29 Juni 2016

Revenge (Our Problem #03) - Part 13

Bau alkohol dan keringat menguar dari tempat itu, tapi tak satupun dari mereka yang nampak risih. Mungkin indra penciuman mereka terganggu akibat suara musik yang berdentum-dentum atau permainan cahaya yang membutakan. Entahlah. Bukannya hal itu penting juga. Hal seperti itu kan wajar saja di tempat seperti ini, wanita-wanita bodoh mabuk dengan pakaian minim serta pria-pria kaya buruk rupa sama-sama tak memedulikannya. Orang-orang yang lelah dengan dunia tidak peduli lagi dengan apa yang dikatakan akal sehatnya, kesenangan semu yang sesaat lebih terdengar menjanjikan daripada memecahkan masalah, dan itulah kenapa tempat ini tidak pernah sepi.

Bisa dikatakan, Gilang hafal betul tempat jenis apa yang ia datangi ini. Walau bukan kebiasaannya datang dengan mata tertutup, tangan terikat dibelakang, badan memar-memar, serta moncong senjata api di pelipisnya. Bukan cara yang menyenangkan untuk menghadiri pesta.

Dan ketika penutup matanya dibuka, ia tidak terkejut melihat apa yang ada dihadapannya.

Rano duduk di sofa besar, menyilangkan kaki dan lengannya, berpose bagai orang penting, sesuatu yang selalu ia sesali dari adiknya.

“Jadi ...” kata Rano “Aku lagi-lagi dihadapkan dengan pengkhianat”

Sejak pertama kali Rano pulang, Gilang tak pernah mengerti apa yang ia katakan. Kecuali satu hal, Rano benar-benar ingin membunuhnya, entah karena apa, dan sampai sekarang ia masih tidak mengerti.

Rano turun dan mendekatinya, menendang kakinya sehingga ia berlutut. Gilang mendongkak untuk menatapnya dan bertanya “Kenapa kau lakukan ini?”

Rano berbaik hati menjawabnya dengan pukulan keras dipipinya, membuat Gilang terjatuh ke satu sisi. Nampaknya tidak ada yang peduli dengan keributan di salah satu sudut ruangan ini, atau hal ini memang sudah sering terjadi?

“Bangun!” perintahnya, dan Gilang menurutinya, bukan hal yang baik membangkang pada Rano yang yang sedang marah. “Kau pikir kau siapa!” satu pukulan lagi dipipinya yang lain, bahkan lebih keras, bukan hanya jatuh, Gilang menubruk lantai.

Gilang tak punya banyak kekuatan untuk melawan meski ia mau. Tenaganya sudah habis untuk melawan sepuluh orang tak dikenal yang mengepungnya di gedung kosong tempat ia tinggal lima hari ini, dan selama lima hari itu pula ia tidak makan makan, dan hanya minum air hujan. Anak buah Rano selalu lebih banyak dari miliknya, dan dengan tekad sebesar yang ia lihat saat Rano pulang, ia pasti kalah ... dalam pertarungan konyol yang tak dimengertinya.

“Aku bersumpah, Rano. Semua ini salah paham saja,” Gilang berujar dengan susah payah.

“Lalu kenapa kau melarikan diri? Bukannya itu semanam pengakuan, ha?”

“Aku tak akan melawan, Rano.” Kalau dipikir-pikir, lima hari itu agak terlalu lama untuk membiarkan dirinya hidup jika Rano memang ingin menghabisinya. “Kalau boleh meminta” Gilang menelan ludah, yang artinya sebenarnya tempat persembunyiannya itu cukup bagus “Habisi aku saja secepatnya” yang juga berarti bahwa Rano akhirnya mendapat bantuan, dan kalau mereka saja sudah memutuskan untuk menolong Rano menghabisinya, sudah tidak ada lagi bantuan yang bisa ia harapkan. Bahkan anak buahnya juga entah berada di mana saat ini.

Rano tertawa. Gilang tau adiknya sudah lama gila, tapi ia tidak menyangka kegilaannya itu juga tidak memiliki pengecualian pada dirinya. Ia meringis, benar kata orang, harapan itu sesuatu yang berbahaya.

“Tau tidak, untuk bisa menemukanmu aku telah membayar harga yang sangat mahal” Rano berjongkok di depan wajahnya “Tadinya bisa saja aku membuat ini tidak menyakitkan, tapi toh ini salahmu sendiri”

“Apa yang akan kau lakukan?” Gilang tau dia akan menyesal menanyakannya.

Rano tersenyum licik, ia berdiri dan menginjak kepala satu-satunya keluargannya itu. Kematian yang cepat? Enak saja.

***

Kotak tidur, benda kecil berwarna hitam dengan corak ungu itu masih ada pada Alya. Polisi  tidak mencarinya setelah menangkap Rano dan Kak Rio dulu, mereka sama sekali tak tau tentang hal itu. Sementara Profesor Owl, juga tidak tau kalau benda itu ada pada Alya, ia pikir itu sudah di hancurkan.

