27 Februari 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 8

Fauzi tidak percaya dengan apa yang sedang dilakukannya sekarang. Di tengah malam, setelah berbohong pada ibunya kalau ia akan menginap di rumah Aldo, dia sedang mengendap-endap di tempat yang seharusnya terlarang bagi siapapun. Fauzi menghela nafas, bingung pada dirinya sendiri, bertanya-tanya kenapa dia menurut saja ketika di ajak Aldo ke tempat ini dengan cara seperti ini.

“Sampai kapan kita akan menunggu?” tanya suara yang lebih nyaring di belakang mereka.

Fauzi mengangkat bahu tanpa menoleh dan mengedikkan kepala ke arah Aldo, yang sejak tadi masih menatap antusias pada pintu yang ingin mereka masuki.

Alya mendengus, “Do?” tanyanya.

“Umm, aku tidak yakin, bagaimana menurutmu Zi?” Aldo malah balik bertanya.

“Kenapa kau tanya aku?”

“Oh, ayolah”

“Apa maksudmu berkata begitu?”

Aldo menghela nafas, ia mengerti kalau Fauzi masih kesal padanya karena memaksanya kemari. Dan sebagai akibatnya, ia tidak akan memberi nasihat apapun padanya mengenai apapun yang harus ia lakukan.

Tapi itu tidak adil, bukankah ia juga sudah sepakat kemari walau terpaksa? Lagipula mereka melakukan ini juga bukan untuk bermain-main. Kalau mau menyalahkan seseorang seharusnya Fauzi menyalahkan Bu Devi sekalian.

“Aku rasa kita harus masuk” gumam Alya “tidak ada gunanya menunggu di sini terus kan? Lagipula apa yang sebenarnya kita tunggu? Keadaan aman? Memangnya apa yang akan terjadi?”

Pada pukul sepuluh malam, mereka melihat petugas terakhir sudah keluar dan mereka terus menunggu tengah malam. Jadi sebenarnya sudah tidak ada orang di sana.

“Kita bisa saja ditangkap dan diadili” jawab Fauzi  sekenanya. “Tapi aku takkan banyak bicara atau menyanggah untuk saat ini, silakan Aldo, pimpin jalan”

“Uh! Baiklah! Baiklah!” katanya, ia menelan ludah lalu berkata lagi “tidak akan ada yang terjadi, kan?”


Mereka lalu keluar dari persembunyian dan mulai berjalan perlahan ke arah bangunan tua yang kosong itu. Di bandingkan bangunan manapun dilingkungan rumah sakit itu, bangunan itu yang paling tidak mencolok, atau mungkin bisa di bilang paling bobrok. Dari jauh kau tidak akan bisa melihatnya karena ia dikelilingi pagar tinggi, tapi kau masih bisa melihat cerobong tinggi yang mengeluarkan asap setiap sore hari.

Ruangan gelap berbau asap dan sepi menyambut mereka. Untung mmereka membawa senter, suasananya jadi tidak terlalu menyeramkan, atau setidakya begitu harapan Aldo. Angin berembus melewati tengkuknya, dan membuatnya bulu kuduknya meremang. Aldo mendengus, tau ulah siapa itu.

“Do, hanya ingin mengingatkanmu, ini malam jum’at” Fauzi menggodanya.

“Zi, hentikan” katanya, yang dijawab dengan kekehan.

“Aku rasa itu tempat pembakarannya,” kata Alya seraya menunjuk sudut ruangan.

Aada sebuah ceruk raksasa yang mengeluarkan suhu hangat dan bau asap. Aldo melongokkan kepalanya, untuk melihat ada lubang yang mengarah ke langit-langit, itu pasti cerobong asapnya.

“Jadi sekarang apa?” tanya Alya

“Kita bisa memotretnya, kalian bawa smartphone atau apalah?” tanya Aldo

Alya mengeluarkan kamera dari tasnya, dan wajah Aldo menjadi cerah. Setelah mengambil beberapa gambar dari tempat itu, mereka mulai berkeliling lagi.

“Apa menurutmu kita butuh gambar limbahnya juga?” tanya Aldo

“Ya, boleh juga” Alya sudah siap dengan kameranya sementara Aldo berusaha membuka sebuah karung sampah.

“Aku rasa aku butuh bantuan” katanya tanpa menoleh, dan sejak tadi merasa tidak enak karena Fauzi diam saja “Zi? ”tanyanya, ketika menoleh, satu-satunya yang ia temukan adalah sosok yang mengerikan. Wajah pucat dengan mata berwarna putih dan kelopak mata yang merah daging. Jerit ketakutan keluar lebih cepat dari yang diinginkannya, dan Aldo terjungkal entah antara kaget dengan pemandangan dihadapannya atau suaranya sendiri.

