9 April 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 10

Bel berbunyi satu kali, menandakan pergantian pelajaran, tepatnya jam pelajaran kedua ke ketiga. Fauzi langsung berlari begitu gerbang dibuka untuk siswa-siswa terlambat. Ia kemudian disambut dengan tatapan heran dari teman-teman sekelasnya. Fauzi terlambat? Seolah kenyataan bahwa Faiza sakit, Alya tertidur seperti kerbau, dan Aldo alfa itu belum lebih buruk.

Fauzi menghela nafas, boleh dibilang dua minggu in adah dua minggu paling ganjil dalam hidupnya, dan dia membencinya. Diliriknya Alya yang teridur di meja di depannya, ia meringis, mau tak mau merasa bersalah.

Alya nampaknya terperanjat ketika melihat lingkungan rumah dokter Kamil semalam. Tempat itu mengingatkan Fauzi pada rumah Profesor Owl, letaknya di tepi hutan. Jadi, katakanlah karena Fauzi dan Aldo sudah sering ke rumah Profesor Owl mereka juga sudah terbiasa dengan suara binatang mengerikan dari balik hutan dan serangga yang berkeliaran.

Tapi Alya tidak. Apalagi karena dokter Kamil tinggal sendiri, rumah itu jauh lebih berantakan. Bahkan meski Alya diizinkan tidur di kamar yang konon dulunya kamar saudara perempuan dokter Kamil yang sekarang sudah menikah, kamar itu tidak jadi lebih rapi. Seolah-olah saudara perempuan itu baru pergi kemarin dan tak sempat membereskan kamarnya yang sudah berantakan selama berbulan-bulan.

Alya menghabiskan waktu lebih dari setengah jam untuk membuat dirinya nyaman. Tapi rasa lelahnya tidak membantunya untuk tidur, selain karena ancaman serigala dan buaya, juga karena lampu rumah itu tak satupun yang menyala, dan Alya tak terbiasa tidur dalam kegelapan. Sinar rembulan juga tidak bisa menembus jendela karena sekarang memang musim hujan. Ada lilin, tapi itu malah membuat suasana kamarnya jadi lebih menyeramkan seiring angin yang berembus membuat bayangan benda di sekitarnya seolah bergerak-gerak.

Ketika di bangunkan pukul lima, Fauzi melihat wajahnya pucat dengan bayangan hitam di bawah matanya. Fauzi menyarankannya untuk tidak usah pergi sekolah, tapi Alya menggeleng. Entah itu karena semangatnya untuk sekolah atau untuk membuat Fauzi merasa bersalah setiap melihat wajahnya.

Sementara itu, Bu Endang sudah memasuki kelas, membuat suasana seketika hening dari gumaman sisowa.

“Alya” bisik Fauzi “bangun”

Fauzi bisa melihat anak itu membuka matanya lebar-lebar dengan terkejut, lalu menggerakkan maniknya ke kanan dan ke kiri, mencoba membiasakan diri dengan cahaya.

“Siapa yang tidur?” dusta Alya, kemudian mengangkat kepalanya dan merapikan buku-bukunya tanpa terlihat kikuk akibat masih terjebaknya sebagian pikiran di dunia mimpi “Kenapa kau terlambat, Zi?” Ia mengalihkan perhatian “Kemana Aldo?”

“Itu ...” Fauzi ragu mengatakannya “Aldo menghilang.”

Alya buru-buru menoleh, menatap Fauzi ketakutan “Apa maksudmu?”

Wajar jika Alya tidak tau, ia sagat mengantuk tadi pagi dan tidak memperhatikan kalau Aldo tidak ikut pulang bersama mereka. Fauzi hanya menjawab dengan kibasan tangan, meminta Alya untuk memperhatikan pelajaran bu Endang.

