26 Oktober 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 14

Terbangun dari tidur yang tidak nyenyak, dengan badan sakit dan perut mual, dan sadar kalau bukan berada di kamar. Bukanlah hal baru bagi Faiza. Pertama kali, dia bangun diantara orang marah, dan sebelum sempat mengumpulkan kesadaran, sudah pingsan lagi karena tertimpa benda berat. yang kedua dia terbangun di ruangan sempit dan gelap, langit-langitnya amat tinggi hingga dia tak bisa melihat ujungnya. Yang ketiga mungkin yang paling menyeramkan, terbangun dalam ruangan dengan puluhan daging tergantung. Bahkan saat memikirkan kejadian itu, sebenarnya ia hanya ingat samar-samar saja, tempat itu terlalu dingin sampai menggodanya untuk tidur selamanya.

Kali ini dia tebangun di atas ranjang—tumben—dan ruangan itu sangat bersih. Terlalu bersih dan bau antiseptik, Faiza hampir-hampir mengira ia masih di rumah sakit. Tapi ingatannya dengan cepat kembali dan ia sadar kaki dan tangannya diikat ke ranjang.

Ia mencoba menoleh ke samping, mencoba menghindar dari sorotan lampu yang membutakan matanya, pertama tak ada siapa-siapa, ia rupanya ada di ujung ruangan yang dekat dengan meja ubin. Mirip seperti laboratorium sekolahnya, meja itu menempel dengan tembok mengitari ruangan. Ia menoleh ke arah lain. Ada ranjang lain di samping ranjangnya, dengan sebuah gundukkan yang diselubungi kain putih.

“Hei!” panggilnya, mungkinkah wajah orang itu ditutupi kain putih hanya karena ia tidak tahan dengan lampu? “Kau, dengar aku?”

“Za?” suara itu bukan berasal dari tubuh itu, tapi Faiza tidak berpaling.

“Aldo? Itukah kau? Kau di mana?”

“Palingkan wajahmu, jangan lihat dia. Aku di belakang, terikat juga” kata Aldo.

“Ada apa dengannya? Kenapa wajahnya ditutupi kain?” Faiza malah penasarannya, diliriknya seluruh tubuh itu sebisanya. Tiba-tiba ia merasa mual. “Ada apa dengannya?

Nada suaranya berubah, Aldo tahu gadis itu sudah melihatnya, dan mungkin mulai mengira-ngira “Jangan lihat dia, oke?”

Faiza sudah menurut sejak tadi, memilih berpaling ke arah meja ubin. “Perutnya, kenapa noda hitam?” ia baru memperhatikan barang-barang di atas meja itu, gunting, pisau, toples-toples kaca. “Dia mati iya kan? Tapi tidak bau, aku—”

“Bau antiseptik ini benar-benar memuakkanku” Aldo memotong, mengalihkan pembicaraan “Aku rasa aku akan gila karena lampu itu”

“Sudah berapa lama aku pingsan?”

“Entahlah, aku ... tidak bisa memastikkannya”

“Bagaimana kita bisa kabur?” suara serak Faiza terdengar menyakitkan

“Andai aku tahu”

 ***
Sana! Sana! Tidak bisa baca ya? Selain petugas, dilarang kemari!” Seorang pria tua berwajah sangar mengusir Alya dari tempatnya berdiri.

Alya hanya melangkah sambil mendengus, tentu saja ia bisa baca, tentu saja dia bisa lihat tanda itu bahkan kalau tak bisa baca pun lambang tengkorak yang menenadakan wilayah itu berbahaya tak akan salah diartikan oleh siapa pun. Lagipula tempat itu berisik sekali, alat pengolah limbah itu entah bagaimna mengeluarka suara dengung statis yang memuakkan, seperti suara microphone yang diarahkan ke speaker. Yang jelas, kalau bukan karena janjinya dengan Fauzi ia tak akan mau berdiri berlama-lama di depan gerbang tabung-tabung raksasa itu.