Sosok itu kembali ke wajah yang Aldo kenali, Fauzi yang sedang tergelak sambil memegangi perutnya seolah itu yang baru ia lakukan—menerangi wajahnya dengan senter dari bawah, dan membuat ekspresi horor tadi—adalah lelucon paling menggelikan yang pernah ia lakukan. “Kau berisik, Do”

“Tidak lucu!” Aldo berdiri dan membersihkan pantatnya dari debu. “Ayolah, bantu aku” katanya memandang karung tadi.

“Ya, ya” Fauzi mengusap air matanya.

Aldo benar, ikatan karung itu memang sulit di buka, dan tak satu pun dari mereka yang membawa gunting atau pisau. Butuh waktu, tapi akhirnya mereka berhasil membukanya, dan ketika melihat sampah itu, dahi Fauzi berkerut. Sampah-sampah itu sudah dipilah, dan yang dibuka oleh mereka sepertinya adalah selang-selang infus. Tapi, tunggu dulu, bukannya—

Mereka mendengar gumaman tak jelas dari luar. Itu suara orang yang sedang berbicara, dan suara mereka semakin keras, menandakan si pemilik suara sedang mendekati mereka. Kepanikan menguasai mereka sejenak, sebelum akhirnya Fauzi mengusulkan untuk bersembunyi di balik karung-karung itu.

Dua orang pria memasuki ruangan itu. Mereka tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena selain suasananya yang gelap, wajah mereka tertupi oleh bayang-bayang topi mereka.

“Lima per kilo” kata seorang pria dengan suara serak.

“Woo, ini barang langka, bung. Kau tidak bisa mendapatkannya semurah itu” rekannya menjawab

“Astaga, ini sampah kan?” kata si serak lagi.

“Dua puluh per kilo atau tidak sama sekali”

“Sepuluh”

“Aku bilang dua puluh, ada banyak yang mau menerima tiga puluh”

“Lima belas kalau begitu,”

“Demi Tuhan, Leon akan membunuhku dan setelah itu kau, bung!”

“Tujuh belas. Aku tidak bisa lebih dari itu”

“Baiklah, cukup bagus, kurasa”

Pria-pria itu lalu mendekati karung-karung itu. Fauzi, Aldo dan Alya menahan nafas mereka sekuat mungkin.

“Ada tikus di sini, sepertinya?” gumam si serak. “Karung ini sudah terbuka”

“Ini tempat pembakaran sampah, apa harapanmu?” kata-kata terakhirnya terdengar berat seiring suara-suara benda di seret dan di angkat.

Fauzi khawatir persembunyian mereka akan terbongkar. Tapi sebuah konfirmasi melegakan hatinya.

“Jangan ambil terlalu banyak, bung! Mereka bisa curiga”

Tak lama suasana kembali hening, pria-pria itu pergi setelah mengambil karung-karung itu. Mereka bertiga menghela nafas keras-keras, meski kebingungan melingkupinya.

“Apa-apaan itu tadi?” sahut Alya.

Fauzi tidak menjawab, pikirannya melayang ke kejadian beberapa hari lalu di taman. Pertanyaan yang ia ajukan pada Profesor Owl ketika membahas mengenai suntikan bekas ditangan anak-kecil-blok-S. Kenapa benda seperti ada pada seorang anak kecil? Fauzi mengepalkan tangan kuat-kuat, tak sadar jari-jarinya memutih. Orang-orang pencari keuntungan tanpa tau adab ini benar-benar menjijikan.

“Kita harus melapor, kan?” tanya Aldo, menatap Alya dan Fauzi bergantian, posisi mereka melingkar sekarang.

“Ya, harus” kata Fauzi mantap

“Dan kenapa mereka harus percaya pada kita? Karena kita pernah membuat sensasi minggu lalu?” desah Alya putus asa “kecuali kalau aku memotret mereka tadi”

“Apa maksudmu, Ya? Terlalu gelap untuk memotret mereka, kecuali kau nyalakan flash-nya, tapi itu sama saja dengan bunuh diri” sergah Fauzi.

Dalam hati, Alya sedikit kaget, akhirnya anak ini mau bicara dengannya juga.

“Dan sepertinya kau lupa kalau kami ini temannya Profesor Owl” Fauzi mengacungkan tangan kanannya, memamerkan jam tangannya. Ia menekan beberapa tombol di sana, layar hologram kecil keluar dari permukaannya dan setelah Fauzi menekan beberapa tombol lagi dan suara percakapan pria-pria tadi kembali terdengar.

“Tapi itu artinya kita juga harus mengaku kalau kita mengendap-endap kemari” kata Fauzi sambil melirik ke arah Aldo.

Sekarang masalah mereka jadi lebih rumit, setelah tak ada orang dewasa yang cukup ramah tapi punya kredibilitas dalam dunia rumah sakit—seperti profesor Owl—yang bisa membantu mereka menyelesaikan tugas mereka; lalu ketika mencoba menyelesaikannya sendiri, mereka tetap kesulitan dalam materinya (apa gunanya gambar-gambar itu tanpa deskripsi?); terakhir kewajiban untuk melaporkan kejahatan tapi disulitkan dengan ‘kejahatan’ yang mereka sendiri lakukan.

