17 Desember 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 19

Saat Fauzi membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah plafon putih yang sangat ia kenal, lalu hidungnya mencium bau antiseptik yang membuatnya semakin yakin tentang keberadaan dirinya sekarang. Fauzi melihat ke sekitarnya, dan mendapati ibunya meringkuk tidur di sofa. Wajahnya terlihat lelah seperti biasa, dan menyadari bahwa hal itu seringkali dsebabkan olehnya menghantamnya dengan rasa bersalah.

‘Harusnya aku tidak sak—’ Fauzi menghentikkan monolog pikirannya sendiri, ia memang sudah terbiasa sakit untuk terbaring di ranjang rumah sakit, tapi kali ini, ‘aku tidak sedang sakit’. Fauzi menggali memorinya, yang terakhir ia ingat, ah, tentu saja jus jeruk buatan Kak Lily. Lalu ia tertidur, tertidur, apa karena itu mereka membawanya ke mari? Hanya karena ia ketiduran di rumah Profesor Owl?

Fauzi berusaha untuk duduk, kepalanya terasa pening. Apa ini efek tidur terlalu lama? Ia melihat ke jendela, langit memang sudah gelap.  Tapi selama apa ia tidur? Ia mengangkat tangan kanannya, oh, benda itu sudah tak ada di sana. Ia mencari ponsel, tidak ada juga. Akhirnya ia memindai dinding, dan mendapati sepucuk jarum pendek yang mengarah ke angka sembilan.

Tunggu sebentar! Ia punya janji dengan Alya! Astaga, apa yang ia lakukan di tempat seperti ini! Ponsel, ponsel, di mana benda sialan itu. Fauzi menyandarkan punggungnya, ah, tidak mungkin juga Alya menunggu sampai selarut ini, dia pasti pulang, tapi apa yang aan Alya pikirkan tentang dirinya?

Daripada itu, yaampun dia belum melihat Faiza seharian. Ia harus menjenguknya, yaah, meninggalkan ibunya tak akan terlalu masalah. Lagipula, Fauzi mengenal Rumah Sakit Mariana sebagaimana ia mengenal rumahnya sendiri, ibunya tak akan khawatir.

Saat keluar dari ruang inapnya, Fauzi dikejutkan oleh seorang gadis yang mengurut kening di sofa lobi. Dengan cepat ia langsung mengenali tas biola yang tergeletak di sampingnya.

“Alya, aku kira—” Fauzi menghentikkan kalimatnya saat melihat Alya melotot marah padanya.

“Tujuh jam” Alya menggerutu “bagaimana kau bisa sepulas itu sementara ...” Alya menghela nafas keras. “Entah bagaimana keadaan Faiza dan Aldo, dan bahkan kenapa aku peduli?!”

Fauzi tak tau harus bilang apa, dia hendak bertanya banyak hal mengenai pernyataan Alya tadi. Tapi menurut pengalamannya, hal itu akan sulit jika keadaannya sudah begini.

“Kau mau—” Fauzi tak tau apa ini akan berhasil, Faiza biasanya langsung tenang, tapi “es krim?”

“Es krim? Es krim?!” Alya menampakkan raut tak percaya “Zi, kita dalam masalah besar, dan kau menawariku es krim?!”

“Rasa cokelat” lanjutnya “Dan aku jelas-jelas tak tau apa yang sedang kau bicarakan, jadi percuma marah padaku”

Alya menghela nafas panjang lagi untuk ke sekian kalinya. “Aku mau rasa vanilla”

***

“Lalu aku harus membangunkan semua orang satu persatu seorang diri” Alya mengakhiri kisahnya bersamaan dengan tandasnya eskrimnya.

Tak ada kedai es krim yang buka malam-malam begini, lagipula ini rumah sakit. Jadi mereka pergi ke toko swalayan yang letaknya ada di seberang jalan di luar gerbang. Setelah membeli eskrim—dan camilan lainnya—mereka berjalan perlahan kembali ke gedung inap Fauzi.