Memang, mereka berjanji untuk bertemu di kamar rawat Faiza. Hanya saja, tempat pengolahan limbah cair ini lebih dekat daripada gedung rawat inapnya. Lagipula, hari sudah semakin sore dan Alya tak ada rencana untuk pulang malam lagi hari ini. Dia juga sudah mengirim pesan pada Fauzi agar mereka langsung saja ke tempat pengolahan limbah.

Tapi sudah satu jam ia menunggu, dan Fauzi belum kunjung datang. Ya, ya, jalanan macet tentu saja. Tapi memangnya Alya tidak terhadang macet juga? Mereka hanya pergi menyampaikan undangan kan? Kenapa bisa selama ini? Apalagi orang-orang selalu bilang kalau anak perempuan itu paling lama tentang masalah berpakaian, kalau begitu seharusnya Alya yang terlambat, kan?

Alya mendengus lagi, mungkin memang sebaiknya ia menunggu di kamar rawat Faiza. Setidaknya di sana mereka bisa mengobrol. Atau yah tidak semembosankan menunggu Fauzi dan Dokter Kamil.

“Aku ke Faiza” Alya mengetik, dan mengirimkan pesan itu pada Fauzi. Tak lama, notifikasi bahwa Fauzi telah membaca pesan itu muncul. Apa-apaan? Ia bahkan tidak mengangkat teleponnya dari tadi.

“Kalian di mana sih?” ia mengirimkan pesan lagi. Lagi-lagi hanya notifikasi dibaca itu yang Alya dapatkan. Ia memasukkan ponselnya ke saku dengan kasar lalu mulai berjalan menuju gedung tempat  Faiza di rawat.

Saat sedang berjalan ia dikejutkan dengan penampakkan seseorang yang di kenalnya. Ia baru saja akan berlari, sambil melambai menyapa tapi langkahnya terhenti ketika sadar ada sesuatu yang aneh.
Alya bergegas bersembunyi di balik salah satu semak-semak. Selain tanda tengkorak yang menyeramkan di pagar pembatasnya, lokasi pengolahan limbah ini juga agak terpisah dari keramaian. Lokasinya jauh dari kompleks penginapan, sehingga tidak terlalu ramai oleh bangunan, dan sebagai gantinya ada banyak tanaman perdu di sana.

Orang yang sedang diperhatikan Faiza nampak sedang menunggu, dia berkali-kali melihat ke arah jam tangannya dan berdecak sebal. Sesekali diihatnya langit sambil mengetuk-ngetuk tanah dengan kakinya.

Untuk apa dia di sini? Pikiran Alya bertanya-tanya. Alya mengenalnya dengan baik sebagai salah satu petugas pos setempat. Orangnya sedikit mudah gugup, tapi dia bisa dipercaya. Ia ingat saat meminta khusus petugas pos itu untuk mengantarkan tiket konser biolanya pada Fauzi. Dan alih-alih tertawa seperti orang dewasa pada umumnya, dia langsung setuju. Padahal motivasi Alya saat itu hanya karena ia penasaran bagaimana orang-orang kota ini menanggapi permintaan konyol seorang remaja tanggung pendatang baru.

Sesaat kemudian ada orang lain datang, sepertinya memang itulah orang yang ditunggunya. Seorang pria gempal dengan topi agak terlalu ke bawah, ia tak bisa melihat wajahnya. Pria gempal itu nampak terengah-engah dan kemudian agak terkejut dan marah setelah si petugas pos mengatakan sesuatu. Mereka lalu pergi dari situ.

Alya keluar dari persembunyiannya, kemudian mengangkat bahu pada dirinya sendiri. Ia melanjutkan langkahnya pergi ke kompleks gedung rawat inap. Saat melewati tempat si petugas pos tadi berdiri ia melihat secarik kertas di tanah.

Rupanya itu hanya nota pembelian natura yang sangat banyak.

A/N
Aloha, akhirnya saya update hihi. Ucapkan terimakasih pada anime Erased yang cliffhangernya selalu rese. Karena tidak ada waktu yang lebih baik untuk menulis thriller selain setelah membaca/menonton adegan pembunuhan. Btw, saya baru beres nonton episode 11 dan kemudian stress gara-gara belum bisa nonton episode 12 nya dan karena itulah akhirnya part 12 ini bisa ditulis.

