13 Februari 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 6


Enam kali, batin Faiza. Sudah enam kali Faiza melihat Profesor Owl di televisi. Dan ia tidak yakin itu pertanda bagus. Ah tapi tentu saja memang tidak ada pertanda bagus. Kejadian yang menyebabkan Profesor Owl masuk tv saja bukan hal bagus. Apa yang bagus dari kematian gadis misterius di tengah rawa yang mengurung puluhan narapidana?

Tapi ada hal lain yang membuat Faiza khawatir mengenai Profesor Owl. Hari itu hari Selasa, dan ia bertanya-tanya apa Fauzi dan Aldo akan bisa berhasil menjalankan rencana yang mereka bicarakan kemarin? Apalagi dengan semua keributan yang melingkupi Profesor Owl, apa mereka bisa, bahkan hanya sekedar untuk bertemu dengannya? Faiza ragu.

Faiza mengurut pelipisnya, tugas sekolah mereka ini benar-benar tidak bisa dipahaminya. Faiza memang mengerti sejak pertama kali masuk sekolah mereka memang sudah mendapatkan tugas yang menumpuk, tapi tugas ini benar-benar keterlaluan.

Entah apa yang ada di pikiran Bu Devi yang tiba-tiba mendapat ide untuk memulai pelajaran dari belakang. Maksudnya, alih-alih memulai dengan materi bab satu dan seterusnya beliau malah memilih dari belakang. Fauzi bilang mungkim itu akibat dari perubahan status pelajaran PLH yang tadinya pelajaran wajib menjadi pelajaran pilihan. Yaah, lagipula keadaan alam memang membaik beberapa tahun belakangan.

Tugas yang dimaksud adalah, observasi untuk bab terakhir mereka. Limbah. Aldo, Fauzi, Faiza, dan Alya menjadi satu kelompok. Bukan kebetulan yang luar biasa, kelompok di bagi berdasarkan tempat duduk dan mereka berempat memang duduk berdekatan.

Mengingat Faiza yang sedang di rawat di salah satu rumah sakit terbesar di kota, dan Fauzi punya kenalan seorang dokter, Bu Devi serta mereta memutuskan mereka harus mengobservasi limbah rumah sakit. Padahal, Profesor Owl hanya bekerja di puskesmas kecil saja, dan bukankah lebih sulit mendapat izin masuk kalau rumah sakitnya besar? Tapi Fauzi bukan pembantah.

Hanya saja hal itu malah merepotkan mereka sekarang. Fauzi mengusulkan ide untuk bertanya pada Profesor Owl, ia sangat berharap Profesor bisa menyarankan cara lain untuk mengobservasi langsung pengolahan limbah rumah sakit tanpa harus ke rumah sakit. Siapa tau Profesor malah punya mesin untuk itu? Dia kan memang suka menciptakan benda-benda aneh.

Panjang umur, Aldo dan Fauzi tiba-tiba saja masuk ke ruangan itu.

“Kacau” kata Fauzi sembari menarik kursi kecil ke samping Faiza. Yaah, ia sudah menduganya.

“Ia pasti sibuk” kata Faiza, menenangkannya.

“Sepertinya begitu” keluh kakaknya itu.

Mereka menghela nafas bersamaan, tidak tau lagi apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikan tugas ini. Fauzi amat pesimis soal meminta salah satu bantuan petugas, karena Bu Devi sama sekali tak mau repot membuat surat pengantar.

“Ngomong-ngomong, Alya mana?” tanya Faiza. “Dia tidak boleh melimpahkan urusan ini hanya pada kita kan?”

Fauzi membuang muka ke arah jendela, dan Aldo memutar matanya seperti seorang gadis yang tidak sabar.

“Dia latihan biola hari Selasa” katanya, apa sih susahnya bicara begitu? Gerutunya dalam hati.

Aldo tak habis pikir dengan apa yang terjadi pada dua orang ini. Kalau masalahnya Fauzi merasa bersalah pada Alya seharusnya hal itu segera terhapuskan dengan senyum ceria Alya di hari pertama masuk sekolah kemarin. Gadis itu kan bukannya pura-pura tersenyum supaya bisa membuat Fauzi merasa lebih baik atau apalah, lagipula hubungannya dengan kakaknya yang tewas itu tidak terlalu dekat.

“Jadi sekarang bagaimana?” desah Faiza putus asa.

