Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 5

Gambar
Bagian 1
Bagian 4

Setelah menghirup dalam-dalam aroma bunga yang menyengat itu, Leon meletakkannya di tanah. Ia kemudian menangkupkan tangan dan berdoa. Hari itu hari yang sangat tepat untuk berziarah, langit senja yang mendung membuat suasana muram semakin terasa.
Leon mengusap matanya, menyeka setitik air di sana. Hujan rintik-rintik mulai turun.
“Kau menangisinya? Sungguh?” kata-kata sarkas itu keluar dari mulut pria yang berdiri di belakang Leon sambil melipat lengan di dadanya.
“Mawar selalu jadi favoritku, Rano” kata Leon, sambil melangkah pergi meninggalkan rawa itu.
Rano mensejajari langkahnya dan tersenyum mengejek Leon. “Maksudmu, bahkan setelah semua pengkhianatannya?”
“Tidak, kau tidak mengerti, Rano. Aku selalu suka caranya memandangku dengan kagum, aku selalu suka pipinya yang memerah tanpa dia sadari setiap aku memanggil namanya. Dia anak yang manis, kau tau?” kata Leon “Terlebih dia sudah banyak berjasa pada kita. Dia teknisi terbaik yang pernah kita miliki, tidak perna…

SMAN1C Bamboo's Melody at University Day

Gambar
Hmmm, apa kamu merasa melihat postingan ini kemarin? tanpa teks?
Kesalahan teknis menyebabkan saya malah posting pada hari Selasa dan bukannya Rabu, tapi itu mudah di atasi. Nah, sekarang adalah bagaimana saya menceritakan foto ini.


University Day diadakan pada Sabtu, 23 Januari 2016, empat hari yang lalu, dan saya terlalu lelah untuk langsung menuliskannya begitu pulang. Oke, saya memang menuliskannya, tapi isinya hanya keluhan sepanjang seribu kata, sigh.
Nah keluhan empat halaman itu mari kita persingkat saja. Kami sebenarnya sudah niat untuk latihan sejak 7 Januari. Baik sekali adik-adik kelas yang mencegat saya pulang supaya kami latihan, hei, bukankah itu berarti ada harapan mengenai semangat membangun ekskul terpuruk ini. Tapi bisa ditebak kejadiannya tidak sebaik itu, latihan bolong-bolong karena miskomunikasi, apalagi dengan kenyataan tidak banyak anak kelas sebelas yang peduli dan banyak anak kelas sepuluh yang sibuk, akibatnya kami (lagi-lagi) kekurangan pemain, lagu digan…

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 4

Gambar
Bagian 1
Bagian 3
“Mereka sekarang waspada” kata Mawar, melihat layar laptopnya yang membuka banyak tab baik berupa video maupun script-script rumit. “Wajar saja sih, polisi mengira ia masih di penjara saat menangkapnya. Jadi, kita akan membebaskannya lagi?”
“Di mana dia sekarang?” Leon memunggunginya sambil menatap dirinya di cermin, mengenakan kemeja coklat yang senada dengan rambutnya.
Rupakra, Sebuah lapas terpencil di luar kota, kau mau ke sana?” Mawar tidak melepaskan pandangannya dari laptop, dan terus mengamati sistem keamanan lapas yang ia maksud.
“Pertanyaan yang bagus, Mawar. Bagaimana menurutmu? Apa aku mau ke sana?” Leon mengambil jubah putih dari lemari, mengenakannya pelan-pelan supaya tidak kusut.
“Seharusnya iya, tapi tidak dengan pakaian itu” katanya, sambil menyilangkan lengan di dada.
“Tepat. Aku punya pekerjaan lain, jadi kau-lah yang akan ke sana” ketika ia berbalik, ia melemparkan sesuatu yang langsung ditangkap dengan sigap oleh Mawar. “Tidak berasa, berwarna, …

