18 Januari 2017

Kuwalaya (Bagian 11)

“Baiklah tuan dan nyonya!” seru Ruci dengan volume suara yang aku sendiri heran bagaimana dia mengeluarkannya, maksudku matahari baru saja naik, dia pikir apa yang dia lakukan? “Aku harap kalian siap!”

Felisa bangun dengan kebingungan, ia belum sepenuhnya sadar dari mimpi yang baru saja melingkupinya. Sementara Indra sudah sejak tadi menghunuskan pedangnya. Tak ada suara apapun lagi, selain dersik angin yang berembus dengan kencang menerbangkan debu.

“Apa ... apa yang terjadi?” kata Felisa sembari keluar dari reruntuhan rumah itu, ia menutupi wajahnya mencoba menghalangi debu-debu itu.

“Kalian tidak mengira bisa mendapatkan Kuwalaya dengan mudah kan?” Ruci berteriak lagi.

Tanah tiba-tiba berguncang, sangat keras, aku harus terbang bersama merpati lain supaya tidak terganggu. Felisa menoleh ke belakangnya dan melihat rumah itu sudah benar-benar hancur tertabrak angin puyuh yang menari-nari dan kini datang kearahnya. Ia membelalakkan matanya.

“Uh-oh”

“Lari bodoh!” Indra berteriak sambil berlari menjauhi Felisa, menjauhi angin puyuh itu. Dasar pengecut.

“Tunggu!” Felisa berteriak dengan susah payah, nafasnya tersenggal sementara ia berlari “Ada apa ini?!”

“Kau tidak lihat? Kita di serang!” Indra bahkan tidak menoleh saat mengatakkan itu, ia terus saja berlari.

“Tapi kenapa?!”

“Berhenti bertanya!”

Mereka akhirnya berhenti berlari ketika angin itu berhenti berputar dan mengecil hingga menghilang. Felisa langsung jatuh terduduk dan mencoba mengatur nafasnya yang memburu, ia melihat sekelilingnya dan mendapati suasananya sudah lebih kacau dari semalam. Semua bangunan setengah hancur yang kemarin ia lihat kini benar-benar rata dengan tanah, benar-benar hanya tinggal batu-batu besar yang berserakkan.

“Apa-apaan” gumamnya.

“Harusnya aku yang bilang begitu, Yodha macam apa kalian ini?” geram Ruci “Benar-benar menyedihkan” entahlah, tapi aku tersinggung saja mendengar kata-katanya.

“Memangnya aku harus bagaimana?” Felisa berteriak, mencari-cari ke arah langit. “Menghempaskan diri, begitu?”

“Kau tidak sungguh berpikir aku akan memberitahumu, kan?” Suara Ruci tak kalah tinggi.

“Keluar kau, pengecut!”

“Hei” kini Indra yang berbicara, “Aku rasa menghinanya bukan ide yang bagus”

Tanah berguncang lagi, kini lebih keras bahkan mereka berdua tak sanggup berdiri. Felisa melihat ke sekitarnya, masih penasaran siapa yang sejak tadi berteriak padanya. Tapi nihil, tak mungkin ada orang yang bersembunyi di lapangan luas minim pepohonan ini.

“Kita harus kembali ke hutan” seru Indra “tak ada gunanya melawan alam” Indra mencoba berdiri, hendak berlari tapi guncangan itu menjatuhkannya lagi.

“Tapi Bara ada padanya!” Felisa tak mau kalah “Dan dia tak pakai baju semalaman”

“Lantas?” pandangan Indra pada Felisa tak dapat ku artikan, itu seperti gabungan berbagai macam rasa terkejut—toh dia sendiri tidak mengenakkan apapun selain celana dari kulit—

Felisa mendengus kesal “Sungguh? kau tak tau apa artinya itu? Siapa yang menceramahi soal putusnya kepalamu kalau salah satu dari kami mati?”

“Siapa yang sejak kemarin bilang kalau anak itu akan baik-baik saja?”

“Kalian lebih baik tidak mengabaikanku” dan dengan begitu hempasan angin yang keras memukul mereka sampai melesak ke belakang.

Felisa meringis, aku juga.

Aku tidak pernah tau soal rintangan macam apa yang dihadapi para Yodha untuk mengambil Welas. Itu bukan salahku! Maksudku, aku ada di istana, mengurus para Raksa, tak ada waktu untuk mengintip pikiran mereka di sana—bukan berarti jangkauan telepatiku bisa sampai sejauh itu juga—. Lagipula mereka pun tak pernah kembali hidup-hidup untuk menceritakannya. Tapi ini benar-benar konyol, apa Balinda sungguh-sungguh meminta para Pargata untuk membunuh Yodha? Mereka bisa mengakibatkan perang! Dan seingatku itu hal terakhir yang Balinda inginkan. Eh, iya kan?

