1 Oktober 2016

Wiga - 01

“Dan raja menghukum Sang Wiga atas pengkhiatannya”

Aku tak pernah benar-benar ingat nenek bercerita tentang akhir dongeng itu. Tapi aku tau dan aku yakin benar kalau memang itulah akhirnya. Sepertinya aku tertidur saat bagian itu dibacakan dan hanya sisa-sisa suara merdu nenek yang kemudian menyelinap masuk ke dalam mimpiku dan melengkapi ceritanya.

Yah, siapa yang peduli juga, Kisah Wiga itu bukan kisah favoritku, juga kebanyakan dongeng-dongeng yang nenek ceritakan. Setidaknya untuk saat ini. Entahlah, sepuluh tahun lalu aku memang masih suka mendengarkan cerita nenek sebelum tidur tapi sekarang usiaku enam belas tahun dn apakah salah jika aku mempertanyakan dongeng-dongeng itu?

Maksudku, jika sepatu Cinderella memang pas di kakinya, kenapa benda itu bisa lolos dari kakinya saat ia berusaha lari dari pangeran? Lagipula memangnya hanya dia yang punya nomor sepatu tertentu itu? Ya, ya, aku mengerti mungkin saja sepatu itu di sihir atau bagaimana dan semuanya masuk akal, tapi bahkan penjelasan itu tidak masuk akal. Lalu apakah moral dari kisah itu sendiri? Nikahilah wanita cantik yang baru kau temui satu malam? Ya, aku bukannya tidak bodoh untuk tau bahwa Cinderella mengajarkan kita untuk bersabar, tapi tidak semua orang beruntung bisa bertemu ibu peri dan pangeran mabuk.

Bahkan cerita Peter Pan juga mengangguku setelah membaca teori nyelenehnya yang tersebar di internet. Kenapa anak-anak Neverland tidak bisa tumbuh dewasa? kenapa mereka melupakan rumah mereka? Jangan-jangan, sebenarnya Peter Pan adalah malaikat maut untuk anak-anak dan anak-anak itu sudah mati. Tentu saja teori ini terbantahkan karena di akhir cerita Wendy dan adik-adiknya dan anak-anak Neverland kembali ke London dan tumbuh dewasa. Hanya saja tetap saja karakter Peter Pan membuatku berpikir keras tentang betapa dia sosok yang punya banyak hal untuk ditiru.

Yang lebih lokal, kancil, punya sifat-sifat yang mirip dengan Peter Pan. Aku juga bingung dengan lagu-lagu yang mereka ciptakan kalau kancil adalah anak nakal, tapi sekaligus memuji-muji binatang itu karena kecerdikkannya. Pikiran hitam putihku dulu memilih mengabaikan dwisifat ini dan tidak mencap kancil sebagai hewan licik yang diagung-agungkan. Apakah pencipta lagu kancil ini sadar akan hal ini? Menyadari bahwa sifat kancil yang suka menipu mungkin menjadi pahlawan bagi anak-anak calon koruptor?

“Kana?” sesosok wajah cantik mengerutkan dahi di depan wajahku “Kau menghilang lagi”

Ya tentu saja maksudnya bukan fisikku yang menghilang, entah bagaimana aku tidak merasakan kehadirannya sejak beberapa menit lalu karena terlalu sibuk dengan pikiranku sendiri.

“Ariti” kataku mengucapkan nama gadis di depanku “Ada yang ingin kubicarakan”

“Jadi itu alasan kau menyuruhku datang kemari? Panas-panas begini?” Saat itu aku sedang duduk, di kursi kayu di bawah pohon, jadi tidak terlalu memahami perasaannya bahwa siang ini panas. Tapi mungkin memang benar, Ariti bahkan mengikat rambut kecoklatannya dan memakai topi. Dan aku tak perlu membahas penampilan serba simplenya hari ini, ia hanya memakai kaus polo putih dan luaran rompi jins serta celana berbahan sama. Entah sejak kapan dia suka berpakaian tomboi seperti ini.

“Yah, kau kan tidak punya waktu untuk ku telepon lagi”

Ariti mendengus, apa aku mengatakan sesuatu yang salah? Aku kan bukannya berusaha mengejek dia yang saat ini sangat sulit kuhubungi karena sedang mesra-mesranya dengan ...