“Padahal kau bisa saja meminta bantu Profesor Owl dan Dokter Agung, mereka bisa dibangunkan dengan membuka kelopak matanya dengan paksa” Fauzi untuk pertama kalinya berkomentar, mendengar kematian Kak Lily membuatnya tak bisa berkata-kata. Baru beberapa bulan mereka mengenal, sekarang dia sudah pergi lagi, apa yang akan dikatakannya pada Fira? Gadis itu sangat menyukai Kak Lily.

“Kenapa kau baru bilang sekarang?” Alya meringis, usaha sok heroiknya membangunkan semua orang ternyata sama sekali sia-sia.

“Aku tidak tau benda itu akan digunakan lagi. Atau, memasang musik keras-keras,”

“Aku berpikir kesana, tapi nanti mereka berdua bangun”

“Benar juga, di mana mereka sekarang?”

Alya tidak segera menjawab, ponselnya berdering di sakunya. Buru-buru di angkatnya anggila itu, dan benar saja, wajahnya langsung panik begitu melihat nama yang terpampang di sana.

“Halo?” sapanya ragu, sedetik kemudian dia meringis dan menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Setelah menunggu beberapa saat, Alya akhirnya berani membalas “Iya, pak, maaf” ia diam lagi “Iya, pak” kemudian menutup panggilan itu.

Fauzi tanpa basa-basi langsung bertanya “siapa?”

“Polisi,” ungkap Alya “selalu saja begitu ya? Hubungan kita dengan polisi. Padahal mereka saja yang tidak becus” ia mendengus “Sebaiknya kita cepat pergi dari sini, tidak aman, lagipula aku tak bawa biolaku”

“Hah?”

“Kau tadi bertanya di mana mereka kan? Aku mengurung mereka dalam gudang, lalu melapor pada polisi. Tadi polisi menelepon dan berkata untuk tidak main-main dengan polisi” Alya mendesah “Itu artinya ada pekerjaan orang dalam, penguntit tanpa identitas itu mungkin anak buah mereka yang bersembunyi, dan bisa saja ...”

“... sedang mengawasi kita saat ini”

Fauzi dan Alya berjalan lebih cepat, ruang rawat inap Fauzi hanya tinggal beberapa meter lagi ketika Fauzi tiba-tiba teringat sesuatu dan mengungkap tanya “Kalau begitu, Aldo dan Faiza, sekarang, mereka ...”

 “Ayo lebih cepat, kita harus menyusun rencana” kemudian ia melanjutkan “dan tidak, kali ini kita tidak akan mengendap-endap lalu kabur seperti yang kau lakukan dulu. Ini akan jadi rencana sungguhan, paham?”

Es krimnya tidak terlalu efektif rupanya, gumam Fauzi.

“Daripada itu,” Fauzi agak ragu, dia sebenarnya agak tersinggung karena tekanan tadi tapi saat ini mungkin memang lebih baik menyingkirkan egonya untuk sementara. “Alya, setidaknya istirahat dulu malam ini. Maksudku ini hari yang berat untukmu.—Tidak—Dengar, aku tau kau mengkhawatirkan Faiza dan Aldo, aku juga, bahkan mungkin lebih dari dirimu. Tapi percayalah, mereka baik-baik saja saat ini”

“Dan bagaimana kau yakin? Rano mau membunuhku tadi, kau tidak memperhatikan ya?”

“Kalau kau tanya begitu” aku juga tidak tau “Dia bilang agar kau tidak mengganggu rencananya kan? Apa rencananya? Menghabisi kita semua? Itu artinya dia belum menjalankannya kan?”

“Zi” ujar Alya putus asa “itu empat jam yang lalu, dan kita praktis tidak tau apa yang dia rencanakan. Kita tidak tau apa-apa sama sekali. Menunda sama sekali tidak terdengar bagus”

“Percaya padaku, mereka masih hidup saat ini.”

A/N

At this point I feel everything is pointless and getting too complicated. why? WHY?

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^