26 November 2016

(Review) Hyōka

imgsrc

Saya bener-bener suka sama anime ini.

Begitu beres nonton episode terakhirnya, saya bengong beberapa saat dan menghela nafas. Hal yang biasa terjadi ketika mengkhatamkan sebuah dunia imajinasi yang bagus. Seandainya ia buku, mungkin saya malah bakal meluk terus di bawa tidur. Sayang resiko bawa tidur laptop itu besar. Jadi yang saya lakukan adalah memimpikannya. Lumayan juga, seenggaknya saya gak perlu mimpiin film horror yang baru saja saya tonton di hari yang sama waktu itu.

Oke, Hyōka, alias Ice-cream, menceritakan kehidupan seorang siswa SMA Kamiyama bernama Oreki Hōtarō yang punya  motto hidup untuk tidak melakukan hal yang tak perlu ia lakukan dan jika ia harus melakukn sesuatu, dia akan melakukannya dengan cepat. Untuk alasan itu, dia tidak terlalu menonjol diberbagai bidang kehidupan.

Tapi suatu hari ia mendapat surat dari kakak perempuannya yang sedag berada di India. Bahwa, sang kakak mendengar klub Sastra Klasik SMA Kamiyama akan segera dibubarkan karena mereka tidak punya anggota. Sebagai mantan anggotanya, Oreki Tomoe tidak ingin hal itu terjadi. Maka ia meminta Hōtarō agar mau menjadi anggotanya. Hōtarō juga tak bisa menolak, ia tahu benar kakaknya jago beladiri taiho dan aikido.

Namun rupanya, begitu sampai di ruangan Klub, ada seorang gadis yang sudah datang bernama Chitanda Eru. Putri satu-satunya keluarga Chitanda yang punya rasa ingin tahu yang tinggi. Dia memasuki Klub Sastra untuk sutau alasan pribadi. Hōtarō sama sekali tidak terganggu dengan keberadaannya, tentu saja, rasa ingin tahu gadis itu selalu membuatnya melakukan hal-hal merepotkan. Mulai mengenai misteri bagaimana Chitanda bisa terkunci di ruangan klub, lalu misteri mengenai rahasia Klub Sastra Klasik 45 tahun lalu, dan lain-lain. And you how the story goes then.

Pertama, saya nyesel banget kenapa baru nonton anime ini sekarang. Padahal keberadaanya udah cukup lama—2011-2012—dan saya juga bukannya gak tau. Seenggaknya, setiap nyari resensi A.B.C Murders pasti ada yang ngomongin ini. Bahkan beberapa orang yang saya tau juga suka fiksi-detektif pernah ngomongin anime ini di twitter.

imgsrc

kayaknya dulu saya pernah liat ada yang posting foto ini di twitter, lupa siapa
back then, all I was thought is what a weird anime, turns out it symbolize Hōtarō interest in Chitanda

Lalu ngomong-ngomong tema. Yup, Hyōka punya tema umum detektif, dalam balutan kisah school-life dan minim romance. Ini tema yang jarang banget yang saya tonton—maksud saya school-life—soalnya, ujung-ujungnya romance. Dan bukan berarti saya sebenci itu sih sama romance, tapi seringnya alurnya ketebak dan yaah, pokoknya bukan cangkir teh saya.

Nah, Hyōka ini, selain karena minim romance—tapi ada kok, tenang aja—nuansa detektifnya kental banget. Dan salutnya, masih realistis karena karakter-karakternya cuma memecahkan misteri biasa dan bukannya pembunuhan. Maksud saya, saya selalu minder ketika karakter fiksi seumuran saya melakukan hal diluar logika seolah itu mungkin, tapi bukan berarti yang dilakukan Oreki dkk ini juga mungkin sih, tapi seenggakknya gituu. Eh, tapi salah saya juga sih yang bogoh pisun sama genre fantasi.

Dan hal lain yang bikin saya suka sama anime ini adalah banyak banget referensi ke Agatha Christie (yeah, I knew, I’m so lame, and sentimental) mulai dari salah satu judul arc-nya “Why Didn’t She Ask EBA” yang merupakan plesetan dari Why Didn’t They Ask Evans serta jelas-jelas di arc-“Welcome to KANYA FESTA!” yang mengambil referensi dari ABC Murders. Saya seneng juga karena bukunya gak di spoiler waktu Houtarou nanya Mayaka tentang isinya. Satu lagi juga, di ending sebelas episode terakhir, yang Mayaka-nya cosplay jadi Poirot dan latar-nya judul-judul novel-novel misteri terkenal.

I’m such a those annoying gurl, aren’t I?

Meski sederhana, pemecahan kasus-kasusnya sendiri tidak terduga lo. Walau untuk arc “Why Didn’t She Ask EBA” dan “Welcome to KANYA FESTA!” itu saya langsung tau apa motif ‘pelaku’nya, yah, kalau ide utamanya udah tau dari novel Agatha Christie, kan tinggal nebak apa sebenernya keinginan pelakunya kan? Tapi cuma sampe motif sih, saya gak pernah berhasil ikut tahu siapa pelakunya. Dan saya terkejut sendiri rupanya saya suka sama permainan kata-kata dan pemecahan trik di cerita detektif, alih-alih sekedar analisis psikologi-nya.

Karakter-karakternya, juga, yaampun saya cinta sama karakter-karekternya.

Dan bukan karena mereka sempurna, justru sebaliknya, karakter-karekternya realistis. Semuanya punya kekurangan, dan dengan begitu ceritanya berjalan. Saya akhirnya tau darimana ide karakter ‘gak suka bersosialisasi’ di LN wattpad itu muncul, walau saya rasa mereka berlebihan. Tapi ya, karakter Hōtarō yang sering dijadiin ikon depresi di tumblr ini—gak juga sih—memang bisa di relate ama banyak orang ya? Terutama bagi para introvert yang mempertanyakan apa kesendirian mereka sungguh pilihan mereka sendiri atau diberikan orang-orang? Dan kalau itu pilihan, kenapa?, pun kalau orang-orang yang memberikannya, kenapa? (saya ovethingking, maaf)

Hubungan dan perkembangan karakternya juga menarik. Saya tadi bilang minim romance, kan? Dan dengan begitu maksud saya adalah romancenya nyesek. Berbeda dengan SG, perkembangan hubungan Hōtarō-Chitanda ini halus banget, nyaris gak keliatan. Juga Satoshi-Mayaka yang bener-bener gak bisa saya pahami. Perkembangannya, terutama Hōtarō, yang dari apatis mulai peduli dan menurut saya ... apa ya istilahnya, I can’t even, too many feels.

