19 November 2016

(Review) Steins;Gate


Pendahuluan


Pada dasarnya, saya suka kisah fiksi, entah apa bentuknya. Baik itu, novel, film, bahkan sekedar klip. Dan beberapa waktu ini saya tertarik dengan anime. Yaah, gak bisa dibilang baru-baru ini juga sih, soalnya kebiasaan nonton anime ini kebetulan ‘pernah’ difasilitasi stasiun lokal kita ter’cinta’. Kalian ngerti lah maksud saya, walau itu artinya memang gak terlalu spesial.

Meski begitu, tetap saja, hobi satu ini gak terlalu banyak peminatnya. Maksud saya, kalau-pun ada saya gak yakin saya bakal dapat tempat. Kebiasaan mengkategorikan manusia dengan teror masa lalu soal ‘fake-fans’ mencegah saya bercerita pada siapa pun. Untungnya ada ‘Ai yang sudah lebih dulu ‘menggilai’ bidang ini sebelumnya, dan saya bertemu teman baru bernama Dewi.

Sayangnya, karena kami bertiga beda kelas semua dan memang gak seakrab itu jadi susah kalau mau diskusi—what?—lagipula sama seperti kecintaan saya pada buku, perbedaan genre favorit kadang jadi halangan. Akhirnya saya fangirling sendirian, dan itu gak enak.

Sebenernya solusinya mudah aja, saya tinggal tuangkan dalam tulisan sebagaimana biasanya. Tapi moral saya terganggu dengan kenyataan bahwa akses saya menonton anime ini illegal. Ya, saya download file gratisnya di Internet. Saya yang sering koar-koar tentang buku bajakan ini download file illegal di Internet.

Saya dilemma, merasa gak pantes komen tapi sekaligus bergolak soal anime yang saya tonton. Rasanya bakal gila—yah, gak juga sih—jadi, setelah mencari beberapa pembenaran, saya akhirnya menaruh sisi sok idealis saya dan mulai menulis. Toh, yang satu ini juga penting sebagai klarifikasi.

Sebelumnya, saya ingatkan lagi kalo saya sama sekali gak pro dalam hal ini. Saya bahkan gak nonton terlalu banyak, jadi kalau kalian baca postingan ini buat cari review berkualitas, kalian salah tempat.

Steins;Gate

Oke, langsung saja. Saat ini, ketika saya menulis ini, saya baru saja menamatkan OVA dari Steins;Gate.

Ya, saya tau ini anime lama, dan saya juga tahu masih ada satu episode 23b yang belum saya tonton. Soal satu episode itu, sengaja gak saya tonton dulu karena saya gak mau bias sama cerita aslinya. Dan soal kenapa saya nonton ini ... jadi gini.



Saya pernah menulis cerita bertema time-traveler berjudul Tujuh Detik Menghilangnya Aku yang merupakan fan-fiksi dari kasus Agatha Christie’s Missing Eleven Days. Lalu salah satu pembaca wattpadnya bilang begitu. Dan ternyata setelah saya browsing itu sebuah game yang di adaptasi jadi anime 2011 lalu. Bahkan meski sudah tau fakta ini lumayan lama, saya baru menyempatkan diri buat nonton bulan November ini. Lagipula, saya baru namatin Erased, yang punya tema time-traveler dan rasanya bakal bosen nungguin episode Bungou Stray Dogs season 2 yang tayang seminggu sekali.

Jadi saya menonton.

Kesan pertamanya, sejujurnya gak begitu bagus, visualnya gak memukau Erased yang baru saja saya tamatin (dan ini saya maklumi mengingat tahun produksinya) dan saya syok sama karakter dan ceritanya yang, sumpah gaje parah. Padahal saya udah masang ekspektasi tinggi gara-gara banyak yang bilang ini anime bagus dan masuk juga dalam Anime Recommendation-nya Dan Howell. Tapi itu bagus juga sih, saya akhirnya nurunin ekspektasi untuk terpukau setelahnya.

Hal pertama yang saya ngeh waktu nonton sih tentang betapa miripnya karakter-karakternya sama Anime When Supernatural Battles Became Commonplace, bukan berarti saya nuduh njiplak ato begimana (apalagi WSBBC masih baru-baru ini). Malah sebaliknya saya malah seneng gara-gara ngerasa ketemu temen lama. Yang mirip tuh, jelas karakter utamanya, Okabe yang mirip Andou, sama-sama chuunibyou tapi rela berkorban. Lalu, Kurisu dan Tomoyo, yang sama-sama tsundere, malah dua-duanya sama-sama berambut merah. Mayuri bahkan bisa dimirip-mirip sama Hatoko.


