30 Januari 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 5


imgsrc | edited by me

Setelah menghirup dalam-dalam aroma bunga yang menyengat itu, Leon meletakkannya di tanah. Ia kemudian menangkupkan tangan dan berdoa. Hari itu hari yang sangat tepat untuk berziarah, langit senja yang mendung membuat suasana muram semakin terasa.

Leon mengusap matanya, menyeka setitik air di sana. Hujan rintik-rintik mulai turun.

“Kau menangisinya? Sungguh?” kata-kata sarkas itu keluar dari mulut pria yang berdiri di belakang Leon sambil melipat lengan di dadanya.

“Mawar selalu jadi favoritku, Rano” kata Leon, sambil melangkah pergi meninggalkan rawa itu.

Rano mensejajari langkahnya dan tersenyum mengejek Leon. “Maksudmu, bahkan setelah semua pengkhianatannya?”

“Tidak, kau tidak mengerti, Rano. Aku selalu suka caranya memandangku dengan kagum, aku selalu suka pipinya yang memerah tanpa dia sadari setiap aku memanggil namanya. Dia anak yang manis, kau tau?” kata Leon “Terlebih dia sudah banyak berjasa pada kita. Dia teknisi terbaik yang pernah kita miliki, tidak pernah ada yang sebaik dia. Tidak ada”

“’Berjasa?’” Rano terkekeh “Kau mungkin lupa, Leon. Tapi dia mencoba membunuhku!”

“Yaah, hal itu tidak bisa dipungkiri. Aku mungkin juga akan membunuh orang yang mau membunuhku sebelum dia melakukannya. Tapi, seharusnya kau tidak meninggalkan mayatnya di sana. Sekarang lihat, mereka membawanya, mereka pasti akan menguburnya juga, dan tubuhnya yang mahal akan membusuk, sungguh disayangkan”

“Kau tidak berubah, Leon”

“Dan meski kau meninggalkannya, kau seharusnya tidak langsung tidur sepanjang hari setelah kau pulang. Kau seharusnya bercerita padaku apa yang terjadi, jadi aku bisa melakukan sesuatu. Kau juga seharusnya tidak menakuti Gilang dengan berteriak akan membunuhnya, dia kabur sekarang. Kau juga tidak berubah, Rano; masih ceroboh”

“Hei, dengar. Tiga hari di Rupakra itu terasa di neraka! Dan aku menempuh perjalanan delapan jam untuk pulang! Lalu soal Gilang ...” Rano menghentikan kata-katanya, dia meremas tangannya kuat-kuat dan wajahnya memerah karena marah “Aku bersumpah akan membunuhnya!”

Rano mungkin tidak melihat, tapi Leon sedang tersenyum puas mendengar kata-kata Rano.

Leon tidak tau apa yang dikatakan Mawar kepada Rano sebelum Rano menjebaknya dan membuat Mawar malah meminum racun yang seharusnya menewaskan Rano. Tapi yang jelas hal itu membuat Rano percaya bahwa yang merencanakan pembebasan dan pembunuhan terhadap dirinya adalah Gilang, bukan Leon. Dan rasanya hal itu membuatnya ingin tertawa keras-keras. Bahkan dari dalam kubur, Mawar masih bisa membuat dirinya bangga. Sayang sekali dia sudah mati.

Sekarang, keadaanya sudah terlalu kacau untuk kembali ke rencana awal. Gilang pergi dari rumah karena ketakutan, Leon tidak terlalu mengkhawatirkan dia akan melapor ke yang lain, dia tak punya bukti apapun. Sekarang pion terbesar yang dia bisa kuasai hanya Rano. Jadi, yang terpikirkan di kepala Leon sekarang adalah memanfaatkan apa yang tersedia sebaik-baiknya. Dan ia akan memikirkan sisanya nanti. Tapi tetap saja, kecerobohan Rano harus ia jadikan pelajaran untuk tidak mempercayainya dalam banyak hal.

“Jadi, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” tanya Rano segera setelah mereka masuk ke mobil.

“Apa ya?” goda Leon “permintaan sudah turun sejak enam bulan terakhir akibat kegagalan di Hotel Chandra, dan aku yakin kita juga tak akan punya banyak pekerjaan setelah kejadian kemarin ...”

“Artinya kita pengangguran” Rano berucap malas, ada nada kecewa dalam suaranya.

Kau pengangguran. Aku seorang dokter”

“Ya, ya, terserah” kata Rano

Mereka tidak berbicara selama sisa perjalanan.

Hari sudah benar-benar gelap ketika mereka sampai di rumah. Rano langsung turun dan menghempaskan diri di sofa, mengabaikan Leon yang mengeluh kelaparan. Ia menyalakan televisi dan menonton berita yang sama dengan tadi pagi. Berita kematian Mawar menjadi bahan pembicaraan terhangat di masyarakat. Kematian gadis sebatang kara di tengah rawa, apa yang lebih dramatis daripada itu?

Wajah pucat ketakutan seorang saksi yang amat ia kenal terpampang di layar kaca. Kalau bisa, Rano ingin sekali mencengkram wajah itu dan menghancurkannya bagai kertas usang.

“Bagi anda selaku penemu mayat, bagaimana pendapat anda soal kejadian ini?” tanya sang reporter.

“Itu kematian yang tragis” jawabnya singkat.

“Anda juga seorang dokter, benar? Bisa anda menjelaskan dengan bahasa awam apa yang terjadi padanya?”

“Gadis itu keracunan” katanya lagi.

“Apa itu ulah tahanan yang kabur?”

Dia terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab “Saya tidak berhak memberi pernyataan soal itu. Polisi Rupakra masih menyelidikinya”

Reporter itu tidak mendesak lebih jauh dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan biasa yang kadang malah tidak ada hubungannya dengan kejadian itu.

Leon menoleh pada Rano yang tangannya mengepal melihat pria di televisi itu.

“Kenapa?” tanyanya. Walau sebenarnya ia sudah tau jawabannya.

“Aku membuat kesalahan, Leon” kata Rano

“Wah, benarkah?” Leon berusaha menghilangkan nada sarkas dari suaranya, walau ia tidak yakin apa ia berhasil.

“Aku harusnya menghabisi mereka semua lima tahun lalu. Maksudku Owl dan Lily. Mereka takkan membuat masalah di Hotel Chandra juga di pertunjukkan biola itu”

“Owl dan Lily tidak membuat masalah di pertunjukkan biola, anak-anak itu yang melakukannya”

“Aku rasa aku tau apa yang harus kita lakukan, Leon”

“Apa?” tanya Leon, lagi-lagi pura-pura tidak tau.

“Ini bukan hanya tentangku saja. Ini menyangkut tim, kau jauh lebih mengerti tentang hal itu daripada aku” kata Rano. Leon tidak menjawabnya, malah berdiri dan pergi ke kamarnya. “Leon!” teriak Rano.

Ketika kembali, Leon sudah berganti pakaian. Jas putih dan kemeja coklat lengkap dengan tas kulit berisi data-data pasien. “Aku harus bekerja, Rano” katanya.

Rano menggerutu, dia mengira Leon tidak mau membantunya.

Sementara itu Leon tidak bisa fokus ketika ia mulai menyetir. Keadaannya jadi sulit ketika harus bekerja sendirian. Ketika orang yang benar-benar kau percaya sudah tidak ada dan yang kau miliki hanya tinggal penjilat dan orang yang sulit untuk di atur. Leon sudah berpikir sejak tadi tentang apa yang harus ia lakukan pada Rano, tapi ia masih tidak bisa menemukannya.

Mungkin—mungkin—memang lebih aman membuatnya fokus pada Gilang.