Benda itu hanya seukuran seruas jari, kecil sekali, tapi ketika terpasang di dalam biola Alya. Suara yang dihasilkannya mampu membuat satu teater tertidur. Alya tidak begitu yakin dengan cara kerjanya, ia pernah melakukan beberapa eksperimen. Pertama, benda itu tidak berpengaruh pada hewan. Kedua, kotak tidur juga tidak berfungsi pada perangkat elektronik. Dengan kata lain, penggunaanya harus dari suara alat musik atau suara manusia.

Tujuan Profesor Owl merancang alat ini sebenarnya baik. Alya pernah mencuri dengar dari Fauzi, kalau Profesor berniat membuat alat bagi ibu-ibu muda yang kesulitan menidurkan bayinya, atau anak-anak rewel mereka yang memaksa begadang padahal ada ujian penting esok harinya. Dan efeknya dapat hilang sendiri dalam delapan jam, atau dengan mudah dipatahkan dengan suara wanita.

Profesor Owl, pasti orang yang hebat. Bagaimanapun, Alya yakin benda ini ada hubungannya dengan manipulasi gelombang dan reaksi otak, yang Alya sendiri tak akan memahaminya.

Ia menempelkan lagi kotak itu ke bagian dalam biolanya. Alya tak bisa bernyanyi, atau memainkan alat musik lain selain biola, jadi ia tak punya pilihan lain.

Kemudian ia memasang handsfree di telinganya, memutar musik dari ponselnya keras-keras, setelah mengatur seluruh musik yang akan diputar nanti dinyanyikan oleh penyanyi dengan pitch tinggi.

Ini hanya untuk berjaga-jaga. Hilangnya Aldo benar-benar aneh, sama anehnya dengan sikap Fauzi akhir-akhir ini, juga senyum Dokter Kamil yang selalu terlihat misterius. Itu mengingatkannya pada seseorang. Seorang pria yang bertanya ramah padanya mengenai rumah Pak RT, kemudian membekapnya dan membawanya ke rumah kosong. Pengalaman adalah guru terbaik, dan itu bukan karena mereka tidak memberikan PR.

***

A/N

Maaf gaje L, tapi seenggaknya saya update dua kali bulan ini *terussitubangga?!*

18 Juni 2016

Hulk Ajaib

Maaf. Saya gak tau judul yang lebih relateble daripada judul extra click-bait ini. Habis kalau saya buat judul mini reuni The Charming kayaknya bosen banget. Apa? Kamu gak tau siapa The Charming? Well, we are weirdos, Nah, alasan yang lebih kuat untuk pergi kan? Meh, terus kenapa kamu tulis ini kalau gak pengen di baca orang? Karena, sekarang jam 8:43 hari Sabtu tanggal 18 Juni 2016, kurang dari dua belas jam sebelum deadline, dan yang sudah saya tuliskan untuk pos ini adalah spam. Sementara saya tidak ingin melupakan hari-hari ketika saya merasa senang. Dunia tak pernah punya kewajiban untuk membaca ini, tapi saya punya hasrat keabadian. *hoeek*

Abaikan.

Setelah menunggu selama ±tiga jam di sekolah dengan membahas hal-hal gak penting yang sekarang saya udah lupa dengan Hania. Kami akhirnya berangkat ke Ciawi untuk bertemu Intan.

Hari itu (Rabu, 15 Juni 2016) kami berniat nonton film Now You See Me 2. Tidak, kami tidak mengikuti tren untuk melihat aksi Valak dalam The Conjuring 2. Bahkan meski setan-setan dikekang di bulan suci ini. Nope, nope, nopity, nope *highfive, if you got that refference*

Jam dua belas, ketika dihubungi, Mila rupanya baru mau mandi. Saya tidak menyalahkannya, kalau saya punya waktu liburan nyaris eternal saya juga bakal males mandi. Jadi, untuk menghemat waktu, saya, Hania dan Intan pergi duluan ke Botani.

Kami sampai setengah jam kemudian, setelah memutuskan beli tiket yang jam satu tiga puluh bergegeas pergi shalat dzuhur. Begitu selesai dan Mila datang, rupanya kami masih punya waktu setengah jam sebelum film di mulai. Jadi, kami pergi ke Gramedia untuk sekedar melihat-lihat.

Intan dan Mila excited ngeliat novel O2-nya Orizuka terbit. Rupanya mereka sudah mengikuti seri 4R1A itu sejak buku pertama. Saya excited ngeliat komik cetak H2O: Reborn terbit. Kenapa saya sebut cetak? Karena sebenarnya kalian bisa baca gratis di webcomicnya. Sayang, waktu itu saya gak bawa uang lebih buat beli.

Sepuluh menit sebelum film dimulai! Ayo-ayo-ayo! Dan dengan drama rebutan kursi kami akhirnya duduk dengan khusyuk.