Doakan semoga part selanjutnya tidak delay lagi wkwk

19 Oktober 2016

October's Second Sunday

Aloha semua, duh rasaya lama sekali sejak terakhir kali saya menulis LPM lagi. Apa itu pertanda betapa membosankannya kegiatan saya akhir-akhir ini? Bisa dibilang ya tapi tidak juga. Seperti beberapa waktu lalu saya—di luar kebiasaan—tanpa rencana bergegas ke obralan Gramedia. Dan rasanya aneh sekali, soalnya, mungkin kalian tau betapa antinya saya dengan pergi ke luar rumah tapi soal buku saya langsung mematahkan rasa malas itu. Dan senang sekali bisa dapet delapan novel Agatha Christie dengan tujuh puluh ribuan saja.

Tapi yang akan saya bagi kali ini bukan itu. Ini salah satu kegiatan diluar kebiasaan lain, hanya saja yang satu ini sejujurnya agak berat saya lakukan.


(Bukan) Perang Krim Kue 2

dresscode b/w
Saya hanya ingat samar-samar kalau waktu berkumpulnya jam 10 di Sekolah, tapi waktu itu hari Minggu jadi pasti gak mungkin kalau saya niat mau berangkat jam 9. Sejak subuh saya niat mau berangkat jam 7, yah, walau itu artinya saya harus mengorbankan waktu untuk menunggu selama dua jam. Tapi pada akhirnya, dengan godaan tidak mau datang sekalian saya berangkat jam 8. Siapa tau ternyata sudah sejalur dan saya gak bisa pergi. Tapi saya lupa, kalau satu jam sebelum sejalur ke Puncak itu bakal ada sejalur ke Ciawi dulu—sebagai pembersihan jalan saya rasa—. Akhirnya saya sampai tepat waktu jam 9.

Saya juga baru tau kalau saya tepat waktu karena pas di Seuseupan saya ketemu Uwi yang mengeluh kalau semua orang datang terlambat. Tapi kemudian yang lain datang juga. Fakhri memang sudah di sekolah lebih dulu, diikuti Yusuf, dan yang lainnya juga. Akhirnya kami berangkat jam setengah dua belas, yah, luar biasa, kan? Untunglah keadaanya tidak terlalu membosankan karena Handsfree, Bola Bekel Awan, dan Mie Jabrig.

Memang mau kemana sih, Fat? Nah, saya punya alasan kenapa memberi judul post ini (Bukan) Perang Krim Kue 2. Soalnya tujuan kami, anak-anak sekelas itu adalah untuk makan-makan di rumah Hilal kurang-lebih dalam rangka merayakan ulang tahun Pak Iyan, wali kelas kami.

Ketika saya sampai di sana, saya akhirnya bertemu dengan Sekar, yang langsung bertanya mengenai perihal tugas matematika kami. Saya jadi ingat kalau dia sebenarnya memang tidak mau datang, kalau bukan karena Iis bilang kami akan membahasnya hari itu mungkin dia benar-benar tidak akan datang. Jadi setelah pembukaan acara dengan susunan acara yang dibuat dadakan oleh Pak Iyan—dan spoiler inti acara oleh Reza dalam sambutannya—saya dan Sekar dan Laudia mengerjakan tugas Matematika sementara yang lain mulai memasak.

Sekar bahkan membawa semua keperluan untuk mengerjakan tugas kami, dan begitu bagiannya selesai, langsung bergegas ingin pulang. Kami berusaha mencegahnya, dan mengajaknya melihat proses memasak yang di dapur, yang ternyata ramai sekali.

Kami datang terlalu tepat waktu ke dapur, karena saat itu Ibu Hilal menghidangkan Es Kopyor terbatas yang akhirnya hanya bisa dinikmati orang-orang dapur. Sementara itu karena masak-masaknya sudah selesai, saya hanya bisa mendiskusikan mengenai tugas matematika dengan Iis yang diiringi sorakkan kesal oleh yang lain. Lalu mencoba menggambar di ponsel Indri, serta bermain kartu menggantikan Yulia melawan Awan, juga Nadia. Kemudian Sekar lagi-lagi bilang dia ingin pulang, dan kali ini tak ada yang bisa mencegahnya.