“Ya, aku harus mengalihkan perhatiannya” gumam Leon. Rano tidak lebih daripada pengacau.

Apalagi setelah berita ini. Meski tak akan media yang menyebarkan berita bahwa Rano sudah lari. Lily pasti sudah tau dari Owl (sebagai saksi penemu mayat Mawar), dan dia akan mulai waspada pada siapapun dan apapun yang akan terjadi. Pendengarannya akan jadi lebih peka, pandangannya akan jadi lebis awas, bahkan mungkin penciumannya akan menjadi lebih tajam. Siapa tau?

Leon mengetuk-ngetuk setir mobil-mobilnya ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna merah.
Bagaimana caranya, cara lain agar ia tidak curiga? Leon mendesah, ia seharusnya memikirkan ini sejak lama, memperkirakan ini sejak awal, tapi yang ia lakukan hanya bermain-main dengan anak itu.

Tunggu, anak itu! Ia bisa menggunakan anak-anak itu, tak ada cara yang lebih halus. Leon  mengingat-ngingat percakapan anak-anak itu tadi pagi. Ia tersenyum puas, bangga pada pikirannya sendiri.

Tapi rencana ini takkan berhasil jika ia tak bisa mengalihkan perhatian Rano. Kebimbangan menguasainya, hanya ada satu cara untuk itu, bukan cara yang disukainya. Tapi tak ada cara lain, ia harus memohon bantuan, pada mereka yang bahkan tak pernah sudi menginjakkan kaki di rumahnya.

27 Januari 2016

SMAN1C Bamboo's Melody at University Day

Hmmm, apa kamu merasa melihat postingan ini kemarin? tanpa teks?

Kesalahan teknis menyebabkan saya malah posting pada hari Selasa dan bukannya Rabu, tapi itu mudah di atasi. Nah, sekarang adalah bagaimana saya menceritakan foto ini.

imgsrc | gambarnya pecah, gak suka :(

University Day diadakan pada Sabtu, 23 Januari 2016, empat hari yang lalu, dan saya terlalu lelah untuk langsung menuliskannya begitu pulang. Oke, saya memang menuliskannya, tapi isinya hanya keluhan sepanjang seribu kata, sigh.

Nah keluhan empat halaman itu mari kita persingkat saja. Kami sebenarnya sudah niat untuk latihan sejak 7 Januari. Baik sekali adik-adik kelas yang mencegat saya pulang supaya kami latihan, hei, bukankah itu berarti ada harapan mengenai semangat membangun ekskul terpuruk ini. Tapi bisa ditebak kejadiannya tidak sebaik itu, latihan bolong-bolong karena miskomunikasi, apalagi dengan kenyataan tidak banyak anak kelas sebelas yang peduli dan banyak anak kelas sepuluh yang sibuk, akibatnya kami (lagi-lagi) kekurangan pemain, lagu diganti-ganti, dan waktu semakin menipis.

Kalau melihat lagu yang akhirnya kami mainkan, kami hanya latihan selama tiga hari. Yep, tiga hari.

Rabu, 20 Januari. Bel sudah berdering tiga kali ketika waktu menunjukkan jam dua belas. Siswa-siswi yang kelasnya dekat lapangan bawah diminta membawa kursinya ke depan panggung yang sudah dirangkai (?) untuk kegiatan peringatan acara maulid nabi. Karena alasan yang sama, beberapa pengisi acara sudah dispen sejak pagi untuk latihan untuk penampilan besok. Salah satunya, Etnic Funlet (teater), yang menjadi salah satu pengguna ruang komputer, ruangan yang sama yang kami gunakan untuk latihan.

Tapi saya sudah minta izin ke Bu Nia untuk menggunakan ruangan itu, walau kami baru mendapatkan waktu sejak jam tiga, gantian dengan teater. Lagipula, kami sudah kehilangan banyak waktu karena kemarinnya tidak latihan karena ruangan dipakai anak tari.

Muti menghampiri saya dengan wajah panik, berkata Kak Uji marah, terserahlah. Lagunya ganti lagi, saya shock sekaligus lega. Intronya melodi semua, saya mabok.

Kamis, 21 Januari. Kami mendapatkan kesempatan untuk latihan sejak acara maulid berakhir. dan anak teater sepertiny tidak keberatan karena merek juga kelelahan sehabis melakukan penampilan penutup tadi. Saya behasil mengajak anak-anak non-angklung untuk membantu mengisi kekurangan. Tidak banyak sih, hanya Santi dan Opie, dan Muti berhasil mengajak Mutwew.

Latihan hari Kamis lebih banyak pada latihan saron yang dipegang Mutew dan Indri serta latihan vokal bagi Holis, Iis, Salsa, Lydia, Yulia, dan Riska. Btw, makasih ya kalian yang rela latihan dua hari padahal baru saja sibuk latihan buat maulid :D

Jum'at, 22 Januari. Latihan terakhir, dan yang jelas terberat. Saya berhasil mengajak Fakhri dan Ucup yang akhirnya mengisi tempat untuk kendang dan simbal. Sayangnya kami tidak bisa langsung latihan begitu bel berbunyi yang lagi-lagi setengah hari karena besok U-Day, karena ruang komputer lagi-lagi dipakai anak teater yang besok juga tampil.

Setelah sebelumnya membawa sound system ke depan ruang komputer, sekarang saya harus meminta izin Pak Sholeh untuk meminjam ruang kelas XI-3 untuk latihan, sekalian menyimpan alat supaya kami tidak terlalu repot besok. Dan kenyataan kami belum mendapat simbal membuat kami harus menelepon Pak Dadang untuk meminta izin.

Ketika Fakhri memainkan kendang, anak kelas XI-3 langsung fangirling. Bukan rahasia kalau dia adalah putra pemilik Saung Wira, tapi Fakhri bukan anak yang mencolok di kelas, dan permainannya mengejutkan semua orang.

Kami latihan sampai jam setengah tujuh, seiring sentuhan terakhir lagu-lagu pop. Kak Uji berpesan agar kami terus tersenyum dan Muti dengan seni bicaranya membangkitkan semangat. Kami berdua memang bagai dua sisi logam, saya bagian memperingatkan dan Muti bagian yang membakar gelora masa muda *apaansih

Sabtu, 23 Januari. Saya bangga karena ternyata saya bukan yang pertama datang di waktu yang dijanjikan, jam enam. Tapi tetap saja kami baru sempat latihan terakhir pada jam tujuh lewat. Kak Asha, Kak  Shofi dan Kak Eja mengintip sela-sela latihan kami. Kak Asha memekik ketika melihat Fakhri dan berkata bahwa ia 'Reynaldi KW' wkwkwk. Ia juga menyalami saya dan berkata 'gak salah gue milih lu jadi ketua' dan yang bisa saya katakan adalah 'eh, apa?'

Karena, hei, apa korelasinya saya jadi ketua dengan penampilan yang ia anggap baik? Yang aransemen lagu dan ngelatih Kak Uji, dan yang main angklung kan bukan saya saja.

Icha bilang kami akan tampil pada pukul 8.55 selama dua puluh menit, setelah sambutan Pak Iskandar 8.15. Pfft. Waktu dua puluh menit itu rencananya akan dipakai untuk menyiapkan alat-alat yang berat-berat itu, tapi kemudian kami menyiapkan alat bahkan sebelum Pak Iskandar tampil. Untungnya acara ngaret jadi saya tak perlu merasa bersalah akan membuat acaranya jadi lebih cepat.

