11 Juni 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 12

“Kita bertemu di ruang rawat Faiza, oke?”

Alya mengangguk.

Setelah mengucapkan salam perpisahan, Fauzi meninggalkannya sambil menggiring sepedanya. Alya tadinya juga mau pergi, jemputannya terlambat lagi hari ini—pasti karena besok libur, jalanan macet—, jadi mungkin dia akan menunggu di perpustakaan.

“Eh?”

Sahutan bingung dari Fauzi membuatnya kembali berbalik, dan ikut melihat apa yang di lihat Fauzi. Sebuah mobil memasuki lapangan sekolah dari gerbang. Jendela samping pengemudinya terbuka, menunjukkan dengan jelas siapa yang mengendarainya. Lagipula, orang itu memang mencolok.

“Itu, Dokter Kamil, kan?” Alya tiba-tiba mengerti.

“Hei!” Dokter Kamil melambaikan tangan ke arah mereka. Lalu membuat isyarat agar mereka menghampirinya.

Alya ragu, tapi kemudian memutuskan mengikuti Fauzi yang sambil menggirng sepeda menghampiri dokter itu.

“Kalian baru pulang? Aku tepat waktu kalau begitu”

“Ada apa?” tanya Alya tanpa basa-basi

“Kalian bisa naik? Aku akan jelaskan sambil jalan”

Fauzi dan Alya saling menoleh, bertanya satu sama lain lewat tatapan.

“Aku memang sudah izin untuk pergi hari ini, sepedaku juga bisa di lipat. Tapi Alya ...” Fauzi tidak melanjutkan kalimatnya, membiarkan gadis itu untuk menyelesaikannya.

“Jemputanku sedang di jalan. Aku bisa mengabarinya, tapi sebelum itu beritahu dulu kita akan ke mana”

Dokter Kamil tertawa “Astaga, aku bukan orang asing yang harus kau waspadai kan?”

Alya mengangkat bahu “Entahlah, setelah tau kalau salah satu kawanku hilang aku merasa harus berhati-hati”

“Oh, kau sudah tau ya?” nada bicaranya seperti seharusnya, menyesal. Pun tatapan matanya terhadap Alya yang tanpa ditutup-tutupi merasa berduka. Tapi entahlah, Alya bukan orang yang peka sebenarnya, tapi dalam waktu sepersekian detik ia pikir Dokter Kamil marah.

“Yah, kasarnya aku ingin menagih janji kalian. Akan ada semacam seminar kesehatan di balai kota. Aku ingin mengundang Owl, aku kan tidak tau alamatnya. Jadi kupikir kalian bisa mengantarku”

Fauzi mengangguk paham “Kalau begitu aku saja yang ikut. Alya, kau bisa tunggu jemputanmu”

Baik Alya maupun Dokter Kamil sama-sama ragu.

Apa ini ide bagus? Memisahkanku dengan Fauzi? Dia akan baik-baik saja?

Begitu dia ke ruangan itu, semua akan terbongkar.

Tapi keduanya pun tidak berbicara lagi selama Fauzi sibuk melepas bagian-bagian sepedanya. Dan begitu Fauzi naik, kemudian hilang bersama mobil Dokter Kamil ke kerumunan mobil di jalan, Alya baru ingat satu hal.

Ia juga belum pernah ke rumah Dokter Owl. Kalau terjadi sesuatu, ia tak akan tau harus ke mana. Sesuatu? Memangnya apa yang akan terjadi? Keadaan tidak akan bertambah buruk setelah Aldo menghilang kan? Iya kan?

***

Jalanan macet sore itu, Fauzi berpangku tangan memandangi lampu merah. Sudah dua kali lampu merah itu menyala, tapi mereka bahkan belum melewatinya. Ia kini menatap dashboard mobil, melihat sudah berapa lama waktu yang terbuang. Apa setelah ini mereka masih sempat untuk observasi?

Mobil itu berjalan lagi, tidak dalam kecepatan yang memuaskan. Tapi yang paling membuatnya risih adalah tukang rujak di pinggir jalan. Bukannya bermaksud kepedean, tapi Fauzi tidak suka saja dengan kenyataan bahwa tukanG rujak amatir yang mangkal di depan sekolah dan sekaligus tukang sayur di depan rumahnya itu mengikuti rute yang sama dengannya. Apalagi karena kemacetan ini, gerobak rujaknya seolah berkata ‘aku bisa mengikutimu kemana pun’.

