28 Desember 2016

2016 in Review

imgsrc

Sisa 2016 sudah bisa di hitung jari, satu lagi tahun yang ‘mengesankan’ terlewati. Dan ya, jarak saya dengan kematian berkurang satu tahun lagi.

Sepertinya jelas banget bagaimana kesan saya pada tahun ini, ya? Tapi saya gak mau menyalahkan diri sejauh itu, soalnya saya yakin banyak orang yang juga setuju kalau 2016 bukan tahun yang terbaik. Khususnya dengan banyak kebencian dan kehilangan yang tersebar di media.

Bagi saya sendiri, ini tahun yang berkesan. Kehidupan seolah mengejek saya yang akhir tahun lalu berkata saya siap dengan tanggung jawab. Mengejek saya yang tahun lalu bilang menerima sisi menyebalkan masyarakat. Mengejek saya yang mengharapkan tantangan. Rasakan! Serunya, selagi saya mencoba untuk bangkit lagi, menghindari lantai kaca dengan kegelapan tak berujung dibaliknya. (Iya, tau, lebay)

Dan sebab itu saya juga minta maaf untuk semua aura negatif yang saya sebarkan, semua keluha, semua sindiran, juga penggunaan kata depresi atau jenis penyakit mental lainnya yang tidak tepat. Semoga saya tidak menyakiti hati siapa pun, harapan yang egois, memang.

Tapi yah, kalau dipikir-pikir ini gak buruk-buruk amat. Pelatihan olimpiade itu bakal jadi kenangan yang saya inget terus, waktu jalan-jalan ke IPB juga, ato pas saya melawan kebiasaan dengan berangkat dadakan ke obralan Gramedia buat borong buku Agatha bareng Intan, juga waktu ketemu Tere Liye.

Tahun ini juga awal dari banyak hal yang mungkin jadi sesuatu yang berarti buat saya. Saya mulai nonton Dan and Phil, dan ini obsesi paling lama yang pernah saya jalani. Dan sekedar inget dua orang ini, bikin saya bisa senyum pas lagi sedih-sedihnya.

Saya juga mulai belajar gambar digital. Yah, meski awalnya gak mau serius-serius banget, soalnya saya tau bakal gagal. Tapi makasih buat Iis sama Indri yang bikin saya jadi mau nerusin ini. Maksud saya, saya emang suka gambar dari SD, tapi isu kepercayaan-diri saya sering mengganggu jadi makasih kalian.

Dan soal tontonan, tahun ini saya banyak nonton Anime. Dan saya gak nyesel.

Walau ya, hasilnya saya jadi keteteran di menulis dan membaca, tapi selalu ada cara buat memperbaikinya, kan?

Bahkan soal saya yang sering sakit hati tahun ini, itu juga kabar baik. Toh itu artinya candaan saya tentang betapa saya gak punya perasaan itu gak bener. Dan itu juga berarti mungkin saya gak sepengecut yang saya kira dulu.


Saya gak ngerayain tahun baru, tapi setelah ini semuanya bakal terasa aneh. Semester baru, tanggalan baru, dan hey, uang baru! Jadi yah, saya berharap banyak pada 2017. Betapa pun saya tau ekspektasi lebih sering memberikan kekecewaan, saya gak mau memulainya dengan pesimistis. Jadi yah, semoga ini jadi tahun yang baik untuk kita semua.

17 Desember 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 19

Saat Fauzi membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah plafon putih yang sangat ia kenal, lalu hidungnya mencium bau antiseptik yang membuatnya semakin yakin tentang keberadaan dirinya sekarang. Fauzi melihat ke sekitarnya, dan mendapati ibunya meringkuk tidur di sofa. Wajahnya terlihat lelah seperti biasa, dan menyadari bahwa hal itu seringkali dsebabkan olehnya menghantamnya dengan rasa bersalah.

‘Harusnya aku tidak sak—’ Fauzi menghentikkan monolog pikirannya sendiri, ia memang sudah terbiasa sakit untuk terbaring di ranjang rumah sakit, tapi kali ini, ‘aku tidak sedang sakit’. Fauzi menggali memorinya, yang terakhir ia ingat, ah, tentu saja jus jeruk buatan Kak Lily. Lalu ia tertidur, tertidur, apa karena itu mereka membawanya ke mari? Hanya karena ia ketiduran di rumah Profesor Owl?

Fauzi berusaha untuk duduk, kepalanya terasa pening. Apa ini efek tidur terlalu lama? Ia melihat ke jendela, langit memang sudah gelap.  Tapi selama apa ia tidur? Ia mengangkat tangan kanannya, oh, benda itu sudah tak ada di sana. Ia mencari ponsel, tidak ada juga. Akhirnya ia memindai dinding, dan mendapati sepucuk jarum pendek yang mengarah ke angka sembilan.

