12 November 2016

Speech from the Useless

salaaah

Peringatan : Aura negatif. Mungkin bukan sesuatu yang mungkin layak di publikasikan, tapi seri label MUSTRA SMAN1C harus punya akhir yang dramatis.

28 Oktober sudah dipastikan menjadi pentas terakhir kelas XII di ekskul angklung semenjak kabar bahwa bimbingan belajar intensif akan di mulai sejak November. Dan saya punya alasan kenapa LPM acara itu tidak saya buat seperti biasanya. Alasan yang pertama, sebab fokus saya terbagi dengan acara inti kegiatan pada hari itu. Gebyar Literasi apalah itu, namanya panjang banget saya gak hafal.

Literasi, ya? Seharusnya ini membangkitkan minat saya dong? Memang, banget malah. Apalagi saya ikut lomba resensi. Tapi secara keseluruhan saya kecewa. Acara yang diwarnai dengan kegiatan wirausaha itu banyak membawa stress dan bikin saya ngerasa bersalah kalau harus bahagia karena alasan pribadi. Selain itu, entahlah, saya hanya tidak bisa merasakan kalau acara itu adalah acara literasi. Terlalu banyak musik, ice breaking, dan tetek bengek lainnya.

Sementara untuk penampilan angklung saat itu sendiri, saya tak bisa berkomentar banyak. Ada kebanggan tersendiri karena untuk pertama kalinya semenjak saya menjabat, penampilan itu di kondekturi oleh Icha. Walau kenyataan menyakitkan bahwa itu mungkin pengalaman pertama dan terahir bagi saya. Tentu faktor ini juga menyebabkan aransemen kami tidak sehebat gubahan Kak Uji, bahkan konon hal ini menjadi suatu masalah tersendiri, yang kemudian ngebuat saya agak sakit hati (tapi saya yakin ini cuma salah paham aja). Tapi tetap saja, itu pengalaman yang berbeda. Pengenalan pertama pada anak kelas sepuluh dengan makna digeder, serta saringan siapa yang benar-benar—apa istilahnya—setia(?).

Tapi yang mau saya bahas di sini bukan hanya kejadian tanggal 28 Oktober itu. Saya mau ngomel, bongkar aib, serta mengeluh soal sepuluh bulan terakhir.

Menjadi ketua angklung, jujur saja, memberi dampak buruk bagi hidup saya.

Semenjak pertama kali menjabat, saya sadar saya memegang sebuah tanggung jawab yang gak kecil, tapi saya benar-benar gak tau sama-sekali tentang apa yang harus saya lakukan. Hubungan saya dengan kakak kelas maupun adik kelas saat itu, benar-benar kaku. Lalu ketika semua tidak berjalan dengan baik, saya depresi.

Ditambah lagi, saya dikeliling orang-orang hebat. Apa ya? Ada isu kalau kreativitas jarang sejalan dengan eksak. Omong kosong! Orang-orang disekitar saya ajaib, dan saya merasa terpencil karena isu itu berlaku pada saya. Awalnya, saya merasa sendirian, orang-orang pergi mengurusi urusan mereka sendiri. Tidak peduli. Bahkan meski saya berteriak. Dan saya tidak bisa marah, saya ingin memarahi yang pergi, bukan yang susah payah datang dan menghabiskan waktu.

Tapi seiring waktu saya sadar, saya hanya mengurut kepala tanpa melakukan apapun. Orang-orang sibuk, menunggu, dan saya hanya mengeluh. Ah, tapi bukankah saya sudah bilang kalau sejak awal saya bahkan gak tau apa yang saya lakukan?

Ini pembelaan diri, saya tidak menyangkalnya. Pengetahuan saya tentang musik sama sekali nol. Saya bahkan gak ngerti kenapa saya bisa terpilih, atau bahkan di calonkan sekalipun. Oke tidak sepenuhnya, saya bisa menebak, mungkin Kakak kelas merasa akrab dengan wajah saya sekalipun saya tak pernah bicara dengan mereka. Mungkin kontak pesan humas penuh karena saya terus menerus menanyakan kepastian. Atau mungkin ada yang mampir ke LPM penuh protes dan ingin balas dendam. Tapi tetap saja, saya bukan orang yang cocok sama sekali malah untuk jabatan ini.

