26 November 2016

(Review) Hyōka

imgsrc

Saya bener-bener suka sama anime ini.

Begitu beres nonton episode terakhirnya, saya bengong beberapa saat dan menghela nafas. Hal yang biasa terjadi ketika mengkhatamkan sebuah dunia imajinasi yang bagus. Seandainya ia buku, mungkin saya malah bakal meluk terus di bawa tidur. Sayang resiko bawa tidur laptop itu besar. Jadi yang saya lakukan adalah memimpikannya. Lumayan juga, seenggaknya saya gak perlu mimpiin film horror yang baru saja saya tonton di hari yang sama waktu itu.

Oke, Hyōka, alias Ice-cream, menceritakan kehidupan seorang siswa SMA Kamiyama bernama Oreki Hōtarō yang punya  motto hidup untuk tidak melakukan hal yang tak perlu ia lakukan dan jika ia harus melakukn sesuatu, dia akan melakukannya dengan cepat. Untuk alasan itu, dia tidak terlalu menonjol diberbagai bidang kehidupan.

Tapi suatu hari ia mendapat surat dari kakak perempuannya yang sedag berada di India. Bahwa, sang kakak mendengar klub Sastra Klasik SMA Kamiyama akan segera dibubarkan karena mereka tidak punya anggota. Sebagai mantan anggotanya, Oreki Tomoe tidak ingin hal itu terjadi. Maka ia meminta Hōtarō agar mau menjadi anggotanya. Hōtarō juga tak bisa menolak, ia tahu benar kakaknya jago beladiri taiho dan aikido.

Namun rupanya, begitu sampai di ruangan Klub, ada seorang gadis yang sudah datang bernama Chitanda Eru. Putri satu-satunya keluarga Chitanda yang punya rasa ingin tahu yang tinggi. Dia memasuki Klub Sastra untuk sutau alasan pribadi. Hōtarō sama sekali tidak terganggu dengan keberadaannya, tentu saja, rasa ingin tahu gadis itu selalu membuatnya melakukan hal-hal merepotkan. Mulai mengenai misteri bagaimana Chitanda bisa terkunci di ruangan klub, lalu misteri mengenai rahasia Klub Sastra Klasik 45 tahun lalu, dan lain-lain. And you how the story goes then.

Pertama, saya nyesel banget kenapa baru nonton anime ini sekarang. Padahal keberadaanya udah cukup lama—2011-2012—dan saya juga bukannya gak tau. Seenggaknya, setiap nyari resensi A.B.C Murders pasti ada yang ngomongin ini. Bahkan beberapa orang yang saya tau juga suka fiksi-detektif pernah ngomongin anime ini di twitter.

imgsrc

kayaknya dulu saya pernah liat ada yang posting foto ini di twitter, lupa siapa
back then, all I was thought is what a weird anime, turns out it symbolize Hōtarō interest in Chitanda

Lalu ngomong-ngomong tema. Yup, Hyōka punya tema umum detektif, dalam balutan kisah school-life dan minim romance. Ini tema yang jarang banget yang saya tonton—maksud saya school-life—soalnya, ujung-ujungnya romance. Dan bukan berarti saya sebenci itu sih sama romance, tapi seringnya alurnya ketebak dan yaah, pokoknya bukan cangkir teh saya.

Nah, Hyōka ini, selain karena minim romance—tapi ada kok, tenang aja—nuansa detektifnya kental banget. Dan salutnya, masih realistis karena karakter-karakternya cuma memecahkan misteri biasa dan bukannya pembunuhan. Maksud saya, saya selalu minder ketika karakter fiksi seumuran saya melakukan hal diluar logika seolah itu mungkin, tapi bukan berarti yang dilakukan Oreki dkk ini juga mungkin sih, tapi seenggakknya gituu. Eh, tapi salah saya juga sih yang bogoh pisun sama genre fantasi.

Dan hal lain yang bikin saya suka sama anime ini adalah banyak banget referensi ke Agatha Christie (yeah, I knew, I’m so lame, and sentimental) mulai dari salah satu judul arc-nya “Why Didn’t She Ask EBA” yang merupakan plesetan dari Why Didn’t They Ask Evans serta jelas-jelas di arc-“Welcome to KANYA FESTA!” yang mengambil referensi dari ABC Murders. Saya seneng juga karena bukunya gak di spoiler waktu Houtarou nanya Mayaka tentang isinya. Satu lagi juga, di ending sebelas episode terakhir, yang Mayaka-nya cosplay jadi Poirot dan latar-nya judul-judul novel-novel misteri terkenal.