*pengaplikasian pelajaran memproduksi teks ulasan film sedang dalam proses ...*
Now You See Me 2, salah satu hal yang bikin saya pengen nonton film ini adalah karena beberapa waktu lalu saya nonton film pertamanya di TransTV. Film yang menghibur, saya gak perlu merasa bersalah karena sejak awal hati membela Four Horsemen daripada Dylan Rhodes, si FBI bego yang jelas-jelas mengundang simpati. Tapi begitu sampai ending, saya kesal luar biasa. Twistnya rese serese resenya. Harus saya bilang gak adil sama sekali. Namun, kemudian saya menerima, dan mengakui film itu keren.

*SPOILER ALERT*
REVIEW INI MENGANDUNG SPOILER DARI FILM PERTAMANYA. KALAU KAMU BELUM NONTON NOW YOU SEE ME LEBIH BAIK LEWATI  9 PARAGRAF BERIKUT

Jadi, Now You See Me 2. Setelah kesuksesan film pertamanya, rupanya mencoba mencari peruntungan dengan film kedua. Masih dengan tokoh-tokoh yang sama. The Four Horsemen, yang terdiri dari J. Danniel Atlas (Jesse Eisenberg), Merritt McKinney (Woody Harrelson), dan Jack Wilder (Dave Franco). Oh ya, satu orang lagi, sayangnya Henley rupanya keluar karena Isla Fisher-nya hamil sudah tak sabar menunggu dan digantikan Lula May (Lizzy Caplan). Serta tokoh utama kita, Dylan Rhodes (Mark Ruffalo) yang ternyata bukan FBI bego, tapi masih mengundang simpati. Di samping itu, masih ada Thaeddeus (Morgan Freeman), sang penggerak cerita dan jeng-jeng-jeng Walter Mabry yang diperankan Daniel Radcliffe. Dan itu, alasan kedua kenapa saya ngebet banget pengen nonton film ini.

Jadi cerita dimulai dengan narasi Thaeddeus yang tidak terima atas perbuatan Four Horsemen kepadanya, dan berkata bahwa mereka akan menerima balasannya. Kemudian scene berlanjut dengan Atlas yang rupanya sudah muak menunggu, dan menghampiri The Eye. Dia pulang dengan harapan ke apartemennya untuk kemudian bertemu wanita menyebalkan bernama Lula.

Baru saja ingin mengabari teman-temannya, untuk mendukungnya protes atas pernyataan Lula bahwa ia akan menjadi bagian baru dari Four Horsemen. Rupanya Lula sudah bersama Dylan, dan mereka harus bersiap melaksanakan perintah The Eye.

Sayangnya, ketika dalam proses sabotase peluncuran produk terbaru OCTA, sabotase mereka di sabotase. Akibatnya, rahasia Jack Wilder masih hidup diketahui publik dan identitas Dylan Rhodes terbongkar. Keadaan menjadi lebih parah ketika dalam usaha kaburnya, Four Horsemen tiba-tiba jatuh ke Macau. Mereka lalu bertemu dengan Walter Mabry, biang semua ini yang juga bekerjasama dengannya Chase McKinney, saudara kembar Merritt.

Kenapa pengusaha yang pura-pura sudah mati itu melakukan ini pada mereka? Karena ia ingin memanfaatkan mereka. Dimintanya Four Horsemen untuk mencuri sebuah chip ‘dewa’ dengan menggunakan keahlian mereka. Dan Atlas, beserta egonya menerima tawaran hidup atau mati itu.

Sementara itu, Dylan yang putus asa akhirnya menerima uluran nemesisnya, Thaeddeus untuk mencari Four Horsemen. Yah, dia buronan sekarang, semuanya jadi sulit. Dan begitulah cerita kemudian bergulir. Pengungkapan rahasia ayah Dylan, persahabatan yang kembali terikat, dan aksi balas dendam sekaligus penyelamatan publik yang manis.

Memasang ekspektasi serendah-rendahnya setelah membaca review film yang cukup buruk di mana-mana. Saya mendapati diri saya kemudian merasa puas. Penampilan aktor-aktornya yang memukau—Daniel with his sassy Potter that more sassy than the real Potter, I can’t even. Tapi kenapa Eisenberg digundulin, cakeppan gondrong padahal *eh?—, secara visual, teknik-teknik sulap mereka juga terlihat keren. Dan kisah Dylan Rhodes dengan ayahnya somehow bikin heartwarming. Sejujurnya, begitu keluar dari bioskop, saya amazed.

Tapi sekarang setelah memikirkannya lagi. Boleh dikatakan saya kecewa dengan si kembar McKinney. Di film sebelumnya, tokoh ini jadi tokoh paling ‘sassy’nya. Tapi sekarang, kehadiran kembarannya dan Walter bikin ke’sassy’an dia jadi turun—wtf am i talking about—. Ya, mungkin ini efek villain akan selalu lebih keren dari hero. Jadi karena mereka bukan orang-orang brengsek lagi dimata cerita dan penonton, karakter mereka juga jadi kurang menarik. Tapi poin plusnya persahabatan Four Horsemen jadi lebih di sorot. Namun, lagi-lagi masih kurang karena porsi Dylan dan ayahnya yang lebih besar. Selain itu, twistnya tidak semegah film pertamanya. Double twist? Triple twist? Seberapa banyak pun twist yang dihadirkan tokoh itu, sejujurnya gak akan mengejutkan penonton, sebab dia, dari film pertama emang udah gak jelas orangnya.