Orang-orang bersorak ketika kami menaiki panggung. Dari video yang direkam Kak Reynaldi saya mendapat komentar-komentar lucu. 'Uji, goyang, uji!" 'Uji, kita jangan dipantatin!' 'Turun! Turun! Turun!' serta favorit saya:
'Segala sesuatu dalam hidup terjadi sekali seumur hidup, steh'
'Heueuh, mantakna kudu direkam'
Btw, ini videonya. Tapi kalian tidak akan menemukan komentar-komentar itu karena saya memang sudah memotongnya.


Kak Uji bilang itu adalah salah satu penampilan terbaik kami. Dan saya senang-senang saja menedengarnya, walau kenyataanya saya menyadari banyak kesalahan. Kak Uji lupa mempersilakan kami menurunkan angklung, gong setelah geboy mujaer mengejutkan Riska dan semua orang, tata panggung menutupi saron, dll.

Neng Alma, tetangga saya berkata satu-satunya kekurangan adalah penampilan kami kurang lama. Dan bagaimanapun itu pujian kan? Yeah, Mustra, kita memang keren *tsaah.

Dan hal terakhir yang harus dilakukan adalah mengembalikan alat-alat itu ke ruang komputer serta menakuti diri sendiri dengan fakta gak penting:

Saya mendata, ada 28 orang dalam tim. Kami berhitung, ada 30 orang dalam tim. Ketika pembagian snack, ada 27 orang dalam tim. Dan ketika pembagian makan siang, ada 29 orang dalam tim. -_-

23 Januari 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 4

imgsrc

“Mereka sekarang waspada” kata Mawar, melihat layar laptopnya yang membuka banyak tab baik berupa video maupun script-script rumit. “Wajar saja sih, polisi mengira ia masih di penjara saat menangkapnya. Jadi, kita akan membebaskannya lagi?”

“Di mana dia sekarang?” Leon memunggunginya sambil menatap dirinya di cermin, mengenakan kemeja coklat yang senada dengan rambutnya.

Rupakra, Sebuah lapas terpencil di luar kota, kau mau ke sana?” Mawar tidak melepaskan pandangannya dari laptop, dan terus mengamati sistem keamanan lapas yang ia maksud.

“Pertanyaan yang bagus, Mawar. Bagaimana menurutmu? Apa aku mau ke sana?” Leon mengambil jubah putih dari lemari, mengenakannya pelan-pelan supaya tidak kusut.

“Seharusnya iya, tapi tidak dengan pakaian itu” katanya, sambil menyilangkan lengan di dada.

“Tepat. Aku punya pekerjaan lain, jadi kau-lah yang akan ke sana” ketika ia berbalik, ia melemparkan sesuatu yang langsung ditangkap dengan sigap oleh Mawar. “Tidak berasa, berwarna, atau pun berbau, juga mudah larut. Tapi itu bukan untukmu, paham?”

“He-hei, aku tidak bilang setuju kan? A-aku bukan pekerja lapangan, banyak orang lain, kenapa harus aku?!” kata Mawar tergagap-gagap.

Leon terdiam sebentar, membetulkan dasinya yang miring “Karena aku percaya padamu, banyak yang mengecewakanku akhir-akhir ini, tapi kau tak pernah”

Mawar bersyukur Leon sedang memunggunginya, dan bukannya melihat pipinya yang memerah. “Aku tidak bisa”

“Kau bisa, percayalah sedikit pada dirimu sendiri. Ini seperti yang sering kau lakukan, mempelajari sistem, mengatur strategi. Hanya saja, kali ini kau pionnya, keseruannya akan jadi dua kali lipat, percayalah padaku. Saranku, jangan terburu-buru, nafasmu itu pendek dan berat, kau bisa langsung ketahuan”

“Kenapa bukan kau saja?”

“Karena, kau bisa lihat, ada pasien yang harus kulayani. Terima kasih atas resume palsumu itu. Aku sudah menemukan mereka” jawab Leon sambil memperhatikan pantulan dirinya di cermin.

“Mereka? Maksudmu ...”

“Yep.”

“Cepat sekali”

“Sama sekali tidak, Mawar. Seharusnya kita sudah menghabisi Lily sejak ia pertama kali kabur. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, ya kan?” Leon memberikan sentuhan terakhir dengan memasang kacamata berbingkai tebal. Dia lalu mengambil koper kulit dari atas meja. “Kalau begitu, aku pergi dulu”

Mawar mendengus ketika mendengar pintu di tutup. Ia menatap obat yang diberikan Leon. Bentuknya tablet dan terbungkus alumunium foil, tapi tak ada tulisan apapun di bungskusnya itu. Ia meraciknya sendiri, pikirnya. Mawar mengantungi obat itu dalam saku jaketnya, kembali menatap layar laptopnya dengan serius, sambil terus berkata pada dirinya sendiri, aku bisa, aku bisa, aku bisa.

Dua jam berikutnya ia sudah melihat dirinya di depan cermin. Ia sudah mandi dan menyisir rambutnya agar lebih rapi. Mawar mungkin bukan ahli menyamar tapi setidaknya dia tau cara menutupi identitas. Ia bersyukur matanya sudah memerah sejak lama, jadi ketika dia memakai masker untuk menutupi mulutnya dan pura-pura bersin beberapa kali, semuanya terlihat sempurna.

Mawar mengeluarkan buku catatan kecil dari sakunya, membaca tulisan kecil dan rapi yang tertera di sana. Mawar mengangguk-anggukan kepalanya, mengaggumi rencananya sendiri. Baiklah, saatnya berangkat.

Rupakra sebenarnya tidak sesulit yang dikatakannya pada Leon. Tapi Mawar tidak sepenuhnya berbohong. Ia mengatakan terpencil, dan seharusnya itu cukup bagi Leon untuk mengetahui bagaimana kondisi lapas itu sebenarnya. Namun kata terpencil itu juga mengartikan hal lain, ada hambatan alam. Lapas itu dikelilingi rawa, butuh waktu dan tenaga hanya untuk melewatinya. Tapi lagi-lagi itu memberikan keuntungan lain, Mawar bisa menyusup lewat satu-satu akses ke lapas itu.

Enam jam mengendarai sepeda motor, ia akhirnya sudah sampai di pinggir rawa itu. Mawar tidak terlalu sering beristirahat tadi, sekarang kepalanya terasa pusing, pinggulnya sakit dan rambutnya jadi lepek lagi. Mawar memang tidak pernah bisa menciptakan efek dramatis dengan mengibaskan rambut hitam lebat seperti Lily. Tapi, ya sudahlah, lagipula orang bilang kecerdasan lebih tahan lama daripada kecantikan, oh, benar, Lily memiliki keduanya. Astaga, apa yang dia pikirkan? Leon benar-benar telah memengaruhinya.

Bayangannya sudah memanjang, Mawar mengecek jam tangannya, sudah jam empat, seharusnya ‘tiket’nya sudah datang. Apa mungkin dia terlambat? Mawar cepat-cepat menepis anggapan itu. Tidak mungkin, pasti orang itu terlambat, kebiasaan yang tak pernah berubah di mana pun.

Mawar memanfaatkan waktunya untuk menyembunyikan motor dan dirinya di semak-semak. Ia lalu duduk di sana, memandang rawa itu. Rawa itu adalah rawa terkering yang pernah ia lihat, walau sebenarnya ini pertama kalinya dia melihat rawa. Daripada rawa, tempat itu lebih cocok disebut hutan yang sedikit becek. Tapi lebih daripada itu, rawa itu memiliki pesonanya sendiri. Pesona yang membuat Mawar paham kenapa mereka membangun lapas di dalam tempat itu. Rawa itu membangkitkan perasaan putus asa bagi semua orang berdosa yang melihatnya. Sulur-sulur pohonnya menggantung lemas alih-alih lebat dan rindang, bau asamnya nyaris seperti mayat busuk yang membuat mual, belum pekikan gagak yang membuat patah hati. Tempat itu menggambarkan secara gamblang kebusukkan apa yang telah mereka—para penjahat itu—lakukan. Rawa itu membuat siapa saja merasa bersalah merasa pantas di sana, dan begitu masuk tak akan pernah keluar lagi.

