29 Juni 2016

Revenge (Our Problem #03) - Part 13

Bau alkohol dan keringat menguar dari tempat itu, tapi tak satupun dari mereka yang nampak risih. Mungkin indra penciuman mereka terganggu akibat suara musik yang berdentum-dentum atau permainan cahaya yang membutakan. Entahlah. Bukannya hal itu penting juga. Hal seperti itu kan wajar saja di tempat seperti ini, wanita-wanita bodoh mabuk dengan pakaian minim serta pria-pria kaya buruk rupa sama-sama tak memedulikannya. Orang-orang yang lelah dengan dunia tidak peduli lagi dengan apa yang dikatakan akal sehatnya, kesenangan semu yang sesaat lebih terdengar menjanjikan daripada memecahkan masalah, dan itulah kenapa tempat ini tidak pernah sepi.

Bisa dikatakan, Gilang hafal betul tempat jenis apa yang ia datangi ini. Walau bukan kebiasaannya datang dengan mata tertutup, tangan terikat dibelakang, badan memar-memar, serta moncong senjata api di pelipisnya. Bukan cara yang menyenangkan untuk menghadiri pesta.

Dan ketika penutup matanya dibuka, ia tidak terkejut melihat apa yang ada dihadapannya.

Rano duduk di sofa besar, menyilangkan kaki dan lengannya, berpose bagai orang penting, sesuatu yang selalu ia sesali dari adiknya.

“Jadi ...” kata Rano “Aku lagi-lagi dihadapkan dengan pengkhianat”

Sejak pertama kali Rano pulang, Gilang tak pernah mengerti apa yang ia katakan. Kecuali satu hal, Rano benar-benar ingin membunuhnya, entah karena apa, dan sampai sekarang ia masih tidak mengerti.

Rano turun dan mendekatinya, menendang kakinya sehingga ia berlutut. Gilang mendongkak untuk menatapnya dan bertanya “Kenapa kau lakukan ini?”

Rano berbaik hati menjawabnya dengan pukulan keras dipipinya, membuat Gilang terjatuh ke satu sisi. Nampaknya tidak ada yang peduli dengan keributan di salah satu sudut ruangan ini, atau hal ini memang sudah sering terjadi?

“Bangun!” perintahnya, dan Gilang menurutinya, bukan hal yang baik membangkang pada Rano yang yang sedang marah. “Kau pikir kau siapa!” satu pukulan lagi dipipinya yang lain, bahkan lebih keras, bukan hanya jatuh, Gilang menubruk lantai.

Gilang tak punya banyak kekuatan untuk melawan meski ia mau. Tenaganya sudah habis untuk melawan sepuluh orang tak dikenal yang mengepungnya di gedung kosong tempat ia tinggal lima hari ini, dan selama lima hari itu pula ia tidak makan makan, dan hanya minum air hujan. Anak buah Rano selalu lebih banyak dari miliknya, dan dengan tekad sebesar yang ia lihat saat Rano pulang, ia pasti kalah ... dalam pertarungan konyol yang tak dimengertinya.

“Aku bersumpah, Rano. Semua ini salah paham saja,” Gilang berujar dengan susah payah.

“Lalu kenapa kau melarikan diri? Bukannya itu semanam pengakuan, ha?”

“Aku tak akan melawan, Rano.” Kalau dipikir-pikir, lima hari itu agak terlalu lama untuk membiarkan dirinya hidup jika Rano memang ingin menghabisinya. “Kalau boleh meminta” Gilang menelan ludah, yang artinya sebenarnya tempat persembunyiannya itu cukup bagus “Habisi aku saja secepatnya” yang juga berarti bahwa Rano akhirnya mendapat bantuan, dan kalau mereka saja sudah memutuskan untuk menolong Rano menghabisinya, sudah tidak ada lagi bantuan yang bisa ia harapkan. Bahkan anak buahnya juga entah berada di mana saat ini.

Rano tertawa. Gilang tau adiknya sudah lama gila, tapi ia tidak menyangka kegilaannya itu juga tidak memiliki pengecualian pada dirinya. Ia meringis, benar kata orang, harapan itu sesuatu yang berbahaya.

“Tau tidak, untuk bisa menemukanmu aku telah membayar harga yang sangat mahal” Rano berjongkok di depan wajahnya “Tadinya bisa saja aku membuat ini tidak menyakitkan, tapi toh ini salahmu sendiri”

“Apa yang akan kau lakukan?” Gilang tau dia akan menyesal menanyakannya.

Rano tersenyum licik, ia berdiri dan menginjak kepala satu-satunya keluargannya itu. Kematian yang cepat? Enak saja.

***

Kotak tidur, benda kecil berwarna hitam dengan corak ungu itu masih ada pada Alya. Polisi  tidak mencarinya setelah menangkap Rano dan Kak Rio dulu, mereka sama sekali tak tau tentang hal itu. Sementara Profesor Owl, juga tidak tau kalau benda itu ada pada Alya, ia pikir itu sudah di hancurkan.

Benda itu hanya seukuran seruas jari, kecil sekali, tapi ketika terpasang di dalam biola Alya. Suara yang dihasilkannya mampu membuat satu teater tertidur. Alya tidak begitu yakin dengan cara kerjanya, ia pernah melakukan beberapa eksperimen. Pertama, benda itu tidak berpengaruh pada hewan. Kedua, kotak tidur juga tidak berfungsi pada perangkat elektronik. Dengan kata lain, penggunaanya harus dari suara alat musik atau suara manusia.

Tujuan Profesor Owl merancang alat ini sebenarnya baik. Alya pernah mencuri dengar dari Fauzi, kalau Profesor berniat membuat alat bagi ibu-ibu muda yang kesulitan menidurkan bayinya, atau anak-anak rewel mereka yang memaksa begadang padahal ada ujian penting esok harinya. Dan efeknya dapat hilang sendiri dalam delapan jam, atau dengan mudah dipatahkan dengan suara wanita.

Profesor Owl, pasti orang yang hebat. Bagaimanapun, Alya yakin benda ini ada hubungannya dengan manipulasi gelombang dan reaksi otak, yang Alya sendiri tak akan memahaminya.

Ia menempelkan lagi kotak itu ke bagian dalam biolanya. Alya tak bisa bernyanyi, atau memainkan alat musik lain selain biola, jadi ia tak punya pilihan lain.

Kemudian ia memasang handsfree di telinganya, memutar musik dari ponselnya keras-keras, setelah mengatur seluruh musik yang akan diputar nanti dinyanyikan oleh penyanyi dengan pitch tinggi.

Ini hanya untuk berjaga-jaga. Hilangnya Aldo benar-benar aneh, sama anehnya dengan sikap Fauzi akhir-akhir ini, juga senyum Dokter Kamil yang selalu terlihat misterius. Itu mengingatkannya pada seseorang. Seorang pria yang bertanya ramah padanya mengenai rumah Pak RT, kemudian membekapnya dan membawanya ke rumah kosong. Pengalaman adalah guru terbaik, dan itu bukan karena mereka tidak memberikan PR.

***

A/N

Maaf gaje L, tapi seenggaknya saya update dua kali bulan ini *terussitubangga?!*

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^