18 Juni 2016

Hulk Ajaib

Maaf. Saya gak tau judul yang lebih relateble daripada judul extra click-bait ini. Habis kalau saya buat judul mini reuni The Charming kayaknya bosen banget. Apa? Kamu gak tau siapa The Charming? Well, we are weirdos, Nah, alasan yang lebih kuat untuk pergi kan? Meh, terus kenapa kamu tulis ini kalau gak pengen di baca orang? Karena, sekarang jam 8:43 hari Sabtu tanggal 18 Juni 2016, kurang dari dua belas jam sebelum deadline, dan yang sudah saya tuliskan untuk pos ini adalah spam. Sementara saya tidak ingin melupakan hari-hari ketika saya merasa senang. Dunia tak pernah punya kewajiban untuk membaca ini, tapi saya punya hasrat keabadian. *hoeek*

Abaikan.

Setelah menunggu selama ±tiga jam di sekolah dengan membahas hal-hal gak penting yang sekarang saya udah lupa dengan Hania. Kami akhirnya berangkat ke Ciawi untuk bertemu Intan.

Hari itu (Rabu, 15 Juni 2016) kami berniat nonton film Now You See Me 2. Tidak, kami tidak mengikuti tren untuk melihat aksi Valak dalam The Conjuring 2. Bahkan meski setan-setan dikekang di bulan suci ini. Nope, nope, nopity, nope *highfive, if you got that refference*

Jam dua belas, ketika dihubungi, Mila rupanya baru mau mandi. Saya tidak menyalahkannya, kalau saya punya waktu liburan nyaris eternal saya juga bakal males mandi. Jadi, untuk menghemat waktu, saya, Hania dan Intan pergi duluan ke Botani.

Kami sampai setengah jam kemudian, setelah memutuskan beli tiket yang jam satu tiga puluh bergegeas pergi shalat dzuhur. Begitu selesai dan Mila datang, rupanya kami masih punya waktu setengah jam sebelum film di mulai. Jadi, kami pergi ke Gramedia untuk sekedar melihat-lihat.

Intan dan Mila excited ngeliat novel O2-nya Orizuka terbit. Rupanya mereka sudah mengikuti seri 4R1A itu sejak buku pertama. Saya excited ngeliat komik cetak H2O: Reborn terbit. Kenapa saya sebut cetak? Karena sebenarnya kalian bisa baca gratis di webcomicnya. Sayang, waktu itu saya gak bawa uang lebih buat beli.

Sepuluh menit sebelum film dimulai! Ayo-ayo-ayo! Dan dengan drama rebutan kursi kami akhirnya duduk dengan khusyuk.

*pengaplikasian pelajaran memproduksi teks ulasan film sedang dalam proses ...*
Now You See Me 2, salah satu hal yang bikin saya pengen nonton film ini adalah karena beberapa waktu lalu saya nonton film pertamanya di TransTV. Film yang menghibur, saya gak perlu merasa bersalah karena sejak awal hati membela Four Horsemen daripada Dylan Rhodes, si FBI bego yang jelas-jelas mengundang simpati. Tapi begitu sampai ending, saya kesal luar biasa. Twistnya rese serese resenya. Harus saya bilang gak adil sama sekali. Namun, kemudian saya menerima, dan mengakui film itu keren.

*SPOILER ALERT*
REVIEW INI MENGANDUNG SPOILER DARI FILM PERTAMANYA. KALAU KAMU BELUM NONTON NOW YOU SEE ME LEBIH BAIK LEWATI  9 PARAGRAF BERIKUT

Jadi, Now You See Me 2. Setelah kesuksesan film pertamanya, rupanya mencoba mencari peruntungan dengan film kedua. Masih dengan tokoh-tokoh yang sama. The Four Horsemen, yang terdiri dari J. Danniel Atlas (Jesse Eisenberg), Merritt McKinney (Woody Harrelson), dan Jack Wilder (Dave Franco). Oh ya, satu orang lagi, sayangnya Henley rupanya keluar karena Isla Fisher-nya hamil sudah tak sabar menunggu dan digantikan Lula May (Lizzy Caplan). Serta tokoh utama kita, Dylan Rhodes (Mark Ruffalo) yang ternyata bukan FBI bego, tapi masih mengundang simpati. Di samping itu, masih ada Thaeddeus (Morgan Freeman), sang penggerak cerita dan jeng-jeng-jeng Walter Mabry yang diperankan Daniel Radcliffe. Dan itu, alasan kedua kenapa saya ngebet banget pengen nonton film ini.

Jadi cerita dimulai dengan narasi Thaeddeus yang tidak terima atas perbuatan Four Horsemen kepadanya, dan berkata bahwa mereka akan menerima balasannya. Kemudian scene berlanjut dengan Atlas yang rupanya sudah muak menunggu, dan menghampiri The Eye. Dia pulang dengan harapan ke apartemennya untuk kemudian bertemu wanita menyebalkan bernama Lula.

Baru saja ingin mengabari teman-temannya, untuk mendukungnya protes atas pernyataan Lula bahwa ia akan menjadi bagian baru dari Four Horsemen. Rupanya Lula sudah bersama Dylan, dan mereka harus bersiap melaksanakan perintah The Eye.