Makanannya akhirnya benar-benar siap jam 3-an. Dan rasanya aneh bagaimana acara makan-makan bersama XII-3 itu selalu berisik. Saya memang diam seperti biasa, tapi keriuhan itu jujur saja menyenangkan. Dan tau-tau saya kenyang begitu juga yang lain. Karena sudah sore, semuanya bergegas ke kamar atas untuk salat Ashar, saya terkejut melihat banyak balon di sana soalnya pas dzuhur tadi tidak ada.

Dan rencana kejutan untuk Pak Iyan disusun begitu saja, ada mengidekan dengan memberitahu Pak Iyan kalau keadaan Vira Dianti—yang baru saja jatuh dari tangga—memburuk, atau kita menjerit-jerit saja tanpa alasan, sampai ide paling radikal menculik dan mencekik Awan supaya dia menjerit dan Pak Iyan datang. Tapi pada akhirnya yag kami lakukan adalah membentuk lingkaran dalam kegelapan dan bernyanyi saat Pak Iyan masuk.

Rencananya agak kacau karena, Pak Iyan sudah tau apa yang akan kami lakukan juga karena Confettinya tidak langsung keluar saat Pak Iyan masuk tapi secara keseluruhan kejutan itu seru sekali. Tiga potong kue pertama diberikan pada Awan, Reza, dan Hilal, kemudian Pak Iyan pulang.


Banyak dari kami juga memutuskan untuk pulang, meski agak bingung karena rumah Hilal memang agak terpencil. Untungnya Hilal kemudian mengeluarkan mobil, meski akhirnya harus saling pangku-memangku. Tapi masalah selanjutnya muncul soalnya hari itu hari Minggu dan saat itu—jam 4—pasti sedang sejalaur ke Ciawi.

Untuk mengisi waktu saya dan Iis memutuskan untuk pergi ke Padjadjaran. Setelah salat Magrib kami berkeliling-keliling ke Gramedia, saya merekomendasikan beberapa buku sastra klasik dan Iis menjelaskan betapa ia ingin punya Al-Qur’an Hafalan, pada akhirnya saya membeli sebuah sketchbook untuk menggambar gaje disekolah—satu resolusi di coret—.

Sayangnya meski yang kami tau jam 7 itu arus sejalur sudah dibuka, tapi rupanya kemacetan tetap tak terhindarkan, jalanan baru benar-benar lancar sekitar jam setengah sembilan. Berterimakasihlah pada akun IG sistwins yang menemani kami melewati kebosanan.

KAKEK MISTERIUS

Hal menarik terakhir yang terjadi hari itu adalah seorang kakek yang duduk di depan saya. Penampilannya sejujurnya biasa saja walau memang agak berbeda, sedikit eksentrik kalau saya boleh bilang. Dia mengenakan kemeja yang dibuka beberapa kancing atasnya sehingga sebagian dadanya terlihat, juga jambang yang memanjang sampai ke janggut yang seluruhnya sudah menjadi uban. Itu bukan penampilan yang biasa kan? Dan sebenarnya saya juga gak terlalu peduli kalau bukan karena dia mengajak saya bicara.

Saat itu, setelah Iis turun, Sopir bertanya di mana sang kakek akan turun, dan beliau menjawab Cipayung. Setelah sopir mengangguk, kakek itu bertanya di mana saya akan turun, saya menjawab Cibeureum.

“Oh, jauh. Abis kuliah ya?”  saya jawab bukan, saya masih SMA. Dan mungkin karena saya mengenakan busana muslim, dia bertanya apa saya anak madrasah. Dan mungkin beberapa dari kalian tau betapa saya tidak terlalu menyukai percakapan dengan orang asing saya mengiyakan saja. Lalu kakek itu bertanya lagi apa sekolah saya beraliran Muhamadiyah, dan saya jawab bukan—ini semata-mata saya malas menjawab, no offense buat aliran Muhamadiyah—, lalu dia berkata kalau dia beraliran Muhamadiyah.