Saya cuma bisa protesin plot dan karakter, karena saya bukan orang yang hobi nonton juga terus bisa ngerti banyak hal soal perfilman. Apakah film ini layak ditonton atau tidak? Nah, saya cuma menyampaikan pendapat tanpa berniat memengaruhi kalian. Film ini keren, harus saya akui, banyak tapi nya itu juga setelah saya renungi kok, jadi saya sendiri sebenarnya menikmati film ini. Saran saya jangan berekspetasi banyak, karena harapan itu berbahaya. Kalian bisa cari review lain kalau belum pasti juga.

Oke kembali ke Hulk! Yang menghidari spoiler boleh buka mata lagi.

Setalah keluar bioskop dengan berwah-wah ria. Kami mencoba mereview filmnya dengan bertanya satu sama lain mengenai bagian-bagian yang tidak kami mengerti. Saking gak fokusnya, kami tetap berjalan ke eskalator ke lantai G padahal tadinya mau ke lantai 1 buat shalat Ashar. Yasyudahah lanjut ke GF, ke Gramedia dulu aja.Tapi sayangnya saat itupun pikiran masih pada gak fokus buat nentuin mau beli apa. Akhirnya kita balik lagi ke lantai 1 buat shalat Ashar. Habis itu balik lagi ke lantai 2 buat beli spagheti buat adik Hania. Terus Mila pengen liat-liat pashmina ke lantai 1. Gimana saya gak kesel coba?

Dan setelah itu, kami balik lagi ke Gramedia di GF. Dan resenya, nyari eskalatornya muter. Saya bilang ke Mila, abis ini pulang ya, awas aja kalau mau beli crepes. Dan rupanya bener. Kita beli Crepes di lantai 2. Dan di lantai G begitu pulang pun masih sempet-sempetnya liat-liat sepatu.

Malah ada juga kejadian ketika Mila keluar dari lift satu lantai sebelum lantai yang kami tuju, saya udah berusaha nahan dia, tapi dia terus dan akhirnya kita harus ngikutin dan kemudian baru ngeh. Vrooh.

Enaknya sama mereka tuh saya bisa sarkas abis-abisan tanpa harus ngerasa bersalah. Oke, lupakan kalau saya pernah bilang kita gak sedeket orang yang anggep ejekan sebagai tanda sayang. We do, tapi seenggaknya gak sampe bawa kebon binatang juga.

Well, good times. Can’t wait for next meet. :D

Ngomong-ngomong, saya sampe rumah jam setengah tujuh padahal tadinya gak niat sampe maghrib gini mainnya. Saya cape banget, langsung tidur, dan sampe lupa pasang alarm buat sahur, dan akibatnya orang rumah gak ada yang sahur. LOL

11 Juni 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 12

“Kita bertemu di ruang rawat Faiza, oke?”

Alya mengangguk.

Setelah mengucapkan salam perpisahan, Fauzi meninggalkannya sambil menggiring sepedanya. Alya tadinya juga mau pergi, jemputannya terlambat lagi hari ini—pasti karena besok libur, jalanan macet—, jadi mungkin dia akan menunggu di perpustakaan.

“Eh?”

Sahutan bingung dari Fauzi membuatnya kembali berbalik, dan ikut melihat apa yang di lihat Fauzi. Sebuah mobil memasuki lapangan sekolah dari gerbang. Jendela samping pengemudinya terbuka, menunjukkan dengan jelas siapa yang mengendarainya. Lagipula, orang itu memang mencolok.

“Itu, Dokter Kamil, kan?” Alya tiba-tiba mengerti.

“Hei!” Dokter Kamil melambaikan tangan ke arah mereka. Lalu membuat isyarat agar mereka menghampirinya.

Alya ragu, tapi kemudian memutuskan mengikuti Fauzi yang sambil menggirng sepeda menghampiri dokter itu.

“Kalian baru pulang? Aku tepat waktu kalau begitu”

“Ada apa?” tanya Alya tanpa basa-basi

“Kalian bisa naik? Aku akan jelaskan sambil jalan”

Fauzi dan Alya saling menoleh, bertanya satu sama lain lewat tatapan.

“Aku memang sudah izin untuk pergi hari ini, sepedaku juga bisa di lipat. Tapi Alya ...” Fauzi tidak melanjutkan kalimatnya, membiarkan gadis itu untuk menyelesaikannya.

“Jemputanku sedang di jalan. Aku bisa mengabarinya, tapi sebelum itu beritahu dulu kita akan ke mana”

Dokter Kamil tertawa “Astaga, aku bukan orang asing yang harus kau waspadai kan?”