Tunggu sebentar! Ia punya janji dengan Alya! Astaga, apa yang ia lakukan di tempat seperti ini! Ponsel, ponsel, di mana benda sialan itu. Fauzi menyandarkan punggungnya, ah, tidak mungkin juga Alya menunggu sampai selarut ini, dia pasti pulang, tapi apa yang aan Alya pikirkan tentang dirinya?

Daripada itu, yaampun dia belum melihat Faiza seharian. Ia harus menjenguknya, yaah, meninggalkan ibunya tak akan terlalu masalah. Lagipula, Fauzi mengenal Rumah Sakit Mariana sebagaimana ia mengenal rumahnya sendiri, ibunya tak akan khawatir.

Saat keluar dari ruang inapnya, Fauzi dikejutkan oleh seorang gadis yang mengurut kening di sofa lobi. Dengan cepat ia langsung mengenali tas biola yang tergeletak di sampingnya.

“Alya, aku kira—” Fauzi menghentikkan kalimatnya saat melihat Alya melotot marah padanya.

“Tujuh jam” Alya menggerutu “bagaimana kau bisa sepulas itu sementara ...” Alya menghela nafas keras. “Entah bagaimana keadaan Faiza dan Aldo, dan bahkan kenapa aku peduli?!”

Fauzi tak tau harus bilang apa, dia hendak bertanya banyak hal mengenai pernyataan Alya tadi. Tapi menurut pengalamannya, hal itu akan sulit jika keadaannya sudah begini.

“Kau mau—” Fauzi tak tau apa ini akan berhasil, Faiza biasanya langsung tenang, tapi “es krim?”

“Es krim? Es krim?!” Alya menampakkan raut tak percaya “Zi, kita dalam masalah besar, dan kau menawariku es krim?!”

“Rasa cokelat” lanjutnya “Dan aku jelas-jelas tak tau apa yang sedang kau bicarakan, jadi percuma marah padaku”

Alya menghela nafas panjang lagi untuk ke sekian kalinya. “Aku mau rasa vanilla”

***

“Lalu aku harus membangunkan semua orang satu persatu seorang diri” Alya mengakhiri kisahnya bersamaan dengan tandasnya eskrimnya.

Tak ada kedai es krim yang buka malam-malam begini, lagipula ini rumah sakit. Jadi mereka pergi ke toko swalayan yang letaknya ada di seberang jalan di luar gerbang. Setelah membeli eskrim—dan camilan lainnya—mereka berjalan perlahan kembali ke gedung inap Fauzi.

“Padahal kau bisa saja meminta bantu Profesor Owl dan Dokter Agung, mereka bisa dibangunkan dengan membuka kelopak matanya dengan paksa” Fauzi untuk pertama kalinya berkomentar, mendengar kematian Kak Lily membuatnya tak bisa berkata-kata. Baru beberapa bulan mereka mengenal, sekarang dia sudah pergi lagi, apa yang akan dikatakannya pada Fira? Gadis itu sangat menyukai Kak Lily.

“Kenapa kau baru bilang sekarang?” Alya meringis, usaha sok heroiknya membangunkan semua orang ternyata sama sekali sia-sia.

“Aku tidak tau benda itu akan digunakan lagi. Atau, memasang musik keras-keras,”

“Aku berpikir kesana, tapi nanti mereka berdua bangun”

“Benar juga, di mana mereka sekarang?”

Alya tidak segera menjawab, ponselnya berdering di sakunya. Buru-buru di angkatnya anggila itu, dan benar saja, wajahnya langsung panik begitu melihat nama yang terpampang di sana.

“Halo?” sapanya ragu, sedetik kemudian dia meringis dan menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Setelah menunggu beberapa saat, Alya akhirnya berani membalas “Iya, pak, maaf” ia diam lagi “Iya, pak” kemudian menutup panggilan itu.

Fauzi tanpa basa-basi langsung bertanya “siapa?”

“Polisi,” ungkap Alya “selalu saja begitu ya? Hubungan kita dengan polisi. Padahal mereka saja yang tidak becus” ia mendengus “Sebaiknya kita cepat pergi dari sini, tidak aman, lagipula aku tak bawa biolaku”

“Hah?”

“Kau tadi bertanya di mana mereka kan? Aku mengurung mereka dalam gudang, lalu melapor pada polisi. Tadi polisi menelepon dan berkata untuk tidak main-main dengan polisi” Alya mendesah “Itu artinya ada pekerjaan orang dalam, penguntit tanpa identitas itu mungkin anak buah mereka yang bersembunyi, dan bisa saja ...”

