi bukan main. Masih terdengar suara kasak-kusuk obolan para perawat yang jaga malam di ruang perawat, tapi selebihnya, hanya suara angin malam dan nyanyian jangkrik yang bisa mereka dengar. Dan Fauzi rasa, empat jam tadi ckup untuk gadis itu tadi beristirahat. Yah, jika mengingat Alya habis menggotong dua pria dewasa, berkeliling rumah sakit membangunkan orang-orang selama enam jam dan tidak lupa jelas-jelas kurang tidur sejak pagi, sepertinya masih kurang, sangat kurang malah. Ia sendiri terkejut, bagaimana gadis ini bisa punya ketahanan fisik sekuat itu?

Dan mengabaikan tatapan kesal Alya—baiklah aku akan tidur satu jam, bangunkan aku, kata Alya empat jam lalu—memberi kode agar mereka segera bergerak. Pukul satu pagi, seharusnya tak akan ada yang sadar kalau mereka pergi. Yah, lagipula, kalau orang seperti Leon dan anak buahnya bisa masuk tanpa kesulitan berarti, kenapa Fauzi dan Alya tak bisa keluar tanpa di curigai?

“Ada rental sepeda sekitar lima puluh meter dari toko swalayan yang kita kunjungi kemarin, kau bawa uang?”

Alya mengangguk,

“Bagus. Kau bisa keluar dengan mudah lewat pintu depan. Lalu cepat pergi ke rental itu dan pinjam dua sepeda, yang ada boncengannya. Sedangkan aku,” Fauzi menghela nafas sebentar “karena statusku saat ini sebagai pasien, tak akan ada yang santai melihatku berjalan malam-malam. Sulitnya, semua orang rumah sakit ini mengenalku, jadi kupikir aku akan ambil rute yang lebih jauh”

“Setelah itu?” Alya bertanya “Aku harap kau ingat kalau aku tak mau ini jadi misi mati konyol”

“Kita akan berusaha sebisa mungkin menipu Leon, tapi aku sendiri tidak yakin” dan hal tersebut terang-terangan terpancar dari wajahnya. Tujuan utama Fauzi saat ini cukup sederhana, ia hanya ingin menyelamatkan Faiza dan Aldo—dan dengan semua nalurinya untuk menghindari bahaya—maka rencananya pun sederhana.

Alya menyadari ini. Tapi kalau mengingat orang-orang ini mengejar mereka terus-menerus, bisa-bisa hidup mereka tak akan pernah tenang sampai kapan pun. Ia juga sadar itu ambisi yang terlalu tinggi, tapi Alya ingin ... setidaknya memastikan kalau mereka tidak akan di buru lagi.

“Soal itu biar aku yang urus” ujar Alya tiba-tiba “pertama-tama kita selamatkan Faiza dan Aldo dulu”

Fauzi mengangguk, dan dengan begitu mereka berdua berpisah.

Hampir semua sudut rumah sakit diberi perlengkapan CCTV. Dan meski kesal jika ia ingat soal penculikkan Faiza yang terkesan sangat mudah akibat pembajakkan frekuensi, Fauzi tetap tidak bisa mengabaikannya. Tujuan utamanya adalah mendapatkan adik dan sahabatnya kembali, tujuan minornya adalah tidak membuat siapapun khawatir, terutama ibunya. Jadi Fauzi memutar otak.

Eh, mereka tak mungkin memasangnya di kamar mandi kan? Fauzi segera memeriksanya, dan mendapati bahwa dirinya benar. Dan senyumnya terkembang ketika melihat jendela kecil di atas dudukkan toilet. Tidak terlalu besar memang, tapi kalau dikira-kira sepertinya ia akan cukup masuk ke sana, lagipula postur tubunhnya juga tidak terlalu besar.

Satu-satunya masalah adalah posisi jendela itu. Fauzi mungkin saja mencapainya dengan berdiri di atas dudukkan toilet dan memanjat. Hanya saja, turun nanti mungkin akan menyakitkan. Dan kalau ia tidak salah ingat, gedung ini dibangun di tanah yang tidak rata. Dengan kata lain ada kemungkinan kalau tanah pijakkannya bisa jadi lebih rendah daripada ruang kamar mandinya.

Fauzi mengurut kening, dia tidak mau ambil resiko tulangnya patah karena jatuh. Setelah ini dia masih harus bersepeda ke rumah Dokter Kamil dan seingatnya medannya sama sekali tidak nyaman untuk dilewati orang patah tulang.

Ia keluar kamar mandi dengan gelisah. Matanya melihat keseliling dan melihat ibunya tidur di sofa tanpa selimut. Perasaan sedih memenuhi dadanya, ia juga bertanya-tanya kenapa hal buruk pada keluarganya. Belum lagi, ayah yang jarang sekali pulang, dalam setahun kepulangannya bisa dihitung jari. Kali ini perasaan bangga menelusup di antara rasa sedihnya. Ibunya wanita yang kuat.