I’m such a those annoying gurl, aren’t I?

Meski sederhana, pemecahan kasus-kasusnya sendiri tidak terduga lo. Walau untuk arc “Why Didn’t She Ask EBA” dan “Welcome to KANYA FESTA!” itu saya langsung tau apa motif ‘pelaku’nya, yah, kalau ide utamanya udah tau dari novel Agatha Christie, kan tinggal nebak apa sebenernya keinginan pelakunya kan? Tapi cuma sampe motif sih, saya gak pernah berhasil ikut tahu siapa pelakunya. Dan saya terkejut sendiri rupanya saya suka sama permainan kata-kata dan pemecahan trik di cerita detektif, alih-alih sekedar analisis psikologi-nya.

Karakter-karakternya, juga, yaampun saya cinta sama karakter-karekternya.

Dan bukan karena mereka sempurna, justru sebaliknya, karakter-karekternya realistis. Semuanya punya kekurangan, dan dengan begitu ceritanya berjalan. Saya akhirnya tau darimana ide karakter ‘gak suka bersosialisasi’ di LN wattpad itu muncul, walau saya rasa mereka berlebihan. Tapi ya, karakter Hōtarō yang sering dijadiin ikon depresi di tumblr ini—gak juga sih—memang bisa di relate ama banyak orang ya? Terutama bagi para introvert yang mempertanyakan apa kesendirian mereka sungguh pilihan mereka sendiri atau diberikan orang-orang? Dan kalau itu pilihan, kenapa?, pun kalau orang-orang yang memberikannya, kenapa? (saya ovethingking, maaf)

Hubungan dan perkembangan karakternya juga menarik. Saya tadi bilang minim romance, kan? Dan dengan begitu maksud saya adalah romancenya nyesek. Berbeda dengan SG, perkembangan hubungan Hōtarō-Chitanda ini halus banget, nyaris gak keliatan. Juga Satoshi-Mayaka yang bener-bener gak bisa saya pahami. Perkembangannya, terutama Hōtarō, yang dari apatis mulai peduli dan menurut saya ... apa ya istilahnya, I can’t even, too many feels.

Daritadi ngomongi Hōtarō mulu. Habis gimana ya, dualisme karakter Chitanda, sikap Satoshi—akhirnya saya ngerti kenapa dia gak ngedippin mata sebagai pemanis di lagu ending kedua—dan perasaan Mayaka, bahkan karakter misterius Tomoe—yang wajahnya gak pernah muncul bagai Mrs. Bellum di Power Puff Girls tapi perannya seperti yang disebut Poirot sebagai “setiap detektif hebat punya saudara yang sebenarnya lebih jenius dari mereka”—. Banyak yang bisa dibahas, tapi saya bingung mulai dari mana. Mungkin kalau kalian nonton kalian bakal ngerti, atau enggak? Karena gak ada orang yang pernah membaca buku yang sama, apa ini juga berlaku dengan anime?

Yah, saya yang sama sekali awam soal hal ini cuma bisa komen itu aja.

Ngomong-ngomong, saya juga sempat tertohok sama salah satu bahasan tentang ‘bakat’-nya Hōtarō. Hal ini bahkan di bahas dua kali di dua arc yang berbeda. Betapa orang-orang yang berbakat malah menyia-nyiakan bakatnya dan membuat sakit hati mereka yang berusaha memiliki kemampuan itu. Saya inget betapa saya bingung sama perasaan saya sendiri ketika temen nunjukkin gambar buatan dia—yang bagus sekali—dan bilang kalau itu adalah pertama kalinya dia ngegambar orang. Atau seorang penulis—wattpad yang bukunya dibaca ratusan kali—yang ngaku kalau dia gak suka baca. Sejak saat itu saya terang-terangan bilang kesal atau iri ketika menunjukkan kekaguman.


Tapi pada akhirnya kita gak pernah bisa mengubah orang lain kan? Maksud saya, lebih baik fokus pada diri sendiri, bersyukur dan melakukan yang terbaik yang kita bisa. Apa kata orang? Hasil tak pernah mengkhianati usaha.

ōōōōōō

0 komentar:

Posting Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^