26 Maret 2016

Fangirling

This post would be a mess, I don’t even know how to start it.

Okay, maybe I should explain why I don’t italic my english sentence, instead, I continued writing in english. So, I would get sick if I don’t write this, but as I’ve said this post would be a mess. Actually, it will be an reveals of  the darkside of mine of and I don’t think wanna my friends in school read this. I don‘t mean that everyone in my school are stupid or something, but at least they will to lazy to read this because we don‘t fluent in English and who did will too lazy because my grammar suck. Second, people said when you use different language, your personality also change, and I feel, literally, when use English, I can put my normalness down and, well, it made my embarassement level so high I can’t even reach that this time. And that’s really important that I would write this.

So, once my friends ask me what ‘fangirling’ is (while she's reading one of my post that included this word). And I told her with the easiest way.

“It’s like when a bunch of girl screaming when they look at One Direction”

I didn’t know if I right or wrong, but she nodded that she understand. And that time we were in silence as she continuing read my post and I thinking. From, what fangirling actually means to what the f*ck am I doing with my life.

Clearly I don’t remember since when I start fangirling to something. Is it when I drew every single kirby in my magic book? or since I drew every element of princess school at digicharat anime? or maybe when I (also) try to list every power ranger series thet ever made?

Back to those day, I don’t even know if there was word fangirl. I just did it because I really like that stuff, and didn’t want to lose it from my life.Yeah, think about that, a clumsy elementary student girl have a problem with obsession.

I came to next level when I choose carefully when I want to love something, because I knew someone who love point out someone else as a fake fans. Which is terrifying to me. I hate her anyway, and she makes to make sure myself to knew bout something to claim myself as a fans. Yeah, you suck.

Kidding. I become a stalker even before I met her, remember? But in this stage (what?) I’m still ok because I have good friend to hang with. I also still have that idealism to not like much at something, and then my limited internet concection, God bless me.

And everytime I have obsession at something I just proud of myself as introvert who have loyalty at their interest since we love to knew something deep. Being such a unstable teenager is not my dream. I’m a fanatics of being non-fanatics (?)

But this not good anymore. I realize this when I saw danisnotonfire videos about Fandom and relate at it so much. Highscool is awful I’m not gonna lie, and I need something as a runaway from reality (?). Place that I can get really into it, amaze at every details and forget about my personal problem for a while. I think this is also the same reason why I love books, it keeps me guessing, keeps me stay, gives me feels, and broke me inside umm, in a good way.

But what I am talking about is:  I stay awake until 3 am only to watch videos or repin thing. Pin? Yeah, remember those post when I talked about pinterest? Now, everytime I finish a book or watch film or just like some stuff I go to pinterest to see more stuff related and got feels. I’m proud to myelf that I don’t have tumblr, my life can be worsen.

Yeah, that’s its. And now, before I feel more crazier, I want to share what my ‘obsession’ in this few weeks (yeah, I became that unstable teenage, I hate myself)

The worst and the very new is to Dan and Phil, which is means to they I awake to 3 am just to watch their videos. I mean, they have vlogging in 10 years, and so many video of them and I want watch them all so bad. I can relate many thing to Dan as we are socially awkward and Phil, Phil are adorable, I can’t hold myself. Plus Phandom are crazy that leads me to pin every single post full of pheels that I found myself had repin more than a hundred in two days I started obsess them. I felt proud and terified to myself.




And how could I found them? well, You may know or not know my previous obsession is Jon Cozart. He’s a hot talented man and I can’t to not loved him (whatch his videos, They’re amazing). Yeah, so I search about him in pinterest and pinterest keep recommend me to Dan and Phil. At first, I don’t wanna see their videos, I knew I would addicted and I love myself, but you see I’m kinda a rebel and watch their videos and BAM!


Hey, that doesn’t mean I leave Jon Cozart. Once you get to a fandom, THERE’S NO ESCAPE. I just get hype at something for a while and will get calm soon. I thought it also because my personality was Slytherin and ISTJ. You see how freaking Snape I am. Could you imagine Alan Rickman fangirl at something? Yeah that’s me in social life and same reason I don‘t wanna my ordinary friends read this. Like, okay I have this problem, but that’s does not means I always like this. And why didn‘t we see the positive effect? At least when I saw this amazing people, I feel inspired and they encourage my selfconfidence. Plus, I can learn English as well.