Mawar penasaran bagaimana petugas yang bekerja di dalam lapas itu. Apa mereka merasakan hal yang sama dengan para penjahat itu? Apa mereka juga sudah pasrah tidak akan pernah keluar lagi? Atau mereka adalah orang-orang sombong yang menganggap dirinya suci sehingga tidak terpengaruh? Bagaimana dengan si kurir makanan, yang pasti masuk dan keluar dengan selamat dari rawa itu? Bagaimana perasaannya? Apa dia merasa lega, kemudian bergidik dan bersumpah tak akan pernah kembali? Atau dia merasa bahagia, karena merasa telah mendapatkan pengampunan? Mawar menggelengkan kepalanya, tidak tau mana yang pasti. Tapi dia merasa yakin, siapapun yang berhasil keluar dari rawa itu, pasti bukan orang yang sama lagi seperti ketika dia pertama kali masuk. Hidupnya akan dibayang-bayangi, entah oleh kebahagian yang mengerikan atau ketakutan yang tak beralasan.

Tiba-tiba Mawar bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Bagaimana dirinya saat keluar dari rawa itu? lalu muncul pertanyaan yang lebih menyeramkan, bulu kuduknya meremang. Apa dirinya bisa keluar dari tempat itu?

Bunyi gerungan mesin menyadarkannya dari lamunan. Dari arah dia datang tadi seseorang datang dengan mengendarai ATV dengan gerobak kayu terbuka yang di dalamnya terdapat banyak kotak-kotak kayu. Bahkan gerobak itu juga bertumpu pada roda-roda besar seperti ATV yang menariknya. Orang-orang ini tidak terlalu bodoh rupanya.

Si pengendara tiba-tiba berhenti tepat di depan rawa itu. Ia kemudian turun dan melepas helmnya. Wajahnya yang masih muda menunjukkan keraguan, mungkin ketakutan. Mawar bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan pemuda itu. Lalu pemuda itu tiba-tiba menoleh ke arah persembunyiannya, Mawar menutup mulutnya yang sudah tertutup masker, tadi ia hampir memekik saking terkejutnya. Pemuda itu tidak mengalihkan pandangannya, apa mungkin dia sudah ketahuan? Mawar merogoh sakunya, mengeluarkan pengejut listriknya. Pemuda itu mendekat dan Mawar bisa merasakan keringat dingin menetes dari dagunya.

Tapi ketika akhirnya pemuda itu menyingkap semak-semak dan kedua mata mereka bertemu, tangan Mawar terasa lemas, dan pengejut listrik itu jatuh dan sedikit tenggelam dalam rimbunan rumput. Tidak, matanya tidak memancarkan keraguan, apalagi ketakutan, matanya polos dan penuh rasa ingin tahu, maniknya berkilau oleh cahaya temaram langit senja. Dan entah kenapa, hal itu membuat sikap defensif Mawar menguap bagai salju di musim semi. Tunggu, apa yang ia pikirkan?!

“Apa yang kau lakukan di situ?” tanyanya.

Mawar nyaris tersentak mendengar suaranya, ada sesuatu yang aneh yang memengaruhinya di sana. Seperti suara tawa renyah Leon, tapi pemuda ini bahkan tak perlu tertawa. “A-aku ... aku tersesat” dia mencoba mengucapkannya sebaik mungkin, dalam arti mencoba tidak memeberitahu dalam nada suaranya bahwa dia sedang menunggu kurir itu untuk bisa menyusup dan membunuh seseorang.

“Benarkah?” pemuda itu mengalihkan pandangannya pada motor Mawar. Mengerutkan kening sebentar lalu melihat ke arahnya lagi dengan pandangan waspada. Mawar akan berikan apapun agar pemuda itu berhenti menatapnya seperti itu.

“Sungguh. Aku ingin mengunjungi ayahku di Rupakra. Lalu bahan bakar motor itu habis. Tidak ada sinyal di sini, aku benar-benar lelah, dan hari sudah sore. Tadinya aku mau menunggu disini terus sampai besok” Mawar bercerita dengan menggebu-gebu, perasaan bersalah melingkupinya.

“Kalau begitu kau tidak tersesat, nona. Kau terjebak” kata pemuda itu “kalau ayahmu benar-benar ada di Rupakra, seharusnya kau tau kau tak akan bisa mengunjunginya”

“Ya, aku tau. Tapi tak ada salahnya mencoba, kan?”

“Tidak, kau salah karena telah mencoba. Selamat menikmati akibatnya!” si pemuda berbalik meninggalkan Mawar. Kini Mawar benar-benar memekik, kaget dengan tindakan pemuda itu.

“Kau tidak bermaksud meninggalkanku sendirian di sini, kan?” Mawar bangkit bertanya dengan ragu.

“Aku tidak ingin menganggu rencanamu, nona. Kau bilang ingin menunggu sampai besok, maka tunggulah sampai besok” si pemuda memasang kembali helmnya dan mulai menyalakan ATV-nya “Sampai jum—jangan bergerak” suara si pemuda berubah lirih saat melihat Mawar lagi “Ada ular di sepatu mu”

***

Mawar mendapati dirinya sedang meringkuk diantara—mungkin—tomat dan ikan. Kejadian tadi begitu cepat, dia nyaris tidak bisa mengingatnya—seolah itu hanya mimpi. Dia di selamatkan dari ular itu, walau sebenarnya ular itu tidak berniat menyakitinya, dia hanya kebetulan lewat. Kemudian, tiba-tiba saja si pemuda mau mengantarnya ke lapas, seolah baru sadar tidak bisa meninggalkan seorang gadis ‘tanpa’ senjata sendirian di pinggir rawa.

Tapi perjalanan menuju lapas itu sendiri sejujurnya lebih menyeramkan daripada saat ia nyaris jadi santapan ular—lagipula, ular tidak memakan manusia, kan?—Rawa itu pengap, dan bau busuknya sangat tajam, bahkan meski Mawar mengenakan masker. Satu-satunya yang ia inginkan adalah segera pergi dari tempat mengerikan ini.

Langit sudah gelap ketika akhirnya mereka mulai mendaki bukit, yang menjadi lahan lapas itu sendiri. Pohon-pohon mulai terlihat lebih normal dan cahaya bulan terlihat mengintip dari balik awan dan pohon. Tapi tetap saja suasananya gelap. Satu-satunya penerangan mungkin lampu ATV itu, juga lampu-lampu yang nampak berkelip dari sudut-sudut lapas itu. Ketika mereka benar-benar sampai, Mawar menemukan bahwa kerlap-kerlip cahaya itu adalah obor. Sementara itu, lampu minyak juga ditempatkan di ceruk-ceruk dinding batu pembatas lapas itu dengan rawa.

Pintu gerbang lapas itu merupakan pintu ganda yang kelihatannya dibuat dari kayu ‘hutan becek’ di belakang mereka. Alih-alih berderit, suaranya lebih terdengar seperti menggeram ketika bergesekkan dengan tanah saat dibuka dari dalam. Mawar mengerutkan dahi, seorang pria tua muncul di depan mereka, mengarahkan senter pada pemuda itu,

“Kau kembali lagi, nak! Sulit di percaya!” katanya

“Selalu siap melayani, pak!” jawab si pemuda penuh semangat, ia menjalankan ATV dengan pelan seiring pak tua itu mensejajarinya dan kemudian menutup gerbang. Mereka lalu berbelok ke kanan. Dan berhenti didepan bangunan yang lebih modern daripada dinding batu yang baru mereka lewati. Pemuda itu turun dari ATV dan mengobrol dengan pak tua itu.