Sayangnya, ketika dalam proses sabotase peluncuran produk terbaru OCTA, sabotase mereka di sabotase. Akibatnya, rahasia Jack Wilder masih hidup diketahui publik dan identitas Dylan Rhodes terbongkar. Keadaan menjadi lebih parah ketika dalam usaha kaburnya, Four Horsemen tiba-tiba jatuh ke Macau. Mereka lalu bertemu dengan Walter Mabry, biang semua ini yang juga bekerjasama dengannya Chase McKinney, saudara kembar Merritt.

Kenapa pengusaha yang pura-pura sudah mati itu melakukan ini pada mereka? Karena ia ingin memanfaatkan mereka. Dimintanya Four Horsemen untuk mencuri sebuah chip ‘dewa’ dengan menggunakan keahlian mereka. Dan Atlas, beserta egonya menerima tawaran hidup atau mati itu.

Sementara itu, Dylan yang putus asa akhirnya menerima uluran nemesisnya, Thaeddeus untuk mencari Four Horsemen. Yah, dia buronan sekarang, semuanya jadi sulit. Dan begitulah cerita kemudian bergulir. Pengungkapan rahasia ayah Dylan, persahabatan yang kembali terikat, dan aksi balas dendam sekaligus penyelamatan publik yang manis.

Memasang ekspektasi serendah-rendahnya setelah membaca review film yang cukup buruk di mana-mana. Saya mendapati diri saya kemudian merasa puas. Penampilan aktor-aktornya yang memukau—Daniel with his sassy Potter that more sassy than the real Potter, I can’t even. Tapi kenapa Eisenberg digundulin, cakeppan gondrong padahal *eh?—, secara visual, teknik-teknik sulap mereka juga terlihat keren. Dan kisah Dylan Rhodes dengan ayahnya somehow bikin heartwarming. Sejujurnya, begitu keluar dari bioskop, saya amazed.

Tapi sekarang setelah memikirkannya lagi. Boleh dikatakan saya kecewa dengan si kembar McKinney. Di film sebelumnya, tokoh ini jadi tokoh paling ‘sassy’nya. Tapi sekarang, kehadiran kembarannya dan Walter bikin ke’sassy’an dia jadi turun—wtf am i talking about—. Ya, mungkin ini efek villain akan selalu lebih keren dari hero. Jadi karena mereka bukan orang-orang brengsek lagi dimata cerita dan penonton, karakter mereka juga jadi kurang menarik. Tapi poin plusnya persahabatan Four Horsemen jadi lebih di sorot. Namun, lagi-lagi masih kurang karena porsi Dylan dan ayahnya yang lebih besar. Selain itu, twistnya tidak semegah film pertamanya. Double twist? Triple twist? Seberapa banyak pun twist yang dihadirkan tokoh itu, sejujurnya gak akan mengejutkan penonton, sebab dia, dari film pertama emang udah gak jelas orangnya.

Saya cuma bisa protesin plot dan karakter, karena saya bukan orang yang hobi nonton juga terus bisa ngerti banyak hal soal perfilman. Apakah film ini layak ditonton atau tidak? Nah, saya cuma menyampaikan pendapat tanpa berniat memengaruhi kalian. Film ini keren, harus saya akui, banyak tapi nya itu juga setelah saya renungi kok, jadi saya sendiri sebenarnya menikmati film ini. Saran saya jangan berekspetasi banyak, karena harapan itu berbahaya. Kalian bisa cari review lain kalau belum pasti juga.

Oke kembali ke Hulk! Yang menghidari spoiler boleh buka mata lagi.

Setalah keluar bioskop dengan berwah-wah ria. Kami mencoba mereview filmnya dengan bertanya satu sama lain mengenai bagian-bagian yang tidak kami mengerti. Saking gak fokusnya, kami tetap berjalan ke eskalator ke lantai G padahal tadinya mau ke lantai 1 buat shalat Ashar. Yasyudahah lanjut ke GF, ke Gramedia dulu aja.Tapi sayangnya saat itupun pikiran masih pada gak fokus buat nentuin mau beli apa. Akhirnya kita balik lagi ke lantai 1 buat shalat Ashar. Habis itu balik lagi ke lantai 2 buat beli spagheti buat adik Hania. Terus Mila pengen liat-liat pashmina ke lantai 1. Gimana saya gak kesel coba?

Dan setelah itu, kami balik lagi ke Gramedia di GF. Dan resenya, nyari eskalatornya muter. Saya bilang ke Mila, abis ini pulang ya, awas aja kalau mau beli crepes. Dan rupanya bener. Kita beli Crepes di lantai 2. Dan di lantai G begitu pulang pun masih sempet-sempetnya liat-liat sepatu.

Malah ada juga kejadian ketika Mila keluar dari lift satu lantai sebelum lantai yang kami tuju, saya udah berusaha nahan dia, tapi dia terus dan akhirnya kita harus ngikutin dan kemudian baru ngeh. Vrooh.

Enaknya sama mereka tuh saya bisa sarkas abis-abisan tanpa harus ngerasa bersalah. Oke, lupakan kalau saya pernah bilang kita gak sedeket orang yang anggep ejekan sebagai tanda sayang. We do, tapi seenggaknya gak sampe bawa kebon binatang juga.

Well, good times. Can’t wait for next meet. :D

Ngomong-ngomong, saya sampe rumah jam setengah tujuh padahal tadinya gak niat sampe maghrib gini mainnya. Saya cape banget, langsung tidur, dan sampe lupa pasang alarm buat sahur, dan akibatnya orang rumah gak ada yang sahur. LOL

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^