“... sedang mengawasi kita saat ini”

Fauzi dan Alya berjalan lebih cepat, ruang rawat inap Fauzi hanya tinggal beberapa meter lagi ketika Fauzi tiba-tiba teringat sesuatu dan mengungkap tanya “Kalau begitu, Aldo dan Faiza, sekarang, mereka ...”

 “Ayo lebih cepat, kita harus menyusun rencana” kemudian ia melanjutkan “dan tidak, kali ini kita tidak akan mengendap-endap lalu kabur seperti yang kau lakukan dulu. Ini akan jadi rencana sungguhan, paham?”

Es krimnya tidak terlalu efektif rupanya, gumam Fauzi.

“Daripada itu,” Fauzi agak ragu, dia sebenarnya agak tersinggung karena tekanan tadi tapi saat ini mungkin memang lebih baik menyingkirkan egonya untuk sementara. “Alya, setidaknya istirahat dulu malam ini. Maksudku ini hari yang berat untukmu.—Tidak—Dengar, aku tau kau mengkhawatirkan Faiza dan Aldo, aku juga, bahkan mungkin lebih dari dirimu. Tapi percayalah, mereka baik-baik saja saat ini”

“Dan bagaimana kau yakin? Rano mau membunuhku tadi, kau tidak memperhatikan ya?”

“Kalau kau tanya begitu” aku juga tidak tau “Dia bilang agar kau tidak mengganggu rencananya kan? Apa rencananya? Menghabisi kita semua? Itu artinya dia belum menjalankannya kan?”

“Zi” ujar Alya putus asa “itu empat jam yang lalu, dan kita praktis tidak tau apa yang dia rencanakan. Kita tidak tau apa-apa sama sekali. Menunda sama sekali tidak terdengar bagus”

“Percaya padaku, mereka masih hidup saat ini.”

A/N

At this point I feel everything is pointless and getting too complicated. why? WHY?

14 Desember 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 18

Alya tak tahu banyak soal cara menarik perhatian orang yang menguntitnya. Ia pernah membaca soal berjalan melewati jalur yang rumit atau berbentuk lingkaran untuk mengetahui seseorang sedang menguntit kita atau tidak. Tapi keadaannya berbeda, penguntit itu mengawasi mereka dari sini, bersembunyi di antara pedagang kaki lima ini.

Alya menyeruput es cendolnya lagi. Sebenarnya, kalau ia mau, Alya bisa saja benar-benar membuat jalur lingkaran itu, hanya saja ia tidak yakin apa itu cukup aman. Selain itu, ia tidak berniat membuang-buang waktu, Aldo dan Faiza, entah di mana dan bagaimana keadaan mereka sekarang.

Seseorang menepuk bahunya, Alya terkejut bukan main. Tapi ia kembali tenang setelah melihat bahwa itu adalah tukang dawet yang tadi. Pria tua itu mengucapkan sesuatu, tak terlalu jelas di telinga Alya yang sedang mendengarkan musik, tapi ia bisa membaca gerak bibirnya. Alya mengerutkan dahi sejenak, lalu dengan cepat menjawab “Iya!”

Sang kakek menunjuk seorang pria yang berdiri di sebuah persimpangan jalan. Jantung Alya berdebar, ia tidak menyangka bahwa justru penguntit itu sendiri yang menantangnya. Menyampaikan pada kakek ini bahwa orang yang di tunggu Alya sudah datang. Perasaan aneh menyelubungi hatinya, ini diluar antisipasinya, apa jika dia ke sana akan ada jebakan? Alya menggeleng, kalaupun ada, dia sudah siap melawan balik, lagipula senjatanya adalah sesuatu yang tak akan ia sangka.

Alya mengeluarkan biolanya dari dalam tasnya, entah pilihannya untuk ke sana benar atau tidak. Ia mungkin akan mengalami hal yang sama dengan Faiza dan Aldo, tapi berharap semuanya baik-baik saja tanpa mengambil resiko juga terdengar konyol.

Alya menarik nafas panjang, ia siap.

Aneh juga kenapa orang itu memilih persimpangan itu sebagai tempat berkumpul. Alya mengira para penjahat menyukai tempat yang lebih sepi. Persimpangan itu terlalu terbuka, dan banyak orang yang lewat. Persimpangan itu menghubungkan rumah sakit, lapangan parkir serta kompleks perumahan dinas. Tapi entahlah, mungkin dia sangat percaya diri dengan penampilannya yang memang, dari segi manapun tidak mencolok.

“Maaf,” Alya menyapa “Kau siapa?”

Pria itu menoleh, wajahnya di tutupi masker. Tapi melihat ciri fisik lain yang masih bisa terlihat—rambut lurus hitam legam dan mata yang agak kehijauan—Alya bisa bersumpah ia tak pernah melihatnya, baik sebagai tukang rujak maupun tukang sayur, atau apapun yang mungkin menguntit mereka.