Mawar bingung mengenai hal yang harus dilakukannya. Apa sebaiknya dia turun ikut menyapa, atau terus berpura-pura menjadi kotak lobak? Bagaimanapun ini bukan rencananya, rencananya awalnya adalah menyetrum si pemuda, mencuri ATVnya, dan berpura-pura jadi kurir. Sekarang dia tidak bisa melakukannya karena ... karena terkutuklah sikap canggungnya tadi, kenapa juga dia mendadak lemas begitu?

“Aku rasa yang satu itu tidak bisa dimakan” Mawar tak perlu lagi memikirkan apa yang harus dia lakukan, dia sudah ketahuan.

“Oh, aku menemukannya terjebak di pinggir rawa, pak” kata pemuda itu.

“Terjebak? Bagaimana bisa?”

“Selamat malam, pak, senang bertemu dengan anda” kata Mawar, memotong percakapan dua orang itu.

Mawar bisa menerima dirinya tidak sepertinya yang diharapkan siapapun, apalagi soal penampilan. Mawar bisa menerima kenyataan dirinya sering dipaksa melakukan hal-hal diluar kemampuannya. Mawar bisa menerima kenyataan bahwa selanjutnya yang dia dapatkan adalah dianggap tidak ada. Tapi sungguh tidak sopan memperlakukan seseorang sebagai benda yang seolah tidak bisa mendengar ataupun bicara apalagi secara terang-terangan di depannya.

“Kau seharusnya tidak disini, nona” kata pak tua itu. “Tempat ini sarang penyamun, bukan tempat seorang gadis”

“Apa itu berarti bapak akan melemparku kembali ke rawa itu?” tanya Mawar sinis, dia lalu melompat dari gerobak itu. Menatap lapas gelap yang ada disekelilingnya, caranya untuk masuk ke sini mungkin tidak sesuai rencana, tapi itu tidak membuat keseluruhan rencananya gagal.

“Nah, Tama,  sekarang bantu aku mengangkut kotak-kotak ini” kata pak tua itu. Mendengarnya, Mawar jadi merasa malu.

“Baik!” jawab Tama.

“Dan kau, nona, maafkan sikap kurang ajarku tadi. Kau bisa tidur semalam di sini, tapi kau sudah harus pergi sebelum fajar. Kau sungguh beruntung, kami sedang mengalami beberapa masalah teknis di sini, jadi tak akan ada yang tau mengenai kehadiranmu”

“Apa yang sedang terjadi, pak?” tanya Tama.

“Kelihatannya seseorang menyadap dan menyerang komputer kami, membuat kacau seluruh sistem. Dan kau tau kan listrik kami tidak berasal dari pemerintah, ada air terjun di ujung lain rawa, dan sepertinya ada yang tidak beres dengan turbinnya. Teknisi komputer kami tinggal di kota sebelah dan kau juga tau kami tak punya alat komunikasi. Pokoknya semuanya benar-benar kacau. Beberapa orang pergi ke air terjun untuk memeriksa turbinnya, dan yang lain pergi ke kota untuk menemukan si teknisi. Hanya aku yang tersisa di sini. Tapi patut disyukuri kami masih menggunakan sel model lama, yang menggunakan gembok manual alih-alih gembok-gembok yang terhubung oleh komputer itu. Tak akan ada tahanan yang kabur malam ini, ataupun malam-malam nanti.”

“Apa aku bisa bertemu ayahku?” tanya Mawar, mempertahankan aktingnya.

“Ayahmu?”

“Sepertinya ayahnya tahanan di sini, pak”

“Tidak bisa nona, menginap di sini saja sudah keberuntungan terbaik sekaligus terburuk yang bisa kau dapatkan. Tama, bisa kau antar dia ke salah satu kamar petugas yang kosong? Maaf merepotkanmu berulang kali, aku benar-benar lelah. Listrik mati, CCTV mati, orang tua ini patroli manual. Bisa kau bayangkan? Aku sendiri heran bagaimana caranya aku masih bisa hidup”

Mawar tidak bisa membayangkan apa yang lebih baik lagi. Tak ada petugas selain pak tua yang kelelahan itu! Saat merusak turbin dengan memodifikasi sinyal kotak tidur dan mengirim virus pada komputer sistem itu, dia tidak pernah menyangka hasilnya akan sebaik ini. Bahkan, meski kini pengejut listrik itu tertinggal di depan rawa, rencananya akn berjalan semudah dan selancar yang dia harapkan. Betapa menyenangkannya!

“Tak ada nafas yang lebih puas daripada itu” kata Tama, ketika akhirnya mereka berhenti di depan pintu kayu apak.

“Apa?” tanya Mawar.

“Ini kamarmu, kasurnya bau keringat serta sekeras batu, dan udaranya sama pengapnya dengan di rawa. Jangan buat dirimu nyaman, mungkin kau akan mati”

“Apa yang kau bicarakan?” tanya Mawar, sembari masuk ke kamar yang memang seburuk yang diceritakan Tama.

“Kau berada di tempat yang berbahaya, nona. Harusnya kau ingat itu, kau satu-satunya wanita di tempat terpencil dengan puluhan pria mantan penjahat”

Tak akan ada tahanan yang kabur malam ini, ataupun malam-malam nanti” Mawar mengutip kata-kata si petugas tua, dalam hati tertawa karena ironi dalam kalimat itu. “Dan namaku Mawar, bukan ‘nona’. Rasanya aneh aku tau namamu tapi kau tidak”

Apalah arti sebuah nama, selain penanda batu nisan

Pintu itu dibanting dengan keras.

Mawar memiringkan kepalanya, heran. Laki-laki itu adalah pemuda paling aneh yang pernah ditemuinya walau dia memang tidak bertemu banyak jenis laki-laki. Sikapnya yang kasar tadi, menimbulkan perasaan aneh dalam dirinya. Sakit hati? Kenapa dia harus sakit hati? Lagipula, kalau dipikir-pikir, sikap pemuda itu adalah hal terwajar yang bisa ia bayangkan. Menemukan perempuan pembangkang peraturan di depan rawa yang amat merepotkan pasti membuatnya kesal. Mungkin kalau ada di posisi Tama, Mawar juga akan merasa kesal. Apalagi jika seandainya Tama adalah tipe orang yang kaku, dan sepertinya memang begitu jika melihat caranya berbicara dengan pak tua itu.

Ah, sudahlah! Sekarang hanya tinggal menunggu larut. Ketika Tama dan pak tua itu tertidur, dia hanya tinggal mengendap-endap dan membebaskan Rano, membunuhnya, lalu pergi dengan tenang. Apa yang lebih menyenangkan selain hidup tanpa hambatan? Mawar menunggu tanpa bisa berhenti tersenyum seolah lupa pada pertanyaan menakutkan yang ia tanyakan pada dirinya sendiri ketika masih di depan rawa. Apa dirinya bisa keluar dari tempat itu?

20 Januari 2016

Kualat

Saya pasti kena kualat.

Setelah beberapa waktu lalu menyindir kinerja ekskul Mustra secara implisit; lalu secara kurang ajar memikirkan cerita nyinyir dengan tema yang sama, kemudian sok-sokan ngambek seharian gara-gara gak ada yang mau latihan. Dan terakhir dengan sombong berkata bahwa tidak peduli dengan hiruk pikuk isu sertijab yang mengacaukan jadwal latihan, yang penting latihan.

