10 Desember 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 17

“Kita tak bisa terus diam begini, Aldo” ucap Faiza. Badannya terasa kaku karena hampir seharian berbaring. Sebenci apapun ia berbaring di ranjang rumah sakit. Setidaknya ia masih bisa bergerak, di sini, kaki dan tangannya diikat, dan lama-kelamaan udara terasa semakin pengap “Dan kau bilang tadi kita di bawah tanah? Kita bisa kehabisan oksigen”

Aldo tidak menjawab. Ia sudah sejak semalam di sini, sudah lebih lemah daripada saat Faiza datang. Badannya sudah tidak kaku, malah lemas sama sekali, ia tidak bisa merasakan apa-apa lagi.

“Aldo? Aldo?” Faiza terus memanggilnya. Tapi suara dengkuran membuatnya lebih tenang, setidaknya itu berarti Aldo masih hidup. Masih hidup? Tidak, apa maksud pikirannya itu tadi? Tidak, pasti ada cara untuk keluar.

Sayangnya ia kehabisan ide brilian. Sama sekali tak terpikir trik apapun. Ia tau ini percuma, tapi Faiza terus berusaha melepas sabuk yang menahan lengannya. Ia tau itu justru akan semakin membuat badannya lemas, dan mempercepat habisnya oksigen, tapi ia tak tau lagi harus apa.  Keputusasaan sepertinya membuatnya mengeluarkan semua tenaganya. Dengan mengerahkan tarikan di lengan kanan, Faiza tanpa sadar menumpukan semua berat badannya ke kiri. Dan tanpa disadari membuat pusat sebuah inersia, saat sadar meja tempatnya berbaring mulai miring, semuanya sudah terlambat. Ia menjerit begitu tubuhnya (beserta meja itu) terguling ke lantai, dan menimbulkan suara bedebum keras.

Herannya Aldo tidak bangun, dan luar biasa lagi Faiza tidak jatuh. Ia benar-benar penasaran dengan kualitas sabuk yang menahannya. Tapi posisinya kini lebih tidak nyaman, seluruh badannya tertumpu kekiri, menyebabkan sakit di bagian tanggannya, sayang mengembalikan meja ini ke tempatnya berdiri malah lebih tidak mungkin. Dan dengan posisi telinga yang kini lebih dekat dengan lantai, apa ini halusinasi Faiza saja atau dia memang mendengar suara derap langkah menuju ke arahnya?

***

Leon mengerutkan kening, rumah sakit lebih ramai dari biasanya saat ini. Benar juga, ada pasien yang baru saja menghilang, tapi seingatnya dia sudah merencanakan segalanya dengan matang. Kepergian Faiza dilakukan sesuai prosedur, jadi seharusnya kekacauan tidak tercipta secepat ini. Kecuali, kecuali kalau dirinya sudah ketahuan.

Ia mendengus, kalau begini dia tidak bisa jadi Dokter Kamil lagi. Di raihnya sebuah kotak di kursi belakang. Saat dibuka kotak itu berisi beberapa stel pakaian yang dilipat rapi dalam sebuah plastik. Leon memilah-milah, apa yang cocok untuk keadaan seperti ini?

Matanya kembali menatap ke balik jendela mobil, dari pelataran parkir ia bisa melihat jelas tentang kondisinya. Alya baru saja ke luar gedung UGD sambil menggendong tas biolanya (untuk apa?) saat ini dia mungkin sudah mengetahui kebenarannya, dan hancur sudah rencana Leon untuk menyergapnya di lokasi pengolahan limbah cair. Di sudut lain, anak buahnya yang mengurus penjualan ilegal sampah rumah sakit malah sedang asik bercengkrama dengan pria yang tak di kenalnya (tidak berguna). Tapi betapa terkejutnya Leon ketika ia melihat seorang pria paruh baya memasuki rumah sakit dengan tenang. Bahkan meski ia menutupi identitasnya dengan topi, Leon tau itu Rano, gesturnya yang mengeluarkan aura pembuat masalah sudah sangat dikenalnya. Matanya melirik kerumunan polisi di depan gedung rawat Faiza. Ini bukan rumah sakit, ini medan perang.

Sementara itu Alya yang mematung di depan gedung UGD sedang memikirkan hal lain. Daripada memikirkan masa kini dan keadaan bahaya yang sedang menimpanya, ia memikirkan segala yang terjadi pada mereka selama seminggu terakhir. Tepat sejak pergantian dokter Faiza. Ia sekarang mengerti bagaimana Faiza tidak kunjung sembuh walau kondisi fisiknya bisa dikatakkan ajaib. Tapi soal penjualan sampah rumah sakit itu, kejadiannya sudah cukup lama kan? Dan bagaimana dengan orang yang Fauzi bilang sedang menguntit mereka?  Apa dia di sini sekarang? Apa dia orangnya Rano?

Perasaan muak menyelubungi hati Alya. Kenapa harus mereka? Mereka tidak melakukan kesalahan? Orang-orang itu yang berbuat kejahatan, dan apa yang ia dapat dari berbuat kebaikan? Diburu? Tidak, diburu adalah istilah yang digunakkan jika mangsa ikut berlari. Mereka bahkan tak sadar bahwa mereka dalam bahaya, hanya karena kebodohan yang orang dewasa sebut kekhawatiran. Alya tak mau menyalahkan Profesor Owl, tapi kalau dia mengatakannya sejak awal, mereka mungkin bisa lebih waspada. Dan bukannya menjadi buah yang siap dipanen, untuk kemudian dipotong-potong dan dijual sebagai rujak.