Pria itu membuka maskernya, kemudian tersenyum, saat itu lah Alya sadar kalau ia mengenalnya, terlalu mengenalnya.

Alya tidak terkejut, sama sekali. Hanya saja ini tidak masuk akal.

“Aku bahkan tak perlu menjelaskan apapun lagi padamu, kan?” ucap Leon.

“Di mana Aldo dan Faiza?” desisnya. Ini salah, tidak mungkin Leon yang menguntit mereka selama ini. Karena kalaupun iya, untuk apa? Dia sudah sangat dekat dengan mereka. Leon praktis mempunyai jam tangan Fauzi, yang otomatis bisa melacak keberadaan Faiza dan Aldo. Tak perlu ada penguntitan.

“Aku tidak mengerti dengan kalian para wanita” kata-kata Leon terdengar lelah “Faiza, Lily, dan kau. Untuk pertama kalinya ada orang-orang yang sulit aku tangani”

“Aku tidak bodoh” Tapi kalau begitu siapa yang menguntit mereka selama ini?

“Aku tahu itu, itu sebabnya aku mendatangimu seperti ini” Leon nampak tidak sabar “Dengar, Alya, aku tidak menyukai kekerasan—”

“Lain halnya dengan racun” Alya merendahkan kata terakhirnya, ada seseorang yang lewat di belakangnya. Tempat ini terlalu ramai.

“Jangan memotong. Maksudku, kecuali terpaksa aku lebih memilih untuk tidak mendengar jeritan. Kau paham? Jadi—”

Kau memintaku untuk menyerahkan diri? Yang benar saja”

“Memang tidak, aku tidak sebodoh itu mengira kau akan menerimanya, kan? Aku hanya minta agar kau tidak mengganggu renca—”

Alya tau kenapa Leon menghentikkan kalimatnya, alasan yang sama yang membuat bulu ]udu]nya meremang. Di belakangnya, entah siapa, menyampirkan tangan kirinya di pundak Alya. Dan sementara tangan kanannya, memegang sesuatu yang tajam sambil menekannya ke pinggul Alya.

“Tidak Rano, kau tidak akan melakukannya, tidak di tempat seramai ini! Oh Tuhan, Kau selalu mengacaukan segalanya”

“Tapi, Leon, apa yang baru saja kudengar barusan? Kau takut pada gadis kecil ini?” Rano tertawa “aku akan melakukannya, lalu kita lari, oke?”

“Rano!” Leon menegurnya lagi, lalu sambil merendahkan suara “paling tidak, di tempat yang tidak dilihat orang”

Mereka berencana membunuhnya? Alya tau ini akan terjadi, dasar busuk, umpatnya dalam hati. Hampir saja, hampir saja Alya percaya pada omong kosong manis bahwa Leon akan melepaskannya.

Kalian kenal Rio kan?” Retoris Alya penuh kebencian. Ini bukan akhir hidupnya, Alya masih bisa melakukan sesuatu. Diangkatnya biolanya ke dagu, lalu tangan kanannya yang memegang gesekkan. Rano tak akan menyakitinya di keramaian, meskipun ia bergerak. “Ode to Joy, lagu favoritnya” dan nada-nada ceria mulai mengisi kehenigan dalam kebingungan dua pria itu.

Rano yang pertama kali menguap, kemudian Leon, lalu orang-orang yang berlalu lalang. Suara Tiffany Alvord yang berdendang di telinganya mencegah Alya untuk ikut jatuh tertidur, dan saat ia bisa merasakan Rano sudah jatuh, Alya menghentikkan permainannya. Ia berjinjit dengan hati-hati, dan menahan jangan sampai ia memekik tanpa sengaja.

Alya melihat ke sekitarnya, semua orang tertidur, dia benar-benar membuat kekacauan.

A/N

Saya tau ini pendek, tapi biasanya juga pendek

10 Desember 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 17

“Kita tak bisa terus diam begini, Aldo” ucap Faiza. Badannya terasa kaku karena hampir seharian berbaring. Sebenci apapun ia berbaring di ranjang rumah sakit. Setidaknya ia masih bisa bergerak, di sini, kaki dan tangannya diikat, dan lama-kelamaan udara terasa semakin pengap “Dan kau bilang tadi kita di bawah tanah? Kita bisa kehabisan oksigen”

Aldo tidak menjawab. Ia sudah sejak semalam di sini, sudah lebih lemah daripada saat Faiza datang. Badannya sudah tidak kaku, malah lemas sama sekali, ia tidak bisa merasakan apa-apa lagi.

“Aldo? Aldo?” Faiza terus memanggilnya. Tapi suara dengkuran membuatnya lebih tenang, setidaknya itu berarti Aldo masih hidup. Masih hidup? Tidak, apa maksud pikirannya itu tadi? Tidak, pasti ada cara untuk keluar.