***

“Dasar tukang rujak amatiran” keluh Fauzi “sambalnya terlalu manis”

Alya memandangnya tidak percaya. Begitu bel istirahat berbunyi anak itu langsung berlari ke gerbang sekolah, bergabung dengan kerumunan anak lain yang berebut keluar supaya bisa membeli makanan pedagang kaki lima. Padahal biasanya dia tidak pergi kemana-mana saat jam istirahat, jangankan ke luar gerbang, ke kantin saja dia tidak mau. Soal makanan, ia biasa membawa sendiri dari rumah, atau Aldo akan mentraktir roti isi untuk mereka semua dan makan di kelas.  Tapi di sinilah mereka sekarang, duduk di tempat paling sepi di kantin, menghabiskan waktu makan siang. Fauzi bahkan memilih menu yang tak kalah aneh, rujak buah.

“Zi, tidakkah kau pikir ada hal penting yang harus kaujelaskan padaku?”

Fauzi menatapnya sebentar kemudian melanjutkan menelan mangganya. “Aku tak ingin kau terlalu khawatir, oke? Aku yakin dia hanya tersesat di hutan”

“Nah, kau sendiri terlambat ke sekolah. Anak-anak bilang itu pertanda buruk?”

Fauzi tidak menjawab “Tahu tidak, aku rasa aku melihat tukang rujak ini sebagai tukang sayur tadi pagi, aku rasa itu alas—”

“Zi!” Alya frustasi, tadi anak itu bilang akan bercerita, dan sekarang malah mengalihkan pembicaraan “Kau pikir dengan menyembunyikannya dariku membuatku jadi lebih lega?”

Fauzi menghela nafas, dengan semua yang telah terjadi dia tidak mau membesar-besarkan masalah. Ya, Aldo memang menghilang, tapi keadaan belum tentu seburuk itu kan? Iya kan?

“Pukul tiga pagi, aku bangun dan dia sudah tidak ada. Aku ingat sebelumnya dia memintaku mengantarnya ke kamar mandi, tapi aku tidak yakin” Fauzi melawan keinginannya sendiri untuk tidak bercerita “Aku langsung mencarinya, tapi dia tidak ada di mana-mana. Aku membangunkan dokter Kamil, meminta jam ku kembali supaya kita bisa melacaknya, tapi benda itu bilang Aldo masih di rumah dokter Kamil. Sepertinya ia menjatuhkannya di suatu tempat di rumah, lalu aku dan dokter Kamil pergi ke hutan—”

“Tunggu dulu, kalian ke hutan?!” Alya panik

Fauzi ragu, tapi kemudian menjawab “Ya,”

“Kalian meninggalkanku sendiri di rumah mengerikan itu?!”

“Y-ya? Jadi kau mau aku melajutkan ceritanya atau tidak?”

Alya menghela nafas pasrah “Lanjutkan”

“Kami pergi ke hutan, tapi kami juga tidak menemukannya. Pukul lima kami kembali, dan kau tau selanjutnya. Setelah mengantarmu pulang, aku mengantar dokter Kamil ke rumah Aldo, menceritakan yang sebenarnya pada orang tuanya. Pasti sekarang mereka sedang mencarinya. Dan begitulah” jelas Fauzi sambil menandaskan potongan terakhir di rujaknya.

“Masalah sepenting ini dan kau berniat menyembunyikannya dariku?” Alya menatapnya tak percaya “Kau sudah cerita pada Faiza? Profesor Owl? Kak Lily?”

Fauzi menggeleng “Semuanya akan baik-baik saja”

“Kenapa kau bilang begitu” bagaimanapun, sikap Fauzi yang terlalu santai inilah yang membuat Alya khawatir.

“Karena dokter Kamil bilang begitu”

Alya menepuk dahinya “Apa yang salah denganmu, Zi?”

Bel berbunyi, menandakan akhir jam istirahat makan siang. “Ada yang salah denganku?” Fauzi bertanya balik dengan nada getir di sela-sela sahutan kecewa pengunjung kantin yang lain “Jangan lupa pulang sekolah kita akan pergi ke gedung pengolahan limbah cair dengan dokter Kamil” Ia lantas berdiri, meninggalkan Alya yang tidak tau lagi ekspresi apa yang harus ia tunjukkan untuk menunjukkan rasa bingung, kaget, serta kesalnya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^