26 Oktober 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 14

Terbangun dari tidur yang tidak nyenyak, dengan badan sakit dan perut mual, dan sadar kalau bukan berada di kamar. Bukanlah hal baru bagi Faiza. Pertama kali, dia bangun diantara orang marah, dan sebelum sempat mengumpulkan kesadaran, sudah pingsan lagi karena tertimpa benda berat. yang kedua dia terbangun di ruangan sempit dan gelap, langit-langitnya amat tinggi hingga dia tak bisa melihat ujungnya. Yang ketiga mungkin yang paling menyeramkan, terbangun dalam ruangan dengan puluhan daging tergantung. Bahkan saat memikirkan kejadian itu, sebenarnya ia hanya ingat samar-samar saja, tempat itu terlalu dingin sampai menggodanya untuk tidur selamanya.

Kali ini dia tebangun di atas ranjang—tumben—dan ruangan itu sangat bersih. Terlalu bersih dan bau antiseptik, Faiza hampir-hampir mengira ia masih di rumah sakit. Tapi ingatannya dengan cepat kembali dan ia sadar kaki dan tangannya diikat ke ranjang.

Ia mencoba menoleh ke samping, mencoba menghindar dari sorotan lampu yang membutakan matanya, pertama tak ada siapa-siapa, ia rupanya ada di ujung ruangan yang dekat dengan meja ubin. Mirip seperti laboratorium sekolahnya, meja itu menempel dengan tembok mengitari ruangan. Ia menoleh ke arah lain. Ada ranjang lain di samping ranjangnya, dengan sebuah gundukkan yang diselubungi kain putih.

“Hei!” panggilnya, mungkinkah wajah orang itu ditutupi kain putih hanya karena ia tidak tahan dengan lampu? “Kau, dengar aku?”

“Za?” suara itu bukan berasal dari tubuh itu, tapi Faiza tidak berpaling.

“Aldo? Itukah kau? Kau di mana?”

“Palingkan wajahmu, jangan lihat dia. Aku di belakang, terikat juga” kata Aldo.

“Ada apa dengannya? Kenapa wajahnya ditutupi kain?” Faiza malah penasarannya, diliriknya seluruh tubuh itu sebisanya. Tiba-tiba ia merasa mual. “Ada apa dengannya?

Nada suaranya berubah, Aldo tahu gadis itu sudah melihatnya, dan mungkin mulai mengira-ngira “Jangan lihat dia, oke?”

Faiza sudah menurut sejak tadi, memilih berpaling ke arah meja ubin. “Perutnya, kenapa noda hitam?” ia baru memperhatikan barang-barang di atas meja itu, gunting, pisau, toples-toples kaca. “Dia mati iya kan? Tapi tidak bau, aku—”

“Bau antiseptik ini benar-benar memuakkanku” Aldo memotong, mengalihkan pembicaraan “Aku rasa aku akan gila karena lampu itu”

“Sudah berapa lama aku pingsan?”

“Entahlah, aku ... tidak bisa memastikkannya”

“Bagaimana kita bisa kabur?” suara serak Faiza terdengar menyakitkan

“Andai aku tahu”

 ***
Sana! Sana! Tidak bisa baca ya? Selain petugas, dilarang kemari!” Seorang pria tua berwajah sangar mengusir Alya dari tempatnya berdiri.

Alya hanya melangkah sambil mendengus, tentu saja ia bisa baca, tentu saja dia bisa lihat tanda itu bahkan kalau tak bisa baca pun lambang tengkorak yang menenadakan wilayah itu berbahaya tak akan salah diartikan oleh siapa pun. Lagipula tempat itu berisik sekali, alat pengolah limbah itu entah bagaimna mengeluarka suara dengung statis yang memuakkan, seperti suara microphone yang diarahkan ke speaker. Yang jelas, kalau bukan karena janjinya dengan Fauzi ia tak akan mau berdiri berlama-lama di depan gerbang tabung-tabung raksasa itu.

Memang, mereka berjanji untuk bertemu di kamar rawat Faiza. Hanya saja, tempat pengolahan limbah cair ini lebih dekat daripada gedung rawat inapnya. Lagipula, hari sudah semakin sore dan Alya tak ada rencana untuk pulang malam lagi hari ini. Dia juga sudah mengirim pesan pada Fauzi agar mereka langsung saja ke tempat pengolahan limbah.

