2 November 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 15

Leon bertepuk tangan tiga kali. Lily memicingan matanya, memperhatian pria itu dengan seksama.

“Ingatan yang tajam, otak yang cemerlang, aku jadi berpikir sayang sekali kau meninggalkan Lacertuor” ujarnya jujur.

“Untuk apa kau kemari? Membungkamku?” Lily mempererat pegangan pisaunya. Makhluk dihadapannya ini adalah salah satu dari empat ancaman terbesar yang ia tahu.

“Awalnya, ya, tapi melihat tindakanmu barusan, aku jadi berubah pikiran” kata Leon sambil menoleh ke arah Fauzi. “Maksudku, kau mungkin tidak semenyedihkan yang kukira sebelumnya”

“Kalau kau sudah selesai, pintu keluar ada di sebelah sana” desis Lily.

Leon mengangkat sebelah alisnya, “Itu saja? kau tak berniat melaporkanku ke polisi atau semacamnya? Karena sebenarnya, hanya itu ancaman yang kupikir ada padamu”

Lily mengerutkan kening, pria ini, apa dia benar-benar menggunakan otaknya untuk berpikir? Kalau Lily melapor pada polisi, ia juga harus bercerita tentang Lacertuor, tentang bagaimana dirinya sendiri pun terlibat di dalamnya. Dengan kata lain, ia juga akan habis.

“Jadi begitu ya? Enam bulan berlalu dan omong kosong idealisme itu masih belum cukup untuk membuatmu berani” ucap Leon seolah bisa membaca pikirannya. “Kau mungkin berpikir aku bodoh, tapi coba lihat dari sudut pandangku. Seorang plonco rendahan mengetahui semua rahasia Lacertuor tapi tak cukup nyali untuk mengatakan kebenaran setelah mengusir dirinya sendiri dari Lacertuor. Bagiku itu hanya berarti satu hal, hidup dalam ketakutan. Entah kau akan di kejar polisi, atau dikejar oleh kami”

Leon berdiri, melangkahi meja tamu dan menumpahkan gelas-gelas jus jeruk di atasnya, kemudian duduk seenaknya di atas meja. Ia bahkan nampak tak peduli kalau ujung pisau Lily sudah tepat berada di perutnya.
                                                                                                                                                        
“Aku kasihan padamu”

Suara Leon melembut, Lily memandang wajahnya. Mata cokelat, kulit pucat, dan rambut merah. Awalnya Lily juga tidak mengenalinya di pintu depan tadi, baru ketika ia mendengar suaranya ia yakin dia orang yang sama yang mencuri flashdisknya, orang yang sama yang membuat tawanannya menghilang tanpa jejak. Diapakan tawanannya itu oleh orang ini? Mereka selalu bilang itu hal yang mengerikan, bahwa lubang dikepala bahkan lebih baik. Tapi apa maksudnya?

Leon menangup tangannya, tangannya sedingin es. Lily tau ia bisa menikam orang ini saat ini juga, darah akan mengalir membasahi karpet rumahnya. kemudian ia bisa membersihkannya sebelum kak Owl pulang, seolah tak ada yang pernah terjadi. Setelah itu mengantar Fauzi pulang sebelum ia sadar dan berkata bahwa ia bermimpi.

“Aku bisa menolongmu, Lily” kata-kata Leon memotong lamunannya. Tunggu, apa dia baru saja melamun? Tiba-tiba saja, ia sadar kalau pengangan pada pisaunya mengendur. “Yang harus kau lakukan” katanya “hanya kembali pada kami”

Lily mengumpulkan kekuatan pada lengannya, bersiap mendorong. Tapi entah sejak kapan tangan Leon sudah ada dibahunya, dan mendorongnya kebelakang, membatalkan apa saja yang baru ingin Lily lakukan.

“Kau tidak mengerti” orang itu agak berteriak sekarang “membunuhku memang membuktikan kau sanggup, tapi begitu aku mati, itu tak berguna lagi. Sebaliknya,” tangannya yang lain menarik tangan Lily melewati samping pinggulnya “membunuh anak itu berarti kesetiaan. Dan hei, kau sudah melakukan setengah pekerjaan itu dengan membiusnya”

Mata Lily membelalak, ia mendorong sekuat tenaga. Tapi Leon tidak bergeming. Malahan, tangguban tangannya semakin kuat, tak terasa pisau itu sudah berbalik arah pada Lily.