Aldo hanya meringis, sebelum akhirnya tengkuknya meremang lagi. Ia mendengar suara tepukkan bersemangat dari belakangnya. Wajahnya memucat, bukannya mereka hanya bertiga di sini? “Zi ...” desisnya ketakutan.

Fauzi tidak menjawabnya, pandangannya tertuju pada sosok di belakang Aldo. Pria tinggi dengan kemeja coklat, rambutnya yang mencolok serta senyum ramah yang menghiasi wajahnya.

“Adrian Chapman!” kata Fauzi ceria.

***

“Hebat!” seru seseorang yang dipanggil oleh Fauzi ‘Adrian Chapman’ itu, ketika menghampiri mereka dengan sama cerianya dengan Fauzi ketika melihatnya. “Hologram ini ... luar biasa!” ia menoleh ke arah Fauzi “bagaimana caramu memodifikasinya?”

Kini Fauzi yang bingung, modifikasi?

“Err,” Alya memecah suasana “bisa kita perjelas apa yang baru saja terjadi?” sebenarnya sudah ada banyak pertanyaan di kepalanya.

“Astaga, benar! Kalian seharusnya tidak ada di sini, anak-anak!”

“Bagaimana denganmu? Kenapa kau ada di sini?” tanya Alya curiga “Lagipula, kau siapa? Sejak kapan kau di sana? Apa kau bersekongkol dengan orang-orang tadi?”

“Woo, woo, sabar-sabar” orang itu berdehem “Aku dokter Kamil, aku di sini karena curiga terhadap penyalahgunaan limbah B3 di rumah sakit ini. Makanya aku mengawasi tempat ini sejak sore. Sekarang giliran kalian”

Aldo dan Alya melihat satu sama lain, tapi Fauzi lebih dulu menjawab “Fauzi, Aldo, Alya, kami sedang mengerjakan tugas sekolah”

“Zi!” seru Alya “kau harusnya tidak mengenalkan diri pada orang asing” bisiknya.

“Dia bukan orang asing, dia dokternya Faiza”

“Faiza?” tanya dokter Kamil “maksudmu anak ajaib yang dirawat di kamar 13?”

“Anak ajaib?” kini Aldo yang terheran-heran “seingatku, Faiza bukan penyihir”

Dokter Kamil tertawa “bukan itu maksudku. Bayangkan saja, setelah semalaman terkurung dalam ruangan dengan suhu minus puluhan derajat, dia hanya memerlukan waktu satu hari di ICU untuk melewati masa kritis!”

Aldo melongo sebentar sebelum akhirnya ia menjawab “Yaah, Faiza memang rajin berolahraga”

“Bisa kita kembali ke topik semula?” tanya Alya geram “mengenai yang terjadi sekarang”

“Aku pikir kita sudah selesai membahasnya” kata Fauzi dengan nada tanpa dosa.

“Tidak, belum” kata Alya “Nah, pak dokter, berarti anda sejak tadi memperhatikan kami juga, kan?”

“Itu benar, dan aku terus memperhatikan kalian sampai hologram itu! Astaga, bagaimana kalian memodifikasinya?” ia kembali bersemangat, namun melihat wajah-wajah bingung anak-anak itu ia bertanya lagi “Bukan kalian yang memodifikasinya?”

Fauzi melepaskan jam tangannya lalu menunjukkan lambang burung hantu ungu di balik jam tangannya “Mungkin maksudmu Profesor  Owl. Dia yang membuat jam tangan ini”

“Profesor Owl?”

“Dia menjadi penemu mayat di rawa Rupakra” terang Fauzi “jika kau merasa pernah mendengar namanya”

“Maksudmu dokter Owl? Aku mengikuti beritanya setiap hari!”

Fauzi menggaruk kepalanya lagi, ia lupa kalau Profesor Owl bukanlah profesor. Hanya karena kebiasaannya membuat benda-benda anehlah yang membuatnya di sebut begitu.

“Ini keren! Berapa harga yang kalian bayar? Pasti lebih dari seribu!”

Ketiga mata anak-anak itu membelalak. Seribu? Yang benar saja!

“Kami mendapatkannya cuma-cuma” kata Aldo ragu-ragu “Profesor—maksudku dokter—Owl itu teman dekat kami”

“Waah! Ini benar-benar menarik. Dia membuat karya sehebat ini tanpa mematenkannya? Maksudku, hologram sudah dilarang sejak sepuluh tahun lalu karena teknologinya merusak mata dan media jatuhnya cahaya yang sering digunakannya merusak lapisan ozon. Kalian pasti tau kan pemulihan yang dilakukan sepuluh tahun lalu, eh, tunggu, berapa usia kalian?”