Daritadi ngomongi Hōtarō mulu. Habis gimana ya, dualisme karakter Chitanda, sikap Satoshi—akhirnya saya ngerti kenapa dia gak ngedippin mata sebagai pemanis di lagu ending kedua—dan perasaan Mayaka, bahkan karakter misterius Tomoe—yang wajahnya gak pernah muncul bagai Mrs. Bellum di Power Puff Girls tapi perannya seperti yang disebut Poirot sebagai “setiap detektif hebat punya saudara yang sebenarnya lebih jenius dari mereka”—. Banyak yang bisa dibahas, tapi saya bingung mulai dari mana. Mungkin kalau kalian nonton kalian bakal ngerti, atau enggak? Karena gak ada orang yang pernah membaca buku yang sama, apa ini juga berlaku dengan anime?

Yah, saya yang sama sekali awam soal hal ini cuma bisa komen itu aja.

Ngomong-ngomong, saya juga sempat tertohok sama salah satu bahasan tentang ‘bakat’-nya Hōtarō. Hal ini bahkan di bahas dua kali di dua arc yang berbeda. Betapa orang-orang yang berbakat malah menyia-nyiakan bakatnya dan membuat sakit hati mereka yang berusaha memiliki kemampuan itu. Saya inget betapa saya bingung sama perasaan saya sendiri ketika temen nunjukkin gambar buatan dia—yang bagus sekali—dan bilang kalau itu adalah pertama kalinya dia ngegambar orang. Atau seorang penulis—wattpad yang bukunya dibaca ratusan kali—yang ngaku kalau dia gak suka baca. Sejak saat itu saya terang-terangan bilang kesal atau iri ketika menunjukkan kekaguman.


Tapi pada akhirnya kita gak pernah bisa mengubah orang lain kan? Maksud saya, lebih baik fokus pada diri sendiri, bersyukur dan melakukan yang terbaik yang kita bisa. Apa kata orang? Hasil tak pernah mengkhianati usaha.

ōōōōōō

19 November 2016

(Review) Steins;Gate


Pendahuluan


Pada dasarnya, saya suka kisah fiksi, entah apa bentuknya. Baik itu, novel, film, bahkan sekedar klip. Dan beberapa waktu ini saya tertarik dengan anime. Yaah, gak bisa dibilang baru-baru ini juga sih, soalnya kebiasaan nonton anime ini kebetulan ‘pernah’ difasilitasi stasiun lokal kita ter’cinta’. Kalian ngerti lah maksud saya, walau itu artinya memang gak terlalu spesial.

Meski begitu, tetap saja, hobi satu ini gak terlalu banyak peminatnya. Maksud saya, kalau-pun ada saya gak yakin saya bakal dapat tempat. Kebiasaan mengkategorikan manusia dengan teror masa lalu soal ‘fake-fans’ mencegah saya bercerita pada siapa pun. Untungnya ada ‘Ai yang sudah lebih dulu ‘menggilai’ bidang ini sebelumnya, dan saya bertemu teman baru bernama Dewi.

Sayangnya, karena kami bertiga beda kelas semua dan memang gak seakrab itu jadi susah kalau mau diskusi—what?—lagipula sama seperti kecintaan saya pada buku, perbedaan genre favorit kadang jadi halangan. Akhirnya saya fangirling sendirian, dan itu gak enak.

Sebenernya solusinya mudah aja, saya tinggal tuangkan dalam tulisan sebagaimana biasanya. Tapi moral saya terganggu dengan kenyataan bahwa akses saya menonton anime ini illegal. Ya, saya download file gratisnya di Internet. Saya yang sering koar-koar tentang buku bajakan ini download file illegal di Internet.

Saya dilemma, merasa gak pantes komen tapi sekaligus bergolak soal anime yang saya tonton. Rasanya bakal gila—yah, gak juga sih—jadi, setelah mencari beberapa pembenaran, saya akhirnya menaruh sisi sok idealis saya dan mulai menulis. Toh, yang satu ini juga penting sebagai klarifikasi.

Sebelumnya, saya ingatkan lagi kalo saya sama sekali gak pro dalam hal ini. Saya bahkan gak nonton terlalu banyak, jadi kalau kalian baca postingan ini buat cari review berkualitas, kalian salah tempat.

Steins;Gate

Oke, langsung saja. Saat ini, ketika saya menulis ini, saya baru saja menamatkan OVA dari Steins;Gate.

Ya, saya tau ini anime lama, dan saya juga tahu masih ada satu episode 23b yang belum saya tonton. Soal satu episode itu, sengaja gak saya tonton dulu karena saya gak mau bias sama cerita aslinya. Dan soal kenapa saya nonton ini ... jadi gini.



Saya pernah menulis cerita bertema time-traveler berjudul Tujuh Detik Menghilangnya Aku yang merupakan fan-fiksi dari kasus Agatha Christie’s Missing Eleven Days. Lalu salah satu pembaca wattpadnya bilang begitu. Dan ternyata setelah saya browsing itu sebuah game yang di adaptasi jadi anime 2011 lalu. Bahkan meski sudah tau fakta ini lumayan lama, saya baru menyempatkan diri buat nonton bulan November ini. Lagipula, saya baru namatin Erased, yang punya tema time-traveler dan rasanya bakal bosen nungguin episode Bungou Stray Dogs season 2 yang tayang seminggu sekali.

Jadi saya menonton.

Kesan pertamanya, sejujurnya gak begitu bagus, visualnya gak memukau Erased yang baru saja saya tamatin (dan ini saya maklumi mengingat tahun produksinya) dan saya syok sama karakter dan ceritanya yang, sumpah gaje parah. Padahal saya udah masang ekspektasi tinggi gara-gara banyak yang bilang ini anime bagus dan masuk juga dalam Anime Recommendation-nya Dan Howell. Tapi itu bagus juga sih, saya akhirnya nurunin ekspektasi untuk terpukau setelahnya.

Hal pertama yang saya ngeh waktu nonton sih tentang betapa miripnya karakter-karakternya sama Anime When Supernatural Battles Became Commonplace, bukan berarti saya nuduh njiplak ato begimana (apalagi WSBBC masih baru-baru ini). Malah sebaliknya saya malah seneng gara-gara ngerasa ketemu temen lama. Yang mirip tuh, jelas karakter utamanya, Okabe yang mirip Andou, sama-sama chuunibyou tapi rela berkorban. Lalu, Kurisu dan Tomoyo, yang sama-sama tsundere, malah dua-duanya sama-sama berambut merah. Mayuri bahkan bisa dimirip-mirip sama Hatoko.