Alya mengangkat bahu “Entahlah, setelah tau kalau salah satu kawanku hilang aku merasa harus berhati-hati”

“Oh, kau sudah tau ya?” nada bicaranya seperti seharusnya, menyesal. Pun tatapan matanya terhadap Alya yang tanpa ditutup-tutupi merasa berduka. Tapi entahlah, Alya bukan orang yang peka sebenarnya, tapi dalam waktu sepersekian detik ia pikir Dokter Kamil marah.

“Yah, kasarnya aku ingin menagih janji kalian. Akan ada semacam seminar kesehatan di balai kota. Aku ingin mengundang Owl, aku kan tidak tau alamatnya. Jadi kupikir kalian bisa mengantarku”

Fauzi mengangguk paham “Kalau begitu aku saja yang ikut. Alya, kau bisa tunggu jemputanmu”

Baik Alya maupun Dokter Kamil sama-sama ragu.

Apa ini ide bagus? Memisahkanku dengan Fauzi? Dia akan baik-baik saja?

Begitu dia ke ruangan itu, semua akan terbongkar.

Tapi keduanya pun tidak berbicara lagi selama Fauzi sibuk melepas bagian-bagian sepedanya. Dan begitu Fauzi naik, kemudian hilang bersama mobil Dokter Kamil ke kerumunan mobil di jalan, Alya baru ingat satu hal.

Ia juga belum pernah ke rumah Dokter Owl. Kalau terjadi sesuatu, ia tak akan tau harus ke mana. Sesuatu? Memangnya apa yang akan terjadi? Keadaan tidak akan bertambah buruk setelah Aldo menghilang kan? Iya kan?

***

Jalanan macet sore itu, Fauzi berpangku tangan memandangi lampu merah. Sudah dua kali lampu merah itu menyala, tapi mereka bahkan belum melewatinya. Ia kini menatap dashboard mobil, melihat sudah berapa lama waktu yang terbuang. Apa setelah ini mereka masih sempat untuk observasi?

Mobil itu berjalan lagi, tidak dalam kecepatan yang memuaskan. Tapi yang paling membuatnya risih adalah tukang rujak di pinggir jalan. Bukannya bermaksud kepedean, tapi Fauzi tidak suka saja dengan kenyataan bahwa tukanG rujak amatir yang mangkal di depan sekolah dan sekaligus tukang sayur di depan rumahnya itu mengikuti rute yang sama dengannya. Apalagi karena kemacetan ini, gerobak rujaknya seolah berkata ‘aku bisa mengikutimu kemana pun’.

Fauzi menggelengkan kepalanya. Pikiran gila sering muncul ketika dia bosan.

“Dokter Kamil,” sapa Fauzi

“Ya?” pandangan sang dokter tidak lepas dari jalanan, “Apa aku harus belok di depan?”

“Tidak lurus saja” jawab Fauzi. Tadi dia ingin membicarakan sesuatu supaya tidak bosan, tapi ia sadar ia tak punya topik. “Ngomong-ngomong, pemulihan itu apa?”

“Eh?” mobil itu berhenti lagi, “pemulihan? Kau menanyakan pengertian dalam bidang medis?”

“Bukan. Kau mengatakannya dulu, pemulihan sepuluh tahun lalu, hal semacam itu”

“Oh, pemulihan” Dokter Kamil tersenyum, tapi senyumnya itu membuat Fauzi merasa tidak enak. Senyuman orang yang meremehkan, tapi wajar, mungkin Dokter Kamil memang tau segalanya tentang hal itu. Ibunya saja tidak pernah membicarakan mengenai pemulihan, yang berarti hal yang diketahui ibunya tentang hal itu memang terbatas dan tidak penting. Tapi ketika Dokter Kamil membicarakan hal itu kemarin, hal itu terdengar seperti revolusi. Dan bagi Fauzi itu aneh karena dia tidak menemukan informasi apapun baik dalam buku teks sejarah maupun Internet.

“Kau mungkin pernah dengar, walau aku tak yakin juga. Perkembangan iptek negara kita berkembang pesat di tahun 2018 ...”

2018? Itu dua belas tahun lalu, bukan sepuluh tahun lalu.

“Itu sebuah lompatan luar biasa bagi negara berkembang seperti kita. Kesuksesan di sektor lainnya lalu menyusul sama cepatnya. Tapi kemudian terjadi sebuah tragedi. Kesalahan sistem dan tetek bengek seperti itu terjadi, ada korban dalam skala besar, pokoknya begitu lah.

“Orang jadi takut pada tiap teknologi terbaru, lucu kan? Kemunduran terjadi di tahun 2020, hanya dalam dua tahun setelah kita jadi negara dengan perkembangan iptek tercepat se-Asia Tenggara. Dan bersamaan dengan itu, pemerintah menghancurkan banyak pabrik untuk kemudian memilih mengubahnya menjadi hutan. Hutan di mana-mana sekarang ini, iya kan?”

Fauzi memang pernah mendengar soal hal itu, Ibunya pernah bergumam mengenai masa depan yang hancur tidak terjadi.

