Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2016

2016 in Review

Gambar
Sisa 2016 sudah bisa di hitung jari, satu lagi tahun yang ‘mengesankan’ terlewati. Dan ya, jarak saya dengan kematian berkurang satu tahun lagi.
Sepertinya jelas banget bagaimana kesan saya pada tahun ini, ya? Tapi saya gak mau menyalahkan diri sejauh itu, soalnya saya yakin banyak orang yang juga setuju kalau 2016 bukan tahun yang terbaik. Khususnya dengan banyak kebencian dan kehilangan yang tersebar di media.
Bagi saya sendiri, ini tahun yang berkesan. Kehidupan seolah mengejek saya yang akhir tahun lalu berkata saya siap dengan tanggung jawab. Mengejek saya yang tahun lalu bilang menerima sisi menyebalkan masyarakat. Mengejek saya yang mengharapkan tantangan. Rasakan! Serunya, selagi saya mencoba untuk bangkit lagi, menghindari lantai kaca dengan kegelapan tak berujung dibaliknya. (Iya, tau, lebay)
Dan sebab itu saya juga minta maaf untuk semua aura negatif yang saya sebarkan, semua keluha, semua sindiran, juga penggunaan kata depresi atau jenis penyakit mental lainnya yang tidak…

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 19

Saat Fauzi membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah plafon putih yang sangat ia kenal, lalu hidungnya mencium bau antiseptik yang membuatnya semakin yakin tentang keberadaan dirinya sekarang. Fauzi melihat ke sekitarnya, dan mendapati ibunya meringkuk tidur di sofa. Wajahnya terlihat lelah seperti biasa, dan menyadari bahwa hal itu seringkali dsebabkan olehnya menghantamnya dengan rasa bersalah.
‘Harusnya aku tidak sak—’ Fauzi menghentikkan monolog pikirannya sendiri, ia memang sudah terbiasa sakit untuk terbaring di ranjang rumah sakit, tapi kali ini, ‘aku tidak sedang sakit’. Fauzi menggali memorinya, yang terakhir ia ingat, ah, tentu saja jus jeruk buatan Kak Lily. Lalu ia tertidur, tertidur, apa karena itu mereka membawanya ke mari? Hanya karena ia ketiduran di rumah Profesor Owl?
Fauzi berusaha untuk duduk, kepalanya terasa pening. Apa ini efek tidur terlalu lama? Ia melihat ke jendela, langit memang sudah gelap.  Tapi selama apa ia tidur? Ia mengangkat tangan kanannya, oh,…

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 18

Alya tak tahu banyak soal cara menarik perhatian orang yang menguntitnya. Ia pernah membaca soal berjalan melewati jalur yang rumit atau berbentuk lingkaran untuk mengetahui seseorang sedang menguntit kita atau tidak. Tapi keadaannya berbeda, penguntit itu mengawasi mereka dari sini, bersembunyi di antara pedagang kaki lima ini.
Alya menyeruput es cendolnya lagi. Sebenarnya, kalau ia mau, Alya bisa saja benar-benar membuat jalur lingkaran itu, hanya saja ia tidak yakin apa itu cukup aman. Selain itu, ia tidak berniat membuang-buang waktu, Aldo dan Faiza, entah di mana dan bagaimana keadaan mereka sekarang.
Seseorang menepuk bahunya, Alya terkejut bukan main. Tapi ia kembali tenang setelah melihat bahwa itu adalah tukang dawet yang tadi. Pria tua itu mengucapkan sesuatu, tak terlalu jelas di telinga Alya yang sedang mendengarkan musik, tapi ia bisa membaca gerak bibirnya. Alya mengerutkan dahi sejenak, lalu dengan cepat menjawab “Iya!”
Sang kakek menunjuk seorang pria yang berdiri di …

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 17

“Kita tak bisa terus diam begini, Aldo” ucap Faiza. Badannya terasa kaku karena hampir seharian berbaring. Sebenci apapun ia berbaring di ranjang rumah sakit. Setidaknya ia masih bisa bergerak, di sini, kaki dan tangannya diikat, dan lama-kelamaan udara terasa semakin pengap “Dan kau bilang tadi kita di bawah tanah? Kita bisa kehabisan oksigen”
Aldo tidak menjawab. Ia sudah sejak semalam di sini, sudah lebih lemah daripada saat Faiza datang. Badannya sudah tidak kaku, malah lemas sama sekali, ia tidak bisa merasakan apa-apa lagi.
“Aldo? Aldo?” Faiza terus memanggilnya. Tapi suara dengkuran membuatnya lebih tenang, setidaknya itu berarti Aldo masih hidup. Masih hidup? Tidak, apa maksud pikirannya itu tadi? Tidak, pasti ada cara untuk keluar.
Sayangnya ia kehabisan ide brilian. Sama sekali tak terpikir trik apapun. Ia tau ini percuma, tapi Faiza terus berusaha melepas sabuk yang menahan lengannya. Ia tau itu justru akan semakin membuat badannya lemas, dan mempercepat habisnya oksigen, …

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 16

Rano berjalan tanpa tau arah. Pikirannya melayang pada bayangan keputusasaan di mata Gilang sebelum orang itu mati, lalu ia tersenyum masam. Langkah kakinya menjadi ragu di persimpangan, orang-orang bantuan dari Gwen sudah tidak mengikutinya lagi dan kini dia sendirian. Apa yang akan dia lakukan setelah ini? Memikirkan hal itu dia jadi sebal sendiri, lalu memilih mengambil jalur untuk kembali ke gubuk kecil mereka di tepi hutan.
Ponsel dalam saku Rano bergetar. Tapi itu bukan saku di mana ia menaruh ponselnya sendiri. Rano mengangkatnya, setelah sebelumnya mengerutkan dahi membaca nama yang tertera di sana.
“Gwen!” Leon berteriak dari seberang sambungan “Kau di sana? Maaf aku mengganggu, aku punya sedikit masalah”
Rano tidak menjawab, ia justru lebih terkejut dengan kenyataan bahwa Leon mengenal Gwen. Pria itu memang misterius, tapi Rano tidak pernah menganggapnya punya posisi sehebat itu.
“Kenapa kau diam? Oh, maaf, apa kau sedang rapat? Begini, Lily tewas—” Leon terdiam sebentar, s…