Hari itu hari Jum’at. Hari paling panjang dalam seminggu. Bukan berarti hari itu jam lebih dari dua puluh empat jam, tapi karena bel pulang sekolah satu jam pelajaran lebih lama dari biasanya. Dan sudah sepantasnya menyebabkan rasa putus asa.


Hari itu, saya bahkan sudah menghukum diri sendiri—karena malam sebelumnya tidak belajar kimia—dengan pergi ke sekolah tanpa membawa komik ataupun novel. Pokoknya, kata saya pada diri sendiri, istirahat nanti harus belajar kimia. Memang sih, dengan kenyataan saya membawa ponsel hal itu tidak terwujud. Jam istirahat saya habiskan dengan membaca cerita di wattpad. Saya belajar kimia sekilas saja.

Intinya, saya mencoba membuat nyaman diri sendiri hari itu. Rasa bersalah dan ketakutan karena tidak belajar boleh saja menghampiri tapi rasa gelisah dan sebal saya membuat malas melakukan apapun. Kenapa sebal? Saya sudah menyebutkannya di paragraf dua.

Makanya pula, saya sebenarnya tidak terlalu khawatir ketika jam menunjukkan angka jam empat dan saya masih duduk di lobi kantor bersama Mbip menunggu Hania menyelesaikan tesnya. Satu-satunya yang menganggu saya adalah karena saya belum shalat Ashar dan saya kebelet pipis. Itulah satu-satunya alasan saya mau pergi ke ruang multi dan meninggalkan Mbip dan Hania. Supaya saya bisa menaruh tas dan pergi ke langsung ke mushala.

“Bu Senny!” panggilan dengan nada marah itu hanya guyonan. Tapi cukup untuk mengejutkan saya ketika melihat siapa yang baru saja bicara. Kak Uji, Kak Asha, Kak Eja dan Kak Sophie. The Big Four (eaaa). Satu kata terlintas di benak saya ‘sertijab’

Saya dipersilakan masuk dan Kak Asha melanjutkan pidatonya. Saya nyaris tidak mendengarkan karena sibuk dengan perasaan tidak nyaman diri sendiri, sampai Kak Uji meminta saya memanggil Muti. Saya tidak sadar dengan apa maksudnya itu sampai Muti bertanya

“Kan Hania juga angklung”

Dan saya menjawabnya dengan spontan “kan kamu yang mau sertijab”

Saat itu saya baru sadar kalau Muti jadi kandidat ketua, tidak mengejutkan sejujurnya. Muti memang cukup akrab dengan kakak kelas dan adik kelas—dan itu menjadikannya koordinator yang baik—dia juga rajin.

Saya kembali masuk ke ruang multi bersama Muti yang sudah selesai merajuk tentang betapa dia tidak ingin menjadi ketua. Nadia berbisik bahwa saya menjadi kandidat ketua, dan saya menyebutnya pembohong. Bukan hanya sekali mereka mengejek saya dengan sebutan itu untuk menyindir tindakan berlebihan saya dalam memaksa mereka latihan—yang seringnya berakhir dengan kenyataan bahwa latihan dibatalkan—.

Dan Kak Asha berbaik hati menyebutkan kembali kandidat ketua Umum. Ketua Materi sendiri sudah bisa dipastikan adalah Icha, yang meski masih kelas sepuluh kemampuannya tentang angklung melebihi kakak kelasnya. Saya tidak ingat bagaimana urutan Kak Asha menyebutkan kandidat ketua, tapi urutan ini saya buat demi kepentingan dramatisasi.

Mutiara Allivia Permana Putri, mudah ditebak. Indri Hardiyanti, cukup masuk akal, meski kurang aktif dan kurang rajin dari Muti, Indri bisa dikatakan punya musikalitas yang lebih baik dan dia juga sudah pandai berorganisasi.

Fatiah Nur Madina. Saya memekik kaget. What the heck?!

Mari saya ceritakan bagaimana diri saya. Masuk ekskul angklung hanya karena ia terlihat sebagai satu-satunya ekskul yang paling santai, tidak mencoba berbaur jangankan dengan kakak atau adik kelas, bahkan dengan yang lain kelas pun jarang, dan yang paling parah, pengalaman berorganisasi yang nyaris nol. Waktu SMP, saya ikut ekskul paskibra dan hanya bertahan selama enam bulan, lalu ikut ekskul MIPA yang tak punya struktur organisasi sama sekali. Saya pernah menjadi Seksi kebesihan di kelas sepuluh dan bendahara sewaktu kelas enam, tapi hanya itu saja.

Kakak kelas mulai menanyakan kami mengenai kesiapan kami. Indri langsung mengundurkan diri mengingat posisinya di ekskul BKC sudah merepotkannya. Saya ditanya dan berkata bahwa saya ragu dengan kemampuan saya sendiri, dan Kak Asha berbaik hati menyemangati saya. Muti berkata bahwa ia tidak mengerti kenapa dia bisa dipilih (seharusnya saya yang bertanya begitu) dan Kak Asha menjawab bahwa mereka punya trik sendiri mengenai itu.

Saya memohon agar Muti tidak mundur, karena saya sendiri tidak berniat melakukannya, melihat kakak kelas tidak mencari pengganti untuk Indri, saya tidak mau jadi calon tunggal.

Kami diminta keluar agak jauh supaya tidak mengintip proses pemungutan suara. Dan saya mengambil kesempatan itu untuk pergi ke kamar mandi. Mbip menggerutu dan saya berusaha menenangkan diri. Ketika kembali, dua orang adik kelas sedang dalam perjalanan menjemput kami dan Indri menegur saya karena tidak merespon panggilannya.

Saya jelas bukan satu-satunya orang pecinta drama. Karena penyerahan jabatan ketua umum itu juga dibuat dramatis. Saya dan Mbip berdiri di depan, Kak Uji—menggantikan Kak Asha selaku ketua umum karena sepertinya ia agak terlalu sentimental—berdiri di antara kami sambil memegang kunci ruang multi. Dan Kak Uji menyerahkannya pada saya, saya memekik dua kali sebelum mengambilnya. Mbip memeluk saya, dan semua orang menyelamati saya.

Saya ditanya tentang kesan. Satu-satunya yang bisa saya keluarkan adalah gelakkan tertahan dan “pengen ketawa” saya sudah tertawa. Keadaannya jadi canggung dan saya bahkan terlalu malu untuk menceritakannya.

Hania menenangkan saya dengan menjadi pendengar yang baik seperti biasanya. Dan di rumah saya menenangkan diri dengan membaca komik dan internetan sampai larut. Tapi tetap saja, keterkejutan itu membuat saya sampai lupa makan dan tidak bisa tidur, dan seolah menyuburkan kebiasaan buruk baru saya: mengumpat dengan kata yang dalam kamus bahasa ponsel saya diketegorikan sebagai ‘very rude

Dan disini saya hendak menyampaikan apa yang tidak pernah saya sampaikan, sesuatu yang jelas lebih bermakna daripada ‘pengen ketawa’. Karena jelas saya lebih bisa mengungkapkannya dengan tulisan daripada kata-kata langsung. 

Awalnya saya mengenal mustra sebagai ekskul degungan. Yang meski dalam skala lebih kecil, tetap melibatkan kerjasama kelompok. Dan mengingat sejak tahun lalu kami aktif dalam angklung, kerjasama yang dibutuhkan jauh lebih besar. Kemudian sebuah fakta mengganggu saya.

Mustra tidak pernah jadi prioritas. Anggota-anggotanya terutama angkatan saya adalah pemalu, dan kami tunduk dalam perintah walau karena kurangnya komunikasi juga nyinyir pada pemimpin. Saya merasa putus asa pada fakta itu.

Di belakang ngomongin di depan butuh.

