Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2016

(Review) Hyōka

Gambar
Saya bener-bener suka sama anime ini.
Begitu beres nonton episode terakhirnya, saya bengong beberapa saat dan menghela nafas. Hal yang biasa terjadi ketika mengkhatamkan sebuah dunia imajinasi yang bagus. Seandainya ia buku, mungkin saya malah bakal meluk terus di bawa tidur. Sayang resiko bawa tidur laptop itu besar. Jadi yang saya lakukan adalah memimpikannya. Lumayan juga, seenggaknya saya gak perlu mimpiin film horror yang baru saja saya tonton di hari yang sama waktu itu.
Oke, Hyōka, alias Ice-cream, menceritakan kehidupan seorang siswa SMA Kamiyama bernama Oreki Hōtarō yang punya  motto hidup untuk tidak melakukan hal yang tak perlu ia lakukan dan jika ia harus melakukn sesuatu, dia akan melakukannya dengan cepat. Untuk alasan itu, dia tidak terlalu menonjol diberbagai bidang kehidupan.
Tapi suatu hari ia mendapat surat dari kakak perempuannya yang sedag berada di India. Bahwa, sang kakak mendengar klub Sastra Klasik SMA Kamiyama akan segera dibubarkan karena mereka tidak punya…

(Review) Steins;Gate

Gambar
Pendahuluan
Pada dasarnya, saya suka kisah fiksi, entah apa bentuknya. Baik itu, novel, film, bahkan sekedar klip. Dan beberapa waktu ini saya tertarik dengan anime. Yaah, gak bisa dibilang baru-baru ini juga sih, soalnya kebiasaan nonton anime ini kebetulan ‘pernah’ difasilitasi stasiun lokal kita ter’cinta’. Kalian ngerti lah maksud saya, walau itu artinya memang gak terlalu spesial.
Meski begitu, tetap saja, hobi satu ini gak terlalu banyak peminatnya. Maksud saya, kalau-pun ada saya gak yakin saya bakal dapat tempat. Kebiasaan mengkategorikan manusia dengan teror masa lalu soal ‘fake-fans’ mencegah saya bercerita pada siapa pun. Untungnya ada ‘Ai yang sudah lebih dulu ‘menggilai’ bidang ini sebelumnya, dan saya bertemu teman baru bernama Dewi.
Sayangnya, karena kami bertiga beda kelas semua dan memang gak seakrab itu jadi susah kalau mau diskusi—what?—lagipula sama seperti kecintaan saya pada buku, perbedaan genre favorit kadang jadi halangan. Akhirnya saya fangirling sendirian, …

Speech from the Useless

Gambar
Peringatan : Aura negatif. Mungkin bukan sesuatu yang mungkin layak di publikasikan, tapi seri label MUSTRA SMAN1C harus punya akhir yang dramatis.
28 Oktober sudah dipastikan menjadi pentas terakhir kelas XII di ekskul angklung semenjak kabar bahwa bimbingan belajar intensif akan di mulai sejak November. Dan saya punya alasan kenapa LPM acara itu tidak saya buat seperti biasanya. Alasan yang pertama, sebab fokus saya terbagi dengan acara inti kegiatan pada hari itu. Gebyar Literasi apalah itu, namanya panjang banget saya gak hafal.
Literasi, ya? Seharusnya ini membangkitkan minat saya dong? Memang, banget malah. Apalagi saya ikut lomba resensi. Tapi secara keseluruhan saya kecewa. Acara yang diwarnai dengan kegiatan wirausaha itu banyak membawa stress dan bikin saya ngerasa bersalah kalau harus bahagia karena alasan pribadi. Selain itu, entahlah, saya hanya tidak bisa merasakan kalau acara itu adalah acara literasi. Terlalu banyak musik, ice breaking, dan tetek bengek lainnya.
Semen…

Sekeping Proses Kreasi Buku Tahunan

Gambar
5 November 2016, sejujurnya agak tegang juga menghadapi hari itu. Soalnya bakal jadi pengalaman sekali seumur hidup, dan bayarannya juga gak murah.
Saya bangun pagi sekali, yaah, untuk ukuran hari Sabtu gak tidur lagi setelah subuh itu sebuah perjuangan. Tapi saya sudah bertekad (ceilah) untuk dateng pagi hari itu. Dari yang saya dengar kemarin, ketika pembagian rapot tengah selesai dan kami sekelas berusaha menyelesaikan properti, diharapkan bahwa pemasangan dekorasi dari pagi saja.
Lagipula saya diberi tanggung jawab untuk membawa bendera, dan ada satu untainya (kok jadi inget biologi) yang belum di pasang. Saya pikir kalau saya datang dzuhur sebagaimana pendekor bantuan yang lain, pemasangan satu untai ini pasti membuang waktu.
Tapi sayangnya—atau mungkin untungnya—pas saya berangkat jam delapan itu udah keburu sejalur ke puncak. Padahal biasanya jam delapan itu masih sejalur ke Ciawi dalam rangka penghabisan yang mau sejalur ke bawah, baru setelah itu sejalur ke atas. Baiklah, ga…

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 15

Leon bertepuk tangan tiga kali. Lily memicingan matanya, memperhatian pria itu dengan seksama.
“Ingatan yang tajam, otak yang cemerlang, aku jadi berpikir sayang sekali kau meninggalkan Lacertuor” ujarnya jujur.
“Untuk apa kau kemari? Membungkamku?” Lily mempererat pegangan pisaunya. Makhluk dihadapannya ini adalah salah satu dari empat ancaman terbesar yang ia tahu.
“Awalnya, ya, tapi melihat tindakanmu barusan, aku jadi berubah pikiran” kata Leon sambil menoleh ke arah Fauzi. “Maksudku, kau mungkin tidak semenyedihkan yang kukira sebelumnya”
“Kalau kau sudah selesai, pintu keluar ada di sebelah sana” desis Lily.
Leon mengangkat sebelah alisnya, “Itu saja? kau tak berniat melaporkanku ke polisi atau semacamnya? Karena sebenarnya, hanya itu ancaman yang kupikir ada padamu”
Lily mengerutkan kening, pria ini, apa dia benar-benar menggunakan otaknya untuk berpikir? Kalau Lily melapor pada polisi, ia juga harus bercerita tentang Lacertuor, tentang bagaimana dirinya sendiri pun terlibat d…