Sekarang kau paham betapa bodohnya kau memilih mereka, hah? Batin Ruci mengejekku.

Diam!

Aku menarik nafas, posisiku ada di langit saat ini. Dan aku bisa melihat beberapa bongkah batu melayang dengan gerakkan berputar tak jauh dari tempat Indra dan Felisa. Aku tak perlu membaca pikirannya untuk tau apa yang hendak dia lakukan. Gila, Ruci sudah gila!

Ini tidak bisa dibiarkan. Aku tau Raja Manda melarangku melakukan apa pun, tapi dia mengirimku karena khawatir akan hal-hal seperti ini kan? Felisa harus mendapatkan Kuwalaya tidak peduli bagaimana caranya. Di tidak boleh mati karena ini, dia tidak boleh mati sekarang. Benar, aku harus melakukan sesuatu.

Jadi yah, aku melakukan sesuatu. Pusaran angin dengan bongkahan batu itu melambat, dan aku beberapa kali mendengar Ruci mengumpat. Tapi aku tau ini tak akan cukup. Aku harus menghentikkan Ruci, aku harus melumpuh—ASTAGA!

Aku bahkan tak percaya akan mengatakan hal ini, Felisa bodoh! Aku tak mengerti apa yang ia pikirkan, aku bisa membacanya dengan jelas—ia muak, ia ingin menghentikkan angin-angin itu—tapi dia sama sekali tidak berpikir. Ia bangkit dan berlari mendekati pusaran batu itu. Dan dari sakunya, ia mengeluarkan ... apa namanya itu? Sebuah tongkat kayu berbentuk huruf Y dengan karet diantara kepalanya, ia mengambil kerikil dan melontarkannya dengan alat itu. Seolah bongkahan batu yang melayang berputar dihadapannya tak lebih dari buah apel segar yang menanti untuk dipetik.

Indra tidak melakukan apapun. Dia hanya duduk di sana sambil membelalakkan mata sambil membuka mulutnya. Dia sama terkejutnya dengan aku, dia sama tak percayanya denganku.

Ruci tertawa, suara tawanya keras dan jelek. Dia tidak tertawa karena merasa punya kuasa atau berusaha menakut-nakuti, dia tertawa karena merasa apa yang dia saksikan itu lucu. Dia dipenuhi kegelian murni. Kemudian pusaran batu itu berhenti begitu saja.

Felisa berdiri saja di situ. Sama sekali tidak diliputi keraguan, ataupun rasa khawatir tentang apa yang baru saja ia lakukan, tentang apa yang akan terjadi. Dia berdiri di sana, menanti Ruci keluar dari persembunyiannya, dan memang itulah yang terjadi. Sebuah gundukkan batu beberapa puluh meter dari mereka runtuh, dan Ruci melompat dari dalamnya, ia terkekeh.

“Kalian benar-benar kurang persiapan, kan?”

Felisa membungkuk, memungut kerikil lain, lalu memasang kuda-kuda. Dia bersiap kalau ada serangan lain. Aku bisa membaca pikirannya, tapi tidak dapat memahaminya.

“Di mana kau sembunyikan Bara?” desisnya sambil membidik.

“Oh, apa yang akan kau lakukan? Aku takut sekali” Ruci terkekeh lagi. “Aku berlatih bertahun-tahun, dan Yodha yang membalas seranganku adalah gadis kecil dengan ketapel” ia bergumam “omong kosong macam apa ini?”

“Dengar ya, kancil yang bisa bicara” Felisa berucap lagi “Aku sama sekali tidak mengerti kenapa kau begitu ingin membunuhku. Tapi, aku ini cinta damai, jadi bisakah dengan damai kau mengembalikkan Bara?”

Ruci mencebik kesal “Kau tau kali ini aku benar-benar marah dengan Mar” Hey! “Dan kenapa pula kau mau anak itu kembali? Dia sama tidak bergunanya denganmu!”

“Kalau aku sih,” Felisa merendahkan nada suaranya, ia kini lebih santai, meski tidak menurunkan pengawasannya—astaga, untuk apa? Dia takkan menang dengan benda itu—“lebih memilih tidak ditanyai polisi saat pulang nanti”

“Pulang?” Ruci tertawa “Kau sebegitu optimisnya bisa pulang hidup-hidup, ya?” ia melanjutkan. “Kau kira semua ini hanya lelu—”

Ruci memang harus menghentikkan kalimatnya, ia—dan bahkan Felisa juga aku—tidak memperhatikan Indra selama dirinya asik bergosip dengan Felisa. Dan tahu-tahu saja, pria itu sudah ada dibelakang sang kancil sambil melompat mengayunkan pedang. Tak ada gunanya melawan alam, jadi lawan saja penjaga kedamaian alam, eh?