Kualat

Gambar
Saya pasti kena kualat.
Setelah beberapa waktu lalu menyindir kinerja ekskul Mustra secara implisit; lalu secara kurang ajar memikirkan cerita nyinyir dengan tema yang sama, kemudian sok-sokan ngambek seharian gara-gara gak ada yang mau latihan. Dan terakhir dengan sombong berkata bahwa tidak peduli dengan hiruk pikuk isu sertijab yang mengacaukan jadwal latihan, yang penting latihan.
Hari itu hari Jum’at. Hari paling panjang dalam seminggu. Bukan berarti hari itu jam lebih dari dua puluh empat jam, tapi karena bel pulang sekolah satu jam pelajaran lebih lama dari biasanya. Dan sudah sepantasnya menyebabkan rasa putus asa.

Hari itu, saya bahkan sudah menghukum diri sendiri—karena malam sebelumnya tidak belajar kimia—dengan pergi ke sekolah tanpa membawa komik ataupun novel. Pokoknya, kata saya pada diri sendiri, istirahat nanti harus belajar kimia. Memang sih, dengan kenyataan saya membawa ponsel hal itu tidak terwujud. Jam istirahat saya habiskan dengan membaca cerita di wattpad. Sa…

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 3

Gambar
Bagian 1 Bagian 2
Fauzi hanya bisa melongo saat orang itu menutup pintu ruang rawat inap Faiza. Dia kemudian melihat ke arah Faiza yang sama sekali tak menunjukkan ekspresi tertarik.
“Itu tadi, Adrian Chapman, iya kan?” katanya nyaris dengan menggebu-gebu
Faiza mengangkat bahu, tidak peduli.
“Astaga! Dia itu benar-benar Adrian Chapman, Faiza!”
“Lantas?” jawab Faiza sambil menatap kakaknya heran
“Adrian Chapman! Dia salah satu peneliti paling terkenal di Amerika! Sejajar William Stafford Nye! Kau pasti juga kenal dia Faiza! Astaga apa yang harus aku lakukan?”
Gadis itu sempat tertegun kemudian ia menjawab “Pertama, tidak, aku tidak mengenal siapa itu Adrian Chapman. Kedua, bukan, dia bukan peneliti terkenal dari Amerika, dia dokterku. Ketiga, wahai kakakku yang baik dan tegas, kumohon berhenti bertindak seperti remaja penggemar fanatik grup musik yang isinya laki-laki setengah cantik”
“Oh, aku memang penggemar fanatik! Penggemar fanatik orang-orang yang mempunyai pengaruh besar bagi dun…

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 2

Gambar
Bagian 1
“Jangan bilang kau sengaja mempelajarinya” kata Fauzi. Ekspresinya yang menujukan rasa tidak percaya masih tidak berubah. Atau setidaknya itulah yang terlihat. Di bawah langit mendung dan kejadian akhir-akhir ini yang membuat wajahnya memucat, tak ada yang bisa ditunjukkan wajah itu selain ekspresi terkejut.
“Bicaramu konyol, Zi. Tentu saja aku sengaja mempelajarinya” Aldo melipat kedua tangannya di belakang kepala, lantas meluruskan badan di atas kursi taman itu. Di sebelahnya Profesor Owl menahan tawa melihat tingkahnya. “Aku terpikir untuk membuatnya sebagai sandi” lanjut Aldo “seperti cerita detektif yang sering kau baca”

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 1

Gambar
Ruangan itu remang-remang, selain karena lampu ruangan yang rusak dan tak ada yang mau mengganti juga karena cuaca di luar yang amat muram. Hujan turun untuk pertama kalinya setelah musim panas yang panjang, aroma tanah menguar menyibak kerinduan terhadap udara lembab. Ada dua orang dalam ruangan itu, seorang pria gemuk berkepala pelontos dengan singlet putih menutupi badannya yang terlipat-lipat, noda-noda lemak tampak menghiasi sekitar leher mulutnya. Ia memegang remote televisi sambil berbaring di sofa usang yang sudah terlihat bagian dalamnya.