Fauzi berjalan keranjangnya sendiri dan menarik selimut. Ia berniat menyelimuti ibunya, tapi sebuah ide lain tiba-tiba terpikir olehnya. Pelan-pelan diletakkan selimut itu di lantai dan ia mulai menarik spray kasurnya. Selimutnya terlalu tebal untuk ia jadikan tali, tapi spray kasurnya lain.

Fauzi mengendap-endap lagi ke kamar mandi dan mengikat ujung kain itu di selot pengunci jendel yang bentuknya seperti gagang pintu. Ia kemudian kembali untuk menyelimuti ibunya. Saat ia hedak masuk lagi ke kamar mandi, ia mendengar ibunya memanggilnya. Ia menghela nafas, lalu berbalik.

Sebelum ia sempat melontarkan kebohongan, ibunya menyahut.

“Hati-hati”

***

Fauzi meringis, dugaannya benar. Tanahnya tidak rata, dan meski dengan bantuan selimut itu, dia tetap jatuh dengan menyakitkan.

Tapi ia tak bisa berlama-lama berdiri disana sambil mengelus-elus pantatnya. Alya pasti sudah menunggu sekarang, dan begitu juga dengan Aldo dan Faiza. Kata-kata ibunya tadi terdengar aneh, mungkin ia mengigau. Tapi tetap saja ia menjadi lebih tenang setelah mendengarnya. Entah ibunya memang mendukungnya untuk membawa Faiza pulang atau ia sudah lelah dengan semua hal aneh yng menimpa anak-anaknya. Tetap saja, rasanya seolah ibunya bedoa untuk keselamatannya sendiri.

Dan sekarang, ditambah ia sudah tau siapa musuhnya. Fauzi tak akan ragu lagi, ia tidak akan mengabaikan instingnya lagi, ia tak akan mengindahkan rasa takutnya lagi, toh itu membuatnya jadi waspada dan akan menyetirnya pada keberhasilan.

Fauzi berjalan, ia berada di bagian ujung kompleks rumah sakit. Sebuah tembok tinggi berdiri gagah di hadapannya, membatasi dirinya dengan jalanan. Nah, sekarang apa yang harus ia lakukan? Dari arah datangnya, Fauzi tau ia ada di belakang gedung rawat inapnya. Jika ia ke kiri, dan berbelok, ia akan melihat jendela kamarnya sendiri dan jalan utama menuju gerbang. Sama halnya jika ia ke kanan. Dengan kata lain buntu.

Satu-satunya kesempatan adalah tembok di hadapannya ini.  Baiklah, ujarnya dalam hati, tak ada pilihan lain. Fauzi meraba pinggiran tembok itu, cukup kasar dan ada beberapa lekukan yang bisa ia jadikan piakkan. Untung saja bagian atasnya tidak ditempeli benda tajam. Mungkin karena pihak rumah sakit tidak berpikir akan ada pencuri yang memanjat dari sisi lainnya.

Tunggu dulu, Fauzi menelan ludah, mungkin bukan karena tak akan ada yang memanjat, tapi tak ada yang bisa memanjat. Dan sebelum sempat memikirkan alasannya, Fauzi terpaku melihat bagian bawah sisi lain tembok itu. Tentu saja, sama seperti ia mendapati sisi lain kamar mandi lebih rendah dari pada kamar mandinya, bagian lain tembok itu juga begitu.

Dan lebih parah, ada selokan di sana. Fauzi sudah selamat dari kemungkinan patah tulang karena jatuh dari jendela kamar mandi, dan sekarang ia medapat peluang untuk mengerang di selokan. Sungguh tidak elegan.

Persetan! Serunya dalam hati. Fauzi memilih untuk melompat ke depan. Kalau ia beruntung, ia akan sampai di jalanan alih-alih di selokkan. Mungkin rasa sakitnya tidak berbeda, tapi setidaknya ... Fauzi juga tidak tau kenapa berpikir ide itu lebih baik.

Sayang pemilihannya waktunya tidak tepat. Fauzi melompat dan dari sudut lompatanya ia tau ia akan sampai di jalan dengan kaki duluan, hanya saja saat itu sebuah mobil datang dari arah kanannya sambil membunyikan klakson keras-keras.

Fauzi refleks melakukan gerakan berputar begitu sampai di jalan, sehingga ia terduduk di seberang jalan. Pengemudi mobil tadi meneriakkan sumpah serapah sambil bergerak. Sedangkan Fauzi susah payah menenangkan diri. Jantungnya berpacu terlalu cepat sampai ia rasanya lupa caranya bernafas. Tadi itu nyaris sekali.


Tak ada waktu untuk memikirkan bagaimana Fauzi bisa melakukan roll depan sempurna—sementara selama ini selalu gagal dalam tes olahraga—ia harus segera ke Alya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^