2 Juli 2016

The Charming Bukber: Penantian Sepiring Nasi Goreng

“Teh, kamu berangkat jam satu, kan?”

“Iya,”

“Geura siap-siap atuh”

Saya melihat jam, sudah jam dua belas siang. Menuruti apa kata mamah saya segera bergegas berangkat. Seperti yang sudah di rencanakan sejak tanggal 6 Juni, dan di rincikan kepada saya pada tanggal 15-nya. Hari itu, 27 Juni 2016, Saya, Hania, Intan, Mila dan Fira berencana untuk berbuka bersama.

Kami berjanji bertemu di gang rumah Mila pada pukul tiga. Makanya saya berangkat sejak pukul satu. Gak, jarak rumah saya ke rumah Mila gak sejauh itu, tapi saat itu tanggal dua puluh tujuh, dan saya harus posting tema posbar BBI di Blog Mewri Membaca (ini iklan) jadi saya ke warnet dulu.

Diluar dugaan, meskipun hari itu hari Senin, jalanan rupanya tetap macet. Saya sempet was-was waktu begitu sampai di warnet sudah hampir jam setengah dua, tapi ternyata saya sendiri gak perlu waktu lama buat post postingannya (iyalah, tinggal post doang).

Tapi begitu jam menunjukkan jam dua dan saya sudah siap untuk berangkat, Intan mengirimi saya pesan. Fira gak bisa ikut, dan saya diminta memaksanya. Jadi putar baliklah saya ke rumah Fira. Ketika sampai sana, dia menemui saya dengan keadaan masih dalam baju tidur. Saya tertawa, dia tertawa. Dan seperti seharusnya, saya menyuruhnya mandi supaya kita bisa segera berangkat, yang mana tentu saja dia jawab dengan tolakan dan malah menyuruh saya melanjutkan perjalanan. Saya keras kepala, tak mau pergi, bahkan meminta Intan membantu memaksanya dengan menelepon.

Tapi, Fira tak kalah keras kepala. Ia berkata kita bisa bukber habis lebaran—dengan kondisi janjian puasa qada-nya—atau dia bisa traktir kita September nanti, atau dia bisa video call pas bukber nanti. Saya berkata tentang betapa sulitnya memilih tanggal, betapa saya sudah berlelah-lelah sampai kesana, betapa lama kami tidak bertemu. Tapi Fira tetap pada pendiriannya, ia bukannya tak mau, ia tak bisa.

Akhirnya saya pergi dengan tangan  hampa. Ya, gak hampa-hampa banget sih. Fira akhirnya berkesempatan meminjamkan saya Wool-nya Hugh Howey. Saya mau bilang yeay, tapi ketiadaan Fira mencegahnya.

Akhirnya saya meneruskan perjalanan. Dalam perdebatan tadi, Hania bilang dia akan pergi duluan jadi saya terus saja ketika melewati Hankam. Hari senin macet di pasar, saya masih bisa memaafkan. Tapi ternyata di leuwimalang-pun macet juga. Saya kira mungkin karena memang libur jadi macet, tapi rupanya ada kecelakaan—ini baru saya ketahui kemudian—. Seterusnya jalanan lancar jaya. Meski se=aya sempat dioper ke angkot lain di Bendungan—padahal dikit lagi Wangun—.

Saya sempet panik ketika memasuki wilayah Kota Bogor. Terakhir kali janjian di Bogor, dan saya sendirian di angkot, saya nyasar ke Elos. Dan meskipun saya sudah berkali-kali ke Kuntum, tetep aja rasa takut itu menyergap. Untung saya gak kesasar kali ini, dan langsung mengenali Intan yang menunggu di pinggir jalan. Kami tinggal menuggu Hania saat itu, yang ternyata sedang menunggu kami di dalam gang.

Kemudian Mila datang dengan pasukannya. Dan kami pun berangkat. Di angkot, saya menceritakan pertemuan saya dan Fira tadi, dan kami semua menyayangkan ketidakhadiran Fira dan Galuh. Kemudian was-was mengenai apa yang akan kami lakukan karena saat itu masih jam empat.

