4 Mei 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 11

Aldo mengerjapkan matanya, kemudian mengurut keningnya pelan. Kepalanya sakit sekali, ini pasti efek ia terlalu lama tidur. Berapa lama ia tidur ya? Tanya Aldo pada dirinya sendiri, ia mengangkat tangan kanannya, melihat ke arah jam tangannya. Pukul 10.00. Tapi suasana tempat ini masih saja gelap seperti tadi malam.

Ia mendengus. Ketika iseng memasuki pintu kecil misterius di bawah meja makan Dokter Kamil, ia tidak berniat untuk kemudian lupa jalan keluarnya. Kenapa pula Dokter Kamil punya ruang bawah tanah dengan lorong berliku dan puluhan kamar kosong? Merepotkan saja. Yang lebih menyebalkan adalah kenyataan belum ada yang mengeluarkannya dari sini sampai sekarang. Fauzi tentunya sadar kalau dirinya menghilang, ia pasti sudah memberi tahu Dokter Kamil juga, dan mereka bisa dengan mudah melacaknya dengan jam tangan Fauzi.

Aldo bangkit, bagaimanapun dia harus segera keluar dari tempat ini, dan mencari jalan adalah satu-satunya cara yang paling masuk akal. Aldo merenggangkan badannya, mengumpulkan tenaga untuk berjalan lebih jauh lagi dari semalam. Walau dia tetap saja tidak bisa menahan diri untuk tidak mengumpat, karena, bagaimana tidak? Tersesat di rumah orang yang baru saja ia kenal, sudah begitu tempat ini pengap bukan main dan ia kelaparan. Dan sekali lagi, kemana Fauzi di saat-saat seperti ini? Aldo menyesal kenapa dia meninggalkan ponselnya di rumah kemarin. Ia juga menyesal kenapa ia tidak pernah mau belajar menggunakan jam tangan Dokter Owl. Ia yakin benda ini punya fitur yang bisa membantunya saat ini. Ah, tapi kan itu salah Profesor Owl kenapa membuat alat yang terlalu rumit untuknya.

Baru dua puluh menit ia berjalan, Aldo memutuskan untuk berhenti. Ia bersandar di salah satu dinding lorong. Ia mengurut kepalanya, sembari menghela nafas panjang-panjang. Entah kenapa sulit sekali bernafas di sini, Aldo melihat sekelilingnya, ia memang hampir tidak melihat satu jendela pun di tempat ini. Dokter Kamil ini, memangnnya dia mau membunuh orang ya?

Jam tangannya berkedip, layar hologramnya tiba-tiba muncul menampilkan gambar animasikadal—sepertinya bunglon—yang mengedipkan sebelah matanya. Aldo mengerutkan dahi, tak biasanya jam tanggannya begini. Apa rusak karena terlalu lama dalam kegelapan? atau jangan-jangan bahan bakarnya adalah oksigen? Gambar itu berganti menjadi anak panah yang berkelap kelip. Aldo mengikuti arah yang ditunjukkan anak panah itu. Sebuah pintu. Dan pintu itu pelan-pelan terbuka.

Sejak semalam, Aldo tidak beranI memasuki satu kamarpun Di sepanjang ruangan ini. Memasuki pintu kecil Dokter Kamil memberinya pelajaran, dan Aldo tidak mau tersesat lebih jauh lagi. Meski saat inI pun Ia tak tau di mana posisinya. Dan Jika jam tanggannya baru saja secara ajaib memintanya memasuki kamar yang tiba-tiba terbuka sendiri ... sebenarnya itu malah membuat Aldo semakin tidak mau melakukannya. Ia melangkah mundur, bahkan berniat melepas jam tangannya, tapi hidungnya tiba-tiba membaui sesuatu. Ayam panggang. Perut Aldo bergemuruh. Mungkin ini bukan ide buruk.

Tapi baru saja ia melangkahkan kakinya selangkah, pintu dibelakangnya tiba-tiba saja tertutup. Aldo mencoba memutar kenopnya, dan kekhawatirannya jadi nyata, pintu itu terkunci. Sialnya, aroma ayam panggang tadi juga menghilang. Kini jam tangannya pun berulah lagi, salah satu ujungnya tiba-tiba mengeluarkan sinar serupa senter dan langsung menyorot sebuah sosok di ujung ruangan.

