23 Januari 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 4

imgsrc

“Mereka sekarang waspada” kata Mawar, melihat layar laptopnya yang membuka banyak tab baik berupa video maupun script-script rumit. “Wajar saja sih, polisi mengira ia masih di penjara saat menangkapnya. Jadi, kita akan membebaskannya lagi?”

“Di mana dia sekarang?” Leon memunggunginya sambil menatap dirinya di cermin, mengenakan kemeja coklat yang senada dengan rambutnya.

Rupakra, Sebuah lapas terpencil di luar kota, kau mau ke sana?” Mawar tidak melepaskan pandangannya dari laptop, dan terus mengamati sistem keamanan lapas yang ia maksud.

“Pertanyaan yang bagus, Mawar. Bagaimana menurutmu? Apa aku mau ke sana?” Leon mengambil jubah putih dari lemari, mengenakannya pelan-pelan supaya tidak kusut.

“Seharusnya iya, tapi tidak dengan pakaian itu” katanya, sambil menyilangkan lengan di dada.

“Tepat. Aku punya pekerjaan lain, jadi kau-lah yang akan ke sana” ketika ia berbalik, ia melemparkan sesuatu yang langsung ditangkap dengan sigap oleh Mawar. “Tidak berasa, berwarna, atau pun berbau, juga mudah larut. Tapi itu bukan untukmu, paham?”

“He-hei, aku tidak bilang setuju kan? A-aku bukan pekerja lapangan, banyak orang lain, kenapa harus aku?!” kata Mawar tergagap-gagap.

Leon terdiam sebentar, membetulkan dasinya yang miring “Karena aku percaya padamu, banyak yang mengecewakanku akhir-akhir ini, tapi kau tak pernah”

Mawar bersyukur Leon sedang memunggunginya, dan bukannya melihat pipinya yang memerah. “Aku tidak bisa”

“Kau bisa, percayalah sedikit pada dirimu sendiri. Ini seperti yang sering kau lakukan, mempelajari sistem, mengatur strategi. Hanya saja, kali ini kau pionnya, keseruannya akan jadi dua kali lipat, percayalah padaku. Saranku, jangan terburu-buru, nafasmu itu pendek dan berat, kau bisa langsung ketahuan”

“Kenapa bukan kau saja?”

“Karena, kau bisa lihat, ada pasien yang harus kulayani. Terima kasih atas resume palsumu itu. Aku sudah menemukan mereka” jawab Leon sambil memperhatikan pantulan dirinya di cermin.

“Mereka? Maksudmu ...”

“Yep.”

“Cepat sekali”

“Sama sekali tidak, Mawar. Seharusnya kita sudah menghabisi Lily sejak ia pertama kali kabur. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, ya kan?” Leon memberikan sentuhan terakhir dengan memasang kacamata berbingkai tebal. Dia lalu mengambil koper kulit dari atas meja. “Kalau begitu, aku pergi dulu”

Mawar mendengus ketika mendengar pintu di tutup. Ia menatap obat yang diberikan Leon. Bentuknya tablet dan terbungkus alumunium foil, tapi tak ada tulisan apapun di bungskusnya itu. Ia meraciknya sendiri, pikirnya. Mawar mengantungi obat itu dalam saku jaketnya, kembali menatap layar laptopnya dengan serius, sambil terus berkata pada dirinya sendiri, aku bisa, aku bisa, aku bisa.

Dua jam berikutnya ia sudah melihat dirinya di depan cermin. Ia sudah mandi dan menyisir rambutnya agar lebih rapi. Mawar mungkin bukan ahli menyamar tapi setidaknya dia tau cara menutupi identitas. Ia bersyukur matanya sudah memerah sejak lama, jadi ketika dia memakai masker untuk menutupi mulutnya dan pura-pura bersin beberapa kali, semuanya terlihat sempurna.

Mawar mengeluarkan buku catatan kecil dari sakunya, membaca tulisan kecil dan rapi yang tertera di sana. Mawar mengangguk-anggukan kepalanya, mengaggumi rencananya sendiri. Baiklah, saatnya berangkat.

