30 April 2016

Di Balik 'Gema Orkestra Bambu SMAN1C'

Warning: Postingan berikut mengandung konten bernuansa negatif dan lebay, saya tidak bertanggung jawab terhadap setiap ‘meh’ yang ada ucapkan. Saya serius.

April, saya gak pernah nyangka akan jadi bulan yang sesibuk ini. Setelah melewati Maret yang tak meninggalkan kesan berarti, April datang ketika saya harus membagi fokus.

Masalahnya selain event angklung yang akan saya ceritakan, pada bulan ini BBI juga sedang berulang tahun yang ke lima, dan pada pertengahan bulan mengadakan posting bareng yang meski berusaha menyempatkan diri untuk mengikutinya akhirnya saya hanya bisa ikutan buat GA-Hop-nya saja. Sudah begitu, tak sempat pula ikut GA temen-temen BBI yang lain, wajarlah akhirnya gak menang satu pun. Ya sudahlah.

Dan sepertinya bukan kebetulan juga ketika sedang sibuk-sibuknya ini saya malah ‘depresi’. Entah memang ada sebab akibata atau memang otak saya aja yang lagi ngajak ribut make acara over-thingking berhari-hari. Akhirnya, ditambah beberapa tugas pelajaran yang memaksa saya untuk tidur larut malam, saya jadi sering sakit kepala. Rese emang.

Yah, semua berawal dari akhir bulan Maret. Suatu hari, di hari yang saya gak inget cerah ato enggak, saya ketemu Kak Uji di gerbang sekolah. Waktu itu Kak Uji memang belum UN dan US jadi masih ada di sekitar sekolah. Intinya, Kak Uji pesen ke saya buat ngumpulin empat puluh orang buat tampil perpisahan. Saya sih nyanggupin aja, walau dalem hati gondok sendiri menyadari kenyataan latihan rutin hampir selalu hanya di hadiri rata-rata dua belas orang. Salah saya sendiri yang selalu mengeluh tanpa bertindak. Ugh, please stop depression.

Dan begitu selesai melewati konflik batin antara ikut tampil di acara Kartinian atau tidak. Karena, damn, waktu saya bilang banyakin acara biar mustra bisa ikut tampil itu bukan berarti ada dua acara dalam jarak satu minggu. Akhirnya mengingat angklung nyaris gak pernah kedengeran bagus di acara outdoor kecuali ada enam mic tembak, kami  memutuskan untuk gak tampil di Kartinian, maaf ya fans *plak*

Meski himbauan tanggal latihan adalah tanggal sebelas, kenyataannya kami baru latihan dari tanggal delapan belas. Yah, ngertilah orang berbakat mah banyak jobnya. Beruntung, hanya punya waktu latihan sepuluh hari kami gak ada masalah sama ruangan, semisal rebutan dan sebagainya.

Tapi tentu saja ada masalah, karena sebenarnya itulah tujuan saya membuat postingan ini. Menuangkan kegelisahan saya selama sebulan ini. Pertama, maafkan bahasa saya tapi screw you, omdo people. Saya gagal mengumpulkan empat puluh orang. Tapi mungkin tidak akan semenyedikan itu jika saja saya tidak berakhir dengan dua puluh lima orang, ketika awalnya yang bilang mau ikutan sampai tiga puluh lima orang. Oh, tentu saja tidak ada masalah dengan itu. Ya, benar, saya baik-baik saja tidak diliputi kekhawatiran kalau nanti angklungnya tidak terdengar di panggung. Saya juga gak kesal kok ketika sadar orang-orang yang hadir di foto buta jauh lebih banyak dari yang datang di latihan rutin. Ah, apalagi kalau cuma masalah mengeluh soal harga pakaian yang kemudian ketika sudah diturunkan harganya tetap tidak mau ikut latihan. Tidak, saya sama sekali tidak mengalami krisis kepercayaan terhadap manusia karena hal itu. Hahaha *nangis dipojokkan*

Sisanya tidak terlalu buruk, pada akhrinya kami tidak sempat membeli kostum bahkan sekedar rompi dan beberapa latihan tersendat sia-sia. Yang paling parah sebenarnya adalah ketika guru pembina kami ditegur karena kami dispen dan tak ada guru kesiswaan yang tau. Lagi-lagi saya dihantam rasa bersalah, tapi agak lega karena besoknya ketika beliau mengajar dan semua sepertinya sudah baik-baik saja.

Dan dengan semua latihan santai selama sepuluh hari (saya gak bisa bilang kami di geder, entah kenapa) Akhrinya tanggal dua puluh delapan tiba juga. Dengan personil minim dan kostum seadanya, sejujurnya saya takut dapat komentar negatif lagi dari kakak kelas (Kondukternya Uji lagi?  Kok gak ada perkembangan?) Ah, tapi bodoamat lah.

Menghimbau semua orang untuk datang jam tujuh, saya senang nyaris semua orang datang tepat waktu. Beberapa memang terhadang macet, tapi setidaknya tak ada yang berusaha menghancurka kepercayaan saya lebih jauh lagi. Semua berjalan dengan sederhana dan bersahaja, kami gak ribet pake hijab riweuh kayak tahun lalu ataupun make-up-an. Satu-satunya konflik adalah ketika tata panggung diubah di detik-detik terakhir.

Tapi semua berjalan lancar. Kami sengaja membawakan lagu Marvin Gaye untuk menghemat waktu latihan, juga Joged Berhibur untuk sentuhan lokal serta Medley lagu Bungong Jeumpa, Sik Sik, Cingcangkeling, jali-jali, dan Apuse untuk kesan ‘orkestra’. Bagus tidaknya penampilan kami saya tidak pernah yakin. Kak Eja bersorak mungkin karena dia juga anak mustra, sementara Kak Uji tidak berbicara banyak karena ia harus kembali ke kursi penonton.






Begitu menyantap konsumsi yang diberikan, hampir semua orang langsung pulang walau awalnya Kak Uji bilang kalau kami akan berfoto dulu. Entahlah, saya gak yakin kalau harus nunggu sampai sore. Menghabiskan aktu satu setengah jam di perjalanan, saya langsung tidur saking lelahnya. Berakhir, semuanya sudah berakhir.

Akhir kata terima kasih untuk semua orang yang sudah terlibat dalam acara ini. Makasih Alfi, Dinda, Fadilah, Odol, Farisa, Fio, Hania, Indri, Laudia, Ch(e)line, Miswa, Mbip, Nabila, Bambang, Nadiya, Ica, Nita, Rafika, Ranti, Sisil, Eni, Tia, Uhti, dan Widya. Makasih juga Narsyacapella (Iis, Holis, Caca, Lidya, Yuli, dan Iper) kita gak ada apa-apanya tanpa kalian dan tentunya tim Marawis SMAN1C (Ucup, Doyok, Agrian, dan Rifqi) yang mau latihan dadakan demi jadi tim perkusi, maafkan kalo PHP, maafkan pula kalau kita ngebuat kalian ngerasa jahat gara-gara pilihan lagunya. Makasih makasih makasih :D

Bulan April akan menjadi bulan yang berkesan bagi saya. Mengalami ‘mental breakdown’ tapi sekaligus menemukan harapan dari pengalaman orang lain bukan hal yang sering terjadi. Mengetahui kebencian yang tersebar diantara orang-orang ternyata juga bisa membuat saya intropeksi diri. Dan sekarang saya harus mempersiapkan diri untuk sebuah ancaman kehancuran yang sudah menggelitiki hidung saya.

Well, at least I can feel ‘fine’ by now

0 komentar:

Posting Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^