“Dan itulah yang di sebut pemulihan, tidak terlalu spektakuler. Akibatnya kita memang jadi tertinggal dari negara-negara lainnya. Ah, tapi seharusnya negara-negara tetangga itu berterimakasih. Saat ini kita satu-satunya negara penghasil makanan organik, kalau kita tiba-tiba memutuskan untuk menutup diri dan menolak ekspor beras, silakan saja mereka makan uang mereka yang berlimpah itu”

Suaranya berapi-api, membuat Fauzi juga jadi ingin ikut tersenyum “Tapi ...” gumam Fauzi “kenapa tiba-tiba pemerintah menghancurkan pabrik? Itu, agak radikal menurutku”

Dokter Kamil hanya mengangguk, kemudian berbelok ke jalan setapak menuju hutan. Ini memang jalan menuju rumah Profesor Owl. Tapi, Fauzi kan belum memintanya untuk belok?

Ada yang tidak beres. Bahkan meski perasaannya memang tidak enak akhir-akhir ini, Fauzi selalu yakin itu semua hanya karena perasaan bersalahnya yang selalu Aldo bilang konyol. Makanya dia selalu mengabaikan semua intuisinya. Tapi yang baru saja terjadi ini realita, Dokter Kamil bilang ia tidak tau rumah Profesor Owl, tapi ia belok di tempat yang tepat.

“Dokter Kamil, kapan kau akan mengembalikan jam tanganku?”

Dokter Kamil tidak langsung menjawab, mungkin terlalu fokus pada jalanan. Mereka sudah memasuki jalan setapak, sudah tak ada mobil yang menghalangi. “Secepatnya, apa kau membutuhkannya dalam waktu dekat?”

“Tidak juga” ucap Fauzi lirih, kenapa ia merasa yang baru saja diucapkannya adalah kesalahan?

Sekali lagi Fauzi menggelengkan kepalanya. Dasar pikiran konyol. Ia memilih memandangi air sungai di sebelah jalan setapak itu. Airnya berkilauan terkena langit sore, membuat Fauzi terpesona. Terakhir kali ia ke sini, ia tak terlalu memperhatikannya, pikirannya terfokus pada tugas sekolahnya dan sikap Profesor Owl, yang ... jujur saja membuatnya agak sakit hati. Mau tak mau Fauzi jadi penasaran, masalah sebesar apa yang sedang pria itu hadapi?

Mobil itu berhenti, tepat di depan halaman rumah Profesor Owl. Lagi-lagi perasaan takut itu menghinggapi Fauzi.

Saat itu Kak Lily sedang menyiram tanaman di halaman depannya. Ia menatap bingung ke arah Fauzi, lalu ke arah Dokter Kamil. Fauzi turun dari mobil, sementara Dokter Kamil bilang dia harus mengambil surat undangannya dulu dari kursi belakang.

“Tumben,” sahut Kak Lily, Fauzi hanya menjawab dengan senyuman.

“Profesor Owl, ada? Ada tamu”

Kemudian tiba-tiba saja Dokter Kamil sudah ada di sampingnya. “Saya Kamil” ia memperkenalkan diri.

Fauzi bisa melihat ekspresi aneh tertera pada wajah Kak Lily. “Lily” jawabnya. “Kalian mungkin mau masuk dulu, sepertinya ada banyak yang harus di ceritakan”

Mereka berdua setuju. Kemudian masuk ke rumah itu. “Sebentar ya” Kak Lily berjalan terus menuju dapur.

“Jus jeruk buatan Kak Lily paling enak sedunia” Fauzi berbisik pada Dokter Kamil.

Dan sesuai dugaannya, begitu kembali Kak Lily membawa jus jeruk. Kemudian meletakkannya pada meja rendah di depan mereka. Dokter Kamil meneguknya sedikit untuk membuktikan ucapan Fauzi, dan benar, itu jus jeruk paling enak sedunia.

“Jadi,” kata Kak Lily “ada apa?” tanyanya.

Tak seperti biasanya, suaranya itu dingin dan mengancam. Tatapan matanya lurus pada Dokter Kamil seolah ingin merobek-robek wajahnya. Fauzi jadi bingung, ia tak suka suasana canggung ini. Kenapa semua perempuan seolah tak ada yang suka pada Dokter Kamil? Faiza, Alya, dan kini Kak Lily juga. Kak Lily bahkan belum sempat berbicara dengannya, tapi sikapnya seperti ular yang siap menyergap.

“Dia dokter Faiza, Kak Lily—” dan alasan Fauzi menghentikan kalimatnya adalah karena Kak Lily melotot ke arahnya. Fauzi merengut, dia berkata salah ya?

“Kau tidak minum jus jeruknya, Zi?” kata Kak Lily kemudian, tatapannya melembut, tapi Fauzi tidak menyukainya.

“Ya, Zi, kau sendiri yang bilang itu jus jeruk terenak sedunia”

Fauzi menoleh, tanpa diduganya. Dokter Kamil balas menantang tatapan kematian Kak Lily. Malah senyum disunggingkannya itu terlihat menyebalkan tanpa rasa takut. Tak tau harus berbuat apa, Fauzi meneguk habis jus jeruk di hadapannya. Entah kenapa kali ini agak pahit. Tapi yang lebih aneh dari itu adalah karena pandangannya kemudian mengabur, kepalanya terasa pusing dan matanya berat. Kemudian, gelap.