And finally, note to myself (which is from my logical side) fangirling is unhealty, don’t do it too much (I’ve did it, craft in the corner)

How about you? Are you easily have obsession to something too? Or maybe you survived and would like to tell me how you through fangirl?


Btw, Why didn’t you check my Pinterest (and my youtube subscribe too)? My obsession is cool stuff (flips hair), you should like it. Okay, goodbye.

23 Maret 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 9

Kapan terakhir kali dia bertemu dengan Wanda? Rano tidak ingat. Ia tidak terlalu akrab dengan wanita itu, atau berusaha untuk tidak akrab. Wanda punya banyak uang, meski kenyataan ia adalah wanita, ia wanita yang cerdas. Dan bagaiamanapun itu bukan perpaduan yang disukainya. Tapi ikatan yang sudah dibentuk dengan seorang Wanda tidak bisa diputus begitu saja, jadi terpaksalah dia menurut untuk datang.

Wanda duduk di kursi kebesarannya, mendongkak menatap seorang pria kurus berseragam pos dihadapannya, sepertinya sedang memberikan instruksi. Ketika melihat Rano di ambang pintu, ia menyuruh pria itu pergi.

Ketika pria itu melewatinya, Rano sadar ia mengenalinya.

“Kemari, Rano, duduk” suara Wanda menghentikan Rano untuk mengingat di mana ia pernah melihat pria itu.

Rano menurut, ia tidak bisa melakukan hal yang aneh-aneh selama dua bodyguard berbadan sebesar pemain sumo yang mengantarnya kemari tadi menunggu di luar.

Wanda mengambil salah satu map di atas mejanya, dan nampaknya sedang serius membacanya. Rano nyaris merasa sedang tidak diacuhkan sampai wanita itu membuka suara lagi.

“Kudengar kau sedang mencari kakakmu” katanya, tanpa mengalihkan pandangan pada Rano.

Rano tidak kaget. Wanda jelas punya kemampuan untuk mengetahui segala tentang tim.

“Gilang ... dia, berkhianat”

Wanda bergumam tidak jelas, lalu menatapnya dengan tajam. Rano tidak pernah merasa setakut ini pada seorang wanita.

“Dan kekacauan apalagi yang berniat kau lakukan?”

“Aku tidak ...” Rano menghela napas “Yang ini tidak akan jadi kekacauan”

“Dan bagaimana kau yakin? Kau jadi buronan sekarang, kau bahkan tidak bisa keluar rumah kalau bukan karena bantuanku”

“Benar” Rano menelan ludahnya “Tapi, kenapa kau memanggilku kemari, Wanda?”

“Panggil aku Gwen, saat ini aku adalah Gwen. Pencetus Lacertuor, alasan kenapa kau masih hidup dan bukannya membusuk di penjara” kata-katanya itu diucapkan dengan tenang, tapi Rano bisa merasakan penekanan yang membuatnya merasa terintimidasi.

“Gwen”

“Baiklah, jangan tegang begitu” lanjut Gwen. “Memang sudah jadi sifatmu, dan aku tak bisa menyalahkannya. Bagaimanapun, aku tidak bisa menyingkirkanmu begitu saja meski seseorang begitu ingin melakukannya”

“Yah, Gilang, dia tidak berharga” kata Rano ragu, dan entah mengapa dia bisa merasakan Gwen sedang menatapnya, seolah berusaha menjerit padanya, tapi yang ia dengar selanjutnya sama sekali tidak terdengar seperti jeritan.

“Sejujurnya, Rano, aku tidak mau mencampuri urusanmu dengan siapapun ia yang ingin membunuhmu. Tapi, mungkin aku bisa membantumu kali ini”

“Terima kasih Gwen”

Gwen menghela nafas dan memejamkan matanya sebentar. Ia mundur dan membungkuk sebentar untuk mengambil sesuatu dalam lacinya kemudian menaruhnya di atas meja. Sebuah kertas kecil berwarna putih. Itu, pikir Rano, pasti alamat tempat Gilang tinggal.

“Satu hal lagi” kata Gwen sebelum memberikan kartu itu pada Rano “Jauhi anak-anak itu”

Rano menghentikan tangannya dan menatap Gwen tidak percaya “Apa?”

“Kenapa? Kau tidak mau?”

Rano bergegas mengambil kartu itu sebelum Gwen menaruhnya lagi, “tapi kenapa?”