Fauzi menggelengkan kepalanya. Pikiran gila sering muncul ketika dia bosan.

“Dokter Kamil,” sapa Fauzi

“Ya?” pandangan sang dokter tidak lepas dari jalanan, “Apa aku harus belok di depan?”

“Tidak lurus saja” jawab Fauzi. Tadi dia ingin membicarakan sesuatu supaya tidak bosan, tapi ia sadar ia tak punya topik. “Ngomong-ngomong, pemulihan itu apa?”

“Eh?” mobil itu berhenti lagi, “pemulihan? Kau menanyakan pengertian dalam bidang medis?”

“Bukan. Kau mengatakannya dulu, pemulihan sepuluh tahun lalu, hal semacam itu”

“Oh, pemulihan” Dokter Kamil tersenyum, tapi senyumnya itu membuat Fauzi merasa tidak enak. Senyuman orang yang meremehkan, tapi wajar, mungkin Dokter Kamil memang tau segalanya tentang hal itu. Ibunya saja tidak pernah membicarakan mengenai pemulihan, yang berarti hal yang diketahui ibunya tentang hal itu memang terbatas dan tidak penting. Tapi ketika Dokter Kamil membicarakan hal itu kemarin, hal itu terdengar seperti revolusi. Dan bagi Fauzi itu aneh karena dia tidak menemukan informasi apapun baik dalam buku teks sejarah maupun Internet.

“Kau mungkin pernah dengar, walau aku tak yakin juga. Perkembangan iptek negara kita berkembang pesat di tahun 2018 ...”

2018? Itu dua belas tahun lalu, bukan sepuluh tahun lalu.

“Itu sebuah lompatan luar biasa bagi negara berkembang seperti kita. Kesuksesan di sektor lainnya lalu menyusul sama cepatnya. Tapi kemudian terjadi sebuah tragedi. Kesalahan sistem dan tetek bengek seperti itu terjadi, ada korban dalam skala besar, pokoknya begitu lah.

“Orang jadi takut pada tiap teknologi terbaru, lucu kan? Kemunduran terjadi di tahun 2020, hanya dalam dua tahun setelah kita jadi negara dengan perkembangan iptek tercepat se-Asia Tenggara. Dan bersamaan dengan itu, pemerintah menghancurkan banyak pabrik untuk kemudian memilih mengubahnya menjadi hutan. Hutan di mana-mana sekarang ini, iya kan?”

Fauzi memang pernah mendengar soal hal itu, Ibunya pernah bergumam mengenai masa depan yang hancur tidak terjadi.

“Dan itulah yang di sebut pemulihan, tidak terlalu spektakuler. Akibatnya kita memang jadi tertinggal dari negara-negara lainnya. Ah, tapi seharusnya negara-negara tetangga itu berterimakasih. Saat ini kita satu-satunya negara penghasil makanan organik, kalau kita tiba-tiba memutuskan untuk menutup diri dan menolak ekspor beras, silakan saja mereka makan uang mereka yang berlimpah itu”

Suaranya berapi-api, membuat Fauzi juga jadi ingin ikut tersenyum “Tapi ...” gumam Fauzi “kenapa tiba-tiba pemerintah menghancurkan pabrik? Itu, agak radikal menurutku”

Dokter Kamil hanya mengangguk, kemudian berbelok ke jalan setapak menuju hutan. Ini memang jalan menuju rumah Profesor Owl. Tapi, Fauzi kan belum memintanya untuk belok?

Ada yang tidak beres. Bahkan meski perasaannya memang tidak enak akhir-akhir ini, Fauzi selalu yakin itu semua hanya karena perasaan bersalahnya yang selalu Aldo bilang konyol. Makanya dia selalu mengabaikan semua intuisinya. Tapi yang baru saja terjadi ini realita, Dokter Kamil bilang ia tidak tau rumah Profesor Owl, tapi ia belok di tempat yang tepat.

“Dokter Kamil, kapan kau akan mengembalikan jam tanganku?”

Dokter Kamil tidak langsung menjawab, mungkin terlalu fokus pada jalanan. Mereka sudah memasuki jalan setapak, sudah tak ada mobil yang menghalangi. “Secepatnya, apa kau membutuhkannya dalam waktu dekat?”