Ada elemen lain juga sih, semacam nama Kiryuu tapi ini gak penting. Dan yang paling saya suka juga koneksi antara anime ini sama Bungou Stray Dogs  dan Erased. Atau mungkin tepatnya sama sastra Jepang secara umum. Soalnya BSD itu memang udah jelas-jelas pake nama-nama sastrawan dan karya-karya mereka, yang akhirnya bikin saya penasaran. Dan melihat banyak elemen sastra di anime ini, bikin saya salut sendiri sama penghormatan budaya orang Jepang.

Yang saya maksud ini lo. Pertama, nama Rintarou yang jadi nama tokoh utama, lalu seiyuu Dazai ternyata sama dengan Okabe. Dan Akutagawa. Yang nonton BSD pasti tau tokoh jahat tapi kesannya kayak korban ini. Kekuatannya di sebut Rashomon yang juga adalah judul karya terbesarnya. Dan ternyata setelah saya cari, ada pula karya lainnya yang berjudul Kumo no Ito

Kumo no Ito

Dan hal ini jadi salah satu elemen penting di Erased, dan bahkan disebut juga di SG. Kecil sih, tapi tetep aja akhirnya saya jadi searching sana-sini dan dapet ilmu (ceilah). Ngomong-ngomong soal laba-laba, baik Erased dan SG sama-sama menampilkan kupu-kupu. Awalnya, saya juga pikir itu Cuma gara-gara laba-labanya. Tapi ternyata, olala, ada hubungannya sama hukum fisika.

Bener-bener deh.

Untuk ceritanya sendiri, seperti yang sudah saya bilang. Episode awalnya cukup mengecewakan, tapi setelah paham karakternya menonton episode berikutnya jadi tidak sulit. Sampai episode sepuluh, kalau tak salah, kisahnya masih berputar di pengumpulan karakter dan masalah. Dan khasnya anime, karakternya gak imbang dan ujung-ujungnya harem.

Tapi di episode sebelas, ketegangan mulai meningkat dan kisahnya menampilkan apa yang bisa diharapkan dari cerita time-traveler. Bahkan saya mengangkat pesan yang sama di cerita time-traveler saya itu. Keegoisan manusia yang menentang waktu itu salah. Kalau dalam 7DMA, semuanya jelas salah diciptakannya mesin waktu. SG, lebih spesifik soal salahnya ingin mengubah takdir. Pada akhirnya dia harus menghadapi penderitaan dari keegoisannya, dan berjuang dengan keegoisan yang lebih besar.

Intinya, saya suka banget sama anime ini. Meski romance antara Kurisu dan Okabe kurang kerasa perkembangannya, juga visualnya itu. Tapi tetep aja, dari segi cerita, permainan emosi, dan sisi sci-fi nya, gak salah banyak yang muji anime ini.

Akhir kata, saya kok bingung sendiri ini review macam apa, alih-alih nilai animenya malah cerita gimana perasaan saya pas nonton. Ah, tapi kan kalian liat label pos ini ngalor-ngidul, jadi bebas laaah.

***

Beberapa menit setelah selesai nulis ini, saya nonton episode 23b, dan akhirnya inget beberapa hal yang ingin saya tambahin. Saya memuji betapa saling terkaitnya semua tokoh baik minor maupun mayor dalam anime ini, nyaris tak ada yang sekedar cuma lewat doang.

Dan episode 23b ini, mungkin semacam pemuas untuk semua shipper Mayuri dan Okabe alih-alih Okabe dan Kurisu ya? Memang sih, seperti yang saya sebut sebelumnya, perkembangan romance antara Okabe sama Kurisu ini kurang halus, terkesan tiba-tiba. Lagipula, inti perjuangan Okabe kan menyelamatkan Mayuri dari ‘takdir’ kematian. Jadi kalo jadinya sama Kurisu emang agak aneh. Tapi teuteup, ending 23b malah lebih rese dari 23a, saya bahkan gak ngerti apa maksudnya itu.

Ngomong-ngomong, liat kedua episode beda versi ini bikin saya jadi mikir soal keajaiban niat. Motivasi Okabe di 23a, kan dirinya di masa depan, dan dirinya di masa depan itu kan gak bakal ada kalo gak ada dia di masa sekarang. Dengan kata lain, keberhasilannya di episode 23a itu sebenernya karena ada setitik harapan juga meski keliatannya dia udah putus asa banget, sedang di 23b itu... yaah, itu balasan Mayuri dari perjuangan Okabe selama ini kan.

Kalau secara logika, saya lebih suka berakhir di episode 23b, soalnya ya memang lebih rasional (tapi tetep aja, apaan coba endingnya itu). Tapi karena sebenernya, jauh dilubuk hati saya ini drama-queen, 23a yang menang.


Tapi serius lo, niat itu luar biasa ya.

12 November 2016

Speech from the Useless

salaaah

Peringatan : Aura negatif. Mungkin bukan sesuatu yang mungkin layak di publikasikan, tapi seri label MUSTRA SMAN1C harus punya akhir yang dramatis.

28 Oktober sudah dipastikan menjadi pentas terakhir kelas XII di ekskul angklung semenjak kabar bahwa bimbingan belajar intensif akan di mulai sejak November. Dan saya punya alasan kenapa LPM acara itu tidak saya buat seperti biasanya. Alasan yang pertama, sebab fokus saya terbagi dengan acara inti kegiatan pada hari itu. Gebyar Literasi apalah itu, namanya panjang banget saya gak hafal.

Literasi, ya? Seharusnya ini membangkitkan minat saya dong? Memang, banget malah. Apalagi saya ikut lomba resensi. Tapi secara keseluruhan saya kecewa. Acara yang diwarnai dengan kegiatan wirausaha itu banyak membawa stress dan bikin saya ngerasa bersalah kalau harus bahagia karena alasan pribadi. Selain itu, entahlah, saya hanya tidak bisa merasakan kalau acara itu adalah acara literasi. Terlalu banyak musik, ice breaking, dan tetek bengek lainnya.

Sementara untuk penampilan angklung saat itu sendiri, saya tak bisa berkomentar banyak. Ada kebanggan tersendiri karena untuk pertama kalinya semenjak saya menjabat, penampilan itu di kondekturi oleh Icha. Walau kenyataan menyakitkan bahwa itu mungkin pengalaman pertama dan terahir bagi saya. Tentu faktor ini juga menyebabkan aransemen kami tidak sehebat gubahan Kak Uji, bahkan konon hal ini menjadi suatu masalah tersendiri, yang kemudian ngebuat saya agak sakit hati (tapi saya yakin ini cuma salah paham aja). Tapi tetap saja, itu pengalaman yang berbeda. Pengenalan pertama pada anak kelas sepuluh dengan makna digeder, serta saringan siapa yang benar-benar—apa istilahnya—setia(?).