“Tahun ini kami empat belas” kata Alya “dan tak satupun kalimatmu yang kami mengerti”

“Tentu saja! kalian tak mungkin mengingatnya! Yaah, pokoknya hologram itu teknologi kuno yang berbahaya. Tapi yang ini! Ini berbeda! Cahayanya lebih nyata, dan media jatuhnya cahaya adalah cahaya itu sendiri, tunggu, ya ampun, ini hologram model awal, kan? Bagaimana bisa ia mendapatkan akses datanya? Itu seperti, semua orang sudah melupakannya!”

Fauzi, Aldo, dan Alya sama-sama meringis melihat pria yang bicara tanpa henti di depannya.

“Kalau mau lari, aku rasa inilah saatnya” bisik Alya.

Dokter Kamil menatap mereka “Ya ampun! Maafkan aku, kalian pasti bingung”

Mereka mengangguk ragu.

“Siapapun orang bernama Owl ini” kata Dokter Kamil dengan suara yang lebih rendah dari sebelumnya “Tak salah lagi dia orang hebat, bisa jadi punya akses khusus ke data pemerintah. Kalian bilang kalian temannya? Bisakah suatu saat mengenalkan aku padanya?”

Anak-anak itu saling menoleh, dan mengangkat bahu bersamaan tapi kemudian Fauzi angkat bicara “Yaah, kapan-kapan” Lagipula, pikirnya, pasti Profesor juga senang bertemu dengan orang yang punya minat sama dengan dirinya.

“Terima kasih!” dokter Kamil menjabat tangan Fauzi erat-erat, ia juga melakukan hal yang sama pada Aldo dan Alya “Apa yang bisa kulakukan untuk membalasnya?”

Mereka agak terkesiap. Inikah anugrah Tuhan? Seseorang yang tiba-tiba muncul dan menawarkan akan mengabulkan permintaan mereka? Seperti sesuatu yang mereka butuhkan. Refleks ketiga anak itu membuat lingkaran mereka lebih rapat dan berunding dalam bisikan.

Mereka selesai beberapa menit kemudian, dan memandang si dokter  lagi. Fauzi berdeham untuk mengumumkan hasil diskusi mereka.

“Kami sebenarnya tidak berhak mendapatkan apapun darimu untuk mengenalkanmu dengan Profesor Owl” katanya “Tapi jika kau bersedia kami punya beberapa masalah yang mungkin kau mau membantu kami dalam menyelesaikannya”

“Pertama” kata Alya “Jangan beritahu siapapun kalau kami mengendap-endap kemari”

“Kedua” sahut Aldo “Bantu kami menyelesaikan tugas observasi limbah kami”

“Ketiga” Fauzi mengumumkan “Bantu kami melaporkan orang-orang tadi, tanpa melibatkan kami sedikitpun. Karena itu akan melanggar permintaan yang pertama”

Dokter Kamil menutup mulutnya menahan tawa “Itu menggelikan, cara kalian mengatakannya, seolah-olah aku setengah penjahat”

Mereka bertiga mengangkat bahu, bagaimanapun Alya benar, orang di depan mereka ini orang asing.

“Tentu aku akan membantu kalian, tapi bolehkah aku meminjam jam tanganmu juga? Hanya untuk sementara”

“Ya, boleh” kata Fauzi “lagipula rekaman percakapan orang-orang tadi juga ada dalam jam ini” ia menyerahkan jam tangannya.

“Aku rasa sekarang kita teman, ya kan?” kata dokter Kamil, senyum merekah di wajahnya.

Alya mengerutkan dahi, orang gila mana yang mengonfirmasi sebuah pertemanan? Dia curiga kalau dokter Kamil tidak pernah punya teman, atau mungkin lupa bagaimana cara berteman. Yang jelas bagi, Alya: Orang berteman begitu saja, tidak ada titik kapan dan bagaimana mereka berteman. Karena jika ada awal berteman, bukankah itu artinya ada akhirnya?

“Yaah, kurasa begitu” kata Aldo canggung, meski tidak mengerti dia juga merasa aneh.

“Ngomong-ngomong kalian tinggal di mana? Kok bisa-bisanya ada di sini di jam segini?’

“Kami memang tinggal di dekat sini,” kata Fauzi

“Ooh, baguslah. Cepatlah pulang, hari sudah hampir pagi, dan kalian harus sekolah kan?”

Fauzi tersentak, ia baru menyadari sesuatu, sesuatu yang penting.

Tadi, ia berbohong pada ibunya bahwa ia akan menginap di rumah Aldo. Sementara, Aldo sendiri supaya bisa pergi ke mari jam segini berbohong pada ibunya bahwa ia akan menginap di rumah Fauzi. Pun, Alya yang berkata akan menginap di rumah Faiza. Dan sekarang di mana mereka akan tidur?

“Zi?” tanya Aldo khawatir melihat ekspresi horor sahabatnya “ada apa?”