“Tidak juga” ucap Fauzi lirih, kenapa ia merasa yang baru saja diucapkannya adalah kesalahan?

Sekali lagi Fauzi menggelengkan kepalanya. Dasar pikiran konyol. Ia memilih memandangi air sungai di sebelah jalan setapak itu. Airnya berkilauan terkena langit sore, membuat Fauzi terpesona. Terakhir kali ia ke sini, ia tak terlalu memperhatikannya, pikirannya terfokus pada tugas sekolahnya dan sikap Profesor Owl, yang ... jujur saja membuatnya agak sakit hati. Mau tak mau Fauzi jadi penasaran, masalah sebesar apa yang sedang pria itu hadapi?

Mobil itu berhenti, tepat di depan halaman rumah Profesor Owl. Lagi-lagi perasaan takut itu menghinggapi Fauzi.

Saat itu Kak Lily sedang menyiram tanaman di halaman depannya. Ia menatap bingung ke arah Fauzi, lalu ke arah Dokter Kamil. Fauzi turun dari mobil, sementara Dokter Kamil bilang dia harus mengambil surat undangannya dulu dari kursi belakang.

“Tumben,” sahut Kak Lily, Fauzi hanya menjawab dengan senyuman.

“Profesor Owl, ada? Ada tamu”

Kemudian tiba-tiba saja Dokter Kamil sudah ada di sampingnya. “Saya Kamil” ia memperkenalkan diri.

Fauzi bisa melihat ekspresi aneh tertera pada wajah Kak Lily. “Lily” jawabnya. “Kalian mungkin mau masuk dulu, sepertinya ada banyak yang harus di ceritakan”

Mereka berdua setuju. Kemudian masuk ke rumah itu. “Sebentar ya” Kak Lily berjalan terus menuju dapur.

“Jus jeruk buatan Kak Lily paling enak sedunia” Fauzi berbisik pada Dokter Kamil.

Dan sesuai dugaannya, begitu kembali Kak Lily membawa jus jeruk. Kemudian meletakkannya pada meja rendah di depan mereka. Dokter Kamil meneguknya sedikit untuk membuktikan ucapan Fauzi, dan benar, itu jus jeruk paling enak sedunia.

“Jadi,” kata Kak Lily “ada apa?” tanyanya.

Tak seperti biasanya, suaranya itu dingin dan mengancam. Tatapan matanya lurus pada Dokter Kamil seolah ingin merobek-robek wajahnya. Fauzi jadi bingung, ia tak suka suasana canggung ini. Kenapa semua perempuan seolah tak ada yang suka pada Dokter Kamil? Faiza, Alya, dan kini Kak Lily juga. Kak Lily bahkan belum sempat berbicara dengannya, tapi sikapnya seperti ular yang siap menyergap.

“Dia dokter Faiza, Kak Lily—” dan alasan Fauzi menghentikan kalimatnya adalah karena Kak Lily melotot ke arahnya. Fauzi merengut, dia berkata salah ya?

“Kau tidak minum jus jeruknya, Zi?” kata Kak Lily kemudian, tatapannya melembut, tapi Fauzi tidak menyukainya.

“Ya, Zi, kau sendiri yang bilang itu jus jeruk terenak sedunia”

Fauzi menoleh, tanpa diduganya. Dokter Kamil balas menantang tatapan kematian Kak Lily. Malah senyum disunggingkannya itu terlihat menyebalkan tanpa rasa takut. Tak tau harus berbuat apa, Fauzi meneguk habis jus jeruk di hadapannya. Entah kenapa kali ini agak pahit. Tapi yang lebih aneh dari itu adalah karena pandangannya kemudian mengabur, kepalanya terasa pusing dan matanya berat. Kemudian, gelap.

***

“Apa yang berusaha kau sembunyi kan?” tanya Dokter Kamil. Fauzi tertidur lelap di sebelahnya dengan irama nafas yang teratur.

Leonard Lacertuor, si Bunglon” jawab Lily sambil merogoh sesuatu dari saku celemeknya “jangan macam-macam” Lily menghunus pisau dapur.

Leon terkekeh.

Dasar orang gila, kenapa dia selalu tertawa dalam setiap keadaan?

0 komentar:

Posting Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^