Nah, dan dari sini lah. Saya menyalahkan bacaan saya selama September dulu yang semuanya novel Agatha Christie, yang analisis psikologinya jadi kunci utama. Apa saya melakukan analisis psikologi? Nggak kok, hanya saja percakapan antara saya dan kakek itu kalau diteliti, agak ganjil.—Di tambah waktu itu saya ngantuk banget, dan pikiran saya agak ngelantur dan pas saya inget paginya konyol banget overthingking saya malem itu—

Setelah menyatakan dia beraliran Muhamadiyah, dia menjelaskan kalau dia bukan Islam yang terlalu fanatik yang merayakan Maulid. Saya mengerti benar hal ini akibat diskusi yang saya lakukan bersama Ayah beberapa waktu lalu mengenai film Ahmad Dahlan. Sang kakek bercerita sangat bersemangat  mengenai hal itu, bahkan trik saya yang hanya mengiyakan tidak membuatnya berhenti. Karena merasa bersalah, saya menimpali sedikit, tapi beliau tampaknya memang tidak tertarik dengan tanggapan saya, malah bercerita tentang bahwa ia adalah keturunan Baginda Besar Rasulullah karena kakeknya alah keponakan Raden Kian Santang. Saya menyerah kalau soal sejarah, dan hanya mengiyakan saja. Dan sebelum ia turun ia memberi tekanan pada pernyataanya tentang, meski ia keturunan Nabi, dia selalu ingat untuk tidak sombong dan mematuhi nasihat gurunya yang dalam pepatah sering di sebut “Dimana tanah dipijak, disitu langit dijunjung” bahkan meski dia bukan Islam yang fanatik. Begitu dia turun di berkata, kalau dia dari Sukasari dan karena macet dia menambahkan uang. Saya juga memperhatikan kalau celananya tidak cingkrang.

“Terus, kenapa, fat?”

Nah itu juga yang saya tanyakan. Kenapa? Saya yang saat itu juga sedang memikirkan plot untuk cerita pembunuhan—dan ngantuk—memikirkan betapa kuatnya karakter sang kakek kalau ia adalah tokoh dalam cerita detektif. Kenapa dia harus bercerita semua itu pada saya? Setelah Iis turun? Apa ada sesuatu dalam percakapan saya dan Iis yang membuatnya merasa harus melakukan hal itu? Apalagi sikapnya yang tidak terlalu peduli apakah saya peduli dengan ceritanya itu atau tidak, dia hanya ingin bercerita. Apakah itu karena sebelumnya dia bilang dia turun di Cipayung, yang, yaah, banyak acara maulid dan sebagainya? Tapi terlepas dari topiknya, beberapa kata-katanya agak kontradiktif, iya kan? Saya tidak akan menunjukkan bagian yang mana—ingat bukan topiknya—.

Yaah, entahlah, antara ini pencerahan untuk cerita yang sedang saya rancang itu, atau mungkin sebagai pukulan karena sebenarnya mungkin salah satu sikap saya seperti sang kakek. Akhir kata, saya ucapkan maaf untuk kakek yang saya ghibahkan di sini dan mungkin ada unsur suudzonnya. Serius, saya kebanyakan baca fiksi-kriminal doang kok.

P.S.
36 Jam setelah saya tulis, saya membaca lagi pos ini. Please, jangan anggap terlalu serius kata-kata saya—yang terlalu chuunibyou—di atas. Begitu bangun tidur besoknya saya langsung nulis ini dan gak ada bedanya sama orang mabok.

wanna hear a joke? my life

1 Oktober 2016

Wiga - 01

“Dan raja menghukum Sang Wiga atas pengkhiatannya”

Aku tak pernah benar-benar ingat nenek bercerita tentang akhir dongeng itu. Tapi aku tau dan aku yakin benar kalau memang itulah akhirnya. Sepertinya aku tertidur saat bagian itu dibacakan dan hanya sisa-sisa suara merdu nenek yang kemudian menyelinap masuk ke dalam mimpiku dan melengkapi ceritanya.