Lalu, overthingking saya bilang kalau saya ini adalah apa yang mereka sebut sebagai Kuda Hitam. Supaya calonnya tiga lagi, seperti tahun lalu, atau entahlah, saya punya perasaan kalau mereka sendiri tidak seniat itu mencalonkan saya. Hanya saja, ayolah, semua anak kelas XI saat itu pasif. Jadi tak ada pilihan, belum tentu dia kepilih juga.

Itu suudzon parah, tentu saja. Maaf ya kak.

Seperti yang saya bilang, Menjadi ketua angklung, memberi dampak buruk bagi hidup saya. Tapi bukan dalam arti yang jelek. Itu seperti sebuah kritikan yang membangun, hukuman yang mendidik, obat pahit untuk si sakit. Tapi tetap saya tidak enak, apalagi sepuluh bulan.

Saya sudah tau kalau namanya berharap pada manusia itu sia-sia. Tapi sepuluh bulan ini saya terus menerus ditampar oleh fakta ini. Manusia, benar-benar makhluk yang sulit dimengerti. Entah bagaimana mereka merasa bisa melakuan segala sesuatu yang mereka mau. Di satu saat mereka berkata dengan mulut berbusa tentang solidaritas, tanggung jawab dan integritas. Disaat lain, dengan entengnya menginjak semua itu dengan alasan sepele.

Saya membicarakan soal datang latihan sesuai jadwal. Tentu semua orang mempunyai prioritas, dan saya tidak sekejam itu untuk tidak mentolerirnya. Saya paham jika ada kegiatan osis yang bentrok, ada yang sakit, ada kerja kelompok, bahkan kegiatan ekskul lain yang lebih keren. Tapi ngantuk? Males? Mau nonton film? Mau beli novel? “ntar aja kak kalo ada event”?

Bahkan dengan semua kebobrokkan saya di bidang musik, saya punya alasan kenapa masih bertahan. Kalian pernah dengar kata punah? Dinosaurus punah, burung dodo punah, orang jepang yang memiliki kemampuan ninja hanya tinggal satu orang. Dan bukan hal fisik saja, banyak ragam bahasa dan budaya punah hanya karena sudah tak ada yang pengikutnya lagi. Manusia tidak akan pernah melihat mereka lagi. Ah, memang kenapa? Ini jaman modern, yang kuno-kuno memang lebih baik hilang saja.

Budaya adalah harga diri bangsa. Hal terakhir yang bisa kita korbankan untuk gengsi. Lagipula, kuno dan modern itu masalah perspektif saja. Saya tidak menampik banyak yang salah dengan negara kita, tapi bukan berarti kita gak bisa berbuat apa-apa. Kita bukan sekedar penerus bangsa. Kita adalah pembangun bangsa, saat ini, detik ini juga, tak perlu menunggu untuk berkarya.

Bermain angklung itu sederhana, dan itulah kenapa saya memilih masuk ke ekskul ini. Mempertahankan budaya. Saya tidak mau jadi orang munafik yang menulis ini di salah satu tugasnya dan tidak melakukannya.

Tapi apa yang saya bisa harapkan dari manusia? Saya tidak bisa berharap bahwa semua orang sejalan dengan saya, mempunyai niat mulia mereka masing-masing ketika mendaftar alih-alih menjadi orang yang numpang tenar dengan ikut tampil tiap ada event.

Namun saya bersyukur menemukan emas diantara kubangan lumpur. Selalu ada hikmah dalam setiap kejadian bukan? Dan saya rasa inilah dia. Di saat-saat tersulit, kita tau siapa teman sejati. Dia yang tak pernah memperkeruh suasana dengan ikut mengeluh, dia yang tidak mendorong terlalu jauh, alih-alih melebarkan tangan siap menangkap kala jatuh. Orang yang mengerti, bahkan menghargai prinsip hidup saya yang sok  idealis ini. I’m really glad to meet them.

