9 November 2016

Sekeping Proses Kreasi Buku Tahunan


5 November 2016, sejujurnya agak tegang juga menghadapi hari itu. Soalnya bakal jadi pengalaman sekali seumur hidup, dan bayarannya juga gak murah.

Saya bangun pagi sekali, yaah, untuk ukuran hari Sabtu gak tidur lagi setelah subuh itu sebuah perjuangan. Tapi saya sudah bertekad (ceilah) untuk dateng pagi hari itu. Dari yang saya dengar kemarin, ketika pembagian rapot tengah selesai dan kami sekelas berusaha menyelesaikan properti, diharapkan bahwa pemasangan dekorasi dari pagi saja.

Lagipula saya diberi tanggung jawab untuk membawa bendera, dan ada satu untainya (kok jadi inget biologi) yang belum di pasang. Saya pikir kalau saya datang dzuhur sebagaimana pendekor bantuan yang lain, pemasangan satu untai ini pasti membuang waktu.

Tapi sayangnya—atau mungkin untungnya—pas saya berangkat jam delapan itu udah keburu sejalur ke puncak. Padahal biasanya jam delapan itu masih sejalur ke Ciawi dalam rangka penghabisan yang mau sejalur ke bawah, baru setelah itu sejalur ke atas. Baiklah, gak ada yang bisa saya lakukan, saya kan gak mungkin nangis kejet-kejet tengah jalan cuman gara-gara takut ngecewain teman-teman yang belum tentu juga ngarep sama saya. Jadi saya pulang. Kemudian menunggu sampai pukul sebelas, karena dugaan saya jam segitu lah arus ke Ciawi akan di buka.

Ngomong-ngomong, sebagai manusia yang bermanfaat (hueekk) saya menghabiskan waktu menunggu ini untuk ngambil #bookstagram di lapangan jemuran. Buku Hercule Poirot and Greenshore Folly ini merupakan draft awal dari novel Dead Man’s Folly yang pertama kali di terbitkan 5 November 1956 (mindblown). Pokok isinya kurang lebih sama, cuma lebih singkat dan ada tambahan tulisan dari Matthew Prichard, cucu sang ratu kriminal dan kutipan dari buku John Curran, penulis biografinya yang terkenal.

Saya harus menahan malu dipandang aneh sama tetangga ketika berlutut untuk mengambil foto ini.

Dan jam sebelas akhirnya datang, dan saya melangkahkan kaki ke luar rumah. Begitu sampai di gang depan ternyata sejalur masih belum di buka. Untung ada angkot yang juga sedang ngetem sambil menunggu arah Ciawi di buka, jadi seenggaknya saya gak perlu nunggu sambil berdiri selama setengah jam kemudian.

Saya akhirnya sampai di Villa Kuda, lokasi photoshoot kami, dan lega tapi sekaligus agak kaget saat melihat Sindy di pos satpam depan. Lega karena rupanya saya tidak sendiri, kaget karena, kemana semua orang?

Menurut Sindy, banyak yang sibuk dengan properti di rumah Cici, dan ada juga yang sibuk di salon. Kami berdua menunggu, dan kemudian ada Sekar dan Salsa yang datang. Kami memutuskan untuk masuk saja, lagi pula kami sudah booking jadi seharusnya tidak apa-apa. Kemudian satu persatu dari kami mulai shalat dzuhur.

Saat kembali dari shalat dzuhur, banyak yang sudah datang. Termasuk Mbip yang notabene salah satu yang mengurus perihal buta ini. Tapi jujur saja saya memilih untuk tidak dekat-dekat dengan Mbip yang sedang serius itu. Kalau kalian kenal Mbip, kalian pasti mengerti.

Tapi bukan berarti saya gabut. Saya memutuskan untuk membantu meniup balon—yang anehnya ternyata sulit, saya menyerah di balon ke dua—sambil menginterogasi Zenith perihal gitar yang rancananya akan di pakai untuk  photoshoot nanti. Sementara, biola, sebagai alat musik yang kami pikir paling ribet sudah duduk dengan manis hasil meminjam dari Rifal dan di bawa oleh Salwa. Kahun juga tidak ada di tempat. Saya menghubungi Ucup perihal hal ini, dan dia sendiri tidak tahu. Akhirnya semua beres dengan Ucup yang secara dadakan meminjam Kahun, dan Lidya yang membawa gitar.

Balon sudah di tiup semua, dan Fakhri yang konon akan membawa pompa gas untuk balon-balon itu malah baru datang. Ah tapi yang lebih penting, akan diapakan balon-balon ini? Kami inisiatif membawanya ke Mbip yang sedang mendekorasi panggung. Tapi dia menegur dengan bertanya kenapa semua balon di bawa kesini? Jadi kami membawa balon ke set yang satu lagi.

Set yang saya maksud adalah sebuah ruang duduk dengan kursi-kursi dan meja-meja bulat yang rendah. Di sana banyak yang sedang sibuk memasang bendera pada jendela. Saya menumpahkan balon-balon itu dan ikut membantu pemasangan bendera itu. Lalu Mbip datang, kami mengerubunginya dengan pertanyaan karena konsep dekorasinya sama sekali tidak kami pahami. Mbip tidak menjawab, dan membetulkan bendera tanpa suara sekaligus menegur keberadaan balon di set itu.

Setelah berdiam diri dengan kebingungan, saya menangkap keberadaan Ucup. Yang kemudian mencari Yulia dan tiba-tiba saja kami bertiga sudah mengurus set panggung. Entah kemana orang-orang yang tadi sibuk di set ini.