Tapi yang mau saya bahas di sini bukan hanya kejadian tanggal 28 Oktober itu. Saya mau ngomel, bongkar aib, serta mengeluh soal sepuluh bulan terakhir.

Menjadi ketua angklung, jujur saja, memberi dampak buruk bagi hidup saya.

Semenjak pertama kali menjabat, saya sadar saya memegang sebuah tanggung jawab yang gak kecil, tapi saya benar-benar gak tau sama-sekali tentang apa yang harus saya lakukan. Hubungan saya dengan kakak kelas maupun adik kelas saat itu, benar-benar kaku. Lalu ketika semua tidak berjalan dengan baik, saya depresi.

Ditambah lagi, saya dikeliling orang-orang hebat. Apa ya? Ada isu kalau kreativitas jarang sejalan dengan eksak. Omong kosong! Orang-orang disekitar saya ajaib, dan saya merasa terpencil karena isu itu berlaku pada saya. Awalnya, saya merasa sendirian, orang-orang pergi mengurusi urusan mereka sendiri. Tidak peduli. Bahkan meski saya berteriak. Dan saya tidak bisa marah, saya ingin memarahi yang pergi, bukan yang susah payah datang dan menghabiskan waktu.

Tapi seiring waktu saya sadar, saya hanya mengurut kepala tanpa melakukan apapun. Orang-orang sibuk, menunggu, dan saya hanya mengeluh. Ah, tapi bukankah saya sudah bilang kalau sejak awal saya bahkan gak tau apa yang saya lakukan?

Ini pembelaan diri, saya tidak menyangkalnya. Pengetahuan saya tentang musik sama sekali nol. Saya bahkan gak ngerti kenapa saya bisa terpilih, atau bahkan di calonkan sekalipun. Oke tidak sepenuhnya, saya bisa menebak, mungkin Kakak kelas merasa akrab dengan wajah saya sekalipun saya tak pernah bicara dengan mereka. Mungkin kontak pesan humas penuh karena saya terus menerus menanyakan kepastian. Atau mungkin ada yang mampir ke LPM penuh protes dan ingin balas dendam. Tapi tetap saja, saya bukan orang yang cocok sama sekali malah untuk jabatan ini.

Lalu, overthingking saya bilang kalau saya ini adalah apa yang mereka sebut sebagai Kuda Hitam. Supaya calonnya tiga lagi, seperti tahun lalu, atau entahlah, saya punya perasaan kalau mereka sendiri tidak seniat itu mencalonkan saya. Hanya saja, ayolah, semua anak kelas XI saat itu pasif. Jadi tak ada pilihan, belum tentu dia kepilih juga.

Itu suudzon parah, tentu saja. Maaf ya kak.

Seperti yang saya bilang, Menjadi ketua angklung, memberi dampak buruk bagi hidup saya. Tapi bukan dalam arti yang jelek. Itu seperti sebuah kritikan yang membangun, hukuman yang mendidik, obat pahit untuk si sakit. Tapi tetap saya tidak enak, apalagi sepuluh bulan.

Saya sudah tau kalau namanya berharap pada manusia itu sia-sia. Tapi sepuluh bulan ini saya terus menerus ditampar oleh fakta ini. Manusia, benar-benar makhluk yang sulit dimengerti. Entah bagaimana mereka merasa bisa melakuan segala sesuatu yang mereka mau. Di satu saat mereka berkata dengan mulut berbusa tentang solidaritas, tanggung jawab dan integritas. Disaat lain, dengan entengnya menginjak semua itu dengan alasan sepele.

Saya membicarakan soal datang latihan sesuai jadwal. Tentu semua orang mempunyai prioritas, dan saya tidak sekejam itu untuk tidak mentolerirnya. Saya paham jika ada kegiatan osis yang bentrok, ada yang sakit, ada kerja kelompok, bahkan kegiatan ekskul lain yang lebih keren. Tapi ngantuk? Males? Mau nonton film? Mau beli novel? “ntar aja kak kalo ada event”?

Bahkan dengan semua kebobrokkan saya di bidang musik, saya punya alasan kenapa masih bertahan. Kalian pernah dengar kata punah? Dinosaurus punah, burung dodo punah, orang jepang yang memiliki kemampuan ninja hanya tinggal satu orang. Dan bukan hal fisik saja, banyak ragam bahasa dan budaya punah hanya karena sudah tak ada yang pengikutnya lagi. Manusia tidak akan pernah melihat mereka lagi. Ah, memang kenapa? Ini jaman modern, yang kuno-kuno memang lebih baik hilang saja.

Budaya adalah harga diri bangsa. Hal terakhir yang bisa kita korbankan untuk gengsi. Lagipula, kuno dan modern itu masalah perspektif saja. Saya tidak menampik banyak yang salah dengan negara kita, tapi bukan berarti kita gak bisa berbuat apa-apa. Kita bukan sekedar penerus bangsa. Kita adalah pembangun bangsa, saat ini, detik ini juga, tak perlu menunggu untuk berkarya.

Bermain angklung itu sederhana, dan itulah kenapa saya memilih masuk ke ekskul ini. Mempertahankan budaya. Saya tidak mau jadi orang munafik yang menulis ini di salah satu tugasnya dan tidak melakukannya.

Tapi apa yang saya bisa harapkan dari manusia? Saya tidak bisa berharap bahwa semua orang sejalan dengan saya, mempunyai niat mulia mereka masing-masing ketika mendaftar alih-alih menjadi orang yang numpang tenar dengan ikut tampil tiap ada event.

Namun saya bersyukur menemukan emas diantara kubangan lumpur. Selalu ada hikmah dalam setiap kejadian bukan? Dan saya rasa inilah dia. Di saat-saat tersulit, kita tau siapa teman sejati. Dia yang tak pernah memperkeruh suasana dengan ikut mengeluh, dia yang tidak mendorong terlalu jauh, alih-alih melebarkan tangan siap menangkap kala jatuh. Orang yang mengerti, bahkan menghargai prinsip hidup saya yang sok  idealis ini. I’m really glad to meet them.

Akhir kata saya hanya ingin minta maaf dan terimakasih, orang bilang dua kata ini sebaiknya tidak disatukan, tapi biarlah.

Maafkan saya yang tidak berguna ini, maafkan saya yang tidak berguna ini, maafkan saya yang tidak berguna ini. Maafkan juga kata-kata menyakitkan yang terlontar dari post ini, kalian boleh sebut saya pengecut sebab tidak menyatakannya secara langsung, tapi kemampuan verbal saya memang rendah, dan, ya, saya memang pengecut.

Selain itu terima kasih. Untuk kalian yang menghargai prinsip saya, untuk kalian yang menghargai saya, untuk kalian yang meluangkan waktu da tenaganya untuk kepentingan bersama. Terimakasih banyak.