Tapi sudah satu jam ia menunggu, dan Fauzi belum kunjung datang. Ya, ya, jalanan macet tentu saja. Tapi memangnya Alya tidak terhadang macet juga? Mereka hanya pergi menyampaikan undangan kan? Kenapa bisa selama ini? Apalagi orang-orang selalu bilang kalau anak perempuan itu paling lama tentang masalah berpakaian, kalau begitu seharusnya Alya yang terlambat, kan?

Alya mendengus lagi, mungkin memang sebaiknya ia menunggu di kamar rawat Faiza. Setidaknya di sana mereka bisa mengobrol. Atau yah tidak semembosankan menunggu Fauzi dan Dokter Kamil.

“Aku ke Faiza” Alya mengetik, dan mengirimkan pesan itu pada Fauzi. Tak lama, notifikasi bahwa Fauzi telah membaca pesan itu muncul. Apa-apaan? Ia bahkan tidak mengangkat teleponnya dari tadi.

“Kalian di mana sih?” ia mengirimkan pesan lagi. Lagi-lagi hanya notifikasi dibaca itu yang Alya dapatkan. Ia memasukkan ponselnya ke saku dengan kasar lalu mulai berjalan menuju gedung tempat  Faiza di rawat.

Saat sedang berjalan ia dikejutkan dengan penampakkan seseorang yang di kenalnya. Ia baru saja akan berlari, sambil melambai menyapa tapi langkahnya terhenti ketika sadar ada sesuatu yang aneh.
Alya bergegas bersembunyi di balik salah satu semak-semak. Selain tanda tengkorak yang menyeramkan di pagar pembatasnya, lokasi pengolahan limbah ini juga agak terpisah dari keramaian. Lokasinya jauh dari kompleks penginapan, sehingga tidak terlalu ramai oleh bangunan, dan sebagai gantinya ada banyak tanaman perdu di sana.

Orang yang sedang diperhatikan Faiza nampak sedang menunggu, dia berkali-kali melihat ke arah jam tangannya dan berdecak sebal. Sesekali diihatnya langit sambil mengetuk-ngetuk tanah dengan kakinya.

Untuk apa dia di sini? Pikiran Alya bertanya-tanya. Alya mengenalnya dengan baik sebagai salah satu petugas pos setempat. Orangnya sedikit mudah gugup, tapi dia bisa dipercaya. Ia ingat saat meminta khusus petugas pos itu untuk mengantarkan tiket konser biolanya pada Fauzi. Dan alih-alih tertawa seperti orang dewasa pada umumnya, dia langsung setuju. Padahal motivasi Alya saat itu hanya karena ia penasaran bagaimana orang-orang kota ini menanggapi permintaan konyol seorang remaja tanggung pendatang baru.

Sesaat kemudian ada orang lain datang, sepertinya memang itulah orang yang ditunggunya. Seorang pria gempal dengan topi agak terlalu ke bawah, ia tak bisa melihat wajahnya. Pria gempal itu nampak terengah-engah dan kemudian agak terkejut dan marah setelah si petugas pos mengatakan sesuatu. Mereka lalu pergi dari situ.

Alya keluar dari persembunyiannya, kemudian mengangkat bahu pada dirinya sendiri. Ia melanjutkan langkahnya pergi ke kompleks gedung rawat inap. Saat melewati tempat si petugas pos tadi berdiri ia melihat secarik kertas di tanah.

Rupanya itu hanya nota pembelian natura yang sangat banyak.

A/N
Aloha, akhirnya saya update hihi. Ucapkan terimakasih pada anime Erased yang cliffhangernya selalu rese. Karena tidak ada waktu yang lebih baik untuk menulis thriller selain setelah membaca/menonton adegan pembunuhan. Btw, saya baru beres nonton episode 11 dan kemudian stress gara-gara belum bisa nonton episode 12 nya dan karena itulah akhirnya part 12 ini bisa ditulis.

Doakan semoga part selanjutnya tidak delay lagi wkwk

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^