Rupakra sebenarnya tidak sesulit yang dikatakannya pada Leon. Tapi Mawar tidak sepenuhnya berbohong. Ia mengatakan terpencil, dan seharusnya itu cukup bagi Leon untuk mengetahui bagaimana kondisi lapas itu sebenarnya. Namun kata terpencil itu juga mengartikan hal lain, ada hambatan alam. Lapas itu dikelilingi rawa, butuh waktu dan tenaga hanya untuk melewatinya. Tapi lagi-lagi itu memberikan keuntungan lain, Mawar bisa menyusup lewat satu-satu akses ke lapas itu.

Enam jam mengendarai sepeda motor, ia akhirnya sudah sampai di pinggir rawa itu. Mawar tidak terlalu sering beristirahat tadi, sekarang kepalanya terasa pusing, pinggulnya sakit dan rambutnya jadi lepek lagi. Mawar memang tidak pernah bisa menciptakan efek dramatis dengan mengibaskan rambut hitam lebat seperti Lily. Tapi, ya sudahlah, lagipula orang bilang kecerdasan lebih tahan lama daripada kecantikan, oh, benar, Lily memiliki keduanya. Astaga, apa yang dia pikirkan? Leon benar-benar telah memengaruhinya.

Bayangannya sudah memanjang, Mawar mengecek jam tangannya, sudah jam empat, seharusnya ‘tiket’nya sudah datang. Apa mungkin dia terlambat? Mawar cepat-cepat menepis anggapan itu. Tidak mungkin, pasti orang itu terlambat, kebiasaan yang tak pernah berubah di mana pun.

Mawar memanfaatkan waktunya untuk menyembunyikan motor dan dirinya di semak-semak. Ia lalu duduk di sana, memandang rawa itu. Rawa itu adalah rawa terkering yang pernah ia lihat, walau sebenarnya ini pertama kalinya dia melihat rawa. Daripada rawa, tempat itu lebih cocok disebut hutan yang sedikit becek. Tapi lebih daripada itu, rawa itu memiliki pesonanya sendiri. Pesona yang membuat Mawar paham kenapa mereka membangun lapas di dalam tempat itu. Rawa itu membangkitkan perasaan putus asa bagi semua orang berdosa yang melihatnya. Sulur-sulur pohonnya menggantung lemas alih-alih lebat dan rindang, bau asamnya nyaris seperti mayat busuk yang membuat mual, belum pekikan gagak yang membuat patah hati. Tempat itu menggambarkan secara gamblang kebusukkan apa yang telah mereka—para penjahat itu—lakukan. Rawa itu membuat siapa saja merasa bersalah merasa pantas di sana, dan begitu masuk tak akan pernah keluar lagi.

Mawar penasaran bagaimana petugas yang bekerja di dalam lapas itu. Apa mereka merasakan hal yang sama dengan para penjahat itu? Apa mereka juga sudah pasrah tidak akan pernah keluar lagi? Atau mereka adalah orang-orang sombong yang menganggap dirinya suci sehingga tidak terpengaruh? Bagaimana dengan si kurir makanan, yang pasti masuk dan keluar dengan selamat dari rawa itu? Bagaimana perasaannya? Apa dia merasa lega, kemudian bergidik dan bersumpah tak akan pernah kembali? Atau dia merasa bahagia, karena merasa telah mendapatkan pengampunan? Mawar menggelengkan kepalanya, tidak tau mana yang pasti. Tapi dia merasa yakin, siapapun yang berhasil keluar dari rawa itu, pasti bukan orang yang sama lagi seperti ketika dia pertama kali masuk. Hidupnya akan dibayang-bayangi, entah oleh kebahagian yang mengerikan atau ketakutan yang tak beralasan.

Tiba-tiba Mawar bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Bagaimana dirinya saat keluar dari rawa itu? lalu muncul pertanyaan yang lebih menyeramkan, bulu kuduknya meremang. Apa dirinya bisa keluar dari tempat itu?

Bunyi gerungan mesin menyadarkannya dari lamunan. Dari arah dia datang tadi seseorang datang dengan mengendarai ATV dengan gerobak kayu terbuka yang di dalamnya terdapat banyak kotak-kotak kayu. Bahkan gerobak itu juga bertumpu pada roda-roda besar seperti ATV yang menariknya. Orang-orang ini tidak terlalu bodoh rupanya.