Kita pembangun bangsa, benar? Pikullah beban itu seperti saya memikulnya, jangan dianggap enteng, saya mohon. Sudah cukup banyak yang meremehkan budaya, terlalu banyak. Dunia ini jahat, dan saya tak tau bagaimana mengubahnya, tapi semoga dengan kebaikan-kebaikan kecil kita, kita bisa mempercantiknya laksana bintang di gelap malam.

N.B

Saya sudah mikirin struktur pos ini sejak lama sekali. Dan karena baru ditulis hari ini, saya melupakan banyak hal.

Not really, but you get what I mean

Butuh beberapa waktu sebelum saya bisa tenang, setelah menghadapi satu lagi pemandangan menyebalkan. Biasanya gak selama ini sih, tapi mungkin karena terasa anti-klimaks saya jadi lebih emosional.

Daripada itu, saya ingin mengklarifikasi beberapa hal. Tentu, menjadi terpilihnya saya menjadi ketua angklung mungkin sebuah kesalahan. Tapi yang paling penting, saya gak menyalahkan siapa pun. Lalu, pada akhirnya semua ini sudah terjadi, dan bagian dari takdir hidup saya. Jadi, lets get over from this whining rn, shall we?

Kamu sebenernya mau ngomong apa sih, fat? Begini-begini, setelah perasaan saya membaik, saya kembali memikirkan semuanya perihal mustra ini. Saya tau, itu mungkin bukan pilihan yang bagus mengingat saya mungkin bisa kepikiran lagi, tapi kali ini saya memandangnya dengan sudut yang berbeda.

Sama seperti setiap saat saya menyetrika baju SMA, the thought of ‘sh*t, I AM at the end of HS’ pops up and gave me exsistential crisis. Tapi hal ini sekaligus memaksa saya flashback tentang apa saja yang sudah berlalu, untuk apa saya membuang waktu selama ini.

Waktu sertijab kemarin, Icha bilang sesuatu tentang “seharusnya ini acara sedih, soalnya kek Fatiah bukan ketua kita lagi” saya hanya meringis tentang betapa ironisnya kata-kata itu. Sebab saya sejujurnya senang pada akhirnya bisa bebas dan tidak menciptakan lebih banyak kekacuan, dan saya yakin justru itulah yang terbaik untuk mustra. Tapi setelah dipikir-pikir saya seharusnya memang sedih, namun bukan karena saya bukan lagi ketua. Simply, karena saya bukan lagi bagian dari mustra.

Saya bukan lagi bagian dari mustra, saya mengalami jeda dalam sebuah misi melestarikan budaya, malah mungkin akan menjadi pengkhianat saat bergabung dengan industri kimia suatu saat nanti (aamiin). Dan itulah saat saya akhirnya merasa amat bersyukur tanpa merasa perlu dikasihani.

Maksud saya, bagaimana akhirnya saya bisa bergabung dengan mustra saja bisa disebut lucu. Di formulir pendaftaran sekolah saya hanya melingkari pilihan Pramuka dan Rohis sebab kedua hal itu memang wajib. Tapi ketika diminta memilih ekskul lain, saya bahkan tidak memilih mustra. Wait, what?

Benar pemirsa, saya tidak memilih mustra, sebab memang tidak ada pilihannya. Kamu milih apa, fat?—err—saya milih padus—dengan niat busuk gak bakal ikut—Lalu saya amaze terhadap sebuah penampilan pas demo ekskul.

Waktu itu tim angklung kolab bareng padus, dan itu kereeeen. Saya bertanya pada Hania mengenai pilihan ekskulnya, dan dia jawab belum tau. Lalu, entah siapa yang lebih dulu mengusulkan, kami sepakat untuk ikut angklung. Tapi, eh, tapi kok ini gak ada brosurnya? Mana brosurnya, mana?

Maka dengan hopeless, kami memutuskan ikut degung. Seandainya kami sedikit lebih pandai bahasa Sunda, kami gak akan sesedih itu sebab di brosur degung itu jelas-jelas tertulis kalau di degung juga belajar angklung.

Di kelas saya saat itu, X-3, rasanya hanya saya sendiri yang ikut degung. Sampai dalam suatu pelajaran BK, seseorang menghampiri meja saya dan menyapa dengan gaya ramah. Kira-kira dia berkata ‘hai! Ikut degung juga? Nanti sabtu bareng ya!’ dan orang itu tak lain-tak bukan adalah ... jeng-jeng-jeng Mbip!

Tak lama, saya bertemu orang-orang lain dan menawarkan fotokopian brosur degung itu lagi (saya gak ingat kenapa saya bisa punya banyak) Dan hari sabtu akhirnya datang dan kami latihan pertama kali. Suasananya canggung banget waktu itu. Tapi yah, saya seneng belajar hal baru. Saya menyentuh jenglong untuk pertama kalinya seumur hidup dan semua soal koordinasi dan struktural ini bikin saya merinding gak jelas—in a good way, of course—.

Sayang latihan degung itu gak lama, karena kita lalu belajar angklung juga. Dan waktu itu juga sama berkesannya. Hujan deras banget di luar, jadi meski jadwal latihan udah lewat kita masih desek-desekkan main angklung di rukes sman1c yang lama. Kondekturnya Kak Asha waktu itu, kita main lagu-nya Bruno Mars sama Geisha.

Ngomong-ngomong latihan buat pertama angklung saya dulu juga rasanya berkesan banget. lagunya Ignorance sama lgu Kotak, saya lupa judulnya. Terutama ketika waktu saya pulang dan tertidur di angkot, saya kira saya kecapean banget nyampe mimpiin lagu itu. Padahal emang angkotnya muter lagu itu.

Terus juga tampil di perpisahan yang riweuh gila. Saya lupa bawa ciput ninja item akhirnya harus relain ciput biasa saya di robeek. Atau karena ngantri make up dsb. Pas sertijab tahun sebelumnya juga lucu banget. Kak Asha hebat banget promosinya, saya sakit perut kalau inget.

Yaah, yang mau saya bilang cuma. Meski saya baru aja ngungkapin stress selama setahun terakhir. Saya gak lantas ngelupain semua hal seru yang udah saya alamin selama dua setengah tahun ini.

Dan justru semua yang gak enak itu yang bikin yang enak jadi lebih nikmat kan? Maksud saya, setelah pusing mikirin ini-itu pas persiapan, atau kesal karena keterlambatan, atau dag-dig-dug menunggu panggilan, atau apapun perasaan negatif itu, begitu naik panggung liat semua orang ngeliatin kita dan sadar kalo kita udah ngelakuin semua yang kita bisa, yaah, it’s literally a good feeling.