Ada elemen lain juga sih, semacam nama Kiryuu tapi ini gak penting. Dan yang paling saya suka juga koneksi antara anime ini sama Bungou Stray Dogs  dan Erased. Atau mungkin tepatnya sama sastra Jepang secara umum. Soalnya BSD itu memang udah jelas-jelas pake nama-nama sastrawan dan karya-karya mereka, yang akhirnya bikin saya penasaran. Dan melihat banyak elemen sastra di anime ini, bikin saya salut sendiri sama penghormatan budaya orang Jepang.

Yang saya maksud ini lo. Pertama, nama Rintarou yang jadi nama tokoh utama, lalu seiyuu Dazai ternyata sama dengan Okabe. Dan Akutagawa. Yang nonton BSD pasti tau tokoh jahat tapi kesannya kayak korban ini. Kekuatannya di sebut Rashomon yang juga adalah judul karya terbesarnya. Dan ternyata setelah saya cari, ada pula karya lainnya yang berjudul Kumo no Ito

Kumo no Ito

Dan hal ini jadi salah satu elemen penting di Erased, dan bahkan disebut juga di SG. Kecil sih, tapi tetep aja akhirnya saya jadi searching sana-sini dan dapet ilmu (ceilah). Ngomong-ngomong soal laba-laba, baik Erased dan SG sama-sama menampilkan kupu-kupu. Awalnya, saya juga pikir itu Cuma gara-gara laba-labanya. Tapi ternyata, olala, ada hubungannya sama hukum fisika.

Bener-bener deh.

Untuk ceritanya sendiri, seperti yang sudah saya bilang. Episode awalnya cukup mengecewakan, tapi setelah paham karakternya menonton episode berikutnya jadi tidak sulit. Sampai episode sepuluh, kalau tak salah, kisahnya masih berputar di pengumpulan karakter dan masalah. Dan khasnya anime, karakternya gak imbang dan ujung-ujungnya harem.

Tapi di episode sebelas, ketegangan mulai meningkat dan kisahnya menampilkan apa yang bisa diharapkan dari cerita time-traveler. Bahkan saya mengangkat pesan yang sama di cerita time-traveler saya itu. Keegoisan manusia yang menentang waktu itu salah. Kalau dalam 7DMA, semuanya jelas salah diciptakannya mesin waktu. SG, lebih spesifik soal salahnya ingin mengubah takdir. Pada akhirnya dia harus menghadapi penderitaan dari keegoisannya, dan berjuang dengan keegoisan yang lebih besar.

Intinya, saya suka banget sama anime ini. Meski romance antara Kurisu dan Okabe kurang kerasa perkembangannya, juga visualnya itu. Tapi tetep aja, dari segi cerita, permainan emosi, dan sisi sci-fi nya, gak salah banyak yang muji anime ini.

Akhir kata, saya kok bingung sendiri ini review macam apa, alih-alih nilai animenya malah cerita gimana perasaan saya pas nonton. Ah, tapi kan kalian liat label pos ini ngalor-ngidul, jadi bebas laaah.

***

Beberapa menit setelah selesai nulis ini, saya nonton episode 23b, dan akhirnya inget beberapa hal yang ingin saya tambahin. Saya memuji betapa saling terkaitnya semua tokoh baik minor maupun mayor dalam anime ini, nyaris tak ada yang sekedar cuma lewat doang.

Dan episode 23b ini, mungkin semacam pemuas untuk semua shipper Mayuri dan Okabe alih-alih Okabe dan Kurisu ya? Memang sih, seperti yang saya sebut sebelumnya, perkembangan romance antara Okabe sama Kurisu ini kurang halus, terkesan tiba-tiba. Lagipula, inti perjuangan Okabe kan menyelamatkan Mayuri dari ‘takdir’ kematian. Jadi kalo jadinya sama Kurisu emang agak aneh. Tapi teuteup, ending 23b malah lebih rese dari 23a, saya bahkan gak ngerti apa maksudnya itu.

Ngomong-ngomong, liat kedua episode beda versi ini bikin saya jadi mikir soal keajaiban niat. Motivasi Okabe di 23a, kan dirinya di masa depan, dan dirinya di masa depan itu kan gak bakal ada kalo gak ada dia di masa sekarang. Dengan kata lain, keberhasilannya di episode 23a itu sebenernya karena ada setitik harapan juga meski keliatannya dia udah putus asa banget, sedang di 23b itu... yaah, itu balasan Mayuri dari perjuangan Okabe selama ini kan.

Kalau secara logika, saya lebih suka berakhir di episode 23b, soalnya ya memang lebih rasional (tapi tetep aja, apaan coba endingnya itu). Tapi karena sebenernya, jauh dilubuk hati saya ini drama-queen, 23a yang menang.


Tapi serius lo, niat itu luar biasa ya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^