20 Februari 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 7

“Apa yang kau inginkan, Leon?” tanya suara tinggi tapi anggun itu. Sang pemilik suara menatap leon dengan mata coklatnya. Rambut hitam legamnya ditarik ke belakang, membentuk sanggulan rendah. Ia duduk di balik sebuah meja dengan setumpuk kertas yang menuntut diperhatikan. Di atas meja itu pula, terletak sebuah balok dari marmer yang diukir dengan guratan keemasan yang menuliskan namanya, yang jelas-jelas menunjukkan bahwa dia bukan orang asli negara ini. Gwendalyn Lacertuor.

Ia masih menggunakan nama itu, kata Leon dalam hati dan itu mau tak mau ia merasa terharu. Bagaimanapun nama itu membuat ia dan Gwen serta Lacertuor lainnya terikat. Walau, memang, ia tak tau siapa Lacertuor lainnya itu, Gwen tak pernah memberitahunya. Demi keamanan tim katanya, tim yang seharusnya sudah bubar seiring hancurnya motivasi awal mereka yang murni. Persetan motivasi itu, Leon hanya muak dengan manusia, dan begitu pula dengan Lacertuor lainnya.

Leon melihat sekelilingnya sebelum menjawab. Tirai-tirai di tutup dan dinding ruangan itu dilapisi karpet, bahkan CCTV dimatikan. Sementara di luar tadi, ruangan kantor amat sedang sangat sibuk. Intinya tak mungkin ada satu orang pun yang akan mendengar atau melihat apa yang akan mereka lakukan.

Leon pura-pura tersipu dan memandang Gwen dengan malu. “Yang jelas bukan gossip”

Gwen memutar matanya. “Aku tak punya banyak waktu, Leon”

“Baiklah, aku minta maaf, Gwen. Begini, kau sudah lihat beritanya kan?”

“Maksudmu, Mawar? Ya, benar-benar payah” wanita itu memalingkan wajahnya. Orang-orang selalu memanggilnya dengan Wenda, karena itu lebih akrab di telinga warga kota ini. Dan panggilan ‘Gwen’ ... hanya Leon yang memanggilnya begitu. Itu semacam kodenya.

Leon mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju “Nah, kemudian, Gilang, baru saja melarikan diri”

“Oh” kata Gwen malas “Jadi apa hubungannya denganku?”

Leon mengangkat sebelah alisnya, “Kau sepertinya tidak tertarik dengan cerita di baliknya ya?”

“Untuk apa? Apa kaburnya Bintang akan merugikanku?”

“Gilang” koreksi Leon “yaah, kau benar, memang tidak. Tapi kau mau membantuku bukan? Membantu adiknya”

“Kau adiknya si Gemilang ini?” kata Gwen. Walau dalam hati ia tau jawabannya bukan.

“Bukan begitu. Pokoknya aku—kita—sedang dalam masalah dengan kaburnya Gilang ini, dan kematian Mawar juga. Aku tak akan berbohong, Gwen, mereka penting bagiku, dan kini aku tinggal sendiri. Adiknya, Rano—”

“Rano? Maksudmu Rano si pengacau itu?” Gwen menahan nafasnya sebentar. Leon punya hubungan dengan Rano?

“Iya,” jawab Leon ragu. “Kau pasti mau membantuku kan? Membereskannya? Tidak tentu saja tidak seharfiah itu. Cari saja dimana Gilang, beritahu Rano. Pokoknya jangan buat dia menggangguku”

“Kenapa aku harus melakukan itu?” tantang Gwen.

Wajah Leon jadi murung, atas alasan inilah Leon tidak pernah memasukkan Gwen dalam kategori akan selalu membantunya. Wanita ini punya kekuasaan, dan itu membuatnya sulit ditaklukkan. Bagaimanapun, yang Leon butuhkan adalah mereka yang mematuhinya. Leon mengambil tas jinjingnya di meja tamu. Lalu membukanya seperti mencari-cari sesuatu.