“Bodohnya aku!” sahutnya. Semua ini gara-gara ia menolak membantu Aldo menyusun rencana saking kesalnya. Dan sekarang semuanya kacau. Fauzi lalu menjelaskan hal konyol yang sedang menimpa mereka sekarang.

“Kalian boleh menginap di rumahku” kata dokter Kamil tiba-tiba

“Eh?” sahut ketiganya bersamaan. Tidak, mereka tidak bisa merepotkannya lebih dari tiga permintaanya tadi.

“Aku rasa kita bisa menginap di ruang rawat Faiza” usul Alya.

“Benar!” kata Aldo dan Fauzi bersamaan, tidak ada ide yang lebih baik dari itu.

“Kalian tidak bisa” kata dokter Kamil, dan ketika melihat anak-anak itu tampak kebingungan dia menjelaskan “Ini di luar jadwal besuk, kecuali kalian di sana sejak sebelum jam sembilan. Memang, jadwal itu tidak terlalu dipatuhi di siang hari, tapi di malam hari pengawasan tentu lebih ketat. Apalagi kalau tiga orang sekaligus, dan gadis yang sedang sakit itu kan bukan pasien biasa”

Bahu mereka turun seiring wajah mereka menjadi murung dan bingung.

“Menginap saja di rumahku, tidak apa-apa. Imbalan bertemu dengan orang hebat seperti Owl itu harusnya besar, kan? Aku juga akan mengantar kalian pulang sebelum matahari terbit, jadi kalian tidak akan terlambat ke sekolah”

Alya memicingkan matanya, ada apa dengan orang yang sangat perhitungan ini?

“Kurasa kita tak punya pilihan lain?” kata Fauzi.

Ini hanya Alya, atau senyum pria itu tampak mengerikan di kegelapan?

24 Februari 2016

Studytour bareng Anak Bebek

Januari saya disibukkan dengan mustra, isu-isu sertijab, usaha maksa orang-orang latihan dan di akhiri dengan ‘gederan’ tiga hari. Februari ini, saya jadi anak bebek, satu dari delapan belas, spesies asing yang dipilih dari ±900 siswa SMAN1C lainnya.

Jum’at, 5 Februari, kami dikumpulkan di ruang komputer. Diberikan informasi yang intinya kami akan didispensasi selama seminggu untuk pelatihan OSK. Berbeda dengan peserta lainnya, saya sudah nyolong start latihan sejak Rabu. Karena lagi-lagi berbeda dengan pelajaran lainnya, pembimbing OSK Kimia, Bu Nia Elisa nampaknya lebih bersemangat.

20 Februari 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 7

“Apa yang kau inginkan, Leon?” tanya suara tinggi tapi anggun itu. Sang pemilik suara menatap leon dengan mata coklatnya. Rambut hitam legamnya ditarik ke belakang, membentuk sanggulan rendah. Ia duduk di balik sebuah meja dengan setumpuk kertas yang menuntut diperhatikan. Di atas meja itu pula, terletak sebuah balok dari marmer yang diukir dengan guratan keemasan yang menuliskan namanya, yang jelas-jelas menunjukkan bahwa dia bukan orang asli negara ini. Gwendalyn Lacertuor.

Ia masih menggunakan nama itu, kata Leon dalam hati dan itu mau tak mau ia merasa terharu. Bagaimanapun nama itu membuat ia dan Gwen serta Lacertuor lainnya terikat. Walau, memang, ia tak tau siapa Lacertuor lainnya itu, Gwen tak pernah memberitahunya. Demi keamanan tim katanya, tim yang seharusnya sudah bubar seiring hancurnya motivasi awal mereka yang murni. Persetan motivasi itu, Leon hanya muak dengan manusia, dan begitu pula dengan Lacertuor lainnya.

Leon melihat sekelilingnya sebelum menjawab. Tirai-tirai di tutup dan dinding ruangan itu dilapisi karpet, bahkan CCTV dimatikan. Sementara di luar tadi, ruangan kantor amat sedang sangat sibuk. Intinya tak mungkin ada satu orang pun yang akan mendengar atau melihat apa yang akan mereka lakukan.

Leon pura-pura tersipu dan memandang Gwen dengan malu. “Yang jelas bukan gossip”

Gwen memutar matanya. “Aku tak punya banyak waktu, Leon”

“Baiklah, aku minta maaf, Gwen. Begini, kau sudah lihat beritanya kan?”

“Maksudmu, Mawar? Ya, benar-benar payah” wanita itu memalingkan wajahnya. Orang-orang selalu memanggilnya dengan Wenda, karena itu lebih akrab di telinga warga kota ini. Dan panggilan ‘Gwen’ ... hanya Leon yang memanggilnya begitu. Itu semacam kodenya.

Leon mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju “Nah, kemudian, Gilang, baru saja melarikan diri”

“Oh” kata Gwen malas “Jadi apa hubungannya denganku?”