Si pengendara tiba-tiba berhenti tepat di depan rawa itu. Ia kemudian turun dan melepas helmnya. Wajahnya yang masih muda menunjukkan keraguan, mungkin ketakutan. Mawar bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan pemuda itu. Lalu pemuda itu tiba-tiba menoleh ke arah persembunyiannya, Mawar menutup mulutnya yang sudah tertutup masker, tadi ia hampir memekik saking terkejutnya. Pemuda itu tidak mengalihkan pandangannya, apa mungkin dia sudah ketahuan? Mawar merogoh sakunya, mengeluarkan pengejut listriknya. Pemuda itu mendekat dan Mawar bisa merasakan keringat dingin menetes dari dagunya.

Tapi ketika akhirnya pemuda itu menyingkap semak-semak dan kedua mata mereka bertemu, tangan Mawar terasa lemas, dan pengejut listrik itu jatuh dan sedikit tenggelam dalam rimbunan rumput. Tidak, matanya tidak memancarkan keraguan, apalagi ketakutan, matanya polos dan penuh rasa ingin tahu, maniknya berkilau oleh cahaya temaram langit senja. Dan entah kenapa, hal itu membuat sikap defensif Mawar menguap bagai salju di musim semi. Tunggu, apa yang ia pikirkan?!

“Apa yang kau lakukan di situ?” tanyanya.

Mawar nyaris tersentak mendengar suaranya, ada sesuatu yang aneh yang memengaruhinya di sana. Seperti suara tawa renyah Leon, tapi pemuda ini bahkan tak perlu tertawa. “A-aku ... aku tersesat” dia mencoba mengucapkannya sebaik mungkin, dalam arti mencoba tidak memeberitahu dalam nada suaranya bahwa dia sedang menunggu kurir itu untuk bisa menyusup dan membunuh seseorang.

“Benarkah?” pemuda itu mengalihkan pandangannya pada motor Mawar. Mengerutkan kening sebentar lalu melihat ke arahnya lagi dengan pandangan waspada. Mawar akan berikan apapun agar pemuda itu berhenti menatapnya seperti itu.

“Sungguh. Aku ingin mengunjungi ayahku di Rupakra. Lalu bahan bakar motor itu habis. Tidak ada sinyal di sini, aku benar-benar lelah, dan hari sudah sore. Tadinya aku mau menunggu disini terus sampai besok” Mawar bercerita dengan menggebu-gebu, perasaan bersalah melingkupinya.

“Kalau begitu kau tidak tersesat, nona. Kau terjebak” kata pemuda itu “kalau ayahmu benar-benar ada di Rupakra, seharusnya kau tau kau tak akan bisa mengunjunginya”

“Ya, aku tau. Tapi tak ada salahnya mencoba, kan?”

“Tidak, kau salah karena telah mencoba. Selamat menikmati akibatnya!” si pemuda berbalik meninggalkan Mawar. Kini Mawar benar-benar memekik, kaget dengan tindakan pemuda itu.

“Kau tidak bermaksud meninggalkanku sendirian di sini, kan?” Mawar bangkit bertanya dengan ragu.

“Aku tidak ingin menganggu rencanamu, nona. Kau bilang ingin menunggu sampai besok, maka tunggulah sampai besok” si pemuda memasang kembali helmnya dan mulai menyalakan ATV-nya “Sampai jum—jangan bergerak” suara si pemuda berubah lirih saat melihat Mawar lagi “Ada ular di sepatu mu”

***

Mawar mendapati dirinya sedang meringkuk diantara—mungkin—tomat dan ikan. Kejadian tadi begitu cepat, dia nyaris tidak bisa mengingatnya—seolah itu hanya mimpi. Dia di selamatkan dari ular itu, walau sebenarnya ular itu tidak berniat menyakitinya, dia hanya kebetulan lewat. Kemudian, tiba-tiba saja si pemuda mau mengantarnya ke lapas, seolah baru sadar tidak bisa meninggalkan seorang gadis ‘tanpa’ senjata sendirian di pinggir rawa.

