19 Oktober 2016

October's Second Sunday

Aloha semua, duh rasaya lama sekali sejak terakhir kali saya menulis LPM lagi. Apa itu pertanda betapa membosankannya kegiatan saya akhir-akhir ini? Bisa dibilang ya tapi tidak juga. Seperti beberapa waktu lalu saya—di luar kebiasaan—tanpa rencana bergegas ke obralan Gramedia. Dan rasanya aneh sekali, soalnya, mungkin kalian tau betapa antinya saya dengan pergi ke luar rumah tapi soal buku saya langsung mematahkan rasa malas itu. Dan senang sekali bisa dapet delapan novel Agatha Christie dengan tujuh puluh ribuan saja.

Tapi yang akan saya bagi kali ini bukan itu. Ini salah satu kegiatan diluar kebiasaan lain, hanya saja yang satu ini sejujurnya agak berat saya lakukan.


(Bukan) Perang Krim Kue 2

dresscode b/w
Saya hanya ingat samar-samar kalau waktu berkumpulnya jam 10 di Sekolah, tapi waktu itu hari Minggu jadi pasti gak mungkin kalau saya niat mau berangkat jam 9. Sejak subuh saya niat mau berangkat jam 7, yah, walau itu artinya saya harus mengorbankan waktu untuk menunggu selama dua jam. Tapi pada akhirnya, dengan godaan tidak mau datang sekalian saya berangkat jam 8. Siapa tau ternyata sudah sejalur dan saya gak bisa pergi. Tapi saya lupa, kalau satu jam sebelum sejalur ke Puncak itu bakal ada sejalur ke Ciawi dulu—sebagai pembersihan jalan saya rasa—. Akhirnya saya sampai tepat waktu jam 9.

Saya juga baru tau kalau saya tepat waktu karena pas di Seuseupan saya ketemu Uwi yang mengeluh kalau semua orang datang terlambat. Tapi kemudian yang lain datang juga. Fakhri memang sudah di sekolah lebih dulu, diikuti Yusuf, dan yang lainnya juga. Akhirnya kami berangkat jam setengah dua belas, yah, luar biasa, kan? Untunglah keadaanya tidak terlalu membosankan karena Handsfree, Bola Bekel Awan, dan Mie Jabrig.

Memang mau kemana sih, Fat? Nah, saya punya alasan kenapa memberi judul post ini (Bukan) Perang Krim Kue 2. Soalnya tujuan kami, anak-anak sekelas itu adalah untuk makan-makan di rumah Hilal kurang-lebih dalam rangka merayakan ulang tahun Pak Iyan, wali kelas kami.

Ketika saya sampai di sana, saya akhirnya bertemu dengan Sekar, yang langsung bertanya mengenai perihal tugas matematika kami. Saya jadi ingat kalau dia sebenarnya memang tidak mau datang, kalau bukan karena Iis bilang kami akan membahasnya hari itu mungkin dia benar-benar tidak akan datang. Jadi setelah pembukaan acara dengan susunan acara yang dibuat dadakan oleh Pak Iyan—dan spoiler inti acara oleh Reza dalam sambutannya—saya dan Sekar dan Laudia mengerjakan tugas Matematika sementara yang lain mulai memasak.

Sekar bahkan membawa semua keperluan untuk mengerjakan tugas kami, dan begitu bagiannya selesai, langsung bergegas ingin pulang. Kami berusaha mencegahnya, dan mengajaknya melihat proses memasak yang di dapur, yang ternyata ramai sekali.

Kami datang terlalu tepat waktu ke dapur, karena saat itu Ibu Hilal menghidangkan Es Kopyor terbatas yang akhirnya hanya bisa dinikmati orang-orang dapur. Sementara itu karena masak-masaknya sudah selesai, saya hanya bisa mendiskusikan mengenai tugas matematika dengan Iis yang diiringi sorakkan kesal oleh yang lain. Lalu mencoba menggambar di ponsel Indri, serta bermain kartu menggantikan Yulia melawan Awan, juga Nadia. Kemudian Sekar lagi-lagi bilang dia ingin pulang, dan kali ini tak ada yang bisa mencegahnya.

