23 Maret 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 9

Kapan terakhir kali dia bertemu dengan Wanda? Rano tidak ingat. Ia tidak terlalu akrab dengan wanita itu, atau berusaha untuk tidak akrab. Wanda punya banyak uang, meski kenyataan ia adalah wanita, ia wanita yang cerdas. Dan bagaiamanapun itu bukan perpaduan yang disukainya. Tapi ikatan yang sudah dibentuk dengan seorang Wanda tidak bisa diputus begitu saja, jadi terpaksalah dia menurut untuk datang.

Wanda duduk di kursi kebesarannya, mendongkak menatap seorang pria kurus berseragam pos dihadapannya, sepertinya sedang memberikan instruksi. Ketika melihat Rano di ambang pintu, ia menyuruh pria itu pergi.

Ketika pria itu melewatinya, Rano sadar ia mengenalinya.

“Kemari, Rano, duduk” suara Wanda menghentikan Rano untuk mengingat di mana ia pernah melihat pria itu.

Rano menurut, ia tidak bisa melakukan hal yang aneh-aneh selama dua bodyguard berbadan sebesar pemain sumo yang mengantarnya kemari tadi menunggu di luar.

Wanda mengambil salah satu map di atas mejanya, dan nampaknya sedang serius membacanya. Rano nyaris merasa sedang tidak diacuhkan sampai wanita itu membuka suara lagi.

“Kudengar kau sedang mencari kakakmu” katanya, tanpa mengalihkan pandangan pada Rano.

Rano tidak kaget. Wanda jelas punya kemampuan untuk mengetahui segala tentang tim.

“Gilang ... dia, berkhianat”

Wanda bergumam tidak jelas, lalu menatapnya dengan tajam. Rano tidak pernah merasa setakut ini pada seorang wanita.

“Dan kekacauan apalagi yang berniat kau lakukan?”

“Aku tidak ...” Rano menghela napas “Yang ini tidak akan jadi kekacauan”

“Dan bagaimana kau yakin? Kau jadi buronan sekarang, kau bahkan tidak bisa keluar rumah kalau bukan karena bantuanku”

“Benar” Rano menelan ludahnya “Tapi, kenapa kau memanggilku kemari, Wanda?”

“Panggil aku Gwen, saat ini aku adalah Gwen. Pencetus Lacertuor, alasan kenapa kau masih hidup dan bukannya membusuk di penjara” kata-katanya itu diucapkan dengan tenang, tapi Rano bisa merasakan penekanan yang membuatnya merasa terintimidasi.

“Gwen”

“Baiklah, jangan tegang begitu” lanjut Gwen. “Memang sudah jadi sifatmu, dan aku tak bisa menyalahkannya. Bagaimanapun, aku tidak bisa menyingkirkanmu begitu saja meski seseorang begitu ingin melakukannya”

“Yah, Gilang, dia tidak berharga” kata Rano ragu, dan entah mengapa dia bisa merasakan Gwen sedang menatapnya, seolah berusaha menjerit padanya, tapi yang ia dengar selanjutnya sama sekali tidak terdengar seperti jeritan.

“Sejujurnya, Rano, aku tidak mau mencampuri urusanmu dengan siapapun ia yang ingin membunuhmu. Tapi, mungkin aku bisa membantumu kali ini”

“Terima kasih Gwen”

Gwen menghela nafas dan memejamkan matanya sebentar. Ia mundur dan membungkuk sebentar untuk mengambil sesuatu dalam lacinya kemudian menaruhnya di atas meja. Sebuah kertas kecil berwarna putih. Itu, pikir Rano, pasti alamat tempat Gilang tinggal.

“Satu hal lagi” kata Gwen sebelum memberikan kartu itu pada Rano “Jauhi anak-anak itu”

Rano menghentikan tangannya dan menatap Gwen tidak percaya “Apa?”

“Kenapa? Kau tidak mau?”

Rano bergegas mengambil kartu itu sebelum Gwen menaruhnya lagi, “tapi kenapa?”

“Mereka sepertinya memberi sial padamu” sahut Gwen sekenanya

“Tapi Gwen—”

“Turuti perintahku dan berhenti merengek, kau tau aku yang punya kuasa di sini”

Rano menggenggam kartu itu kuat-kuat, benci pada situasinya saat ini. Dilihat dari sudut manapun, pernyataan Gwen tadi itu tidak masuk akal. Kalau dia boleh membalas dendam pada Gilang, kenapa tidak pada anak-anak itu? anak-anak itu penyebab kekacauan hidupnya, kenapa ia tidak boleh menghancurkannya?

“Tenang saja, aku pasti melakukan sesuatu pada mereka, Rano” kata Gwen lagi.

Tapi itu tidak membuatnya senang, Rano terobsesi melihat mereka tersiksa ditangannya sendiri. Orang bilang balas dendam itu manis, dan Rano pernah membuktikannya, kenapa ia tak boleh merasakannya kepuasan itu lagi?

“Kau boleh pergi” ucapan Gwen memecah lamunannya.

“Apa?”

“Meraka akan mengantarmu, jadi kau tak perlu khawtir. Selesaikan urusanmu dengan Gilang, dan jangan buat kekacauan”

Setelah mendengarnya, Rano bangkit dan siap untuk pergi. Tapi sebelum dia meraih gagang pintu, ia teringat satu hal.

“Gwen, pria tadi. Aku melihatnya di Rupakra, kau mungkin bisa mempertimbangkan dia juga melihatku di sana, dan aku tidak benar-benar aman sekarang”

Rano bisa melihat Gwen kaget sekejab, tapi wanita itu cepat menguasai dirinya dan berkata “Aku akan mengurusnya”

Rano keluar.

***

Gwen terkekeh. Pertama Leon dan Rano, sekarang Rano dan ... kita sebut saja The Gecko. Sepertinya, perkumpulan mereka memang sudah mendekati akhir.

Ponsel Gwen bergetar, orang yang baru ia pikirkan tiba-tiba menelfon.

“Semua baik-baik saja?”

Gwen menjawab dengan tawa “Dia penurut seperti biasa”

“Oh, syukurlah”

“Kecuali fakta kalau kau ketahuan”

“Eh?”

“Dia melihatmu di Rupakra”

“Sungguh? Lucu sekali”

“Itu pasti ikatan batin” canda Gwen

“Jadi ... kau akan menghukumku?”

“Astaga, kau pikir aku sejahat itu?” dan Gwen tak perlu menjelaskan pada lawan bicaranya apa maksud kata-katanya, dia bahkan melindungi Rano dari bahaya yang ternyata malah datang dari Leon. Kenapa ia harus menghukum tangan kanannya yang satu ini?

“Kau bisa jahat kadang-kadang”

“Ya, ya, ya. Tapi urusan yang benar membuatku pusing akhir-akhir ini membuatku jadi lebih baik hati”

“Terserah apa katamu, Gwen. Terserah apa katamu”

“Sudah kan? Kau hanya bertanya kabarku saja? Kalau begitu sampai jumpa ... kau tadi memakai nama apa? Aku lupa”


“Tama. Dan, sampai jumpa juga”

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^