Yah, siapa yang peduli juga, Kisah Wiga itu bukan kisah favoritku, juga kebanyakan dongeng-dongeng yang nenek ceritakan. Setidaknya untuk saat ini. Entahlah, sepuluh tahun lalu aku memang masih suka mendengarkan cerita nenek sebelum tidur tapi sekarang usiaku enam belas tahun dn apakah salah jika aku mempertanyakan dongeng-dongeng itu?

Maksudku, jika sepatu Cinderella memang pas di kakinya, kenapa benda itu bisa lolos dari kakinya saat ia berusaha lari dari pangeran? Lagipula memangnya hanya dia yang punya nomor sepatu tertentu itu? Ya, ya, aku mengerti mungkin saja sepatu itu di sihir atau bagaimana dan semuanya masuk akal, tapi bahkan penjelasan itu tidak masuk akal. Lalu apakah moral dari kisah itu sendiri? Nikahilah wanita cantik yang baru kau temui satu malam? Ya, aku bukannya tidak bodoh untuk tau bahwa Cinderella mengajarkan kita untuk bersabar, tapi tidak semua orang beruntung bisa bertemu ibu peri dan pangeran mabuk.

Bahkan cerita Peter Pan juga mengangguku setelah membaca teori nyelenehnya yang tersebar di internet. Kenapa anak-anak Neverland tidak bisa tumbuh dewasa? kenapa mereka melupakan rumah mereka? Jangan-jangan, sebenarnya Peter Pan adalah malaikat maut untuk anak-anak dan anak-anak itu sudah mati. Tentu saja teori ini terbantahkan karena di akhir cerita Wendy dan adik-adiknya dan anak-anak Neverland kembali ke London dan tumbuh dewasa. Hanya saja tetap saja karakter Peter Pan membuatku berpikir keras tentang betapa dia sosok yang punya banyak hal untuk ditiru.

Yang lebih lokal, kancil, punya sifat-sifat yang mirip dengan Peter Pan. Aku juga bingung dengan lagu-lagu yang mereka ciptakan kalau kancil adalah anak nakal, tapi sekaligus memuji-muji binatang itu karena kecerdikkannya. Pikiran hitam putihku dulu memilih mengabaikan dwisifat ini dan tidak mencap kancil sebagai hewan licik yang diagung-agungkan. Apakah pencipta lagu kancil ini sadar akan hal ini? Menyadari bahwa sifat kancil yang suka menipu mungkin menjadi pahlawan bagi anak-anak calon koruptor?

“Kana?” sesosok wajah cantik mengerutkan dahi di depan wajahku “Kau menghilang lagi”

Ya tentu saja maksudnya bukan fisikku yang menghilang, entah bagaimana aku tidak merasakan kehadirannya sejak beberapa menit lalu karena terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri.

“Ariti” kataku mengucapkan nama gadis di depanku “Ada yang ingin kubicarakan”

“Jadi itu alasan kau menyuruhku datang kemari? Panas-panas begini?” Saat itu aku sedang duduk, di kursi kayu di bawah pohon, jadi tidak terlalu memahami perasaannya bahwa siang ini panas. Tapi mungkin memang benar, Ariti bahkan mengikat rambut kecoklatannya dan memakai topi. Dan aku tak perlu membahas penampilan serba simplenya hari ini, ia hanya memakai kaus polo putih dan luaran rompi jins serta celana berbahan sama. Entah sejak kapan dia suka berpakaian tomboi seperti ini.

“Yah, kau kan tidak punya waktu untuk ku telepon lagi”

Ariti mendengus, apa aku mengatakan sesuatu yang salah? Aku kan bukannya berusaha mengejek dia yang saat ini sangat sulit kuhubungi karena sedang mesra-mesranya dengan ...

“Raja!” Ariti melambaikan tangan ke arah lain taman ini. Raja berlari-lari kecil mendekati kami dengan kedua tangannya memegang eskrim. Saat sampai ia memberikan salah satunya pada Ariti, dan menjilat yang lainya.

“Maaf, Kana, aku hanya beli dua karena tanganku penuh.”

