30 Januari 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 5


imgsrc | edited by me

Setelah menghirup dalam-dalam aroma bunga yang menyengat itu, Leon meletakkannya di tanah. Ia kemudian menangkupkan tangan dan berdoa. Hari itu hari yang sangat tepat untuk berziarah, langit senja yang mendung membuat suasana muram semakin terasa.

Leon mengusap matanya, menyeka setitik air di sana. Hujan rintik-rintik mulai turun.

“Kau menangisinya? Sungguh?” kata-kata sarkas itu keluar dari mulut pria yang berdiri di belakang Leon sambil melipat lengan di dadanya.

“Mawar selalu jadi favoritku, Rano” kata Leon, sambil melangkah pergi meninggalkan rawa itu.

Rano mensejajari langkahnya dan tersenyum mengejek Leon. “Maksudmu, bahkan setelah semua pengkhianatannya?”

“Tidak, kau tidak mengerti, Rano. Aku selalu suka caranya memandangku dengan kagum, aku selalu suka pipinya yang memerah tanpa dia sadari setiap aku memanggil namanya. Dia anak yang manis, kau tau?” kata Leon “Terlebih dia sudah banyak berjasa pada kita. Dia teknisi terbaik yang pernah kita miliki, tidak pernah ada yang sebaik dia. Tidak ada”

“’Berjasa?’” Rano terkekeh “Kau mungkin lupa, Leon. Tapi dia mencoba membunuhku!”

“Yaah, hal itu tidak bisa dipungkiri. Aku mungkin juga akan membunuh orang yang mau membunuhku sebelum dia melakukannya. Tapi, seharusnya kau tidak meninggalkan mayatnya di sana. Sekarang lihat, mereka membawanya, mereka pasti akan menguburnya juga, dan tubuhnya yang mahal akan membusuk, sungguh disayangkan”

“Kau tidak berubah, Leon”

“Dan meski kau meninggalkannya, kau seharusnya tidak langsung tidur sepanjang hari setelah kau pulang. Kau seharusnya bercerita padaku apa yang terjadi, jadi aku bisa melakukan sesuatu. Kau juga seharusnya tidak menakuti Gilang dengan berteriak akan membunuhnya, dia kabur sekarang. Kau juga tidak berubah, Rano; masih ceroboh”

“Hei, dengar. Tiga hari di Rupakra itu terasa di neraka! Dan aku menempuh perjalanan delapan jam untuk pulang! Lalu soal Gilang ...” Rano menghentikan kata-katanya, dia meremas tangannya kuat-kuat dan wajahnya memerah karena marah “Aku bersumpah akan membunuhnya!”

Rano mungkin tidak melihat, tapi Leon sedang tersenyum puas mendengar kata-kata Rano.

Leon tidak tau apa yang dikatakan Mawar kepada Rano sebelum Rano menjebaknya dan membuat Mawar malah meminum racun yang seharusnya menewaskan Rano. Tapi yang jelas hal itu membuat Rano percaya bahwa yang merencanakan pembebasan dan pembunuhan terhadap dirinya adalah Gilang, bukan Leon. Dan rasanya hal itu membuatnya ingin tertawa keras-keras. Bahkan dari dalam kubur, Mawar masih bisa membuat dirinya bangga. Sayang sekali dia sudah mati.

Sekarang, keadaanya sudah terlalu kacau untuk kembali ke rencana awal. Gilang pergi dari rumah karena ketakutan, Leon tidak terlalu mengkhawatirkan dia akan melapor ke yang lain, dia tak punya bukti apapun. Sekarang pion terbesar yang dia bisa kuasai hanya Rano. Jadi, yang terpikirkan di kepala Leon sekarang adalah memanfaatkan apa yang tersedia sebaik-baiknya. Dan ia akan memikirkan sisanya nanti. Tapi tetap saja, kecerobohan Rano harus ia jadikan pelajaran untuk tidak mempercayainya dalam banyak hal.

“Jadi, apa yang akan kita lakukan selanjutnya?” tanya Rano segera setelah mereka masuk ke mobil.

“Apa ya?” goda Leon “permintaan sudah turun sejak enam bulan terakhir akibat kegagalan di Hotel Chandra, dan aku yakin kita juga tak akan punya banyak pekerjaan setelah kejadian kemarin ...”

“Artinya kita pengangguran” Rano berucap malas, ada nada kecewa dalam suaranya.

Kau pengangguran. Aku seorang dokter”

“Ya, ya, terserah” kata Rano

Mereka tidak berbicara selama sisa perjalanan.