“Mereka sepertinya memberi sial padamu” sahut Gwen sekenanya

“Tapi Gwen—”

“Turuti perintahku dan berhenti merengek, kau tau aku yang punya kuasa di sini”

Rano menggenggam kartu itu kuat-kuat, benci pada situasinya saat ini. Dilihat dari sudut manapun, pernyataan Gwen tadi itu tidak masuk akal. Kalau dia boleh membalas dendam pada Gilang, kenapa tidak pada anak-anak itu? anak-anak itu penyebab kekacauan hidupnya, kenapa ia tidak boleh menghancurkannya?

“Tenang saja, aku pasti melakukan sesuatu pada mereka, Rano” kata Gwen lagi.

Tapi itu tidak membuatnya senang, Rano terobsesi melihat mereka tersiksa ditangannya sendiri. Orang bilang balas dendam itu manis, dan Rano pernah membuktikannya, kenapa ia tak boleh merasakannya kepuasan itu lagi?

“Kau boleh pergi” ucapan Gwen memecah lamunannya.

“Apa?”

“Meraka akan mengantarmu, jadi kau tak perlu khawtir. Selesaikan urusanmu dengan Gilang, dan jangan buat kekacauan”

Setelah mendengarnya, Rano bangkit dan siap untuk pergi. Tapi sebelum dia meraih gagang pintu, ia teringat satu hal.

“Gwen, pria tadi. Aku melihatnya di Rupakra, kau mungkin bisa mempertimbangkan dia juga melihatku di sana, dan aku tidak benar-benar aman sekarang”

Rano bisa melihat Gwen kaget sekejab, tapi wanita itu cepat menguasai dirinya dan berkata “Aku akan mengurusnya”

Rano keluar.

***

Gwen terkekeh. Pertama Leon dan Rano, sekarang Rano dan ... kita sebut saja The Gecko. Sepertinya, perkumpulan mereka memang sudah mendekati akhir.

Ponsel Gwen bergetar, orang yang baru ia pikirkan tiba-tiba menelfon.

“Semua baik-baik saja?”

Gwen menjawab dengan tawa “Dia penurut seperti biasa”

“Oh, syukurlah”

“Kecuali fakta kalau kau ketahuan”

“Eh?”

“Dia melihatmu di Rupakra”

“Sungguh? Lucu sekali”

“Itu pasti ikatan batin” canda Gwen

“Jadi ... kau akan menghukumku?”

“Astaga, kau pikir aku sejahat itu?” dan Gwen tak perlu menjelaskan pada lawan bicaranya apa maksud kata-katanya, dia bahkan melindungi Rano dari bahaya yang ternyata malah datang dari Leon. Kenapa ia harus menghukum tangan kanannya yang satu ini?

“Kau bisa jahat kadang-kadang”

“Ya, ya, ya. Tapi urusan yang benar membuatku pusing akhir-akhir ini membuatku jadi lebih baik hati”

“Terserah apa katamu, Gwen. Terserah apa katamu”

“Sudah kan? Kau hanya bertanya kabarku saja? Kalau begitu sampai jumpa ... kau tadi memakai nama apa? Aku lupa”


“Tama. Dan, sampai jumpa juga”

19 Maret 2016

Charming is Comeback!

Bagaimana suatu hari bisa menjadi hari yang spesial dalam banyak hal? Hari raya nyepi, gerhana matahari, hari failed anniv seseorang, hari jadian orang lainnya, dan yang akan saya bahas kali ini: Hari Reuni The Charming!

9 Maret 2016 sengaja dipilih karena memang tanggal merah, Sementara Fira, Mila, dan Intan libur selama seminggu karena kelas 12 US. Sayangnya, Galuh tidak bisa ikut karena masih sibuk PKL. Setelah dapet SMS dari Hania dan Intan kalau kami akan berkumpul di halte Ciawi pada pukul 11, saya langsung bersiap untuk berangkat jam 10.

Saya sampai duluan, udah jelas sih (sombong). Disusul Intan lalu Hania, terus kita  dapat kabar kalau ternyata Fira udah duluan ke botani, kita langsung cus jemput Mila. Iya,  botani lagi, sebenernya bosen sih, dan hari sabtunya juga udah ribut pengen ke tempat lain, tapi akhirnya balik lagi ke botani-botani juga.