Leon mengangkat sebelah alisnya, “Kau sepertinya tidak tertarik dengan cerita di baliknya ya?”

“Untuk apa? Apa kaburnya Bintang akan merugikanku?”

“Gilang” koreksi Leon “yaah, kau benar, memang tidak. Tapi kau mau membantuku bukan? Membantu adiknya”

“Kau adiknya si Gemilang ini?” kata Gwen. Walau dalam hati ia tau jawabannya bukan.

“Bukan begitu. Pokoknya aku—kita—sedang dalam masalah dengan kaburnya Gilang ini, dan kematian Mawar juga. Aku tak akan berbohong, Gwen, mereka penting bagiku, dan kini aku tinggal sendiri. Adiknya, Rano—”

“Rano? Maksudmu Rano si pengacau itu?” Gwen menahan nafasnya sebentar. Leon punya hubungan dengan Rano?

“Iya,” jawab Leon ragu. “Kau pasti mau membantuku kan? Membereskannya? Tidak tentu saja tidak seharfiah itu. Cari saja dimana Gilang, beritahu Rano. Pokoknya jangan buat dia menggangguku”

“Kenapa aku harus melakukan itu?” tantang Gwen.

Wajah Leon jadi murung, atas alasan inilah Leon tidak pernah memasukkan Gwen dalam kategori akan selalu membantunya. Wanita ini punya kekuasaan, dan itu membuatnya sulit ditaklukkan. Bagaimanapun, yang Leon butuhkan adalah mereka yang mematuhinya. Leon mengambil tas jinjingnya di meja tamu. Lalu membukanya seperti mencari-cari sesuatu.

“Astaga, Leon! Aku bercanda, tentu saja aku akan membantumu”

“Tidak, Gwen, kau benar. Aku cukup tau diri untuk menyiapkan sesuatu untukmu”

“Apa? Kau membawa pisau bedah? Aku bisa dengan mudah menyalakan CCTVnya dan petugas akan segera kemari”

Leon menoleh, wajahnya masih murung “Begitukah pikiranmu tentangku? Maksudku, setelah semua yang kita lakukan bersama?”

Gwen mengangkat bahu “Manusia bisa berubah kan? Dan bukannya aku tuli tidak mendengar gossip tentangmu”

“Aku membawa hadiah” Leon mengabaikannya, lalu mengeluarkan lengannya dari tas, dan mengangkatnya di depan wajahnya “Kau pasti menyukainya, kan? Aku membuatnya sendiri

Gwen terkesiap, badannya tiba-tiba jadi kaku. Ia tau apa itu, dan apa katanya tadi? Leon membuatnya sendiri? Tidak, tidak, tidak “Tidak, Leon” gumamnya, berusaha sewibawa dan setidak acuh tadi, tapi nampaknya usahanya gagal “Aku sudah berhenti” katanya lirih.

“Aku ini dokter, Gwen” senyum mengerikan terlukis di wajahnya, menghilangkan segala kemurungan yang pernah ada di sana “Kau harus menerimanya, aku memaksa. Dengan begini tidak ada alasan kau menolak membantuku. Mari, aku sendiri yang akan memberikannya”

Gwen berdiri dan mundur perlahan ketika Leon menghampirinya dengan benda berujung runcing itu. Dia awalnya sempat berikir bahwa meja kerjanya akan menghalangi Leon, tapi pria itu dengan mudah melompatinya, dan tentu saja menjatuhkan berkas-berkasnya yang berharga. Dia mendorong Leon dengan sekuat tenaga hingga pria itu jatuh, dan berlari menuju pintu.

“Astaga, Gwen” kata Leon selagi berusaha bangkit, lalu kembali menghampiri Gwen lagi. Leon tak merasa perlu buru-buru. Sikap mau tapi malu Gwen itu benar-benar manis ... nyaris memuakkan. Bukankah wanita itu sendiri yang tadi mengunci pintu dan menaruhnya di dalam laci? Aneh sekali dia berlari ke pintu dengan tujuan untuk melarikan diri tapi tidak mengambil kuncinya. Dan bukankah dia sendiri yang bilang bisa menyalakan CCTV kapan saja? Mana buktinya?

“Leon, tidak ...” Gwen beringsut di pintu, ia terduduk sambil menahan tangis.

Leon tersenyum semanis mungkin “Jangan bohongi dirimu sendiri, sayang”

“Leon ...” ia sudah tidak bisa menghindar lagi. Leon meraih tangan kirinya, dan menyuntikkan cairan itu tanpa kesulitan. Beberapa menit kemudian Gwen sudah tidak bisa merasakan lantai “... kau brengsek”

Leon hanya tersenyum. Setelah membopong wanita itu ke sofa, ia membiarkannya hanyut dalam halusinasinya sendiri. Ia sempat terpaku beberapa menit melihat wanita itu menggeliat tak berdayaa. Gwen lebih cantik daripada Lily, dan jelas jauh dari Mawar, bahkan meski usianya lebih tua dari mereka berdua. Apalagi dengan keadaan begitu, ia jadi terlihat seperti ketika mereka pertama kali bertemu sepuluh tahun.