Akhir kata saya hanya ingin minta maaf dan terimakasih, orang bilang dua kata ini sebaiknya tidak disatukan, tapi biarlah.

Maafkan saya yang tidak berguna ini, maafkan saya yang tidak berguna ini, maafkan saya yang tidak berguna ini. Maafkan juga kata-kata menyakitkan yang terlontar dari post ini, kalian boleh sebut saya pengecut sebab tidak menyatakannya secara langsung, tapi kemampuan verbal saya memang rendah, dan, ya, saya memang pengecut.

Selain itu terima kasih. Untuk kalian yang menghargai prinsip saya, untuk kalian yang menghargai saya, untuk kalian yang meluangkan waktu da tenaganya untuk kepentingan bersama. Terimakasih banyak.

Kita pembangun bangsa, benar? Pikullah beban itu seperti saya memikulnya, jangan dianggap enteng, saya mohon. Sudah cukup banyak yang meremehkan budaya, terlalu banyak. Dunia ini jahat, dan saya tak tau bagaimana mengubahnya, tapi semoga dengan kebaikan-kebaikan kecil kita, kita bisa mempercantiknya laksana bintang di gelap malam.

N.B

Saya sudah mikirin struktur pos ini sejak lama sekali. Dan karena baru ditulis hari ini, saya melupakan banyak hal.

Not really, but you get what I mean

Butuh beberapa waktu sebelum saya bisa tenang, setelah menghadapi satu lagi pemandangan menyebalkan. Biasanya gak selama ini sih, tapi mungkin karena terasa anti-klimaks saya jadi lebih emosional.

Daripada itu, saya ingin mengklarifikasi beberapa hal. Tentu, menjadi terpilihnya saya menjadi ketua angklung mungkin sebuah kesalahan. Tapi yang paling penting, saya gak menyalahkan siapa pun. Lalu, pada akhirnya semua ini sudah terjadi, dan bagian dari takdir hidup saya. Jadi, lets get over from this whining rn, shall we?

Kamu sebenernya mau ngomong apa sih, fat? Begini-begini, setelah perasaan saya membaik, saya kembali memikirkan semuanya perihal mustra ini. Saya tau, itu mungkin bukan pilihan yang bagus mengingat saya mungkin bisa kepikiran lagi, tapi kali ini saya memandangnya dengan sudut yang berbeda.

Sama seperti setiap saat saya menyetrika baju SMA, the thought of ‘sh*t, I AM at the end of HS’ pops up and gave me exsistential crisis. Tapi hal ini sekaligus memaksa saya flashback tentang apa saja yang sudah berlalu, untuk apa saya membuang waktu selama ini.

Waktu sertijab kemarin, Icha bilang sesuatu tentang “seharusnya ini acara sedih, soalnya kek Fatiah bukan ketua kita lagi” saya hanya meringis tentang betapa ironisnya kata-kata itu. Sebab saya sejujurnya senang pada akhirnya bisa bebas dan tidak menciptakan lebih banyak kekacuan, dan saya yakin justru itulah yang terbaik untuk mustra. Tapi setelah dipikir-pikir saya seharusnya memang sedih, namun bukan karena saya bukan lagi ketua. Simply, karena saya bukan lagi bagian dari mustra.

Saya bukan lagi bagian dari mustra, saya mengalami jeda dalam sebuah misi melestarikan budaya, malah mungkin akan menjadi pengkhianat saat bergabung dengan industri kimia suatu saat nanti (aamiin). Dan itulah saat saya akhirnya merasa amat bersyukur tanpa merasa perlu dikasihani.