Tapi perjalanan menuju lapas itu sendiri sejujurnya lebih menyeramkan daripada saat ia nyaris jadi santapan ular—lagipula, ular tidak memakan manusia, kan?—Rawa itu pengap, dan bau busuknya sangat tajam, bahkan meski Mawar mengenakan masker. Satu-satunya yang ia inginkan adalah segera pergi dari tempat mengerikan ini.

Langit sudah gelap ketika akhirnya mereka mulai mendaki bukit, yang menjadi lahan lapas itu sendiri. Pohon-pohon mulai terlihat lebih normal dan cahaya bulan terlihat mengintip dari balik awan dan pohon. Tapi tetap saja suasananya gelap. Satu-satunya penerangan mungkin lampu ATV itu, juga lampu-lampu yang nampak berkelip dari sudut-sudut lapas itu. Ketika mereka benar-benar sampai, Mawar menemukan bahwa kerlap-kerlip cahaya itu adalah obor. Sementara itu, lampu minyak juga ditempatkan di ceruk-ceruk dinding batu pembatas lapas itu dengan rawa.

Pintu gerbang lapas itu merupakan pintu ganda yang kelihatannya dibuat dari kayu ‘hutan becek’ di belakang mereka. Alih-alih berderit, suaranya lebih terdengar seperti menggeram ketika bergesekkan dengan tanah saat dibuka dari dalam. Mawar mengerutkan dahi, seorang pria tua muncul di depan mereka, mengarahkan senter pada pemuda itu,

“Kau kembali lagi, nak! Sulit di percaya!” katanya

“Selalu siap melayani, pak!” jawab si pemuda penuh semangat, ia menjalankan ATV dengan pelan seiring pak tua itu mensejajarinya dan kemudian menutup gerbang. Mereka lalu berbelok ke kanan. Dan berhenti didepan bangunan yang lebih modern daripada dinding batu yang baru mereka lewati. Pemuda itu turun dari ATV dan mengobrol dengan pak tua itu.

Mawar bingung mengenai hal yang harus dilakukannya. Apa sebaiknya dia turun ikut menyapa, atau terus berpura-pura menjadi kotak lobak? Bagaimanapun ini bukan rencananya, rencananya awalnya adalah menyetrum si pemuda, mencuri ATVnya, dan berpura-pura jadi kurir. Sekarang dia tidak bisa melakukannya karena ... karena terkutuklah sikap canggungnya tadi, kenapa juga dia mendadak lemas begitu?

“Aku rasa yang satu itu tidak bisa dimakan” Mawar tak perlu lagi memikirkan apa yang harus dia lakukan, dia sudah ketahuan.

“Oh, aku menemukannya terjebak di pinggir rawa, pak” kata pemuda itu.

“Terjebak? Bagaimana bisa?”

“Selamat malam, pak, senang bertemu dengan anda” kata Mawar, memotong percakapan dua orang itu.

Mawar bisa menerima dirinya tidak sepertinya yang diharapkan siapapun, apalagi soal penampilan. Mawar bisa menerima kenyataan dirinya sering dipaksa melakukan hal-hal diluar kemampuannya. Mawar bisa menerima kenyataan bahwa selanjutnya yang dia dapatkan adalah dianggap tidak ada. Tapi sungguh tidak sopan memperlakukan seseorang sebagai benda yang seolah tidak bisa mendengar ataupun bicara apalagi secara terang-terangan di depannya.

“Kau seharusnya tidak disini, nona” kata pak tua itu. “Tempat ini sarang penyamun, bukan tempat seorang gadis”

“Apa itu berarti bapak akan melemparku kembali ke rawa itu?” tanya Mawar sinis, dia lalu melompat dari gerobak itu. Menatap lapas gelap yang ada disekelilingnya, caranya untuk masuk ke sini mungkin tidak sesuai rencana, tapi itu tidak membuat keseluruhan rencananya gagal.

“Nah, Tama,  sekarang bantu aku mengangkut kotak-kotak ini” kata pak tua itu. Mendengarnya, Mawar jadi merasa malu.

“Baik!” jawab Tama.

“Dan kau, nona, maafkan sikap kurang ajarku tadi. Kau bisa tidur semalam di sini, tapi kau sudah harus pergi sebelum fajar. Kau sungguh beruntung, kami sedang mengalami beberapa masalah teknis di sini, jadi tak akan ada yang tau mengenai kehadiranmu”

“Apa yang sedang terjadi, pak?” tanya Tama.