Saya bersyukur bisa masuk mustra, saya bersyukur bisa ketemu sama banyak jenis orang serta banyak jenis perasaan, dan itulah hal paling penting yang dunia perlu tau.

9 November 2016

Sekeping Proses Kreasi Buku Tahunan


5 November 2016, sejujurnya agak tegang juga menghadapi hari itu. Soalnya bakal jadi pengalaman sekali seumur hidup, dan bayarannya juga gak murah.

Saya bangun pagi sekali, yaah, untuk ukuran hari Sabtu gak tidur lagi setelah subuh itu sebuah perjuangan. Tapi saya sudah bertekad (ceilah) untuk dateng pagi hari itu. Dari yang saya dengar kemarin, ketika pembagian rapot tengah selesai dan kami sekelas berusaha menyelesaikan properti, diharapkan bahwa pemasangan dekorasi dari pagi saja.

Lagipula saya diberi tanggung jawab untuk membawa bendera, dan ada satu untainya (kok jadi inget biologi) yang belum di pasang. Saya pikir kalau saya datang dzuhur sebagaimana pendekor bantuan yang lain, pemasangan satu untai ini pasti membuang waktu.

Tapi sayangnya—atau mungkin untungnya—pas saya berangkat jam delapan itu udah keburu sejalur ke puncak. Padahal biasanya jam delapan itu masih sejalur ke Ciawi dalam rangka penghabisan yang mau sejalur ke bawah, baru setelah itu sejalur ke atas. Baiklah, gak ada yang bisa saya lakukan, saya kan gak mungkin nangis kejet-kejet tengah jalan cuman gara-gara takut ngecewain teman-teman yang belum tentu juga ngarep sama saya. Jadi saya pulang. Kemudian menunggu sampai pukul sebelas, karena dugaan saya jam segitu lah arus ke Ciawi akan di buka.

Ngomong-ngomong, sebagai manusia yang bermanfaat (hueekk) saya menghabiskan waktu menunggu ini untuk ngambil #bookstagram di lapangan jemuran. Buku Hercule Poirot and Greenshore Folly ini merupakan draft awal dari novel Dead Man’s Folly yang pertama kali di terbitkan 5 November 1956 (mindblown). Pokok isinya kurang lebih sama, cuma lebih singkat dan ada tambahan tulisan dari Matthew Prichard, cucu sang ratu kriminal dan kutipan dari buku John Curran, penulis biografinya yang terkenal.

Saya harus menahan malu dipandang aneh sama tetangga ketika berlutut untuk mengambil foto ini.

Dan jam sebelas akhirnya datang, dan saya melangkahkan kaki ke luar rumah. Begitu sampai di gang depan ternyata sejalur masih belum di buka. Untung ada angkot yang juga sedang ngetem sambil menunggu arah Ciawi di buka, jadi seenggaknya saya gak perlu nunggu sambil berdiri selama setengah jam kemudian.

Saya akhirnya sampai di Villa Kuda, lokasi photoshoot kami, dan lega tapi sekaligus agak kaget saat melihat Sindy di pos satpam depan. Lega karena rupanya saya tidak sendiri, kaget karena, kemana semua orang?

Menurut Sindy, banyak yang sibuk dengan properti di rumah Cici, dan ada juga yang sibuk di salon. Kami berdua menunggu, dan kemudian ada Sekar dan Salsa yang datang. Kami memutuskan untuk masuk saja, lagi pula kami sudah booking jadi seharusnya tidak apa-apa. Kemudian satu persatu dari kami mulai shalat dzuhur.

Saat kembali dari shalat dzuhur, banyak yang sudah datang. Termasuk Mbip yang notabene salah satu yang mengurus perihal buta ini. Tapi jujur saja saya memilih untuk tidak dekat-dekat dengan Mbip yang sedang serius itu. Kalau kalian kenal Mbip, kalian pasti mengerti.

Tapi bukan berarti saya gabut. Saya memutuskan untuk membantu meniup balon—yang anehnya ternyata sulit, saya menyerah di balon ke dua—sambil menginterogasi Zenith perihal gitar yang rancananya akan di pakai untuk  photoshoot nanti. Sementara, biola, sebagai alat musik yang kami pikir paling ribet sudah duduk dengan manis hasil meminjam dari Rifal dan di bawa oleh Salwa. Kahun juga tidak ada di tempat. Saya menghubungi Ucup perihal hal ini, dan dia sendiri tidak tahu. Akhirnya semua beres dengan Ucup yang secara dadakan meminjam Kahun, dan Lidya yang membawa gitar.

Balon sudah di tiup semua, dan Fakhri yang konon akan membawa pompa gas untuk balon-balon itu malah baru datang. Ah tapi yang lebih penting, akan diapakan balon-balon ini? Kami inisiatif membawanya ke Mbip yang sedang mendekorasi panggung. Tapi dia menegur dengan bertanya kenapa semua balon di bawa kesini? Jadi kami membawa balon ke set yang satu lagi.

Set yang saya maksud adalah sebuah ruang duduk dengan kursi-kursi dan meja-meja bulat yang rendah. Di sana banyak yang sedang sibuk memasang bendera pada jendela. Saya menumpahkan balon-balon itu dan ikut membantu pemasangan bendera itu. Lalu Mbip datang, kami mengerubunginya dengan pertanyaan karena konsep dekorasinya sama sekali tidak kami pahami. Mbip tidak menjawab, dan membetulkan bendera tanpa suara sekaligus menegur keberadaan balon di set itu.

Setelah berdiam diri dengan kebingungan, saya menangkap keberadaan Ucup. Yang kemudian mencari Yulia dan tiba-tiba saja kami bertiga sudah mengurus set panggung. Entah kemana orang-orang yang tadi sibuk di set ini.

Dan itu pekerjaan berat, terutama karena saya harus bulak-balik dari set satu ke set yang lain hanya untuk mengambil double-tape atau bertanya tentang beberapa hal. Jam hampir menunjukkan pukul empat, kami belum shalat ashar lalu juru fotonya ternyata sudah datang. Sebagai kelompok 1, kami di buru waktu, tapi akhirnya semua beres. Dan saya dan Yuli bergegas shalat, berganti pakaian dan membubuhkan make up seadanya.

Rupanya pengambilan foto itu  lumayan memakan waktu. Setelah mengambil foto bersama-sama beberapa kali, lalu foto sendiri-sendiri, kemudian memilih foto yang menurut kami bagus, barulah diambil foto selanjutnya. Sang juru foto berpesan agar kami jangan dulu berganti pakaian, sebab akan ada foto bersama di akhir.