Maksud saya, bagaimana akhirnya saya bisa bergabung dengan mustra saja bisa disebut lucu. Di formulir pendaftaran sekolah saya hanya melingkari pilihan Pramuka dan Rohis sebab kedua hal itu memang wajib. Tapi ketika diminta memilih ekskul lain, saya bahkan tidak memilih mustra. Wait, what?

Benar pemirsa, saya tidak memilih mustra, sebab memang tidak ada pilihannya. Kamu milih apa, fat?—err—saya milih padus—dengan niat busuk gak bakal ikut—Lalu saya amaze terhadap sebuah penampilan pas demo ekskul.

Waktu itu tim angklung kolab bareng padus, dan itu kereeeen. Saya bertanya pada Hania mengenai pilihan ekskulnya, dan dia jawab belum tau. Lalu, entah siapa yang lebih dulu mengusulkan, kami sepakat untuk ikut angklung. Tapi, eh, tapi kok ini gak ada brosurnya? Mana brosurnya, mana?

Maka dengan hopeless, kami memutuskan ikut degung. Seandainya kami sedikit lebih pandai bahasa Sunda, kami gak akan sesedih itu sebab di brosur degung itu jelas-jelas tertulis kalau di degung juga belajar angklung.

Di kelas saya saat itu, X-3, rasanya hanya saya sendiri yang ikut degung. Sampai dalam suatu pelajaran BK, seseorang menghampiri meja saya dan menyapa dengan gaya ramah. Kira-kira dia berkata ‘hai! Ikut degung juga? Nanti sabtu bareng ya!’ dan orang itu tak lain-tak bukan adalah ... jeng-jeng-jeng Mbip!

Tak lama, saya bertemu orang-orang lain dan menawarkan fotokopian brosur degung itu lagi (saya gak ingat kenapa saya bisa punya banyak) Dan hari sabtu akhirnya datang dan kami latihan pertama kali. Suasananya canggung banget waktu itu. Tapi yah, saya seneng belajar hal baru. Saya menyentuh jenglong untuk pertama kalinya seumur hidup dan semua soal koordinasi dan struktural ini bikin saya merinding gak jelas—in a good way, of course—.

Sayang latihan degung itu gak lama, karena kita lalu belajar angklung juga. Dan waktu itu juga sama berkesannya. Hujan deras banget di luar, jadi meski jadwal latihan udah lewat kita masih desek-desekkan main angklung di rukes sman1c yang lama. Kondekturnya Kak Asha waktu itu, kita main lagu-nya Bruno Mars sama Geisha.

Ngomong-ngomong latihan buat pertama angklung saya dulu juga rasanya berkesan banget. lagunya Ignorance sama lgu Kotak, saya lupa judulnya. Terutama ketika waktu saya pulang dan tertidur di angkot, saya kira saya kecapean banget nyampe mimpiin lagu itu. Padahal emang angkotnya muter lagu itu.

Terus juga tampil di perpisahan yang riweuh gila. Saya lupa bawa ciput ninja item akhirnya harus relain ciput biasa saya di robeek. Atau karena ngantri make up dsb. Pas sertijab tahun sebelumnya juga lucu banget. Kak Asha hebat banget promosinya, saya sakit perut kalau inget.

Yaah, yang mau saya bilang cuma. Meski saya baru aja ngungkapin stress selama setahun terakhir. Saya gak lantas ngelupain semua hal seru yang udah saya alamin selama dua setengah tahun ini.

Dan justru semua yang gak enak itu yang bikin yang enak jadi lebih nikmat kan? Maksud saya, setelah pusing mikirin ini-itu pas persiapan, atau kesal karena keterlambatan, atau dag-dig-dug menunggu panggilan, atau apapun perasaan negatif itu, begitu naik panggung liat semua orang ngeliatin kita dan sadar kalo kita udah ngelakuin semua yang kita bisa, yaah, it’s literally a good feeling.


Saya bersyukur bisa masuk mustra, saya bersyukur bisa ketemu sama banyak jenis orang serta banyak jenis perasaan, dan itulah hal paling penting yang dunia perlu tau.

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^