14 Desember 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 18

Alya tak tahu banyak soal cara menarik perhatian orang yang menguntitnya. Ia pernah membaca soal berjalan melewati jalur yang rumit atau berbentuk lingkaran untuk mengetahui seseorang sedang menguntit kita atau tidak. Tapi keadaannya berbeda, penguntit itu mengawasi mereka dari sini, bersembunyi di antara pedagang kaki lima ini.

Alya menyeruput es cendolnya lagi. Sebenarnya, kalau ia mau, Alya bisa saja benar-benar membuat jalur lingkaran itu, hanya saja ia tidak yakin apa itu cukup aman. Selain itu, ia tidak berniat membuang-buang waktu, Aldo dan Faiza, entah di mana dan bagaimana keadaan mereka sekarang.

Seseorang menepuk bahunya, Alya terkejut bukan main. Tapi ia kembali tenang setelah melihat bahwa itu adalah tukang dawet yang tadi. Pria tua itu mengucapkan sesuatu, tak terlalu jelas di telinga Alya yang sedang mendengarkan musik, tapi ia bisa membaca gerak bibirnya. Alya mengerutkan dahi sejenak, lalu dengan cepat menjawab “Iya!”

Sang kakek menunjuk seorang pria yang berdiri di sebuah persimpangan jalan. Jantung Alya berdebar, ia tidak menyangka bahwa justru penguntit itu sendiri yang menantangnya. Menyampaikan pada kakek ini bahwa orang yang di tunggu Alya sudah datang. Perasaan aneh menyelubungi hatinya, ini diluar antisipasinya, apa jika dia ke sana akan ada jebakan? Alya menggeleng, kalaupun ada, dia sudah siap melawan balik, lagipula senjatanya adalah sesuatu yang tak akan ia sangka.

Alya mengeluarkan biolanya dari dalam tasnya, entah pilihannya untuk ke sana benar atau tidak. Ia mungkin akan mengalami hal yang sama dengan Faiza dan Aldo, tapi berharap semuanya baik-baik saja tanpa mengambil resiko juga terdengar konyol.

Alya menarik nafas panjang, ia siap.

Aneh juga kenapa orang itu memilih persimpangan itu sebagai tempat berkumpul. Alya mengira para penjahat menyukai tempat yang lebih sepi. Persimpangan itu terlalu terbuka, dan banyak orang yang lewat. Persimpangan itu menghubungkan rumah sakit, lapangan parkir serta kompleks perumahan dinas. Tapi entahlah, mungkin dia sangat percaya diri dengan penampilannya yang memang, dari segi manapun tidak mencolok.

“Maaf,” Alya menyapa “Kau siapa?”

Pria itu menoleh, wajahnya di tutupi masker. Tapi melihat ciri fisik lain yang masih bisa terlihat—rambut lurus hitam legam dan mata yang agak kehijauan—Alya bisa bersumpah ia tak pernah melihatnya, baik sebagai tukang rujak maupun tukang sayur, atau apapun yang mungkin menguntit mereka.

Pria itu membuka maskernya, kemudian tersenyum, saat itu lah Alya sadar kalau ia mengenalnya, terlalu mengenalnya.

Alya tidak terkejut, sama sekali. Hanya saja ini tidak masuk akal.

“Aku bahkan tak perlu menjelaskan apapun lagi padamu, kan?” ucap Leon.

“Di mana Aldo dan Faiza?” desisnya. Ini salah, tidak mungkin Leon yang menguntit mereka selama ini. Karena kalaupun iya, untuk apa? Dia sudah sangat dekat dengan mereka. Leon praktis mempunyai jam tangan Fauzi, yang otomatis bisa melacak keberadaan Faiza dan Aldo. Tak perlu ada penguntitan.

“Aku tidak mengerti dengan kalian para wanita” kata-kata Leon terdengar lelah “Faiza, Lily, dan kau. Untuk pertama kalinya ada orang-orang yang sulit aku tangani”

“Aku tidak bodoh” Tapi kalau begitu siapa yang menguntit mereka selama ini?

“Aku tahu itu, itu sebabnya aku mendatangimu seperti ini” Leon nampak tidak sabar “Dengar, Alya, aku tidak menyukai kekerasan—”

“Lain halnya dengan racun” Alya merendahkan kata terakhirnya, ada seseorang yang lewat di belakangnya. Tempat ini terlalu ramai.

“Jangan memotong. Maksudku, kecuali terpaksa aku lebih memilih untuk tidak mendengar jeritan. Kau paham? Jadi—”

Kau memintaku untuk menyerahkan diri? Yang benar saja”

“Memang tidak, aku tidak sebodoh itu mengira kau akan menerimanya, kan? Aku hanya minta agar kau tidak mengganggu renca—”

Alya tau kenapa Leon menghentikkan kalimatnya, alasan yang sama yang membuat bulu ]udu]nya meremang. Di belakangnya, entah siapa, menyampirkan tangan kirinya di pundak Alya. Dan sementara tangan kanannya, memegang sesuatu yang tajam sambil menekannya ke pinggul Alya.

“Tidak Rano, kau tidak akan melakukannya, tidak di tempat seramai ini! Oh Tuhan, Kau selalu mengacaukan segalanya”

“Tapi, Leon, apa yang baru saja kudengar barusan? Kau takut pada gadis kecil ini?” Rano tertawa “aku akan melakukannya, lalu kita lari, oke?”

“Rano!” Leon menegurnya lagi, lalu sambil merendahkan suara “paling tidak, di tempat yang tidak dilihat orang”

Mereka berencana membunuhnya? Alya tau ini akan terjadi, dasar busuk, umpatnya dalam hati. Hampir saja, hampir saja Alya percaya pada omong kosong manis bahwa Leon akan melepaskannya.

Kalian kenal Rio kan?” Retoris Alya penuh kebencian. Ini bukan akhir hidupnya, Alya masih bisa melakukan sesuatu. Diangkatnya biolanya ke dagu, lalu tangan kanannya yang memegang gesekkan. Rano tak akan menyakitinya di keramaian, meskipun ia bergerak. “Ode to Joy, lagu favoritnya” dan nada-nada ceria mulai mengisi kehenigan dalam kebingungan dua pria itu.

Rano yang pertama kali menguap, kemudian Leon, lalu orang-orang yang berlalu lalang. Suara Tiffany Alvord yang berdendang di telinganya mencegah Alya untuk ikut jatuh tertidur, dan saat ia bisa merasakan Rano sudah jatuh, Alya menghentikkan permainannya. Ia berjinjit dengan hati-hati, dan menahan jangan sampai ia memekik tanpa sengaja.

Alya melihat ke sekitarnya, semua orang tertidur, dia benar-benar membuat kekacauan.

A/N

Saya tau ini pendek, tapi biasanya juga pendek

0 komentar:

Posting Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^