Sayangnya ia kehabisan ide brilian. Sama sekali tak terpikir trik apapun. Ia tau ini percuma, tapi Faiza terus berusaha melepas sabuk yang menahan lengannya. Ia tau itu justru akan semakin membuat badannya lemas, dan mempercepat habisnya oksigen, tapi ia tak tau lagi harus apa.  Keputusasaan sepertinya membuatnya mengeluarkan semua tenaganya. Dengan mengerahkan tarikan di lengan kanan, Faiza tanpa sadar menumpukan semua berat badannya ke kiri. Dan tanpa disadari membuat pusat sebuah inersia, saat sadar meja tempatnya berbaring mulai miring, semuanya sudah terlambat. Ia menjerit begitu tubuhnya (beserta meja itu) terguling ke lantai, dan menimbulkan suara bedebum keras.

Herannya Aldo tidak bangun, dan luar biasa lagi Faiza tidak jatuh. Ia benar-benar penasaran dengan kualitas sabuk yang menahannya. Tapi posisinya kini lebih tidak nyaman, seluruh badannya tertumpu kekiri, menyebabkan sakit di bagian tanggannya, sayang mengembalikan meja ini ke tempatnya berdiri malah lebih tidak mungkin. Dan dengan posisi telinga yang kini lebih dekat dengan lantai, apa ini halusinasi Faiza saja atau dia memang mendengar suara derap langkah menuju ke arahnya?

***

Leon mengerutkan kening, rumah sakit lebih ramai dari biasanya saat ini. Benar juga, ada pasien yang baru saja menghilang, tapi seingatnya dia sudah merencanakan segalanya dengan matang. Kepergian Faiza dilakukan sesuai prosedur, jadi seharusnya kekacauan tidak tercipta secepat ini. Kecuali, kecuali kalau dirinya sudah ketahuan.

Ia mendengus, kalau begini dia tidak bisa jadi Dokter Kamil lagi. Di raihnya sebuah kotak di kursi belakang. Saat dibuka kotak itu berisi beberapa stel pakaian yang dilipat rapi dalam sebuah plastik. Leon memilah-milah, apa yang cocok untuk keadaan seperti ini?

Matanya kembali menatap ke balik jendela mobil, dari pelataran parkir ia bisa melihat jelas tentang kondisinya. Alya baru saja ke luar gedung UGD sambil menggendong tas biolanya (untuk apa?) saat ini dia mungkin sudah mengetahui kebenarannya, dan hancur sudah rencana Leon untuk menyergapnya di lokasi pengolahan limbah cair. Di sudut lain, anak buahnya yang mengurus penjualan ilegal sampah rumah sakit malah sedang asik bercengkrama dengan pria yang tak di kenalnya (tidak berguna). Tapi betapa terkejutnya Leon ketika ia melihat seorang pria paruh baya memasuki rumah sakit dengan tenang. Bahkan meski ia menutupi identitasnya dengan topi, Leon tau itu Rano, gesturnya yang mengeluarkan aura pembuat masalah sudah sangat dikenalnya. Matanya melirik kerumunan polisi di depan gedung rawat Faiza. Ini bukan rumah sakit, ini medan perang.

Sementara itu Alya yang mematung di depan gedung UGD sedang memikirkan hal lain. Daripada memikirkan masa kini dan keadaan bahaya yang sedang menimpanya, ia memikirkan segala yang terjadi pada mereka selama seminggu terakhir. Tepat sejak pergantian dokter Faiza. Ia sekarang mengerti bagaimana Faiza tidak kunjung sembuh walau kondisi fisiknya bisa dikatakkan ajaib. Tapi soal penjualan sampah rumah sakit itu, kejadiannya sudah cukup lama kan? Dan bagaimana dengan orang yang Fauzi bilang sedang menguntit mereka?  Apa dia di sini sekarang? Apa dia orangnya Rano?

Perasaan muak menyelubungi hati Alya. Kenapa harus mereka? Mereka tidak melakukan kesalahan? Orang-orang itu yang berbuat kejahatan, dan apa yang ia dapat dari berbuat kebaikan? Diburu? Tidak, diburu adalah istilah yang digunakkan jika mangsa ikut berlari. Mereka bahkan tak sadar bahwa mereka dalam bahaya, hanya karena kebodohan yang orang dewasa sebut kekhawatiran. Alya tak mau menyalahkan Profesor Owl, tapi kalau dia mengatakannya sejak awal, mereka mungkin bisa lebih waspada. Dan bukannya menjadi buah yang siap dipanen, untuk kemudian dipotong-potong dan dijual sebagai rujak.

Eh? Kata rujak itu memberinya perasaan tidak enak. Fauzi pernah mengatakan sesuatu, apa ya?