Hari sudah benar-benar gelap ketika mereka sampai di rumah. Rano langsung turun dan menghempaskan diri di sofa, mengabaikan Leon yang mengeluh kelaparan. Ia menyalakan televisi dan menonton berita yang sama dengan tadi pagi. Berita kematian Mawar menjadi bahan pembicaraan terhangat di masyarakat. Kematian gadis sebatang kara di tengah rawa, apa yang lebih dramatis daripada itu?

Wajah pucat ketakutan seorang saksi yang amat ia kenal terpampang di layar kaca. Kalau bisa, Rano ingin sekali mencengkram wajah itu dan menghancurkannya bagai kertas usang.

“Bagi anda selaku penemu mayat, bagaimana pendapat anda soal kejadian ini?” tanya sang reporter.

“Itu kematian yang tragis” jawabnya singkat.

“Anda juga seorang dokter, benar? Bisa anda menjelaskan dengan bahasa awam apa yang terjadi padanya?”

“Gadis itu keracunan” katanya lagi.

“Apa itu ulah tahanan yang kabur?”

Dia terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab “Saya tidak berhak memberi pernyataan soal itu. Polisi Rupakra masih menyelidikinya”

Reporter itu tidak mendesak lebih jauh dan menanyakan pertanyaan-pertanyaan biasa yang kadang malah tidak ada hubungannya dengan kejadian itu.

Leon menoleh pada Rano yang tangannya mengepal melihat pria di televisi itu.

“Kenapa?” tanyanya. Walau sebenarnya ia sudah tau jawabannya.

“Aku membuat kesalahan, Leon” kata Rano

“Wah, benarkah?” Leon berusaha menghilangkan nada sarkas dari suaranya, walau ia tidak yakin apa ia berhasil.

“Aku harusnya menghabisi mereka semua lima tahun lalu. Maksudku Owl dan Lily. Mereka takkan membuat masalah di Hotel Chandra juga di pertunjukkan biola itu”

“Owl dan Lily tidak membuat masalah di pertunjukkan biola, anak-anak itu yang melakukannya”

“Aku rasa aku tau apa yang harus kita lakukan, Leon”

“Apa?” tanya Leon, lagi-lagi pura-pura tidak tau.

“Ini bukan hanya tentangku saja. Ini menyangkut tim, kau jauh lebih mengerti tentang hal itu daripada aku” kata Rano. Leon tidak menjawabnya, malah berdiri dan pergi ke kamarnya. “Leon!” teriak Rano.

Ketika kembali, Leon sudah berganti pakaian. Jas putih dan kemeja coklat lengkap dengan tas kulit berisi data-data pasien. “Aku harus bekerja, Rano” katanya.

Rano menggerutu, dia mengira Leon tidak mau membantunya.

Sementara itu Leon tidak bisa fokus ketika ia mulai menyetir. Keadaannya jadi sulit ketika harus bekerja sendirian. Ketika orang yang benar-benar kau percaya sudah tidak ada dan yang kau miliki hanya tinggal penjilat dan orang yang sulit untuk di atur. Leon sudah berpikir sejak tadi tentang apa yang harus ia lakukan pada Rano, tapi ia masih tidak bisa menemukannya.

Mungkin—mungkin—memang lebih aman membuatnya fokus pada Gilang.

“Ya, aku harus mengalihkan perhatiannya” gumam Leon. Rano tidak lebih daripada pengacau.

Apalagi setelah berita ini. Meski tak akan media yang menyebarkan berita bahwa Rano sudah lari. Lily pasti sudah tau dari Owl (sebagai saksi penemu mayat Mawar), dan dia akan mulai waspada pada siapapun dan apapun yang akan terjadi. Pendengarannya akan jadi lebih peka, pandangannya akan jadi lebis awas, bahkan mungkin penciumannya akan menjadi lebih tajam. Siapa tau?

Leon mengetuk-ngetuk setir mobil-mobilnya ketika lampu lalu lintas menunjukkan warna merah.
Bagaimana caranya, cara lain agar ia tidak curiga? Leon mendesah, ia seharusnya memikirkan ini sejak lama, memperkirakan ini sejak awal, tapi yang ia lakukan hanya bermain-main dengan anak itu.

Tunggu, anak itu! Ia bisa menggunakan anak-anak itu, tak ada cara yang lebih halus. Leon  mengingat-ngingat percakapan anak-anak itu tadi pagi. Ia tersenyum puas, bangga pada pikirannya sendiri.

Tapi rencana ini takkan berhasil jika ia tak bisa mengalihkan perhatian Rano. Kebimbangan menguasainya, hanya ada satu cara untuk itu, bukan cara yang disukainya. Tapi tak ada cara lain, ia harus memohon bantuan, pada mereka yang bahkan tak pernah sudi menginjakkan kaki di rumahnya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^