“Hati-hati, kau bisa membunuh dirimu sendiri” katanya dengan suara yang amat meyakinkan. “kau lebih berguna di Lacertuor, dari pada di sini”

Lily meringis, ia tak tau harus berbuat apa.

“Apa-apaan ...” ungkapan keterkejutan itu tidak datang dari Lily, maupun Fauzi, apalagi Leon. Malah, asalnya dari pintu depan. Wajah horor Profesor Owl meneliti ruangan itu, Fauzi yang pingsan, jus jeruk yang berantakkan, dan paling parah, ujung pisau di perut Lily.

Leon tak buang-buang waktu. Ia langsung menikam sedikit dari pisau dapur itu ke perut Lily. Terkejut, Lily kehilangan kekuatan pada tangannya, fokusnya teralihkan pada rasa sakit di perutnya. Leon menangkap tubuhnya yang terjatuh, menopang berdiri tanpa melepaskan pisaunya.

 “Berhenti!” Leon tiba-tiba berteriak, suaranya berdenging dalam telinga Lily. “...kan memperdalam lukanya.”

Jawaban Owl terdenger lemah, “Leon? Kau kah itu? Ke—kenapa?” Lily mengerti, Owl selalu mengenal Leon sebagai temannya. Sikap naif kakaknya itu seringkali membuatnya khwatir, dan benar saja, Leon lah orang yang mengumpankan keluarganya pada Rano.

Leon tidak menjawabnya, ia malah kembali berteriak. “Jatuhkan ponselmu, lalu bawa Fauzi ke mobil. Dan aku akan membiarkan adikmu ini hidup.”

Membiarkannya hidup. Lagi-lagi kalimat itu, lima tahun terakhir merupakan neraka bagi Lily. Beban moral yang ia tanggung karena makan uang haram. Dan untuk apa semua itu? Bertahan hidup? ‘Jangan sampai dia kabur, tutup mulutmu, jangan buat kesalahan, bunuh dia, dan kubiarkan kau hidup’ Tiap detik kehidupannya dalah karena kematian orang-orang tak bersalah,  tapi untuk apa dia hidup? Untuk membuat lebih banyak kesalahan? Lebih banyak kematian? Membuat orang-orang ini lebih berkuasa? Menghancurkan dunia?

“Leon,” Lily balas berbisik “Kau akan membiarkanku hidup untuk membunuh Fauzi kan?” Lily tidak sanggup melepaskan diri dari Leon, ia juga tidak bisa mencabut pisau itu dari dirinya sendiri. Ia tidak bisa menyelamatkan diri saat ini, kecuali Leon melakukannya. Tapi bukan berarti ia tidak bisa melakukan apapun “Tapi bagaimana jika aku yang mati?” Lily bisa menjatuhkan dirinya sendiri ke depan, dan dia melakukannya, dia memperdalam lukanya sendiri. Luka yang tadinya tidak seberapa itu kini menjadi fatal karena merobek organ dalamnya. Tak aka butuh lama sampai Lily mati kehabisan darah. “Kak, selamatkan Fauzi!” adalah pesan terakhirnya.

Owl menyaksikan itu dengan mata terbelalak, Leon sama terkejutnya dengannya—itu bukan situsi yang sering ia hadapi, kehilangan kendali—tapi itu tak akan bertahan lama. Dengan tidak adanya dilema saat ini Owl bisa segera menerjangnya, pukulan di bawah rahang langsung membuatnya tak sadarkan diri. Ia menatap mayat Lily sesaat, matanya terasa panas tapi ia harus segera pergi sebelum Leon sadar. Bagaimana pun ia bukan tandingan Leon.


Fauzi tertidur begitu pulas sampai ia tak terbangun meski dengan segala keributan tadi. Dengan jus jeruk yang ada di lantai, ia segera sadar dengan apa yang baru saja terjadi. Buru-buru diangkatnya Fauzi dan di dudukkan ke dalam mobilnya, pemberhentian berikutnya, rumah sakit.

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^