“Raja!” Ariti melambaikan tangan ke arah lain taman ini. Raja berlari-lari kecil mendekati kami dengan kedua tangannya memegang eskrim. Saat sampai ia memberikan salah satunya pada Ariti, dan menjilat yang lainya.

“Maaf, Kana, aku hanya beli dua karena tanganku penuh.”

“Tadi apa yang ingin kau katakan, Kana?” tanya Ariti segera setelah menandaskan eskrimnya.

Aku ragu, apa saat ini, dua orang temanku ini sedang kencan? Apa suasananya tidak akan jadi tidak enak kalau aku menceritakannya? Aku menghela nafas panjang. Kemudian berdiri dari bangku taman itu.

“Mungkin lain kali” kataku sambil memandang tanah. Taman macam apa yang tidak ada rumputnya?

Ariti mengerutkan keningnya, lalu melirik Raja, ia tersenyum masam “Ya sudah kalau begitu”

Dan begitulah, aku melangkah menjauhi mereka. Ariti, Raja, mereka memang pasangan yang sempurna. Dilihat dari sudut manapun, baik kepribadian maupun fisik, ya, mereka memang diciptakan untuk satu sama lain.

Tentu saja aku tidak terganggu, mereka berdua sahabatku, dan boleh dikatakan, mereka bisa menjalin hubungan spesial bernama pacaran itu juga karena aku. Seharusnya aku merasa senang, iya kan? Tapi memang begitu kok, aku memang senang untuk mereka. Sesuatu yang sedang mengangguku  kebetulan saja datang saat Ariti dan Raja sibuk dengan urusan mereka. Itu kan bukan salah mereka.

Dan jika kau bertanya kenapa aku menghubungi Ariti hanya karena ingin curhat, dan bukannya Raja atau orang lain. Jawabannya sesederhana karena aku mengenal Ariti lebih lama daripada Raja. Ariti temanku sejak SD, dan Raja adalah siswa pindahan di SMA kami sejak awal semester kelas sebelas.

Aneh juga kenapa dia langsung memilih duduk sebangku denganku daripada dengan anak lain yang lebih—yah—lebih baik dariku dari sudut pandang remaja. Tapi begitulah, aku dan Raja—anehnya—cepat akrab. Hobinya memang tidak beda jauh dengan anak-anak populer lain, main video game dan sepak bola. Tapi kurasa yang membuatnya spesial adalah karena dia memang benar-benar menekuni dua hal itu. Dia punya akun youtube khusus mengulas video game, dan dia sendiri aktif dalam klub bola lokal daerah kami. Nilai-nilainya mungkin tidak terlalu bagus, tapi kalau sekali saja dia tidak tertidur dalam kelas aku rasa dia bisa masuk sepuluh besar. Jadi tak heran ia langsung jadi idola siswa putri di sekolahku, dan menempatkan Aswin di posisi kedua.

Aku akan menceritakan tentang Aswin lain kali, karena sekarang aku sudah sampai rumah dan perutku sangat lapar.

Aku langsung bergegas ke dapur untuk mengambil piring dan makan, setelah mengambil nasi dan lauk ku posisikan diriku duduk di depan meja makan. Tapi, baru saja hendak menyuap sendok pertama, aku teringat sesuatu. Segera aku pergi ke kamar dan membuka lemari. Ada sehelai kain sepanjang tiga puluh senti dan lebar satu senti di bawah tumpukan bajuku. Ini robekkan kebaya yang suka nenek pakai jika kau perlu tau. Aku mengangkat kain celana kiriku, lalu yang kanan, tapi yang kucari tidak ada di sana. Kubuka lengan kanan, dan nihil, untungnya kemudian aku menemukannya di lengan kiriku, tepatnya dekat telapak kanan. Makhluk itu sepertinya sedang tertidur, dengan susah payah aku coba ikatkan sobekkan kain kebaya nenek ke batas antara makhluk itu dengan siku. Supaya ia tidak bisa pergi dan mencuri-curi saat aku sedang makan.

Apa yang aku ingin bicarakan dengan Ariti memang bukan soal dongeng yang tidak masuk akal, tapi tentang makhluk ini, fenomena aneh ketika sebuah bintik kecil membesar menyerupai kadal dan mulai bergerak-gerak di bawah kulitku. Aku menyebutnya Wiga.

A/N
“Revenge belum beres, }uwalaya hiatus dan se]arang cerita baru?” Ehehehe *ngumpet dalem lemari*

0 komentar:

Posting Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^