Saya yang gak tau tujuan kami—Zuhause—itu tepatnya di mana menyarankan ke Gramedia Pajajaran. Lagipula saya dan Intan belum shalat Ashar jadi bisa sekalian ke Masjid Raya. Melihat-lihat buku—“Aaaak, Greenshore Folly!”,“Ini rame nih, aku baca di bbi”, bercanda mengenai beberapa judul buku—“Mas Gagah pergi? Jadi Mas Caley?”, dan mengejek ingatan tentang sekolah—“Fat, jamur tempe apa namanya?”,“Kembar Dizigot?”—kami berakhir di Kasir dengan Intan yang membeli buku Jane Austen yang judulnya—saya lupa lagi, entar diedit—.

Kemudian setelah Shalat Ashar, kami melanjutkan perjalanan ke Zuhause. Tadinya kami mau jalan kaki, tapi rupanya jauh jadi naik angkot lagi. Saya sebenernya agak khawatir karena dalam perdebatan saya dan Fira, dia sempat berkata cepetan nanti Zuhause-nya keburu penuh. Tapi rupanya begitu tiba di sana masih sepi banget. Padahal udah jam lima. Mungkin karena tempatnya juga agak terpencil kali ya, jadi gak banyak yang tau—ini kenapa jadi analisis swot wirausaha—

Jadi kami kemudian memilih duduk di dalam, itupun di pojok dekat jendela. Gak ada siapa-siapa selain mas-mas di sekitar bar (?) dan meja kasir. Menghilangkan kebosanan, kami mulai ngerumpi lagi. Saya memaksa Intan buat transfusi novel, ia juga membuka novel barunya. Saya main sudoku di hape Intan, Intan main 2048 di hape Hania. Sampai main tebak lagu yang diputer di tempat itu jadi ajang penghilang kebosanan.

Jam setengah enam, kami ditanya mau pesan apa. Sebeumnnya kami memang sudah diberi buku pesanan dan bertekad untuk beli makanan yang beda-beda. Dan ketika Maghrib menjelang, semua pengunjung di beri kue untuk berbuka. Pesanan kemudian datang satu persatu, dari minuman, dessert, dan main coursenya.

Sayangnya ada masalah dengan pesanan saya. Saya memesan Nasi Goreng, tapi yang datang Kentang Goreng. Mas-mas yang mirip orang korea—yaelah Cuma gara-gara ditindik—itu tersenyum masam, kemudian kembali. Kemudian mas-mas yang tadi menanyakan pesanan kami datang meminta maaf, ya salah saya juga sih Bahasa Inggrisnya balelol—jadi makin semangat buat read-a-loud—.

Sebenernya masalahnya bukan cuma itu. Mungkin mas koreanya shock banget waktu tau pesanannya salah, dan dia sampai lupa nganterin sendok-garpu buat Hania dan Intan. Dan dasar kita semua social-awkward, jadi malu gitu mau nagihnya. Tapi kami berhasil, dan Hania, Intan bisa makan dengan nyaman. Dan saya bisa nyicip sana sini—sampai kenyang—sepuasnya.

Makanan Intan sudah habis, Hania juga, apalagi Mila yang dapat duluan dan langsung di serbu kami berempat. Tapi Nasi goreng saya belum datang L. Sudah hampir jam tujuh, dan saya sangat gelisah. Hania, Intan dan Mila menghabiskan waktu dengan foto-foto, saya putus asa tak bisa membuat mereka ikut khawatir—what a bad friend, I mean me—. Saya bahkan mengira kalau masnya lupa, dan gak dibuatin—what a bad customer, what an awful human being—tapi akhirnya datang juga. Mas yang nganter makanannya nanya kalau kita pertama kali ke sana dan bertanya kesan kami. Positive feedback has given, tapi kemudian Intan berbisik tentang betapa lamanya nasi goreng saya datang.

Saya memakan nasi goreng dengan khusyuk.