Lagi, saya menunggu. Berfoto-foto, ikut membantu dekorasi set lain, menjadi latar pengambilan tema foto dansa. Agak kaget juga tahu-tahu sudah maghrib dan semua ini belum selesai. Untung kemudian makanan di hidangkan, setidaknya kami tidak perlu mendengar keluhan lapar dari yang lain lagi.

Saya sempat mendengar kalau saat malam, set panggung itu akan di isi band. Dan setelah Yuli berkomentar soal penyanyinya yang gak masuk nada dengan musik, kami sekelas memintanya untuk bernyanyi. Sambil bercanda berkata agar jangan membawakan lagu ciptaannya yang kurang lebih isiny tentang larangan pacaran, karena ini malam minggu. Setelah dipaksa akhirnya dia mau juga. Kami mengerubunginya dan ikut bernyanyi di sekitar panggung. Setelah itu Ambar dan Cici yang bernyanyi, kami kembali mengerubungi panggung.

Yuli on the stage, saya post foto ini tanpa izin, jangan temenin saya

Malam semakin larut, sekarang saya sadar ada sesuatu yang berbeda. Biasanya kalau udah malem dan cape begitu bakal ada orang yang bilang “Fatiah, mukanya udah bete banget” dan sepertinya ini karena semua orang udah bete. Dan seperti ketika saya merasa harus sok dewasa menghadapi orang kekanakkan, dan kekanakkan ketika menghadapi orang sok dewasa. Sepertinya saya tidak menunjukkan wajah sekesal itu.

Padahal banyak sekali yang bisa saya kesali. Misal bedak yang tercecer, harapan palsu tentang alat musik yang sudah komplit, kelelahan soal set panggung, serta make up yang gak terlalu saya suka. Saya kesal, lelah, tapi jujur saja itu menyenangkan. I’m such a masochist, aren’t I?

Akhirnya sesi foto terakhir benar-benar datang sekitar pukul sembilan. Setelah sebelumnya saya kembali mengambil wedges dan hal yang mengerikan terjadi—dan yang paling mengerikan kalian tak akan pernah tau apa itu, sebab saya gak bakal cerita—kami membereskan barang-barang yang di bawa. Kebiasaan buruk saya yang suka membayangkan skenario terburuk di tegur karena saya bilang ‘ah ada ular’ saat kami foto di daerah berumput subur. Dasar mulut nakal.

Kenang-kenangan 😍, tas saya somehow kebakar begitu turun
dari motor Indri. I'm not even mad THIS ACTUALLY AWESOME
Dan pulang! Beberapa orang berganti pakaian dulu sementara saya sudah terlalu lelah. Tapi masalah sebenarnya adalah bagaimana saya pulang dari daerah yang angkutan umum nyaris tidak pernah lewat. Untung Indri berbaik hati mengantar kami sampai Nesaci. Saya, Iis, Salwa, Sindy, dan Uwi lalu pulang, naik angkot Cisarua yang kebetulan lewat.

Sindy turun di seuseupan, lalu di jalan kami membahas tentang barang-barang hilang. Saya sadar kalau bagian depan tas yang tadinya saya isi novel ternyata kosong. Sayang semua orang sudah pergi dari Villa Kuda. Yasudahlah, saya gak mungkin balik lagi setelah susah-susah dapet angkot. Yang menyebalkan mungkin karena angkot itu juga menurunkan saya setelah Salwa turun. Kemudian terpaksa naik angkot yang penuh dengan bapak-bapak, setelah penumpang terakhir turun saya bahkan meminta amang angkot untuk mengantar saya sampai rumah. Dan menyesalinya karena rupanya ongkosnya jadi lebih mahal, tapi yah saat itu jam sebelas lewat lima belas dan saya gak mungin jalan lagi.

Semaleman saya gak bisa tidur, bagaimanapun saya gak mungkin pantes dipanggil pecinta buku kalau saya malah ngilangin buku. Yup, buku yang sama yang saya foto pagi itu. Ditemani dengan sakit tenggorokan, nafas panas, dan mimpi soal teman-teman kelas yang mengamankan buku itu serta selingan mimpi soal seorang ibu yang ingin membunuh anaknya karena anaknya sebenernya adalah monster pohon, anak itu melarikan diri tapi kemudian dimanfaatkan oleh sekelompok ilmuwan yang membuatnya bukan manusia lagi (itu, sejujurnya, adalah pemandangan yang mengerikan).

Saya bangun dengan kepala sakit, cepat-cepat menghubungi Indri mengenai masalah barang-barang hilang. Tapi dia bilang untuk tidak khawatir. Jadi saya bangun dan merapikan barang-barang, serta melakukan rutinitas pagi. Ternyata buku itu ada di dalam tas yang saya gunakan untuk membawa figura, saya tenang, tapi rupanya pensil alis mamah hilang. Yah, setidaknya harapan ada yang membawa pensil alis lebih besar daripada novel.

Dan begitulah, saya kemudian duduk menulis LPM ini dalam keadaan demam. Kenapa? Sebab orang seperti saya lebih mudah melupakan kejadian berkesan yang menyenangkan.


2 November 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 15

Leon bertepuk tangan tiga kali. Lily memicingan matanya, memperhatian pria itu dengan seksama.

“Ingatan yang tajam, otak yang cemerlang, aku jadi berpikir sayang sekali kau meninggalkan Lacertuor” ujarnya jujur.

“Untuk apa kau kemari? Membungkamku?” Lily mempererat pegangan pisaunya. Makhluk dihadapannya ini adalah salah satu dari empat ancaman terbesar yang ia tahu.

“Awalnya, ya, tapi melihat tindakanmu barusan, aku jadi berubah pikiran” kata Leon sambil menoleh ke arah Fauzi. “Maksudku, kau mungkin tidak semenyedihkan yang kukira sebelumnya”

“Kalau kau sudah selesai, pintu keluar ada di sebelah sana” desis Lily.

Leon mengangkat sebelah alisnya, “Itu saja? kau tak berniat melaporkanku ke polisi atau semacamnya? Karena sebenarnya, hanya itu ancaman yang kupikir ada padamu”

Lily mengerutkan kening, pria ini, apa dia benar-benar menggunakan otaknya untuk berpikir? Kalau Lily melapor pada polisi, ia juga harus bercerita tentang Lacertuor, tentang bagaimana dirinya sendiri pun terlibat di dalamnya. Dengan kata lain, ia juga akan habis.