***

“Apa yang berusaha kau sembunyi kan?” tanya Dokter Kamil. Fauzi tertidur lelap di sebelahnya dengan irama nafas yang teratur.

Leonard Lacertuor, si Bunglon” jawab Lily sambil merogoh sesuatu dari saku celemeknya “jangan macam-macam” Lily menghunus pisau dapur.

Leon terkekeh.

Dasar orang gila, kenapa dia selalu tertawa dalam setiap keadaan?

1 Juni 2016

Random (6)

Tadinya saya mau buat semacam postingan evaluasi selama satu tahun terakhir—mengingat ini menjelang tahun baru bagi pelajar—, tapi ternyata banyak banget yang pengen saya sampaikan dan saya jadi bingung sendiri harus mulai dari mana dan kayaknya satu sama lain gak berhubungan dan ini dia.

STARLIGHT – DYA RAGIL

Akhirnya baca teenlit lagi

Saya nemu soal novel ini dari salah satu blogtour anggota BBI, dan kata-kata ‘persiapan olimpiade astronomi’ langsung menarik minat saya. Orang sentimental kayak saya emang gampang di pengaruhin kayaknya, cukup sesuatu yang berhubungan dengan diri saya sendiri—dalam hal ini fakta bahwa saya mengikuti OSK tahun ini—dan I’ll be your slave, sigh. Begitu tau kalau buku ini bercerita tentang peserta olimpiade, saya langsung pengen beli, kemudian saya menambahkan alasan lain untuk memaksa diri buat beli novel ini. Kovernya bagus banget, dan sepertinya romance-nya gak terlalu kental.

Saya terakhir kali baca teenlit beberapa tahun lalu, waktu SMP kayaknya, dan faktor terakhir itu berpengaruh banget. Saya yang sok idealis ini gak mau banyak-banyak baca romance biar gak kepengaruh dan pengen pacaran lagi. Dan karena cerita teenlit pun banyak yang romance—karena seolah urusan remaja itu cuma romance, duh—jadi saya menghindari itu. Sempet tertarik baca Touché, dengan alasan yang sama dengan Starlight—kayaknya minim romance—tapi sebelum sempet beli ternyata keburu ilang dari peredaran, sigh.

Dan akhirnya, saya baca teenlit lagi, sorak sorai dong buat saya *plak*. Awal-awal baca saya langsung senyum-senyum sendiri, dan gak bisa buat gak gangguin Iis yang lagi ngerjain tugas untuk bilang betapa luar biasanya adegan-adegan di buku ini. Intinya, saya ngerasa relate sama buku ini. Kehidupan pelajar yang sederhana, gak terlalu hebat ataupun menyeramkan. Mungkin itu juga alasan kenapa saya pernah berhenti baca teenlit, karena saya gak pernah bisa relate sama ceritanya, hal-hal itu terlalu wah bagi anak SMP pinggiran kota kayak saya.

Ditambah lagi dugaan saya ternyata bener, romance bukan poin utama di buku ini. Saya selalu percaya, bahkan meski keributan di kelas saya selalu disebabkan oleh anak-anak yang punya masalah dengan pacarnya atau minimal gebetannya. Masalah krusial untuk pelajar pasti bukan hanya itu, dan sebenarnya kepercayaan saya itu hanya berdasarkan novel-novel fantasi dan menonton remaja-remaja berbakat di Internet.

Cita-cita, keluarga, persahabatan. Tiga hal yang seolah di nomor sekiankan bagi remaja kekinian ini dirangkum apik dalam buku ini. Saya kenal orang seperti Teguh, siswa bermasalah yang sebenarnya hanya korban ketidakpedulian orang dewasa, dan ia tetap tersenyum sampai hari terakhir dia di sekolah. Saya tau orang-orang seperti Nindi dan Bagas, dalam arti orang-orang yang dimusuhi satu kelas. Lintang dan Wulan, saya mungkin belum pernah bertemu orang seperti mereka di dunia nyata, tapi perjuangan mereka akan selalu jadi motivasi buat saya.

Baca buku ini bikin saya semangat lagi setelah akhir-akhir ini hilang gairah buat belajar dan putus asa dengan kehidupan sosial. Selain penggambaran penderitaan masing-masing karakter yang kurang kuat, saya rasa ini buku yang worth to read kok.

*saya post di sini, karena kalian bisa lihat betapa subjektifnya review ini*

RESOLUSI

Tahun ini bukan tahun terbaik dan paling bersahabat yang pernah saya alami. Kalian bisa liat dari beberapa postingan saya selama kelas sebelas ini, yang tanpa saya bisa cegah berisi cacian, makian, dan keluhan. Saya sendiri gak ngerti kenapa bisa gini. Dalam ‘Eureka’ saya sempat berkata kalau saya menerima kenyataan bahwa keadaan masyarakat memang tak bisa sesuai harapan. Tapi logika saya menolak kenyataan bahwa itu artinya banyak orang yang tak bisa dipercaya maupun diandalkan. Bagaimanapun saya sama sekali gak suka sama keadaan saya sekarang, dan mencoba cepat-cepat mencari penyebab dan jalan keluarnya. Jadi berikut ini analisis saya.