“Dan waktu kita hanya dua minggu, belum tugas lain yang sama banyaknya” Aldo sama sekali tidak membantu.

“Habislah kita” Fauzi mengacak-acak rambutnya frustasi

“Tapi ada hal lain yang lebih buruk” kata Aldo.

Fauzi menegakkan punggungnya, ia terlihat kaget mendengar kata-kata Aldo “kau juga menyadarinya ya?”

“Menyadarinya? Kau mengatakannya seolah hal itu sulit untuk di lihat”

“Yaah, aku hanya tidak menyangka kau sepeka itu”

“Apa yang kalian bicarakan?” Faiza memandangi mereka dengan bingung.

Fauzi menjawabnya dengan berjalan ke arah jendela, dan menutup tirainya pelan-pelan. Lalu mengintip dengan membukanya sedikit. Wajahnya tampak serius.

“Kita dibuntuti”

“Hah?” sahut Aldo dan Faiza berbarengan. Kini semua mata tertuju pada Aldo.

“Kukira kau sudah tau!” Fauzi marah.

“Eh, bukan itu maksudku” Aldo tersipu, seolah Fauzi baru memergoki dia memakai sepatu berwarna   pink dan bukannya hal yang penting.

“Apa maksudmu, Zi?” tanya Faiza “kalian dibuntuti?”

Fauzi menghela nafas untuk kesekian kalinya “Harusnya aku tidak memberitahu kalian”

“Mungkin hanya perasaanmu saja” kata Aldo sekenanya.

“Benar, perasaan buruk yang kuat.”

Aldo dan Faiza merasa bulu kuduknya berdiri. Fauzi selalu benar. Dalam diam, kalimat itu jadi penuntun tersendiri bagi mereka ketika menghadapi masalah. Dan mendengar Fauzi berkata seperti itu—dengan cara seperti itu—, ketakutan merambati tulang belakang mereka.

Aldo memaksakan dirinya untuk tertawa, “Apa kejadian itu benar-benar memengaruhimu sehebat itu? Ayolah, Zi”

“Makanya aku bilang harusnya aku tidak memberitahu kalian” dia kemudian berjalan kembali ke kursi dan memejamkan mata sebentar “yaah, semoga hanya perasaanku saja”

“Eh, Do, kalau begitu apa hal lebih buruk yang kau bicara kan?” tanya Faiza

“Yaah, tadi kami kan pergi ke rumah Profesor Owl, tapi dia belum pulang. Jadi aku dan Fauzi bermain video game dulu sebentar, spektakulernya Profesor punya game baru yang bahkan belum keluar di pasaran. Wajar sih, dia memang sering mandapatkannya dari perusahaan pembuat game itu karena pekerjaan mekaniknya itu” Aldo bercerita dengan menggebu-gebu.

“Itu tidak terdengar seperti hal buruk” potong Faiza.

“Belum, kita belum sampai situ. Kemudian, Profesor pulang dengan cara yang dramatis, membanting pintu dan berteriak-teriak mencari Kak Lily. Dia bahkan tidak melihat kami. Baru ketika Fauzi menyapanya dengan sedikit berteriak dia meminta kami pulang, bahkan berkata ini bukan urusan anak kecil”

“Kau mengaggap itu hal buruk ya?” Fauzi mengagguk-angguk “Tidak salah sebenarnya, tapi, Do, coba pikir, urusan ini memang benar-benar rumit, dan kita memang tidak sebaiknya ikut campur. Ingat terakhir kali kita sakit hati disebuat anak kecil? Kita berakhir dengan nyaris terbunuh”

“Ya, ya, aku mengerti. Tapi bukan itu maksudku”

“Yang lebih buruk dari itu, yang benar saja!”

“Kau mungkin tidak mengerti, Zi. Tapi bagiku benar-benar tidak adil menghentikanku bermain semantara aku hampir mendapatkan secret weapon dari Lord of Winter. Bayangkan! Aku hampir menjadi orang pertama di muka bumi yang menjadikan Madfabog sebagai karakter paling kuat!”

Fauzi dan Faiza sama-sama terpana.


Maaf karena Sabtu lalu saya tidak posting. Akhir-akhir ini saya sibuk banget dan baru sempat ngenet sekarang. Tentang kesibukan luar binasa itu Insya Allah saya posting paling cepat Rabu nanti, itu pun kalau saya tidak kelelahan, hmmm. :)

0 komentar:

Posting Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^