“Astaga, Leon! Aku bercanda, tentu saja aku akan membantumu”

“Tidak, Gwen, kau benar. Aku cukup tau diri untuk menyiapkan sesuatu untukmu”

“Apa? Kau membawa pisau bedah? Aku bisa dengan mudah menyalakan CCTVnya dan petugas akan segera kemari”

Leon menoleh, wajahnya masih murung “Begitukah pikiranmu tentangku? Maksudku, setelah semua yang kita lakukan bersama?”

Gwen mengangkat bahu “Manusia bisa berubah kan? Dan bukannya aku tuli tidak mendengar gossip tentangmu”

“Aku membawa hadiah” Leon mengabaikannya, lalu mengeluarkan lengannya dari tas, dan mengangkatnya di depan wajahnya “Kau pasti menyukainya, kan? Aku membuatnya sendiri

Gwen terkesiap, badannya tiba-tiba jadi kaku. Ia tau apa itu, dan apa katanya tadi? Leon membuatnya sendiri? Tidak, tidak, tidak “Tidak, Leon” gumamnya, berusaha sewibawa dan setidak acuh tadi, tapi nampaknya usahanya gagal “Aku sudah berhenti” katanya lirih.

“Aku ini dokter, Gwen” senyum mengerikan terlukis di wajahnya, menghilangkan segala kemurungan yang pernah ada di sana “Kau harus menerimanya, aku memaksa. Dengan begini tidak ada alasan kau menolak membantuku. Mari, aku sendiri yang akan memberikannya”

Gwen berdiri dan mundur perlahan ketika Leon menghampirinya dengan benda berujung runcing itu. Dia awalnya sempat berikir bahwa meja kerjanya akan menghalangi Leon, tapi pria itu dengan mudah melompatinya, dan tentu saja menjatuhkan berkas-berkasnya yang berharga. Dia mendorong Leon dengan sekuat tenaga hingga pria itu jatuh, dan berlari menuju pintu.

“Astaga, Gwen” kata Leon selagi berusaha bangkit, lalu kembali menghampiri Gwen lagi. Leon tak merasa perlu buru-buru. Sikap mau tapi malu Gwen itu benar-benar manis ... nyaris memuakkan. Bukankah wanita itu sendiri yang tadi mengunci pintu dan menaruhnya di dalam laci? Aneh sekali dia berlari ke pintu dengan tujuan untuk melarikan diri tapi tidak mengambil kuncinya. Dan bukankah dia sendiri yang bilang bisa menyalakan CCTV kapan saja? Mana buktinya?

“Leon, tidak ...” Gwen beringsut di pintu, ia terduduk sambil menahan tangis.

Leon tersenyum semanis mungkin “Jangan bohongi dirimu sendiri, sayang”

“Leon ...” ia sudah tidak bisa menghindar lagi. Leon meraih tangan kirinya, dan menyuntikkan cairan itu tanpa kesulitan. Beberapa menit kemudian Gwen sudah tidak bisa merasakan lantai “... kau brengsek”

Leon hanya tersenyum. Setelah membopong wanita itu ke sofa, ia membiarkannya hanyut dalam halusinasinya sendiri. Ia sempat terpaku beberapa menit melihat wanita itu menggeliat tak berdayaa. Gwen lebih cantik daripada Lily, dan jelas jauh dari Mawar, bahkan meski usianya lebih tua dari mereka berdua. Apalagi dengan keadaan begitu, ia jadi terlihat seperti ketika mereka pertama kali bertemu sepuluh tahun.

Leon mencondongkan tubuhnya, menghirup aroma rambut wanita itu—hmm, aster—untuk saat ini dia tak akan melawan. Tapi kemudian ponselnya berkedip yang menandakan dia sudah terlambat. Leon menimbang-nimbang cukup lama, kemudian memutuskan kalau uang ratusan juta lebih berharga. Jadi, dia mengambil kunci dari laci.

“Dua-tiga hari lagi kau akan menemuiku, Gwen. Dan saat itu, aku ingin semuanya sudah berjalan. Kalau tidak ... yaah, kau tak akan mendapatkan yang kau butuhkan”

Gwen tidak menjawab, tapi Leon yakin dia mendengarkan jadi dia membuka pintu dan mencari sekretaris wanita itu untuk memberitahunya kalau Gwen tidak bisa diganggu untuk sepanjang hari ini.


A/N WHAT THE HECK AM I WROTE?! ._.

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^