Dan akhirnya, setelah berhitung-hitung kami pulang. Mas yang pertama kali menanyakan pesanan kami minta maaf lagi—how lovely—saya curiga dia owner-nya atau gimana, soalnya dia gak pake seragam.

Kalau boleh me-review, saya rasa Zuhause recommended banget buat tempat makan. Pelayanannya ramah, makanannya enak, dan tempatnya nyaman juga. Dan jangan lupa dengan discount everywhere. Setidaknya itu yang kami rasakan. Setelah sebelumnya dapat diskon 10% (mungkin karena kami terlihat imut seperti pelajar—hoekk—), ada juga diskon lain yang tidak kami mengerti. Pokoknya, ujungnya kami ada uang lima puluh satu ribu entah milik siapa. Kalau soal nasi goreng sampai satu jam itu, yaah, itu kan salah saya juga.

Oke lanjutkan perjalanan. Kami memutuskan ke Lippo Plaza buat shalat Maghrib dan Isya. Setelah itu mampir ke Matahari buat lihat-lihat baju. Saya berusaha mencairkan suasana—yang sebenarnya tidak beku—dengan menamai semua manekin yang kami temui, tapi malah berakhir saya ketawa sendiri.

Kemudian kami melihat-lihat sepatu, dan Hania mengingatkan Mila tentang semacam bioskop 4D. Awalnya kami menonton ‘bioskop 4D’ yang cuma bisa satu orang. Itu pun manual karena si masnya harus ngegoyang-goyangin pijakan sendiri. Tapi kerennya, waktu si pelanggan itu nengok ke bawah—mungkin penasaran dengan apa yang ada di bawah jurang—layar yang menampilkan VR-nya juga nunjukkin pemandangan bawah jurang—kamu aja yang katrok, Fat—.

Tapi karena kami pasti malu kalo mau naik yang itu, akhirnya kami masuk ‘bioskop 4D’ yang satu lagi. Pas lagi bisa empat orang. Hania, Mila, dan Intan bawa kartu pelajar jadi didiskon 20%, apa atuh saya mah gak punya kartu pelajar L. Kami memilih film roller-coaster. Kemudian ketika masuk ke ruangannya, kami diminta melepas tas dan memakai kacamata 3D. Di depan tempat duduk ada layar besar, yang kemudian mulai menampilkan jalur roller-coaster. Dan perjalanan pun di mulai.

Saya gak terlalu takut waktu turunan atau tanjakkan. Ataupun ketika relnya lepas. Selain karena visualnya jelas-jelas animasi, saya duduk di belakang dan masih bisa melihat kepala Intan dan Mila. Jadi saya tau kalau kita masih sama-sama. Dan karena alasan yang sama, pas tanjakkan itu saya malah berdiri buat lihat jalannya. Tapi jujur sih, pas banyak hewan yang muncul tiba-tiba itu emang ngaggetin—laba-labanya rese—.

Setelah keluar dan ngoceh tenntang pengalaman baru tadi, kami pergi ke Gunung Agung. Saya tau ada  toko baru ini dari Sindy, yang dulu bilang ada diskon di sana karena masih baru. Tapi pas saya ke sana pun rupanya tempatnya juga belum permanen. Bukunya juga masih sedikit dan kebanyakan non-fiksi dan sudah lama. Saya kehilangan minat. Sempat excited nemu Buku The-X-Files-nya Hawkson, ada buku misteri yag bini tertarik juga. Tapi saya gak beli apa pun.

Hai itu kami akhiri dengan membiarkan Intan ngantri sendiri buat beli Float. Saya dan Hania juga melihat bu Kantin di KFC. Tapi ya, itu saja. Saya pulang dengan Hania, tentu saja. Kami membahas bahasan yang tak pernah habis, mengenai Perguruan Tinggi tujuan, serta mengeluh mengenai nilai yang terlalu tinggi—gak bersyukur emang—. Dan saya sampai rumah jam setengah sebelas.


What a great day! Semoga bisa cepet-cepet main lagi. Sama Galuh dan Fira juga. Yaah, sekarang saya mau siapin mental buat baca Wool. Bye!

0 komentar:

Posting Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^