Leon mencondongkan tubuhnya, menghirup aroma rambut wanita itu—hmm, aster—untuk saat ini dia tak akan melawan. Tapi kemudian ponselnya berkedip yang menandakan dia sudah terlambat. Leon menimbang-nimbang cukup lama, kemudian memutuskan kalau uang ratusan juta lebih berharga. Jadi, dia mengambil kunci dari laci.

“Dua-tiga hari lagi kau akan menemuiku, Gwen. Dan saat itu, aku ingin semuanya sudah berjalan. Kalau tidak ... yaah, kau tak akan mendapatkan yang kau butuhkan”

Gwen tidak menjawab, tapi Leon yakin dia mendengarkan jadi dia membuka pintu dan mencari sekretaris wanita itu untuk memberitahunya kalau Gwen tidak bisa diganggu untuk sepanjang hari ini.


A/N WHAT THE HECK AM I WROTE?! ._.

13 Februari 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 6


Enam kali, batin Faiza. Sudah enam kali Faiza melihat Profesor Owl di televisi. Dan ia tidak yakin itu pertanda bagus. Ah tapi tentu saja memang tidak ada pertanda bagus. Kejadian yang menyebabkan Profesor Owl masuk tv saja bukan hal bagus. Apa yang bagus dari kematian gadis misterius di tengah rawa yang mengurung puluhan narapidana?

Tapi ada hal lain yang membuat Faiza khawatir mengenai Profesor Owl. Hari itu hari Selasa, dan ia bertanya-tanya apa Fauzi dan Aldo akan bisa berhasil menjalankan rencana yang mereka bicarakan kemarin? Apalagi dengan semua keributan yang melingkupi Profesor Owl, apa mereka bisa, bahkan hanya sekedar untuk bertemu dengannya? Faiza ragu.

Faiza mengurut pelipisnya, tugas sekolah mereka ini benar-benar tidak bisa dipahaminya. Faiza memang mengerti sejak pertama kali masuk sekolah mereka memang sudah mendapatkan tugas yang menumpuk, tapi tugas ini benar-benar keterlaluan.

Entah apa yang ada di pikiran Bu Devi yang tiba-tiba mendapat ide untuk memulai pelajaran dari belakang. Maksudnya, alih-alih memulai dengan materi bab satu dan seterusnya beliau malah memilih dari belakang. Fauzi bilang mungkim itu akibat dari perubahan status pelajaran PLH yang tadinya pelajaran wajib menjadi pelajaran pilihan. Yaah, lagipula keadaan alam memang membaik beberapa tahun belakangan.

Tugas yang dimaksud adalah, observasi untuk bab terakhir mereka. Limbah. Aldo, Fauzi, Faiza, dan Alya menjadi satu kelompok. Bukan kebetulan yang luar biasa, kelompok di bagi berdasarkan tempat duduk dan mereka berempat memang duduk berdekatan.

Mengingat Faiza yang sedang di rawat di salah satu rumah sakit terbesar di kota, dan Fauzi punya kenalan seorang dokter, Bu Devi serta mereta memutuskan mereka harus mengobservasi limbah rumah sakit. Padahal, Profesor Owl hanya bekerja di puskesmas kecil saja, dan bukankah lebih sulit mendapat izin masuk kalau rumah sakitnya besar? Tapi Fauzi bukan pembantah.

Hanya saja hal itu malah merepotkan mereka sekarang. Fauzi mengusulkan ide untuk bertanya pada Profesor Owl, ia sangat berharap Profesor bisa menyarankan cara lain untuk mengobservasi langsung pengolahan limbah rumah sakit tanpa harus ke rumah sakit. Siapa tau Profesor malah punya mesin untuk itu? Dia kan memang suka menciptakan benda-benda aneh.

Panjang umur, Aldo dan Fauzi tiba-tiba saja masuk ke ruangan itu.

“Kacau” kata Fauzi sembari menarik kursi kecil ke samping Faiza. Yaah, ia sudah menduganya.

“Ia pasti sibuk” kata Faiza, menenangkannya.

“Sepertinya begitu” keluh kakaknya itu.

Mereka menghela nafas bersamaan, tidak tau lagi apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan tugas ini. Fauzi amat pesimis soal meminta salah satu bantuan petugas, karena Bu Devi sama sekali tak mau repot membuat surat pengantar.

“Ngomong-ngomong, Alya mana?” tanya Faiza. “Dia tidak boleh melimpahkan urusan ini hanya pada kita kan?”

Fauzi membuang muka ke arah jendela, dan Aldo memutar matanya seperti seorang gadis yang tidak sabar.

“Dia latihan biola hari Selasa” katanya, apa sih susahnya bicara begitu? Gerutunya dalam hati.