“Jadi begitu ya? Enam bulan berlalu dan omong kosong idealisme itu masih belum cukup untuk membuatmu berani” ucap Leon seolah bisa membaca pikirannya. “Kau mungkin berpikir aku bodoh, tapi coba lihat dari sudut pandangku. Seorang plonco rendahan mengetahui semua rahasia Lacertuor tapi tak cukup nyali untuk mengatakan kebenaran setelah mengusir dirinya sendiri dari Lacertuor. Bagiku itu hanya berarti satu hal, hidup dalam ketakutan. Entah kau akan di kejar polisi, atau dikejar oleh kami”

Leon berdiri, melangkahi meja tamu dan menumpahkan gelas-gelas jus jeruk di atasnya, kemudian duduk seenaknya di atas meja. Ia bahkan nampak tak peduli kalau ujung pisau Lily sudah tepat berada di perutnya.
                                                                                                                                                        
“Aku kasihan padamu”

Suara Leon melembut, Lily memandang wajahnya. Mata cokelat, kulit pucat, dan rambut merah. Awalnya Lily juga tidak mengenalinya di pintu depan tadi, baru ketika ia mendengar suaranya ia yakin dia orang yang sama yang mencuri flashdisknya, orang yang sama yang membuat tawanannya menghilang tanpa jejak. Diapakan tawanannya itu oleh orang ini? Mereka selalu bilang itu hal yang mengerikan, bahwa lubang dikepala bahkan lebih baik. Tapi apa maksudnya?

Leon menangup tangannya, tangannya sedingin es. Lily tau ia bisa menikam orang ini saat ini juga, darah akan mengalir membasahi karpet rumahnya. kemudian ia bisa membersihkannya sebelum kak Owl pulang, seolah tak ada yang pernah terjadi. Setelah itu mengantar Fauzi pulang sebelum ia sadar dan berkata bahwa ia bermimpi.

“Aku bisa menolongmu, Lily” kata-kata Leon memotong lamunannya. Tunggu, apa dia baru saja melamun? Tiba-tiba saja, ia sadar kalau pengangan pada pisaunya mengendur. “Yang harus kau lakukan” katanya “hanya kembali pada kami”

Lily mengumpulkan kekuatan pada lengannya, bersiap mendorong. Tapi entah sejak kapan tangan Leon sudah ada dibahunya, dan mendorongnya kebelakang, membatalkan apa saja yang baru ingin Lily lakukan.

“Kau tidak mengerti” orang itu agak berteriak sekarang “membunuhku memang membuktikan kau sanggup, tapi begitu aku mati, itu tak berguna lagi. Sebaliknya,” tangannya yang lain menarik tangan Lily melewati samping pinggulnya “membunuh anak itu berarti kesetiaan. Dan hei, kau sudah melakukan setengah pekerjaan itu dengan membiusnya”

Mata Lily membelalak, ia mendorong sekuat tenaga. Tapi Leon tidak bergeming. Malahan, tangguban tangannya semakin kuat, tak terasa pisau itu sudah berbalik arah pada Lily.

“Hati-hati, kau bisa membunuh dirimu sendiri” katanya dengan suara yang amat meyakinkan. “kau lebih berguna di Lacertuor, dari pada di sini”

Lily meringis, ia tak tau harus berbuat apa.

“Apa-apaan ...” ungkapan keterkejutan itu tidak datang dari Lily, maupun Fauzi, apalagi Leon. Malah, asalnya dari pintu depan. Wajah horor Profesor Owl meneliti ruangan itu, Fauzi yang pingsan, jus jeruk yang berantakkan, dan paling parah, ujung pisau di perut Lily.

Leon tak buang-buang waktu. Ia langsung menikam sedikit dari pisau dapur itu ke perut Lily. Terkejut, Lily kehilangan kekuatan pada tangannya, fokusnya teralihkan pada rasa sakit di perutnya. Leon menangkap tubuhnya yang terjatuh, menopang berdiri tanpa melepaskan pisaunya.

 “Berhenti!” Leon tiba-tiba berteriak, suaranya berdenging dalam telinga Lily. “...kan memperdalam lukanya.”

Jawaban Owl terdenger lemah, “Leon? Kau kah itu? Ke—kenapa?” Lily mengerti, Owl selalu mengenal Leon sebagai temannya. Sikap naif kakaknya itu seringkali membuatnya khwatir, dan benar saja, Leon lah orang yang mengumpankan keluarganya pada Rano.

Leon tidak menjawabnya, ia malah kembali berteriak. “Jatuhkan ponselmu, lalu bawa Fauzi ke mobil. Dan aku akan membiarkan adikmu ini hidup.”

Membiarkannya hidup. Lagi-lagi kalimat itu, lima tahun terakhir merupakan neraka bagi Lily. Beban moral yang ia tanggung karena makan uang haram. Dan untuk apa semua itu? Bertahan hidup? ‘Jangan sampai dia kabur, tutup mulutmu, jangan buat kesalahan, bunuh dia, dan kubiarkan kau hidup’ Tiap detik kehidupannya dalah karena kematian orang-orang tak bersalah,  tapi untuk apa dia hidup? Untuk membuat lebih banyak kesalahan? Lebih banyak kematian? Membuat orang-orang ini lebih berkuasa? Menghancurkan dunia?

“Leon,” Lily balas berbisik “Kau akan membiarkanku hidup untuk membunuh Fauzi kan?” Lily tidak sanggup melepaskan diri dari Leon, ia juga tidak bisa mencabut pisau itu dari dirinya sendiri. Ia tidak bisa menyelamatkan diri saat ini, kecuali Leon melakukannya. Tapi bukan berarti ia tidak bisa melakukan apapun “Tapi bagaimana jika aku yang mati?” Lily bisa menjatuhkan dirinya sendiri ke depan, dan dia melakukannya, dia memperdalam lukanya sendiri. Luka yang tadinya tidak seberapa itu kini menjadi fatal karena merobek organ dalamnya. Tak aka butuh lama sampai Lily mati kehabisan darah. “Kak, selamatkan Fauzi!” adalah pesan terakhirnya.

Owl menyaksikan itu dengan mata terbelalak, Leon sama terkejutnya dengannya—itu bukan situsi yang sering ia hadapi, kehilangan kendali—tapi itu tak akan bertahan lama. Dengan tidak adanya dilema saat ini Owl bisa segera menerjangnya, pukulan di bawah rahang langsung membuatnya tak sadarkan diri. Ia menatap mayat Lily sesaat, matanya terasa panas tapi ia harus segera pergi sebelum Leon sadar. Bagaimana pun ia bukan tandingan Leon.


Fauzi tertidur begitu pulas sampai ia tak terbangun meski dengan segala keributan tadi. Dengan jus jeruk yang ada di lantai, ia segera sadar dengan apa yang baru saja terjadi. Buru-buru diangkatnya Fauzi dan di dudukkan ke dalam mobilnya, pemberhentian berikutnya, rumah sakit.