Dan itu pekerjaan berat, terutama karena saya harus bulak-balik dari set satu ke set yang lain hanya untuk mengambil double-tape atau bertanya tentang beberapa hal. Jam hampir menunjukkan pukul empat, kami belum shalat ashar lalu juru fotonya ternyata sudah datang. Sebagai kelompok 1, kami di buru waktu, tapi akhirnya semua beres. Dan saya dan Yuli bergegas shalat, berganti pakaian dan membubuhkan make up seadanya.

Rupanya pengambilan foto itu  lumayan memakan waktu. Setelah mengambil foto bersama-sama beberapa kali, lalu foto sendiri-sendiri, kemudian memilih foto yang menurut kami bagus, barulah diambil foto selanjutnya. Sang juru foto berpesan agar kami jangan dulu berganti pakaian, sebab akan ada foto bersama di akhir.


Lagi, saya menunggu. Berfoto-foto, ikut membantu dekorasi set lain, menjadi latar pengambilan tema foto dansa. Agak kaget juga tahu-tahu sudah maghrib dan semua ini belum selesai. Untung kemudian makanan di hidangkan, setidaknya kami tidak perlu mendengar keluhan lapar dari yang lain lagi.

Saya sempat mendengar kalau saat malam, set panggung itu akan di isi band. Dan setelah Yuli berkomentar soal penyanyinya yang gak masuk nada dengan musik, kami sekelas memintanya untuk bernyanyi. Sambil bercanda berkata agar jangan membawakan lagu ciptaannya yang kurang lebih isiny tentang larangan pacaran, karena ini malam minggu. Setelah dipaksa akhirnya dia mau juga. Kami mengerubunginya dan ikut bernyanyi di sekitar panggung. Setelah itu Ambar dan Cici yang bernyanyi, kami kembali mengerubungi panggung.

Yuli on the stage, saya post foto ini tanpa izin, jangan temenin saya

Malam semakin larut, sekarang saya sadar ada sesuatu yang berbeda. Biasanya kalau udah malem dan cape begitu bakal ada orang yang bilang “Fatiah, mukanya udah bete banget” dan sepertinya ini karena semua orang udah bete. Dan seperti ketika saya merasa harus sok dewasa menghadapi orang kekanakkan, dan kekanakkan ketika menghadapi orang sok dewasa. Sepertinya saya tidak menunjukkan wajah sekesal itu.

Padahal banyak sekali yang bisa saya kesali. Misal bedak yang tercecer, harapan palsu tentang alat musik yang sudah komplit, kelelahan soal set panggung, serta make up yang gak terlalu saya suka. Saya kesal, lelah, tapi jujur saja itu menyenangkan. I’m such a masochist, aren’t I?

Akhirnya sesi foto terakhir benar-benar datang sekitar pukul sembilan. Setelah sebelumnya saya kembali mengambil wedges dan hal yang mengerikan terjadi—dan yang paling mengerikan kalian tak akan pernah tau apa itu, sebab saya gak bakal cerita—kami membereskan barang-barang yang di bawa. Kebiasaan buruk saya yang suka membayangkan skenario terburuk di tegur karena saya bilang ‘ah ada ular’ saat kami foto di daerah berumput subur. Dasar mulut nakal.

Kenang-kenangan 😍, tas saya somehow kebakar begitu turun
dari motor Indri. I'm not even mad THIS ACTUALLY AWESOME
Dan pulang! Beberapa orang berganti pakaian dulu sementara saya sudah terlalu lelah. Tapi masalah sebenarnya adalah bagaimana saya pulang dari daerah yang angkutan umum nyaris tidak pernah lewat. Untung Indri berbaik hati mengantar kami sampai Nesaci. Saya, Iis, Salwa, Sindy, dan Uwi lalu pulang, naik angkot Cisarua yang kebetulan lewat.

Sindy turun di seuseupan, lalu di jalan kami membahas tentang barang-barang hilang. Saya sadar kalau bagian depan tas yang tadinya saya isi novel ternyata kosong. Sayang semua orang sudah pergi dari Villa Kuda. Yasudahlah, saya gak mungkin balik lagi setelah susah-susah dapet angkot. Yang menyebalkan mungkin karena angkot itu juga menurunkan saya setelah Salwa turun. Kemudian terpaksa naik angkot yang penuh dengan bapak-bapak, setelah penumpang terakhir turun saya bahkan meminta amang angkot untuk mengantar saya sampai rumah. Dan menyesalinya karena rupanya ongkosnya jadi lebih mahal, tapi yah saat itu jam sebelas lewat lima belas dan saya gak mungin jalan lagi.

Semaleman saya gak bisa tidur, bagaimanapun saya gak mungkin pantes dipanggil pecinta buku kalau saya malah ngilangin buku. Yup, buku yang sama yang saya foto pagi itu. Ditemani dengan sakit tenggorokan, nafas panas, dan mimpi soal teman-teman kelas yang mengamankan buku itu serta selingan mimpi soal seorang ibu yang ingin membunuh anaknya karena anaknya sebenernya adalah monster pohon, anak itu melarikan diri tapi kemudian dimanfaatkan oleh sekelompok ilmuwan yang membuatnya bukan manusia lagi (itu, sejujurnya, adalah pemandangan yang mengerikan).

Saya bangun dengan kepala sakit, cepat-cepat menghubungi Indri mengenai masalah barang-barang hilang. Tapi dia bilang untuk tidak khawatir. Jadi saya bangun dan merapikan barang-barang, serta melakukan rutinitas pagi. Ternyata buku itu ada di dalam tas yang saya gunakan untuk membawa figura, saya tenang, tapi rupanya pensil alis mamah hilang. Yah, setidaknya harapan ada yang membawa pensil alis lebih besar daripada novel.

Dan begitulah, saya kemudian duduk menulis LPM ini dalam keadaan demam. Kenapa? Sebab orang seperti saya lebih mudah melupakan kejadian berkesan yang menyenangkan.


0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^