“Alya, ya?” lamunannya dihancurkan oleh sebuah suara yang terdengar ragu. Alya menoleh, wajahnya yang tadi dirundung kekelaman mendadak cerah saat mengenali orang dihadapannya.

“Bang Tama! Eh, iya kan?”

Alya bisa melihat pria itu langsung tersenyum lega menyadari ia mengingatnya. Harus ia akui pribadi petugas pos ini sulit untuk diingat, kalau bukan karena ia sudah melihat dan memikirkannya lebih dulu di tempat limbah cair tadi sudah pasti ia tak akan serefleks itu.

“AKu takut salah orang tadinya” ia tertawa canggung. Alya tiba-tiba teringat dengan kertas yang ia temukan disana, buru-buru dikeluarkan dan diberikan pada pria itu.

Keduanya sama-sama terdiam, sampai Alya mengungkap tanya “Itu apa?”

“Yah, seperti yang kau lihat, cuma resi distribusi natura biasa” katanya sambil mengantonginya.

“Banyak ya?” lanjutnya. Ia sendiri agak bingung cara menghadapi orang ini. Sikapnya tak bisa diprediksi. Meski ia sendiri mengategorikannya sebagai penggugup, tapi Alya tidak sepenuhnya yakin.

“Memang, untuk persedian satu bulan sebuah instansi terpencil soalnya. Dan mereka butuh orang yang bukan amatir” Orang itu membusungkan dada. Alya tertawa mendengarnya, lumayan juga, rasanya sebagian bebannya luruh dengan tawanya.

‘Dasar tukang rujak amatiran’ entah kenapa ingatan Fauzi yang berkata begitu tadi pagi menghantamnya. Dia mengejeknya tadi pagi, sekarang lihat kondisinya sekarang.

“Ngomong-ngomong, Alya lagi apa di sini” tanya pria itu lagi.

“Oh, itu, temanku sakit” jawabnya singkat. ‘aku rasa aku melihat tukang rujak ini sebagai tukang sayur tadi pagi’

Apa yang tadi sedang dipikirkannya sebelum Bang Tama muncul ya? Rujak, Kebodohan, Mangsa, Kejahatan, oh penguntit! Ya, benar! Dimana penguntit itu sekarang?

“Dihalaman depan itu, banyak pedagang kaki lima kan?” tanya Alya.

Bang Tama mengerutkan dahi “Iya, soalnya kalau menjenguk orang kan baiknya bawa sesuatu. Alya sepertinya sedang memikirkan sesuatu ya? Sejak tadi tidak terlalu memperhatikanku”

Dia pasti di sini, penguntit itu, dia yang selalu melaporkan segalanya, entah pada Rano atau Dokter Kamil. Sekarang apa yang harus ia lakukan?

“Alya?”

“Aku harus melindungi diri” ucap Alya tiba-tiba “Eh, maaf, ucapanku melantur. Ngomong-ngomong Bang Tama lihat orang yang mencurigakan kah di sekitar sini?”

“Orang mencurigakan?” ia malah balik bertanya “Maksudnya gimana?”

“Misalnya,” Alya sendiri ragu, apa standar seseorang yang mencurigakan “Orang yang sebenarnya menyamar untuk mengawasi orang lain”

“Yang seperti itu memang ada?” pria itu tertawa kecil “Imajinatif juga ya, kau ini”

Alya meringis, manusia yang terlalu santai dengan kehidupan kadang melupakan bahwa hal-hal buruk juga bisa terjadi di sekitar mereka. Terjebak dalam delusi bahwa Tuhan tak akan menguji orang-orang baik, memikirkan itu Alya tiba-tiba merasa malu, mengingat keluhan dalam lamunannya yang sebelumnya.

Daripada itu, sebaiknya ia melakukan sesuatu. Saat ini juga. Tak ada gunanya bersembunyi bagai tikus, bahkan meski Alya tak tau wajah penguntit itu.

“Aku pergi dulu ya, Bang! Dah!”

Tama melihat Alya pergi menjauh, kelihatannya gadis itu tak ingin di usik melihat dia baru saja memasang handsfree di telinganya. Dilihatnya lagi resi natura yang gadis itu tadi berikan, sudah ia duga ada yang mengawasinya di tempat pertemuan tadi. Tapi ia lebih penasaran dengan fakta Alya yang berjalan ke arah barisan pedagang kaki lima, yang juga tak jauh dengan lapangan parkir, dimana ia baru saja melihat mobil Leon terparkir. Dan apakah itu Rano yang baru saja melewati gerbang? Tama bersiul, ia membalikkan badan ke arah gedung UGD. Bagaimana keadaan anak yang satu lagi ya?


