1 Juni 2016

Random (6)

Tadinya saya mau buat semacam postingan evaluasi selama satu tahun terakhir—mengingat ini menjelang tahun baru bagi pelajar—, tapi ternyata banyak banget yang pengen saya sampaikan dan saya jadi bingung sendiri harus mulai dari mana dan kayaknya satu sama lain gak berhubungan dan ini dia.

STARLIGHT – DYA RAGIL

Akhirnya baca teenlit lagi

Saya nemu soal novel ini dari salah satu blogtour anggota BBI, dan kata-kata ‘persiapan olimpiade astronomi’ langsung menarik minat saya. Orang sentimental kayak saya emang gampang di pengaruhin kayaknya, cukup sesuatu yang berhubungan dengan diri saya sendiri—dalam hal ini fakta bahwa saya mengikuti OSK tahun ini—dan I’ll be your slave, sigh. Begitu tau kalau buku ini bercerita tentang peserta olimpiade, saya langsung pengen beli, kemudian saya menambahkan alasan lain untuk memaksa diri buat beli novel ini. Kovernya bagus banget, dan sepertinya romance-nya gak terlalu kental.

Saya terakhir kali baca teenlit beberapa tahun lalu, waktu SMP kayaknya, dan faktor terakhir itu berpengaruh banget. Saya yang sok idealis ini gak mau banyak-banyak baca romance biar gak kepengaruh dan pengen pacaran lagi. Dan karena cerita teenlit pun banyak yang romance—karena seolah urusan remaja itu cuma romance, duh—jadi saya menghindari itu. Sempet tertarik baca TouchĂ©, dengan alasan yang sama dengan Starlight—kayaknya minim romance—tapi sebelum sempet beli ternyata keburu ilang dari peredaran, sigh.

Dan akhirnya, saya baca teenlit lagi, sorak sorai dong buat saya *plak*. Awal-awal baca saya langsung senyum-senyum sendiri, dan gak bisa buat gak gangguin Iis yang lagi ngerjain tugas untuk bilang betapa luar biasanya adegan-adegan di buku ini. Intinya, saya ngerasa relate sama buku ini. Kehidupan pelajar yang sederhana, gak terlalu hebat ataupun menyeramkan. Mungkin itu juga alasan kenapa saya pernah berhenti baca teenlit, karena saya gak pernah bisa relate sama ceritanya, hal-hal itu terlalu wah bagi anak SMP pinggiran kota kayak saya.

Ditambah lagi dugaan saya ternyata bener, romance bukan poin utama di buku ini. Saya selalu percaya, bahkan meski keributan di kelas saya selalu disebabkan oleh anak-anak yang punya masalah dengan pacarnya atau minimal gebetannya. Masalah krusial untuk pelajar pasti bukan hanya itu, dan sebenarnya kepercayaan saya itu hanya berdasarkan novel-novel fantasi dan menonton remaja-remaja berbakat di Internet.

Cita-cita, keluarga, persahabatan. Tiga hal yang seolah di nomor sekiankan bagi remaja kekinian ini dirangkum apik dalam buku ini. Saya kenal orang seperti Teguh, siswa bermasalah yang sebenarnya hanya korban ketidakpedulian orang dewasa, dan ia tetap tersenyum sampai hari terakhir dia di sekolah. Saya tau orang-orang seperti Nindi dan Bagas, dalam arti orang-orang yang dimusuhi satu kelas. Lintang dan Wulan, saya mungkin belum pernah bertemu orang seperti mereka di dunia nyata, tapi perjuangan mereka akan selalu jadi motivasi buat saya.

Baca buku ini bikin saya semangat lagi setelah akhir-akhir ini hilang gairah buat belajar dan putus asa dengan kehidupan sosial. Selain penggambaran penderitaan masing-masing karakter yang kurang kuat, saya rasa ini buku yang worth to read kok.

*saya post di sini, karena kalian bisa lihat betapa subjektifnya review ini*

RESOLUSI

Tahun ini bukan tahun terbaik dan paling bersahabat yang pernah saya alami. Kalian bisa liat dari beberapa postingan saya selama kelas sebelas ini, yang tanpa saya bisa cegah berisi cacian, makian, dan keluhan. Saya sendiri gak ngerti kenapa bisa gini. Dalam ‘Eureka’ saya sempat berkata kalau saya menerima kenyataan bahwa keadaan masyarakat memang tak bisa sesuai harapan. Tapi logika saya menolak kenyataan bahwa itu artinya banyak orang yang tak bisa dipercaya maupun diandalkan. Bagaimanapun saya sama sekali gak suka sama keadaan saya sekarang, dan mencoba cepat-cepat mencari penyebab dan jalan keluarnya. Jadi berikut ini analisis saya.

