Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 14

Terbangun dari tidur yang tidak nyenyak, dengan badan sakit dan perut mual, dan sadar kalau bukan berada di kamar. Bukanlah hal baru bagi Faiza. Pertama kali, dia bangun diantara orang marah, dan sebelum sempat mengumpulkan kesadaran, sudah pingsan lagi karena tertimpa benda berat. yang kedua dia terbangun di ruangan sempit dan gelap, langit-langitnya amat tinggi hingga dia tak bisa melihat ujungnya. Yang ketiga mungkin yang paling menyeramkan, terbangun dalam ruangan dengan puluhan daging tergantung. Bahkan saat memikirkan kejadian itu, sebenarnya ia hanya ingat samar-samar saja, tempat itu terlalu dingin sampai menggodanya untuk tidur selamanya.
Kali ini dia tebangun di atas ranjang—tumben—dan ruangan itu sangat bersih. Terlalu bersih dan bau antiseptik, Faiza hampir-hampir mengira ia masih di rumah sakit. Tapi ingatannya dengan cepat kembali dan ia sadar kaki dan tangannya diikat ke ranjang.
Ia mencoba menoleh ke samping, mencoba menghindar dari sorotan lampu yang membutakan m…

October's Second Sunday

Gambar
Aloha semua, duh rasaya lama sekali sejak terakhir kali saya menulis LPM lagi. Apa itu pertanda betapa membosankannya kegiatan saya akhir-akhir ini? Bisa dibilang ya tapi tidak juga. Seperti beberapa waktu lalu saya—di luar kebiasaan—tanpa rencana bergegas ke obralan Gramedia. Dan rasanya aneh sekali, soalnya, mungkin kalian tau betapa antinya saya dengan pergi ke luar rumah tapi soal buku saya langsung mematahkan rasa malas itu. Dan senang sekali bisa dapet delapan novel Agatha Christie dengan tujuh puluh ribuan saja.
Tapi yang akan saya bagi kali ini bukan itu. Ini salah satu kegiatan diluar kebiasaan lain, hanya saja yang satu ini sejujurnya agak berat saya lakukan.
(Bukan) Perang Krim Kue 2 Saya hanya ingat samar-samar kalau waktu berkumpulnya jam 10 di Sekolah, tapi waktu itu hari Minggu jadi pasti gak mungkin kalau saya niat mau berangkat jam 9. Sejak subuh saya niat mau berangkat jam 7, yah, walau itu artinya saya harus mengorbankan waktu untuk menunggu selama dua jam. Tapi …

Wiga - 01

“Dan raja menghukum Sang Wiga atas pengkhiatannya”
Aku tak pernah benar-benar ingat nenek bercerita tentang akhir dongeng itu. Tapi aku tau dan aku yakin benar kalau memang itulah akhirnya. Sepertinya aku tertidur saat bagian itu dibacakan dan hanya sisa-sisa suara merdu nenek yang kemudian menyelinap masuk ke dalam mimpiku dan melengkapi ceritanya.
Yah, siapa yang peduli juga, Kisah Wiga itu bukan kisah favoritku, juga kebanyakan dongeng-dongeng yang nenek ceritakan. Setidaknya untuk saat ini. Entahlah, sepuluh tahun lalu aku memang masih suka mendengarkan cerita nenek sebelum tidur tapi sekarang usiaku enam belas tahun dn apakah salah jika aku mempertanyakan dongeng-dongeng itu?
Maksudku, jika sepatu Cinderella memang pas di kakinya, kenapa benda itu bisa lolos dari kakinya saat ia berusaha lari dari pangeran? Lagipula memangnya hanya dia yang punya nomor sepatu tertentu itu? Ya, ya, aku mengerti mungkin saja sepatu itu di sihir atau bagaimana dan semuanya masuk akal, tapi bahkan p…