Ruci, tentu saja ia tidak terluka, ia mengalihkan fokusnya tepat waktu dan menghempaskan Indra yang mengancam di belakangnya. Kemudian ia berbalik, dan menampakkan seringai mengerikkan kepada laki-laki itu. Indra bangkit berdiri, memasang wajah sekeras batu lalu menerjang maju. Ruci hendak menunggu sampai ia cukup dekat dengannya sebelum menamparnya dengan kenyataan bahwa pedang tak bisa melawan angin, tapi sebelum Indra memasuki zona itu ia berbelok.

Dan sebelum siapapun sadar, sambil berlari ia menyarungkan pedang dan dengan satu gerakan memanggul Felisa kabur. “Ambil jarum di sakuku” bisiknya pada Felisa sebelum gadis itu protes.

“Kalian pasti bercanda” Ruci tertawa dengan suram, kekecewaannya tak bisa kugambarkan.

Indra kehilangan pijakannya, tapi bukan karena dia tersandung atau menghadapi hempasan angin lainnya. Ia melayang. Dan sesegera ia kehilangan keseimbangan, secepat itu pula ia menjatuhkan Felisa. Untung gadis itu juga turut melayang. Tapi keadaan tidak menjadi lebih baik, mereka mulai berputar seperti halnya batu-batu yang hampir dilemparkan pada mereka tadi. Awalnya memang pelan, tapi kecepatannya mulai naik dan Indra bersyukur ia belum makan apa pun sejak kemarin.

Tak perlu waktu lama hingga akhirnya mereka berdua terlempar dengan kecepatan yang mengerikan. Aku tau Felisa akan mengalami patah tulang jika ia sampai menubruk tanah kalau hal itu dibiarkan, dan jika aku membiarkannya, hal itu malah akan jadi kontradiksi dari niatku untuk menolongnya. Aku membuatnya jatuh dengan lebih manusiawi, tapi Ruci terlalu pelit untuk membiarkanku melakukan penyelamatan begitu saja. Yang aku tau, berikutnya aku berada dalam putaran angin yang memabukkan. Untung saja, aku masih cukup kuat untuk terbang.

Dan jangan khawatirkan Indra, panglima kesayangan Raja itu mendarat dengan mulus dengan gerakkan berputar, dan tak membuang waktu untuk bangkit dan mengayunkan lagi pedangnya. Ruci sudah bersiap untuk menghadapi manuver mendadak yang mungkin akan dilakukannya lagi, ia mengawasi kanan dan kirinya dengan susah payah. Tapi bukan Indra kalau tidak bisa mengecoh Pargata.

Ia melakukan gerakan meluncur, dan berusaha menyabet kaki kancil itu. Namun Ruci tidak bodoh untuk tetap diam. Ia melompat mundur, dan harus menghindar lagi saat Indra menyerang sisi tubuhnya.

Sebuah lempeng batu jatuh secara vertikal dari langit-langit untuk menghalangi serangan Indra yang berikutnya. Ia melompatinya dan menyerang lagi tanpa lelah, nyaris tanpa jeda. Kalau boleh kukatakan itu hampir tidak bisa dipercaya setelah putaran yang dihadapinya tadi, tapi toh Indra memang menyerbu Ruci seperti kesetanan. Dan dengan gempuran bertubi-tubi tanpa pola secepat itu, Ruci tak punya cukup waktu untuk berkonsentrasi untuk menggerakkan angin. Yang bisa ia lakukan hanya terus bergerak mundur menghindari serangan.

Indra tampak tidak terganggu dengan ini, wajahnya tidak menunjukkan raut kesal baik karena Ruci tidak membalas maupun karena serangannya tidak ada yang kena. Ia punya rencana lain, dan aku baru menyadari bahwa serangan Indra membuat Ruci semakin mendekati Felisa yang sejak tadi siap membidik dengan ketapelnya.

Kemudian terjangan Indra melambat, Ruci ikut berhenti dan menyiapkan serangan angin terbesarnya. Saat Indra bergerak maju dengan teriakkan memekkakan telinga, Ruci tau bahwa kali ini ia tidak perlu menghindar dan Felisa sadar ini adalah bagiannya.


Indra terlempar, tapi tak lama kemudian Ruci terjatuh dan tak bisa bergerak. 

0 komentar:

Posting Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^