Lari, kata Aldo pada dirinya sendiri. Tapi kakinya tidak mau menuruti perintahnya. Alih-alih mengumpulkan tenaga untuk lari tubuhnya malah terasa lemas. Lari sejauh-jauhnya, ulangnya. Tapi tidak, Aldo malah jatuh terduduk, dengan mulut menganga. Seluruh tubuhnya bergetar ketakutan, membuat cahaya senter dari jam tanggannya ikut bergoyang bagai lampu disko menyinari sosok yang amat mengejutkannya itu.

Makhluk itu memang tidak bergerak, hanya teronggok begitu saja di sudut ruangan, membiarkan lalat mengerubungi dirinya. Tapi itu sudah lebih dari cukup. Bau busuk yang disebarkannya, bentuknya yang sudah tidak keruan lagi, dan kenyataan Aldo berada satu ruangan dengannya membuat Aldo mual.

“Ah, maaf aku lupa membersihkan yang satu itu” jam tangannya berkedip. Suara pria yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu menyapanya.

“A ... apa maksudmu?” tanya Aldo gelagapan “kau tau ... kau sudah tau ada seseorang mati dibawah rumahmu, tapi diam saja?”

“Nah, sebentar lagi akan jadi dua, dan saat itu aku tak akan lupa, tenang saja”

Jam Aldo berhenti berkedip, pria itu memutuskan salurannya. Aldo sama sekali tidak tenang. Apalagi begitu terdengar bunyi desiran udara dari langit-langit. Apa pun itu, ada gas yang memenuhi ruangan itu. Awalnya baunya seperti ayam panggang, tapi kemudian Aldo semakin sulit bernapas, kepalanya semakin terasa pusing, badannya semakin lemas, matannya semakin berat, rasa lapar dan mualnya perlahan hilang seiring kegelapan yang lebih pekat merenggutnya.

Leon tersenyum, kemudian ia mematikan layar hologram yang tadi baru saja muncul dari jam tangan Fauzi. Mawar boleh saja sudah mati, tapi bukan berarti ilmu peretasnya hilang begitu saja dari muka bumi.

Dikantunginya jam tangan itu ke dalam jas dokternya. Satu beres, tinggal tiga lagi.

Tapi Leon tak perlu menunggu lama, ia cukup berbalik, menatap Faiza dari samping ranjangnya. Anak itu memandangnya benci, Leon sengaja tidak menyembunyikan fakta ia habis menakut-nakuti Aldo tadi. Toh tak banyak yang bisa gadis itu lakukan—Cukup satu minggu uji coba sampai mana kekuatan jantung itu menahan obat racIkannya, dan kini tubuhnya sama sekali tak bisa bergerak. Satu minggu, mengesankan—Jadi Leon hanya tersenyum saja.

“Aku sudah tau” bisik Faiza sambil meringis menahan sakit di dadanya. “Semenjak kau datang, obat-obat itu, jantungku berdebar-debar”

“Yah” Leon menyisir rambutnya dengan jari-jarinya “Kau bukan gadis pertama yang jatuh pada pesonaku”

Faiza meludahinya. Tapi Leon cukup waras untuk mundur sebelum cairan itu mengenai wajahnya.

“Hati-hati, aku ada janji setelah ini”

“Kakakku tak akan diam saja” gertak Faiza “Kak Lily, Pofesor Owl, juga Alya”

Leon tidak menjawab, di rogohnya sebuah botol kecil dari jas dokternya. Kemudian sebuah suntikkan yang masih baru. “Sebenarnya, janjiku itu dengan kakakkmu”

Setelah mengisi suntikkan itu dengan cairan dalam botol, ia meraih tangan Faiza.

“Hentikan” seru Faiza, ketika benda tajam itu menusuk tubuhnya.

“Kami akan mengobservasi gedung pengolahan limbah cair untuk tugas sekolahmu”

“Brengsek”

“Tidak, kata yang tepat itu terima kasih, anak baik” Ia menarik selimut Faiza menutupi wajahnya “sekarang, selamat tidur”

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^