Eh? Kata rujak itu memberinya perasaan tidak enak. Fauzi pernah mengatakan sesuatu, apa ya?

“Alya, ya?” lamunannya dihancurkan oleh sebuah suara yang terdengar ragu. Alya menoleh, wajahnya yang tadi dirundung kekelaman mendadak cerah saat mengenali orang dihadapannya.

“Bang Tama! Eh, iya kan?”

Alya bisa melihat pria itu langsung tersenyum lega menyadari ia mengingatnya. Harus ia akui pribadi petugas pos ini sulit untuk diingat, kalau bukan karena ia sudah melihat dan memikirkannya lebih dulu di tempat limbah cair tadi sudah pasti ia tak akan serefleks itu.

“AKu takut salah orang tadinya” ia tertawa canggung. Alya tiba-tiba teringat dengan kertas yang ia temukan disana, buru-buru dikeluarkan dan diberikan pada pria itu.

Keduanya sama-sama terdiam, sampai Alya mengungkap tanya “Itu apa?”

“Yah, seperti yang kau lihat, cuma resi distribusi natura biasa” katanya sambil mengantonginya.

“Banyak ya?” lanjutnya. Ia sendiri agak bingung cara menghadapi orang ini. Sikapnya tak bisa diprediksi. Meski ia sendiri mengategorikannya sebagai penggugup, tapi Alya tidak sepenuhnya yakin.

“Memang, untuk persedian satu bulan sebuah instansi terpencil soalnya. Dan mereka butuh orang yang bukan amatir” Orang itu membusungkan dada. Alya tertawa mendengarnya, lumayan juga, rasanya sebagian bebannya luruh dengan tawanya.

‘Dasar tukang rujak amatiran’ entah kenapa ingatan Fauzi yang berkata begitu tadi pagi menghantamnya. Dia mengejeknya tadi pagi, sekarang lihat kondisinya sekarang.

“Ngomong-ngomong, Alya lagi apa di sini” tanya pria itu lagi.

“Oh, itu, temanku sakit” jawabnya singkat. ‘aku rasa aku melihat tukang rujak ini sebagai tukang sayur tadi pagi’

Apa yang tadi sedang dipikirkannya sebelum Bang Tama muncul ya? Rujak, Kebodohan, Mangsa, Kejahatan, oh penguntit! Ya, benar! Dimana penguntit itu sekarang?

“Dihalaman depan itu, banyak pedagang kaki lima kan?” tanya Alya.

Bang Tama mengerutkan dahi “Iya, soalnya kalau menjenguk orang kan baiknya bawa sesuatu. Alya sepertinya sedang memikirkan sesuatu ya? Sejak tadi tidak terlalu memperhatikanku”

Dia pasti di sini, penguntit itu, dia yang selalu melaporkan segalanya, entah pada Rano atau Dokter Kamil. Sekarang apa yang harus ia lakukan?

“Alya?”

“Aku harus melindungi diri” ucap Alya tiba-tiba “Eh, maaf, ucapanku melantur. Ngomong-ngomong Bang Tama lihat orang yang mencurigakan kah di sekitar sini?”

“Orang mencurigakan?” ia malah balik bertanya “Maksudnya gimana?”

“Misalnya,” Alya sendiri ragu, apa standar seseorang yang mencurigakan “Orang yang sebenarnya menyamar untuk mengawasi orang lain”

“Yang seperti itu memang ada?” pria itu tertawa kecil “Imajinatif juga ya, kau ini”

Alya meringis, manusia yang terlalu santai dengan kehidupan kadang melupakan bahwa hal-hal buruk juga bisa terjadi di sekitar mereka. Terjebak dalam delusi bahwa Tuhan tak akan menguji orang-orang baik, memikirkan itu Alya tiba-tiba merasa malu, mengingat keluhan dalam lamunannya yang sebelumnya.

Daripada itu, sebaiknya ia melakukan sesuatu. Saat ini juga. Tak ada gunanya bersembunyi bagai tikus, bahkan meski Alya tak tau wajah penguntit itu.

“Aku pergi dulu ya, Bang! Dah!”

Tama melihat Alya pergi menjauh, kelihatannya gadis itu tak ingin di usik melihat dia baru saja memasang handsfree di telinganya. Dilihatnya lagi resi natura yang gadis itu tadi berikan, sudah ia duga ada yang mengawasinya di tempat pertemuan tadi. Tapi ia lebih penasaran dengan fakta Alya yang berjalan ke arah barisan pedagang kaki lima, yang juga tak jauh dengan lapangan parkir, dimana ia baru saja melihat mobil Leon terparkir. Dan apakah itu Rano yang baru saja melewati gerbang? Tama bersiul, ia membalikkan badan ke arah gedung UGD. Bagaimana keadaan anak yang satu lagi ya?


A/N
Gilak, banyak banget ganti pov-nya, minor sih tapi tetep aja. What a wreck. saya cuma pengen buru-buru tamat huhu

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^