Makanannya akhirnya benar-benar siap jam 3-an. Dan rasanya aneh bagaimana acara makan-makan bersama XII-3 itu selalu berisik. Saya memang diam seperti biasa, tapi keriuhan itu jujur saja menyenangkan. Dan tau-tau saya kenyang begitu juga yang lain. Karena sudah sore, semuanya bergegas ke kamar atas untuk salat Ashar, saya terkejut melihat banyak balon di sana soalnya pas dzuhur tadi tidak ada.

Dan rencana kejutan untuk Pak Iyan disusun begitu saja, ada mengidekan dengan memberitahu Pak Iyan kalau keadaan Vira Dianti—yang baru saja jatuh dari tangga—memburuk, atau kita menjerit-jerit saja tanpa alasan, sampai ide paling radikal menculik dan mencekik Awan supaya dia menjerit dan Pak Iyan datang. Tapi pada akhirnya yag kami lakukan adalah membentuk lingkaran dalam kegelapan dan bernyanyi saat Pak Iyan masuk.

Rencananya agak kacau karena, Pak Iyan sudah tau apa yang akan kami lakukan juga karena Confettinya tidak langsung keluar saat Pak Iyan masuk tapi secara keseluruhan kejutan itu seru sekali. Tiga potong kue pertama diberikan pada Awan, Reza, dan Hilal, kemudian Pak Iyan pulang.


Banyak dari kami juga memutuskan untuk pulang, meski agak bingung karena rumah Hilal memang agak terpencil. Untungnya Hilal kemudian mengeluarkan mobil, meski akhirnya harus saling pangku-memangku. Tapi masalah selanjutnya muncul soalnya hari itu hari Minggu dan saat itu—jam 4—pasti sedang sejalaur ke Ciawi.

Untuk mengisi waktu saya dan Iis memutuskan untuk pergi ke Padjadjaran. Setelah salat Magrib kami berkeliling-keliling ke Gramedia, saya merekomendasikan beberapa buku sastra klasik dan Iis menjelaskan betapa ia ingin punya Al-Qur’an Hafalan, pada akhirnya saya membeli sebuah sketchbook untuk menggambar gaje disekolah—satu resolusi di coret—.

Sayangnya meski yang kami tau jam 7 itu arus sejalur sudah dibuka, tapi rupanya kemacetan tetap tak terhindarkan, jalanan baru benar-benar lancar sekitar jam setengah sembilan. Berterimakasihlah pada akun IG sistwins yang menemani kami melewati kebosanan.

KAKEK MISTERIUS

Hal menarik terakhir yang terjadi hari itu adalah seorang kakek yang duduk di depan saya. Penampilannya sejujurnya biasa saja walau memang agak berbeda, sedikit eksentrik kalau saya boleh bilang. Dia mengenakan kemeja yang dibuka beberapa kancing atasnya sehingga sebagian dadanya terlihat, juga jambang yang memanjang sampai ke janggut yang seluruhnya sudah menjadi uban. Itu bukan penampilan yang biasa kan? Dan sebenarnya saya juga gak terlalu peduli kalau bukan karena dia mengajak saya bicara.

Saat itu, setelah Iis turun, Sopir bertanya di mana sang kakek akan turun, dan beliau menjawab Cipayung. Setelah sopir mengangguk, kakek itu bertanya di mana saya akan turun, saya menjawab Cibeureum.