Ini jelas bukan kerjasama yang sehat, bahkan seorang introvert seperti saya sekalipun mengerti hubungan sosial yang baik amat penting dalam kelompok yang saling melengkapi. Dan karenanya saya sempat terpikir untuk keluar ekskul mustra, tidak mau terlibat kehancurannya, tapi itu tindakan pengecut.

Intinya saya sama dengan kalian, ragu pada diri sendiri dan tak percaya pada orang lain. Tapi keadaan akan makin sulit jika hal itu diteruskan. Saya hanya berharap, semoga kita bisa menjalin hubungan lebih baik, dan dengan begitu bersemangat pula dalam latihan. Jangan pernah terpikir kalau tidak apa-apa kalian tidak latihan karena ada orang lain yang latihan. Bayangkan jika semua orang berpikir begitu, akibatnya sering banyak latihan batal. Mustra adalah kelompok, ia ada karena kita ada.

Berhentilah bersikap manja, cobalah bertanggung jawab, pemerintah bisa berkata kalian cukup dewasa untuk memilih pemimpin tapi dengan kenyataan kalian lebih mementingkan diri sendiri daripada kelompok itu menunjukan betapa menyedihkannya kalian.

Juga cobalah memahami betapa pentingnya keberadaan kita. Pernahkan terpikir kalau puluhan tahun kedepan angklung dan gamelan mungkin sudah punah? Mustra adalah budaya, dan budaya adalah jati diri, dan tidakkah nasionalisme yang mulai luntur seiring jaman membuat kalian malu pada para pendiri bangsa? Kepunahan eksistensi mustra ada di bawah hidung kalau kalian mau tau.

Dan tak ada yang bisa menjaganya selain diri kita sendiri.

Saya berlebihan, saya tau, jadi sebelum ada yang muntah lebih baik tulisan ini diakhiri saja.

Salam


16 Januari 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 3


Fauzi hanya bisa melongo saat orang itu menutup pintu ruang rawat inap Faiza. Dia kemudian melihat ke arah Faiza yang sama sekali tak menunjukkan ekspresi tertarik.

“Itu tadi, Adrian Chapman, iya kan?” katanya nyaris dengan menggebu-gebu

Faiza mengangkat bahu, tidak peduli.

“Astaga! Dia itu benar-benar Adrian Chapman, Faiza!”

“Lantas?” jawab Faiza sambil menatap kakaknya heran

“Adrian Chapman! Dia salah satu peneliti paling terkenal di Amerika! Sejajar William Stafford Nye! Kau pasti juga kenal dia Faiza! Astaga apa yang harus aku lakukan?”

Gadis itu sempat tertegun kemudian ia menjawab “Pertama, tidak, aku tidak mengenal siapa itu Adrian Chapman. Kedua, bukan, dia bukan peneliti terkenal dari Amerika, dia dokterku. Ketiga, wahai kakakku yang baik dan tegas, kumohon berhenti bertindak seperti remaja penggemar fanatik grup musik yang isinya laki-laki setengah cantik”

“Oh, aku memang penggemar fanatik! Penggemar fanatik orang-orang yang mempunyai pengaruh besar bagi dunia. Dia Adrian Chapman, aku tidak mungkin salah”

Faiza mendelik “Aku tidak suka dia”

“Eh?”

“Dia membuat kakakku kehilangan jati diri”

Fauzi tertawa dan Faiza tersenyum. Tapi kata-katanya barusan hanya setengah canda saja. Entah bagaimana, ada sesuatu dalam dirinya yang memintanya untuk tidak menyukai pada dokter itu. Tapi dia juga sadar bahwa mungkin perasaan itu diakibatkan oleh sesuatu yang kekanakkan dalam dirinya yang benci perubahan.

Faiza amat menyukai dokter lamanya, bukan menyukai yang berlebihan. Dokter Agung sangat ramah dan senang bercanda. Jadi ketika dokter itu bilang dia harus pergi ke luar kota untuk membantu sebuah rumah sakit yang baru saja mengalami musibah (Faiza melihat beritanya di televisi, seluruh gedungnya terbakar dan sebagian besar perawat di sana tak bisa meloloskan diri karena menolong pasien melarikan diri, sementara wabah penyakit sedang menyebar di kawasan itu) ia menjadi sangat sedih dan membenci semua orang.

Dia juga membuat-buat alasan supaya menyakinkan dirinya untuk semakin tidak menyukai dokter itu. Seperti betapa kejamnya dokter itu karena tidak ikut membantu rumah sakit yang terbakar itu (padahal alasannya jelas karena dokter baru itu memang baru menjadi dokter sehingga kredibilitasnya dalam keadaan darurat diragukan), atau karena rambut dokter itu tidak hitam dan kulitnya sepucat mayat yang membuat dia seperti orang barat yang telah mengkolonisasi negara Faiza puluhan tahun lalu, atau karena dokter itu berpura-pura bersikap ramah dengan topeng penuh senyum padahal Faiza (berkhayal) tau bahwa dokter tersebut mengumpat setiap kali harus datang dan menyuntiknya.

Meski sadar dia hanya membuat alasan-alasan itu untuk menyenangkan diri sendiri, dia tetap tidak mau merasa bersalah atau menghapus keyakinan itu dari benaknya.

“Hei” bisik Fauzi, padahal mereka hanya berdua saja di sana “jika ada kesempatan, mintalah tanda tangannya”

Faiza melongo, nyaris menunjukkan ekspresi jijik yang sering ditujukan Fauzi pada Aldo.

“Fauzi ...” katanya pelan “aku rasa seharusnya kau yang berbaring di ranjang ini”

“Aku serius! Kalau bukan Adrian Chapman kau pikir dia siapa?”

“Dia mengenalkan diri sebagai dokter Kamil”

“Eh?”

“Tidak cocok? Aku juga berpikir begitu. Dia pasti bukan orang baik, lihat saja rambutnya diwarnai begitu” Faiza mendengus

“Kau tidak boleh menilai buku dari sampulnya” katanya

Faiza tersentak, kaget mendengar ucapan kakaknya “Aneh mendengarnya darimu”

“Baiklah, kalau begitu abaikan aku” Fauzi mendengus, “ada hal lain yang mau kau sampaikan tentangku?”

“Ada” kata Faiza serius, “Kau harus berhenti menjengukku setiap malam, lihat kantung mata itu, kau tampak mengerikan”

“Tapi kau bilang, kau bosan di rumah sakit” kata Fauzi, wajahnya murung menyadari dia tidak diinginkan.

“Saat kubilang begitu, yang kumaksud adalah pulang. Bukan membuatmu merasa harus menjagaku sepanjang waktu. Kau sendiri yang bilang, rumah sakit adalah salah satu tempat paling penuh kasih sayang di dunia. Mereka takkan membuatku menderita, kecuali untuk kebaikan, bahkan jika itu artinya kematian”

“Kau belum bisa pulang, Za. Dan aku menemanimu karena aku tau betapa bosannya terbaring di sana sepanjang hari selama berhari-hari, tak ada yang lebih tau selain aku. Dan melihatmu menempati posisi yang seharusnya tidak pernah kaudapatkan membuat hatiku sakit. Kau ada di sana gara-gara aku, seharusnya aku datang lebih cepat, seharusnya aku tidak pernah membiarkanmu pulang sendiri, seharusnya aku menurutimu untuk beristirahat, seharusnya aku—”

“Baiklah, cukup” pintu ruangan itu dibuka, Aldo masuk sambil membawa sebuah buku tebal. Wajahnya menunjukkan ia tidak puas, meski belum bisa dipastikan pada apa “Ibuku bilang, kesehatan seseorang tergantung pada mental mereka” katanya “Kalau kau terus menerus membuatnya murung begitu, dia tidak akan sembuh”

Faiza menatap Aldo heran, lalu melihat Fauzi lagi. Ada sesuatu yang telah berubah dalam diri mereka berdua, hanya saja ia tidak bisa menyebutkannya secara konkrit.