Banyak hal yang mengecewakan saya. Dan kunci utama kekecewaan adalah harapan. Tentu saja jawaban dari permasalahan ini tidak seseram bahwa saya harus berhenti berharap pada semua orang. Hei, saya ini sedang mencari solusi positif. Mari kita katakan bahwa jawabannya sesederhana berbuat baik tanpa pamrih dan menjadi ball of sunshine all the time. Baiklah itu tidak sederhana, tidak ada jalan untuk tidak kecewa. Jadi saya harus berhenti menganggap serius semua kesalahan yang ada di dunia ini.

Dan hal itu termasuk kata-kata menyakitkan yang dikatakan orang-orang tanpa mereka sadari. Kebetulan Narsya lagi hobi nyanyi larik ‘jaga lisanmu kawan, karena lidah tidak bertulang’. Kata-kata ini sebenarnya sederhana, beberapa mungkin hanya bercanda sambil mengungkap fakta, yang lain hanya menyampaikan kekecewaan, tapi dasar saya yang hobi overthingking bisa ngerasa down banget kemudian mencari berjuta alasan untuk membela diri tapi hal itu tetap gak ngerubah perasaan jelek saya. Jadi, hei, diri sendiri coba berenti buat ngerasa sakit hati.

Kemudian karena overthingking disebabkan oleh ada waktu buat berpikir. Saya jadi pengen buat resolusi untuk menyibukkan diri. Resolusi? Ya, ini kan tahun baru bagi pelajar, setelah ulangan akhir tahun nanti yang namanya menata hidup kembali itu kerasa banget. Dan mencari kesibukkan ini penting banget supaya saya gak punya waktu buat mikirin perasaan saya sendiri, yay!

Hal pertama yang muncul kepikiran saya anehnya adalah read-aloud. Saya punya masalah dengan self-confidence dan salah satunya adalah err kita perhalus, saya selalu ngerasa aneh ketika mendengarkan suara saya sendiri. Nah, supaya saya  bisa melewati dua pulau dalam satu dayung, saa berniat untuk membaca buku bahasa inggris sekalian untuk memperlancar juga. Tadinya saya mau baca The Ice Princess, karena buku itu terlantar begitu saja tanpa pernah saya baca tapi saya takut tersandung masalah hak cipta. Jadi, mari kita cari cerita yang hak ciptanya sudah milik umum. Dan rupanya saya masih ada tiga file pdf Sherlock Holmes di laptop, jadi kenapa tidak?

Kedua, saya pengen banget punya notebook. Setelah bertahun-tahun nyorat-nyoret buku sakti dan halaman terakhir semua buku pelajaran. Saya merasa saya harus menjadi lebih dewasa dan corat-coret hal yang lebih bermanfaat di tempat yang tepat. Saya bahkan sudah memikirkan apa saja yang ingin saya gambar. Excited!

Kesibukkan lainnya? Hmm, belajar lebih rajin, membaca novel lebih banyak, menulis lebih sering dan menebarkan kebaikan. Bhak! Saya sama sekali gak ada persiapan buat bikin pos ini. Well, selamat ulangan semuanya.

PELIT ILMU

Yah, ulangan, dan kita semua bakal balik ke topik ini lagi. Nyontek.

Tapi saya gak mau bahas tentang nyontek. Tanpa berniat sombong saya akan berkata bahwa saya lelah kalau setiap kali ada tugas (entah kimia, fisika, atau matematika) dan gurunya gak ada saya jadi seleb dadakan. Ditanya sana sini bahkan untuk soal termudah sekalipun, dan seolah tak cukup saya berteriak satu kali menjelaskan ke orang paling jauh dari tempat saya akan ada orang lain yang menanyakan soal yang sama.

Seorang teman saya bilang “sabar fat, jangan pelit ilmu”

imgsrc

Dan mendengar itu tenggorokkan saya langsung sakit untuk kemudian menjelaskan apa pendapat saya tentang sikap orang-orang yang mendewakan nilai ini.

Kalau memang niatnya mau ilmu, logikanya mereka akan langsung bertanya ketika tidak benar-benar paham apa yang guru terangkan. Kalau memang pengen tau, logikanya mereka minta diajarkan ketika waktu luang dan bukannya bilang ini gak ngerti caranya, caranya aja kok. Tentu saya yakin memang bener-bener ada orang-orang seperti ini, mereka yang ketika gurunya menerangkan paham, dan soalnya aja yang bikin pusing. Tapi kita semua tau ada beberapa orang yang sama sekali gak mau berusaha, dan saya sama sekali gak punya rasa hormat terhadap mereka.