“Tadi apa yang ingin kau katakan, Kana?” tanya Ariti segera setelah menandaskan eskrimnya.

Aku ragu, apa saat ini, dua orang temanku ini sedang kencan? Apa suasananya tidak akan jadi tidak enak kalau aku menceritakannya? Aku menghela nafas panjang. Kemudian berdiri dari bangku taman itu.

“Mungkin lain kali” kataku sambil memandang tanah. Taman macam apa yang tidak ada rumputnya?

Ariti mengerutkan keningnya, lalu melirik Raja, ia tersenyum masam “Ya sudah kalau begitu”

Dan begitulah, aku melangkah menjauhi mereka. Ariti, Raja, mereka memang pasangan yang sempurna. Dilihat dari sudut manapun, baik kepribadian maupun fisik, ya, mereka memang diciptakan untuk satu sama lain.

Tentu saja aku tidak terganggu, mereka berdua sahabatku, dan boleh dikatakan, mereka bisa menjalin hubungan spesial bernama pacaran itu juga karena aku. Seharusnya aku merasa senang, iya kan? Tapi memang begitu kok, aku memang senang untuk mereka. Sesuatu yang sedang mengangguku  kebetulan saja datang saat Ariti dan Raja sibuk dengan urusan mereka. Itu kan bukan salah mereka.

Dan jika kau bertanya kenapa aku menghubungi Ariti hanya karena ingin curhat, dan bukannya Raja atau orang lain. Jawabannya sesederhana karena aku mengenal Ariti lebih lama daripada Raja. Ariti temanku sejak SD, dan Raja adalah siswa pindahan di SMA kami sejak awal semester kelas sebelas.

Aneh juga kenapa dia langsung memilih duduk sebangku denganku daripada dengan anak lain yang lebih—yah—lebih baik dariku dari sudut pandang remaja. Tapi begitulah, aku dan Raja—anehnya—cepat akrab. Hobinya memang tidak beda jauh dengan anak-anak populer lain, main video game dan sepak bola. Tapi kurasa yang membuatnya spesial adalah karena dia memang benar-benar menekuni dua hal itu. Dia punya akun youtube khusus mengulas video game, dan dia sendiri aktif dalam klub bola lokal daerah kami. Nilai-nilainya mungkin tidak terlalu bagus, tapi kalau sekali saja dia tidak tertidur dalam kelas aku rasa dia bisa masuk sepuluh besar. Jadi tak heran ia langsung jadi idola siswa putri di sekolahku, dan menempatkan Aswin di posisi kedua.

Aku akan menceritakan tentang Aswin lain kali, karena sekarang aku sudah sampai rumah dan perutku sangat lapar.

Aku langsung bergegas ke dapur untuk mengambil piring dan makan, setelah mengambil nasi dan lauk ku posisikan diriku duduk di depan meja makan. Tapi, baru saja hendak menyuap sendok pertama, aku teringat sesuatu. Segera aku pergi ke kamar dan membuka lemari. Ada sehelai kain sepanjang tiga puluh senti dan lebar satu senti di bawah tumpukan bajuku. Ini robekkan kebaya yang suka nenek pakai jika kau perlu tau. Aku mengangkat kain celana kiriku, lalu yang kanan, tapi yang kucari tidak ada di sana. Kubuka lengan kanan, dan nihil, untungnya kemudian aku menemukannya di lengan kiriku, tepatnya dekat telapak kanan. Makhluk itu sepertinya sedang tertidur, dengan susah payah aku coba ikatkan sobekkan kain kebaya nenek ke batas antara makhluk itu dengan siku. Supaya ia tidak bisa pergi dan mencuri-curi saat aku sedang makan.

Apa yang aku ingin bicarakan dengan Ariti memang bukan soal dongeng yang tidak masuk akal, tapi tentang makhluk ini, fenomena aneh ketika sebuah bintik kecil membesar menyerupai kadal dan mulai bergerak-gerak di bawah kulitku. Aku menyebutnya Wiga.

A/N
“Revenge belum beres, }uwalaya hiatus dan se]arang cerita baru?” Ehehehe *ngumpet dalem lemari*