A/N
Gilak, banyak banget ganti pov-nya, minor sih tapi tetep aja. What a wreck. saya cuma pengen buru-buru tamat huhu

7 Desember 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 16

Rano berjalan tanpa tau arah. Pikirannya melayang pada bayangan keputusasaan di mata Gilang sebelum orang itu mati, lalu ia tersenyum masam. Langkah kakinya menjadi ragu di persimpangan, orang-orang bantuan dari Gwen sudah tidak mengikutinya lagi dan kini dia sendirian. Apa yang akan dia lakukan setelah ini? Memikirkan hal itu dia jadi sebal sendiri, lalu memilih mengambil jalur untuk kembali ke gubuk kecil mereka di tepi hutan.

Ponsel dalam saku Rano bergetar. Tapi itu bukan saku di mana ia menaruh ponselnya sendiri. Rano mengangkatnya, setelah sebelumnya mengerutkan dahi membaca nama yang tertera di sana.

“Gwen!” Leon berteriak dari seberang sambungan “Kau di sana? Maaf aku mengganggu, aku punya sedikit masalah”

Rano tidak menjawab, ia justru lebih terkejut dengan kenyataan bahwa Leon mengenal Gwen. Pria itu memang misterius, tapi Rano tidak pernah menganggapnya punya posisi sehebat itu.

“Kenapa kau diam? Oh, maaf, apa kau sedang rapat? Begini, Lily tewas—” Leon terdiam sebentar, seolah memikirkan kata-kata yang tepat “—seperti rencanaku, tapi Owl melihatnya, dan dia lari. Aku sedang mengejarnya, tapi aku tak yakin apa dia sudah menelepon polisi. Keadaannya mungkin akan sulit, bisa kau kirimkan The Gecko?”

Rano semakin tak bisa berkata-kata, apa ini? Leon menangani Lily? Bagaimana mungkin?

“Aku anggap, ya.” lalu sambungan terputus.

Rano mengerutkan keningnya lagi, apa yang membuat Leon sebegitu terburu-burunya, meminta bantuan pada Gwen, sampai ia tak sadar kalau ia baru saja menelepon ponsel Gilang? Rano mengangkat bahu. Tapi kalau Leon memang membutuhkan bantuan, kenapa ia tidak datang saja? Varanus bukannya tidak bisa setenang cecak.

Rano membuka aplikasi GPS, ia lalu memasukkan nomor ponsel Leon untuk mencari jejaknya. Dilihat dari rutenya, dia habis dari rumah Owl, tapi kemana ia akan pergi? Leon menunggu sebentar, tapi ia masih tidak bisa mendapat petunjuk, kalau ia menunggu sampai Leon berhenti, mungkin segalanya sudah terlambat. Rano menggaruk-garuk kepalanya, bingung apa yang harus ia lakukan.

Lalu terpikir suatu ide lain. Rano mengambil ponselnya sendiri di sakunya yang lain. Dia mencari-cari nomor Gwen diantara daftar kontaknya yang tidak seberapa.

“Halo?” ujarnya.

“Oh, kau sudah selesai? Tidak perlu melapor seperti ini—”

“Tadi Leon menelepon” potong Rano, ia tidak ingin membuang waktu, bukannya sengaja bersikap tak sopan pada pimpinan Lacertuor itu “Dia bermaksud menghubungimu, tapi sepertinya saking buru-burunya malah menekan nama Gilang. Dia bilang dia butuh The Gecko, apa maksud—”

“Itu saja? Kalau begitu tenang saja Rano, wah kau ini teman yang setia ya?” Lagi-lagi satu obrolan yang cepat, Gwen menutupnya. Entah kenapa kalimat terakhirnya tidak terlalu ia sukai.

Rano mendengus, ia kembali ke aplikasi GPS di ponsel Gilang. Kini dia sudah berlalu sangat jauh dari terakhir Rano melihatnya. Sudah tidak ada tikungan yang mungkin akan Leon lewati, hanya ada satu tempat yang mungkin akan jadi tujuannya, rumah sakit Mariana.

Rano mengangguk-angguk paham.

***

Alya duduk sambil diam-diam memperhatikan Profesor Owl di sampingnya, sejak tadi pria itu menghentak-hentakkan kakinya tidak sabar. Sesekali ia menjenggut rambutnya sendiri dan bergumam tidak jelas.

Alya kebetulan melihat keributan di depan gedung UGD tadi. Seorang pria dengan jubah putih menggendong seorang anak laki-laki tak akan terlalu menarik perhatiannya, jika saja anak itu bukan Fauzi. Sekarang Alya paham kenapa Fauzi tidak membalas pesannya, tapi kalau begitu siapa yang membacanya?

Sejak tadi Profesor Owl sama sekali tidak membuka mulut, ataupun memberi sedikit informasi mengenai apa yang terjadi pada Fauzi. Alya terpaksa mengira-ngira, tapi semua pemikirannya mengarah pada kesimpulan buruk, dan ia tidak menyukainya.

