7 Desember 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 16

Rano berjalan tanpa tau arah. Pikirannya melayang pada bayangan keputusasaan di mata Gilang sebelum orang itu mati, lalu ia tersenyum masam. Langkah kakinya menjadi ragu di persimpangan, orang-orang bantuan dari Gwen sudah tidak mengikutinya lagi dan kini dia sendirian. Apa yang akan dia lakukan setelah ini? Memikirkan hal itu dia jadi sebal sendiri, lalu memilih mengambil jalur untuk kembali ke gubuk kecil mereka di tepi hutan.

Ponsel dalam saku Rano bergetar. Tapi itu bukan saku di mana ia menaruh ponselnya sendiri. Rano mengangkatnya, setelah sebelumnya mengerutkan dahi membaca nama yang tertera di sana.

“Gwen!” Leon berteriak dari seberang sambungan “Kau di sana? Maaf aku mengganggu, aku punya sedikit masalah”

Rano tidak menjawab, ia justru lebih terkejut dengan kenyataan bahwa Leon mengenal Gwen. Pria itu memang misterius, tapi Rano tidak pernah menganggapnya punya posisi sehebat itu.

“Kenapa kau diam? Oh, maaf, apa kau sedang rapat? Begini, Lily tewas—” Leon terdiam sebentar, seolah memikirkan kata-kata yang tepat “—seperti rencanaku, tapi Owl melihatnya, dan dia lari. Aku sedang mengejarnya, tapi aku tak yakin apa dia sudah menelepon polisi. Keadaannya mungkin akan sulit, bisa kau kirimkan The Gecko?”

Rano semakin tak bisa berkata-kata, apa ini? Leon menangani Lily? Bagaimana mungkin?

“Aku anggap, ya.” lalu sambungan terputus.

Rano mengerutkan keningnya lagi, apa yang membuat Leon sebegitu terburu-burunya, meminta bantuan pada Gwen, sampai ia tak sadar kalau ia baru saja menelepon ponsel Gilang? Rano mengangkat bahu. Tapi kalau Leon memang membutuhkan bantuan, kenapa ia tidak datang saja? Varanus bukannya tidak bisa setenang cecak.

Rano membuka aplikasi GPS, ia lalu memasukkan nomor ponsel Leon untuk mencari jejaknya. Dilihat dari rutenya, dia habis dari rumah Owl, tapi kemana ia akan pergi? Leon menunggu sebentar, tapi ia masih tidak bisa mendapat petunjuk, kalau ia menunggu sampai Leon berhenti, mungkin segalanya sudah terlambat. Rano menggaruk-garuk kepalanya, bingung apa yang harus ia lakukan.

Lalu terpikir suatu ide lain. Rano mengambil ponselnya sendiri di sakunya yang lain. Dia mencari-cari nomor Gwen diantara daftar kontaknya yang tidak seberapa.

“Halo?” ujarnya.

“Oh, kau sudah selesai? Tidak perlu melapor seperti ini—”

“Tadi Leon menelepon” potong Rano, ia tidak ingin membuang waktu, bukannya sengaja bersikap tak sopan pada pimpinan Lacertuor itu “Dia bermaksud menghubungimu, tapi sepertinya saking buru-burunya malah menekan nama Gilang. Dia bilang dia butuh The Gecko, apa maksud—”

“Itu saja? Kalau begitu tenang saja Rano, wah kau ini teman yang setia ya?” Lagi-lagi satu obrolan yang cepat, Gwen menutupnya. Entah kenapa kalimat terakhirnya tidak terlalu ia sukai.

Rano mendengus, ia kembali ke aplikasi GPS di ponsel Gilang. Kini dia sudah berlalu sangat jauh dari terakhir Rano melihatnya. Sudah tidak ada tikungan yang mungkin akan Leon lewati, hanya ada satu tempat yang mungkin akan jadi tujuannya, rumah sakit Mariana.

Rano mengangguk-angguk paham.

***

Alya duduk sambil diam-diam memperhatikan Profesor Owl di sampingnya, sejak tadi pria itu menghentak-hentakkan kakinya tidak sabar. Sesekali ia menjenggut rambutnya sendiri dan bergumam tidak jelas.

Alya kebetulan melihat keributan di depan gedung UGD tadi. Seorang pria dengan jubah putih menggendong seorang anak laki-laki tak akan terlalu menarik perhatiannya, jika saja anak itu bukan Fauzi. Sekarang Alya paham kenapa Fauzi tidak membalas pesannya, tapi kalau begitu siapa yang membacanya?

Sejak tadi Profesor Owl sama sekali tidak membuka mulut, ataupun memberi sedikit informasi mengenai apa yang terjadi pada Fauzi. Alya terpaksa mengira-ngira, tapi semua pemikirannya mengarah pada kesimpulan buruk, dan ia tidak menyukainya.