“Dengar, aku tau kita telah melalui hal buruk. Tapi aku tidak menemukan alasan kenapa kita harus terus meratapinya daripada bersyukur karena kita bertiga masih hidup. Dan Fauzi, dia benar, kau tampak mengerikan, jadi berhentilah datang sebagai monster dalam kegelapan”

Fauzi meninju pelan bahu sahabatnya, Aldo benar, mereka seharusnya bersyukur karena masih bisa hidup. Tapi, perasaannys masih belum sepenuhnya membaik.

“Zi, ini kukembalikan” kata Aldo menyodorkan buku tebalnya “terlalu banyak yang harus dihafalkan, terlalu rumit, aku tidak akan memecahkan sandinya dengan mudah”

“Itu poin pentingnya, Aldo, sulit dipecahkan, makanya di sebut sandi” sahut Fauzi.

“Za, bagaimana kalau kita membuat semacam grup detektif?” Aldo mengabaikan Fauzi

Faiza yang kaget mendapatkan pertanyaan tiba-tiba hanya bisa mengerutkan kening.

“Dia membaca beberapa novel detektif, dan jadi norak” Fauzi menjelaskan. Faiza ber-oh-ria dan menahan tawanya, pantas saja.

“Apa yang akan kita selidiki?” sahut Faiza. Fauzi meringis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, mengisyaratkan itu ide buruk.

Wajah Aldo mendadak menjadi cerah, dan dia mulai mengusap dagu seolah ia punya janggut untuk dielus. “Hmm, pertanyaan yang bagus. Kita bisa mulai dari rumah sakit ini, siapa tau salah satu pasiennya adalah korban percobaan pembunuhan”

“Wow, terdengar sangat nyata” Fauzi memandangnya sinis

“Lalu, bagaimana kita bisa tau?” kata Faiza, menyemangati temannya itu.

“Tentu saja kita harus bertanya pada setiap pasien rawat. Mungkin kita juga bisa menemukan bahwa pembunuh itu berkeliaran di rumah sakit”

“Lalu, lalu?” tanya Faiza

“Oh, ayolah, kalian pasti bercanda kan?” Fauzi mulai putus asa.

Faiza dan Aldo memandangnya heran, mereka sama-sama tau kalau Aldo memang sedang bercanda, tapi sikap Fauzi itulah yang berlebihan. Lalu Aldo menjawabnya dengan agak mendengus “Tentu saja, memangnya kapan aku pernah serius, iya kan?”

“Aku hanya—maksudku” Fauzi menghela nafas, ia sadar bukan salah Aldo untuk berkata seperti itu “Aku tidak ingin kita terlibat hal-hal seperti itu lagi, dan Aldo, kau berkata seolah-olah rumah sakit adalah tempat orang jahat berkumpul. Aku takkan menyangkalnya, a-aku ... ketakutan”

Faiza akhirnya dapat melihat apa yang terjadi pada Aldo dan Fauzi dengan jelas. Ia tak heran dengan Aldo yang tiba-tiba penuh semangat, ia seolah baru ingat dengan kebiasaannya yang selalu tertarik dengan hal-hal baru, dan membaca novel detektif sudah lebih dari cukup untuk membuatnya jadi seperti dirinya yang biasa. Sementara Fauzi, Faiza berharap dia bisa mengerti bagaimana sebenarnya perasan kakaknya itu. Tapi ia hanya bisa paham hanyalah, karena Fauzi yang melihat Alya berlumuran darah, Fauzi yang selalu diandalkan, Fauzi yang melihat orang-orang yang disayanginya menderita karena kesalahan yang ia buat. Dan saat ini, tak ada yang bisa mencegah Fauzi dengan emosi naik-turunnya karena rasa bersalah atas semua yang terjadi.

Sudah bisa dipastikan kejadian besar seperti itu bisa mengubah seseorang. Menjadi baik atau buruk itu tergantung bagaimana sudut pandang seseorang terhadap kejadian itu. Fauzi mungkin selama ini sudah berusaha sekuat tenaga untuk bertahan, menghadapi setiap tekanan yang ia terima dengan gagah berani, tapi ia akhirnya harus menghadapi titik di mana ia melihat segalanya dari sudut pandang lain, sudut yang menunjuknya sebagai manusia paling sombong. Hal ini diperparah dengan Alya yang sama sekali belum bicara dengannya sejak kejadian naas itu—walau itu artinya baru tiga hari lalu—

Wajar saja, Alya pasti terguncang ketika memeluk tubuh kakaknya yang sudah tidak bernyawa. Hanya saja, berbeda dengan Fauzi, ia masih memiliki kekuatan untuk bisa memaafkan dirinya, anehnya kekuatan itu justru berasal dari kata-kata Fauzi saat terakhir mereka bertemu.

Aku lakukan apa yang benar dan menurutku benar, hanya itu

Terbesit di pikirannya bahwa kakaknya telah melakukan hal yang sama. Mungkin terdengar gila, tapi ia bangga kakaknya mati sebagai pelindungnya, sebagai orang baik dan bukannya sebagai kambing hitam keluarga, dengan begitu seolah kakaknya akan menjadi pelindungnya selamanya. Hilang semua rasa takut, ragu, dan benci dalam dirinya. Selama ini ia tak pernah sendirian, dan tidak akan pernah.


Alya duduk sendirian di teras kayu rumahnya ketika Fauzi, Faiza dan Aldo sedang berbincang. Gaun hitam yang ia gunakan berkibar oleh semilir angin kering. Hal aneh yang melingkupi musim hujan kota ini adalah: meski hujan turun terus menerus dalam lima hari kerja, pada hari Sabtu dan Minggu matahari terus bersinar terik seperti halnya musim kemarau. Perlahan ia mulai memainkan biolanya, melatunkan Ode to Joy, nada-nada ceria yang selalu menjadi favorit kakaknya. Angin berembus mengitari Alya, ia tau kakaknya ada di sana, dan akan terus di sana.

9 Januari 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 2


“Jangan bilang kau sengaja mempelajarinya” kata Fauzi. Ekspresinya yang menujukan rasa tidak percaya masih tidak berubah. Atau setidaknya itulah yang terlihat. Di bawah langit mendung dan kejadian akhir-akhir ini yang membuat wajahnya memucat, tak ada yang bisa ditunjukkan wajah itu selain ekspresi terkejut.

“Bicaramu konyol, Zi. Tentu saja aku sengaja mempelajarinya” Aldo melipat kedua tangannya di belakang kepala, lantas meluruskan badan di atas kursi taman itu. Di sebelahnya Profesor Owl menahan tawa melihat tingkahnya. “Aku terpikir untuk membuatnya sebagai sandi” lanjut Aldo “seperti cerita detektif yang sering kau baca”

2 Januari 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 1

Ruangan itu remang-remang, selain karena lampu ruangan yang rusak dan tak ada yang mau mengganti juga karena cuaca di luar yang amat muram. Hujan turun untuk pertama kalinya setelah musim panas yang panjang, aroma tanah menguar menyibak kerinduan terhadap udara lembab. Ada dua orang dalam ruangan itu, seorang pria gemuk berkepala pelontos dengan singlet putih menutupi badannya yang terlipat-lipat, noda-noda lemak tampak menghiasi sekitar leher mulutnya. Ia memegang remote televisi sambil berbaring di sofa usang yang sudah terlihat bagian dalamnya.