“Oh, jauh. Abis kuliah ya?”  saya jawab bukan, saya masih SMA. Dan mungkin karena saya mengenakan busana muslim, dia bertanya apa saya anak madrasah. Dan mungkin beberapa dari kalian tau betapa saya tidak terlalu menyukai percakapan dengan orang asing saya mengiyakan saja. Lalu kakek itu bertanya lagi apa sekolah saya beraliran Muhamadiyah, dan saya jawab bukan—ini semata-mata saya malas menjawab, no offense buat aliran Muhamadiyah—, lalu dia berkata kalau dia beraliran Muhamadiyah.

Nah, dan dari sini lah. Saya menyalahkan bacaan saya selama September dulu yang semuanya novel Agatha Christie, yang analisis psikologinya jadi kunci utama. Apa saya melakukan analisis psikologi? Nggak kok, hanya saja percakapan antara saya dan kakek itu kalau diteliti, agak ganjil.—Di tambah waktu itu saya ngantuk banget, dan pikiran saya agak ngelantur dan pas saya inget paginya konyol banget overthingking saya malem itu—

Setelah menyatakan dia beraliran Muhamadiyah, dia menjelaskan kalau dia bukan Islam yang terlalu fanatik yang merayakan Maulid. Saya mengerti benar hal ini akibat diskusi yang saya lakukan bersama Ayah beberapa waktu lalu mengenai film Ahmad Dahlan. Sang kakek bercerita sangat bersemangat  mengenai hal itu, bahkan trik saya yang hanya mengiyakan tidak membuatnya berhenti. Karena merasa bersalah, saya menimpali sedikit, tapi beliau tampaknya memang tidak tertarik dengan tanggapan saya, malah bercerita tentang bahwa ia adalah keturunan Baginda Besar Rasulullah karena kakeknya alah keponakan Raden Kian Santang. Saya menyerah kalau soal sejarah, dan hanya mengiyakan saja. Dan sebelum ia turun ia memberi tekanan pada pernyataanya tentang, meski ia keturunan Nabi, dia selalu ingat untuk tidak sombong dan mematuhi nasihat gurunya yang dalam pepatah sering di sebut “Dimana tanah dipijak, disitu langit dijunjung” bahkan meski dia bukan Islam yang fanatik. Begitu dia turun di berkata, kalau dia dari Sukasari dan karena macet dia menambahkan uang. Saya juga memperhatikan kalau celananya tidak cingkrang.

“Terus, kenapa, fat?”

Nah itu juga yang saya tanyakan. Kenapa? Saya yang saat itu juga sedang memikirkan plot untuk cerita pembunuhan—dan ngantuk—memikirkan betapa kuatnya karakter sang kakek kalau ia adalah tokoh dalam cerita detektif. Kenapa dia harus bercerita semua itu pada saya? Setelah Iis turun? Apa ada sesuatu dalam percakapan saya dan Iis yang membuatnya merasa harus melakukan hal itu? Apalagi sikapnya yang tidak terlalu peduli apakah saya peduli dengan ceritanya itu atau tidak, dia hanya ingin bercerita. Apakah itu karena sebelumnya dia bilang dia turun di Cipayung, yang, yaah, banyak acara maulid dan sebagainya? Tapi terlepas dari topiknya, beberapa kata-katanya agak kontradiktif, iya kan? Saya tidak akan menunjukkan bagian yang mana—ingat bukan topiknya—.

Yaah, entahlah, antara ini pencerahan untuk cerita yang sedang saya rancang itu, atau mungkin sebagai pukulan karena sebenarnya mungkin salah satu sikap saya seperti sang kakek. Akhir kata, saya ucapkan maaf untuk kakek yang saya ghibahkan di sini dan mungkin ada unsur suudzonnya. Serius, saya kebanyakan baca fiksi-kriminal doang kok.

P.S.
36 Jam setelah saya tulis, saya membaca lagi pos ini. Please, jangan anggap terlalu serius kata-kata saya—yang terlalu chuunibyou—di atas. Begitu bangun tidur besoknya saya langsung nulis ini dan gak ada bedanya sama orang mabok.

wanna hear a joke? my life

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^