“Dokter Owl,” Alya memutuskan untuk mulai menyapa lagi. Sejak tadi pria itu tidak menggubrisnya, tapi sekarang setelah keadaannya lebih tenang Profesor Owl menoleh ke arahnya. Pria itu menangis. Alya merasa canggung, ia tidak terbiasa melihat pria dewasa menangis di depannya. “Maaf, tapi, apa yang—”

“Lily meninggal” Profesor Owl menjawabnya, air mata masih mengalir dari pipinya tapi dia sendiri tidak menampilkan ekspresi apapun. Ia seolah melihat ke arah lain, dan bukannya menatap Alya.

Alya mau tak mau terkejut mendengar fakta itu. Dia memang baru pertama kali ini bertemu dengan Profesor Owl, bahkan belum pernah sekalipun dengan Kak Lily. Tapi tetap saja, mendengar cerita Fauzi selama ini, dari e-mail-e-mailnya ia merasa sudah sangat dekat dengan mereka.

“Leon. Rupanya semua ini ulah Leon” dia melanjutkan sambil menegakkan badannya, tatapannya lurus ke depan walau tak pasti apa yang ditatapnya. “Tidak, Ini semua salahku, sejak dulu selalu begitu, ceroboh dan bodoh, Leon, Rano, semuanya salahku” Profesor Owl membenamkan kepalanya dalam tangannya.

Alya benar-benar bingung. Bukan berarti dia sebodoh itu tidak mengerti kata-kata Profesor Owl. Tapi siapa Leon yang ia maksud? Orang yang sama dengan yang di sebut para pencuri limbah rumah sakit itu? Dia yang mendalangi semua ini? Tapi apa yang sedang terjadi? Rano? Orang itu punya hubungan dengan Rano?

“Aku ...” Alya tak tau apa yang harus ia lakukan “ada yang bisa aku bantu?” dan bukan maksudnya untuk mendapat jawaban langsung dengan bertanya.

Seorang pria berjubah putih keluar dari pintu dihadapan mereka. Ia menggosok kacamatanya dengan gugup. Lalu menghampiri Profesor Owl dengan tatapan iba. “Kau tidak baik-baik saja, Owl” sahutnya.

“Dokter Agung,” Alya menyapanya. Pria itu adalah dokter yang mengurus Faiza sebelum Dokter Kamil menggantikannya, dari cerita Faiza, Alya tau dia pria yang bisa dipercaya “Bagaimana Fauzi?”

“Aku bisa beri penjelasan medis, tapi intinya dia akan baik-baik saja” ujarnya.

Alya menghela nafas lega, “Kalau begitu, aku akan pergi ke ruangan Faiza untuk mengabarkan ini”

“Alya, kau tadi bertanya soal apa kau bisa membantu” Suara serak Profesor Owl terdengar dipaksakan, “Bisakah kau pulang dan melupakan apa yang sedang terjadi?”

Tapi anehnya, dengusan eras justru datang dari Dokter Agung “Berhenti berpikir kau bisa mengatasi segalanya sendiri, Owl. Kau tidak bisa, dan bukan maksudku untuk menyakitimu dengan mengatakan hal itu. Masalah ini sudah terlalu serius, tak ada gunanya menyembunyikannya lagi”

“Baiklah” Alya menginterupsi dengan ragu “sekarang aku benar-benar bingung”

“Kau tak akan mau mengatakannya sendiri kan? Baiklah, aku yang akan lakukan, dan jangan coba-coba menghentikkanku” Dokter Agung berbalik, lalu berdiri di depan Alya. Meski wajahnya jauh dari ramah entah mengapa dia tidak terlihat menakutkan “Alya, alasan Owl berusaha mencegahmu pergi ke ruangan Fauzi adalah karena ia sudah tak ada di sana”

Alya lagi-lagi tergagap karena keterkejutan, ‘Faiza?’ Tanyanya dalam hati, lalu cepat-cepat menambahkan ‘juga?’ Pikirannya dibanjiri oleh ide bagaimana kejadian buruk yang menimpa teman-temannya berhubungan. Aldo hilang di rumah Dokter Kamil, Fauzi keracunan saat bersama Dokter Kamil, dan Faiza hilang saat dokternya Dokter Kamil, ‘semua ini ulah Leon’ ‘Leon akan membunuhmu, bung’ “Biar kutebak,” ujar Alya ragu “Dokter Kamil adalah Leon?”

“Lihat, Owl, anak-anak ini, mereka tidak bodoh”

A/N

Saya dalam urgensi menyelesaikan kisah ini secepatnya. Desember memang selalu menyeramkan. Doakan saya.

0 komentar:

Posting Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^