“Dokter Owl,” Alya memutuskan untuk mulai menyapa lagi. Sejak tadi pria itu tidak menggubrisnya, tapi sekarang setelah keadaannya lebih tenang Profesor Owl menoleh ke arahnya. Pria itu menangis. Alya merasa canggung, ia tidak terbiasa melihat pria dewasa menangis di depannya. “Maaf, tapi, apa yang—”

“Lily meninggal” Profesor Owl menjawabnya, air mata masih mengalir dari pipinya tapi dia sendiri tidak menampilkan ekspresi apapun. Ia seolah melihat ke arah lain, dan bukannya menatap Alya.

Alya mau tak mau terkejut mendengar fakta itu. Dia memang baru pertama kali ini bertemu dengan Profesor Owl, bahkan belum pernah sekalipun dengan Kak Lily. Tapi tetap saja, mendengar cerita Fauzi selama ini, dari e-mail-e-mailnya ia merasa sudah sangat dekat dengan mereka.

“Leon. Rupanya semua ini ulah Leon” dia melanjutkan sambil menegakkan badannya, tatapannya lurus ke depan walau tak pasti apa yang ditatapnya. “Tidak, Ini semua salahku, sejak dulu selalu begitu, ceroboh dan bodoh, Leon, Rano, semuanya salahku” Profesor Owl membenamkan kepalanya dalam tangannya.

Alya benar-benar bingung. Bukan berarti dia sebodoh itu tidak mengerti kata-kata Profesor Owl. Tapi siapa Leon yang ia maksud? Orang yang sama dengan yang di sebut para pencuri limbah rumah sakit itu? Dia yang mendalangi semua ini? Tapi apa yang sedang terjadi? Rano? Orang itu punya hubungan dengan Rano?

“Aku ...” Alya tak tau apa yang harus ia lakukan “ada yang bisa aku bantu?” dan bukan maksudnya untuk mendapat jawaban langsung dengan bertanya.

Seorang pria berjubah putih keluar dari pintu dihadapan mereka. Ia menggosok kacamatanya dengan gugup. Lalu menghampiri Profesor Owl dengan tatapan iba. “Kau tidak baik-baik saja, Owl” sahutnya.

“Dokter Agung,” Alya menyapanya. Pria itu adalah dokter yang mengurus Faiza sebelum Dokter Kamil menggantikannya, dari cerita Faiza, Alya tau dia pria yang bisa dipercaya “Bagaimana Fauzi?”

“Aku bisa beri penjelasan medis, tapi intinya dia akan baik-baik saja” ujarnya.

Alya menghela nafas lega, “Kalau begitu, aku akan pergi ke ruangan Faiza untuk mengabarkan ini”

“Alya, kau tadi bertanya soal apa kau bisa membantu” Suara serak Profesor Owl terdengar dipaksakan, “Bisakah kau pulang dan melupakan apa yang sedang terjadi?”

Tapi anehnya, dengusan eras justru datang dari Dokter Agung “Berhenti berpikir kau bisa mengatasi segalanya sendiri, Owl. Kau tidak bisa, dan bukan maksudku untuk menyakitimu dengan mengatakan hal itu. Masalah ini sudah terlalu serius, tak ada gunanya menyembunyikannya lagi”

“Baiklah” Alya menginterupsi dengan ragu “sekarang aku benar-benar bingung”

“Kau tak akan mau mengatakannya sendiri kan? Baiklah, aku yang akan lakukan, dan jangan coba-coba menghentikkanku” Dokter Agung berbalik, lalu berdiri di depan Alya. Meski wajahnya jauh dari ramah entah mengapa dia tidak terlihat menakutkan “Alya, alasan Owl berusaha mencegahmu pergi ke ruangan Fauzi adalah karena ia sudah tak ada di sana”

Alya lagi-lagi tergagap karena keterkejutan, ‘Faiza?’ Tanyanya dalam hati, lalu cepat-cepat menambahkan ‘juga?’ Pikirannya dibanjiri oleh ide bagaimana kejadian buruk yang menimpa teman-temannya berhubungan. Aldo hilang di rumah Dokter Kamil, Fauzi keracunan saat bersama Dokter Kamil, dan Faiza hilang saat dokternya Dokter Kamil, ‘semua ini ulah Leon’ ‘Leon akan membunuhmu, bung’ “Biar kutebak,” ujar Alya ragu “Dokter Kamil adalah Leon?”

“Lihat, Owl, anak-anak ini, mereka tidak bodoh”

A/N

Saya dalam urgensi menyelesaikan kisah ini secepatnya. Desember memang selalu menyeramkan. Doakan saya.