Aldo tak habis pikir dengan apa yang terjadi pada dua orang ini. Kalau masalahnya Fauzi merasa bersalah pada Alya seharusnya hal itu segera terhapuskan dengan senyum ceria Alya di hari pertama masuk sekolah kemarin. Gadis itu kan bukannya pura-pura tersenyum supaya bisa membuat Fauzi merasa lebih baik atau apalah, lagipula hubungannya dengan kakaknya yang tewas itu tidak terlalu dekat.

“Jadi sekarang bagaimana?” desah Faiza putus asa.

“Dan waktu kita hanya dua minggu, belum tugas lain yang sama banyaknya” Aldo sama sekali tidak membantu.

“Habislah kita” Fauzi mengacak-acak rambutnya frustasi

“Tapi ada hal lain yang lebih buruk” kata Aldo.

Fauzi menegakkan punggungnya, ia terlihat kaget mendengar kata-kata Aldo “kau juga menyadarinya ya?”

“Menyadarinya? Kau mengatakannya seolah hal itu sulit untuk di lihat”

“Yaah, aku hanya tidak menyangka kau sepeka itu”

“Apa yang kalian bicarakan?” Faiza memandangi mereka dengan bingung.

Fauzi menjawabnya dengan berjalan ke arah jendela, dan menutup tirainya pelan-pelan. Lalu mengintip dengan membukanya sedikit. Wajahnya tampak serius.

“Kita dibuntuti”

“Hah?” sahut Aldo dan Faiza berbarengan. Kini semua mata tertuju pada Aldo.

“Kukira kau sudah tau!” Fauzi marah.

“Eh, bukan itu maksudku” Aldo tersipu, seolah Fauzi baru memergoki dia memakai sepatu berwarna   pink dan bukannya hal yang penting.

“Apa maksudmu, Zi?” tanya Faiza “kalian dibuntuti?”

Fauzi menghela nafas untuk kesekian kalinya “Harusnya aku tidak memberitahu kalian”

“Mungkin hanya perasaanmu saja” kata Aldo sekenanya.

“Benar, perasaan buruk yang kuat.”

Aldo dan Faiza merasa bulu kuduknya berdiri. Fauzi selalu benar. Dalam diam, kalimat itu jadi penuntun tersendiri bagi mereka ketika menghadapi masalah. Dan mendengar Fauzi berkata seperti itu—dengan cara seperti itu—, ketakutan merambati tulang belakang mereka.

Aldo memaksakan dirinya untuk tertawa, “Apa kejadian itu benar-benar memengaruhimu sehebat itu? Ayolah, Zi”

“Makanya aku bilang harusnya aku tidak memberitahu kalian” dia kemudian berjalan kembali ke kursi dan memejamkan mata sebentar “yaah, semoga hanya perasaanku saja”

“Eh, Do, kalau begitu apa hal lebih buruk yang kau bicara kan?” tanya Faiza

“Yaah, tadi kami kan pergi ke rumah Profesor Owl, tapi dia belum pulang. Jadi aku dan Fauzi bermain video game dulu sebentar, spektakulernya Profesor punya game baru yang bahkan belum keluar di pasaran. Wajar sih, dia memang sering mandapatkannya dari perusahaan pembuat game itu karena pekerjaan mekaniknya itu” Aldo bercerita dengan menggebu-gebu.

“Itu tidak terdengar seperti hal buruk” potong Faiza.

“Belum, kita belum sampai situ. Kemudian, Profesor pulang dengan cara yang dramatis, membanting pintu dan berteriak-teriak mencari Kak Lily. Dia bahkan tidak melihat kami. Baru ketika Fauzi menyapanya dengan sedikit berteriak dia meminta kami pulang, bahkan berkata ini bukan urusan anak kecil”

“Kau mengaggap itu hal buruk ya?” Fauzi mengagguk-angguk “Tidak salah sebenarnya, tapi, Do, coba pikir, urusan ini memang benar-benar rumit, dan kita memang tidak sebaiknya ikut campur. Ingat terakhir kali kita sakit hati disebuat anak kecil? Kita berakhir dengan nyaris terbunuh”

“Ya, ya, aku mengerti. Tapi bukan itu maksudku”

“Yang lebih buruk dari itu, yang benar saja!”

“Kau mungkin tidak mengerti, Zi. Tapi bagiku benar-benar tidak adil menghentikanku bermain semantara aku hampir mendapatkan secret weapon dari Lord of Winter. Bayangkan! Aku hampir menjadi orang pertama di muka bumi yang menjadikan Madfabog sebagai karakter paling kuat!”

Fauzi dan Faiza sama-sama terpana.


Maaf karena Sabtu lalu saya tidak posting. Akhir-akhir ini saya sibuk banget dan baru sempat ngenet sekarang. Tentang kesibukan luar binasa itu Insya Allah saya posting paling cepat Rabu nanti, itu pun kalau saya tidak kelelahan, hmmm. :)