Tujuan pertama, gramedia! Intan lagi pengen beli buku, sementara saya dan yang lain cuma keliling aja. Awalnya tergoda buat beli penjelajah antariksa, sih. Tapi setelah dipikir-pikir lagi takut gak cukup uangnya buat pulang, hahaha. Intan akhirnya beli novel Alice in Wonderland gitu tapi yang ke-duanya. Pas bayar di kasir, dia iseng nanyain novel Agatha Christie, terus tiba-tiba jadi riweuh dan ternyata emang gak ada sama sekali stoknya, cih. (ya atuhlah, itu novel 80 buku, gak ada satupun yang ada stoknya, demi apa?!)

Oke, lanjut. Karena emang udah siang dan kita belum sempet sholat, kita mampir dulu ke masjid IPB. Sementara itu, Hania, Mila, Fira pergi entah kemana. Ah, paling pada beli crepes, kata saya waktu Intan nanyain. Dan setelah di SMS, ternyata emang bener mereka lagi beli crepes. Kayaknya crepes emang jadi makanan wajib reuni TC, hmmm. Saya sama Intan langsung nyusul, tapi males naik eskalator, alibi sih biar bisa naik lift, tapi liftnya penuh banget dan mesti nunggu beberapa kali puteran supaya akhirnya bisa naik. Saya sih udah bilang ke Hania pang-pesenin, yang pedes.

Pas nyampe sana ternyata mereka belinya eskrim, lah? Terus harus pake sambel gitu? Dan parahnya setelah menunggu, ternyata belum dibuatin sama di masnya. Emang sih harusnya bayar dulu ya XD. Setelah saya dan Intan dapet crepesnya. Dan crepes Mila, Fira, Hania, habis kita langsung pergi lagi ke tujuan berikutnya.

Tadinya mau ke Happy Puppy, tapi pas nyampe sana, servernya lagi rusak dan kalo mau masuk harus nunggu dulu satu jam, wtf. Jadi kita ke Transera yang di Elos, eh Lippo maksudnya. Agak sakit hati waktu saya doang yang di minta di periksa tasnya sementara yang lain enggak, tapi wajar sih, orang saya tasnya yang paling gede, dan gimana gak gede, orang bawa novel banyak banget XD.



Begitu ditinggalin sendiri di dalem ruang karaokenya, kita jadi heboh sendiri. Mati-nyalain lampu, biar serasa efek disko, heran kenapa lagu cheerleader gak bisa diputer, riweuh ngalangin layar pas muter lagu what do you mean sama marvin gaye.

     



Teknisnya, acara inti hari itu udah kelar, tapi kan bosen kalo langsung pulang, jadi kita nyoba cari wahana lain. Dan pilihan jatuh kepada photobox, dan lagi-lagi ribet sendiri pas ngambil aksesorisnya gara-gara waktu yang terbatas.

Next kita ke amazone, ini sih beneran main. Dua game favorit hari itu, adalah permainan mancing sama yang nari itu, saya gak tau namanya apa. Terus foto-foto di photobox setempat, dan pura-pura gak tau apa-apa ketika kita keluar dari samping yang ngarah keluar terus pura-pura baru masuk ke dalem XD.
     

Dan akhirnya kita berhasil ngumpulin 310 tiket, seinget saya sih nyaris dua kali lebih banyak daripada waktu bukber. Dan saya milih pulpen seharga 61 tiket.j

Sambil nunggu hujan reda dan kepastian dari Galuh apa dia mau dateng ato enggak, kita mapir ke KFC, tadinya mau beli float doang, tapi akhirnya pada beli spageti gegara laper. Saya sama Intan pergi shalat, sedangkan yang lain main snapchat di hape Fira. Sekaligus membahas topik penting mengenai utang piutang.

Setelah tranfer novel dari tas saya ke tas Intan, kami memutuskan untuk pulang. Saya jelas pulang bareng Hania dan Fira, dan heran sendiri pas tau jalanan macet. Gimanapun, hari itu hari Rabu dan saya nerima rima kemacetan jenis apapun -_- Tadinya nyaris kita harus bayar 20rb karena amang angkotnya mau lewat jalur alternatif, tapi gak jadi, yeey. Saya sampai dengan selamat aman sentosa jam 8 malam.

Btw, maaf untuk LPM gak seru ini. Gap antara kejadian dan waktu saya nulis ini cukup lama, karena hari-hari berikutnya saya gak ada waktu buat nulis ditambah keypad (?) laptop lagi error dan yang jelas ini bikin saya males nulis :(