Banyak hal yang mengecewakan saya. Dan kunci utama kekecewaan adalah harapan. Tentu saja jawaban dari permasalahan ini tidak seseram bahwa saya harus berhenti berharap pada semua orang. Hei, saya ini sedang mencari solusi positif. Mari kita katakan bahwa jawabannya sesederhana berbuat baik tanpa pamrih dan menjadi ball of sunshine all the time. Baiklah itu tidak sederhana, tidak ada jalan untuk tidak kecewa. Jadi saya harus berhenti menganggap serius semua kesalahan yang ada di dunia ini.

Dan hal itu termasuk kata-kata menyakitkan yang dikatakan orang-orang tanpa mereka sadari. Kebetulan Narsya lagi hobi nyanyi larik ‘jaga lisanmu kawan, karena lidah tidak bertulang’. Kata-kata ini sebenarnya sederhana, beberapa mungkin hanya bercanda sambil mengungkap fakta, yang lain hanya menyampaikan kekecewaan, tapi dasar saya yang hobi overthingking bisa ngerasa down banget kemudian mencari berjuta alasan untuk membela diri tapi hal itu tetap gak ngerubah perasaan jelek saya. Jadi, hei, diri sendiri coba berenti buat ngerasa sakit hati.

Kemudian karena overthingking disebabkan oleh ada waktu buat berpikir. Saya jadi pengen buat resolusi untuk menyibukkan diri. Resolusi? Ya, ini kan tahun baru bagi pelajar, setelah ulangan akhir tahun nanti yang namanya menata hidup kembali itu kerasa banget. Dan mencari kesibukkan ini penting banget supaya saya gak punya waktu buat mikirin perasaan saya sendiri, yay!

Hal pertama yang muncul kepikiran saya anehnya adalah read-aloud. Saya punya masalah dengan self-confidence dan salah satunya adalah err kita perhalus, saya selalu ngerasa aneh ketika mendengarkan suara saya sendiri. Nah, supaya saya  bisa melewati dua pulau dalam satu dayung, saa berniat untuk membaca buku bahasa inggris sekalian untuk memperlancar juga. Tadinya saya mau baca The Ice Princess, karena buku itu terlantar begitu saja tanpa pernah saya baca tapi saya takut tersandung masalah hak cipta. Jadi, mari kita cari cerita yang hak ciptanya sudah milik umum. Dan rupanya saya masih ada tiga file pdf Sherlock Holmes di laptop, jadi kenapa tidak?

Kedua, saya pengen banget punya notebook. Setelah bertahun-tahun nyorat-nyoret buku sakti dan halaman terakhir semua buku pelajaran. Saya merasa saya harus menjadi lebih dewasa dan corat-coret hal yang lebih bermanfaat di tempat yang tepat. Saya bahkan sudah memikirkan apa saja yang ingin saya gambar. Excited!

Kesibukkan lainnya? Hmm, belajar lebih rajin, membaca novel lebih banyak, menulis lebih sering dan menebarkan kebaikan. Bhak! Saya sama sekali gak ada persiapan buat bikin pos ini. Well, selamat ulangan semuanya.

PELIT ILMU

Yah, ulangan, dan kita semua bakal balik ke topik ini lagi. Nyontek.

Tapi saya gak mau bahas tentang nyontek. Tanpa berniat sombong saya akan berkata bahwa saya lelah kalau setiap kali ada tugas (entah kimia, fisika, atau matematika) dan gurunya gak ada saya jadi seleb dadakan. Ditanya sana sini bahkan untuk soal termudah sekalipun, dan seolah tak cukup saya berteriak satu kali menjelaskan ke orang paling jauh dari tempat saya akan ada orang lain yang menanyakan soal yang sama.

Seorang teman saya bilang “sabar fat, jangan pelit ilmu”

imgsrc

Dan mendengar itu tenggorokkan saya langsung sakit untuk kemudian menjelaskan apa pendapat saya tentang sikap orang-orang yang mendewakan nilai ini.

Kalau memang niatnya mau ilmu, logikanya mereka akan langsung bertanya ketika tidak benar-benar paham apa yang guru terangkan. Kalau memang pengen tau, logikanya mereka minta diajarkan ketika waktu luang dan bukannya bilang ini gak ngerti caranya, caranya aja kok. Tentu saya yakin memang bener-bener ada orang-orang seperti ini, mereka yang ketika gurunya menerangkan paham, dan soalnya aja yang bikin pusing. Tapi kita semua tau ada beberapa orang yang sama sekali gak mau berusaha, dan saya sama sekali gak punya rasa hormat terhadap mereka.

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^