“Kelihatannya seseorang menyadap dan menyerang komputer kami, membuat kacau seluruh sistem. Dan kau tau kan listrik kami tidak berasal dari pemerintah, ada air terjun di ujung lain rawa, dan sepertinya ada yang tidak beres dengan turbinnya. Teknisi komputer kami tinggal di kota sebelah dan kau juga tau kami tak punya alat komunikasi. Pokoknya semuanya benar-benar kacau. Beberapa orang pergi ke air terjun untuk memeriksa turbinnya, dan yang lain pergi ke kota untuk menemukan si teknisi. Hanya aku yang tersisa di sini. Tapi patut disyukuri kami masih menggunakan sel model lama, yang menggunakan gembok manual alih-alih gembok-gembok yang terhubung oleh komputer itu. Tak akan ada tahanan yang kabur malam ini, ataupun malam-malam nanti.”

“Apa aku bisa bertemu ayahku?” tanya Mawar, mempertahankan aktingnya.

“Ayahmu?”

“Sepertinya ayahnya tahanan di sini, pak”

“Tidak bisa nona, menginap di sini saja sudah keberuntungan terbaik sekaligus terburuk yang bisa kau dapatkan. Tama, bisa kau antar dia ke salah satu kamar petugas yang kosong? Maaf merepotkanmu berulang kali, aku benar-benar lelah. Listrik mati, CCTV mati, orang tua ini patroli manual. Bisa kau bayangkan? Aku sendiri heran bagaimana caranya aku masih bisa hidup”

Mawar tidak bisa membayangkan apa yang lebih baik lagi. Tak ada petugas selain pak tua yang kelelahan itu! Saat merusak turbin dengan memodifikasi sinyal kotak tidur dan mengirim virus pada komputer sistem itu, dia tidak pernah menyangka hasilnya akan sebaik ini. Bahkan, meski kini pengejut listrik itu tertinggal di depan rawa, rencananya akn berjalan semudah dan selancar yang dia harapkan. Betapa menyenangkannya!

“Tak ada nafas yang lebih puas daripada itu” kata Tama, ketika akhirnya mereka berhenti di depan pintu kayu apak.

“Apa?” tanya Mawar.

“Ini kamarmu, kasurnya bau keringat serta sekeras batu, dan udaranya sama pengapnya dengan di rawa. Jangan buat dirimu nyaman, mungkin kau akan mati”

“Apa yang kau bicarakan?” tanya Mawar, sembari masuk ke kamar yang memang seburuk yang diceritakan Tama.

“Kau berada di tempat yang berbahaya, nona. Harusnya kau ingat itu, kau satu-satunya wanita di tempat terpencil dengan puluhan pria mantan penjahat”

Tak akan ada tahanan yang kabur malam ini, ataupun malam-malam nanti” Mawar mengutip kata-kata si petugas tua, dalam hati tertawa karena ironi dalam kalimat itu. “Dan namaku Mawar, bukan ‘nona’. Rasanya aneh aku tau namamu tapi kau tidak”

Apalah arti sebuah nama, selain penanda batu nisan

Pintu itu dibanting dengan keras.

Mawar memiringkan kepalanya, heran. Laki-laki itu adalah pemuda paling aneh yang pernah ditemuinya walau dia memang tidak bertemu banyak jenis laki-laki. Sikapnya yang kasar tadi, menimbulkan perasaan aneh dalam dirinya. Sakit hati? Kenapa dia harus sakit hati? Lagipula, kalau dipikir-pikir, sikap pemuda itu adalah hal terwajar yang bisa ia bayangkan. Menemukan perempuan pembangkang peraturan di depan rawa yang amat merepotkan pasti membuatnya kesal. Mungkin kalau ada di posisi Tama, Mawar juga akan merasa kesal. Apalagi jika seandainya Tama adalah tipe orang yang kaku, dan sepertinya memang begitu jika melihat caranya berbicara dengan pak tua itu.

Ah, sudahlah! Sekarang hanya tinggal menunggu larut. Ketika Tama dan pak tua itu tertidur, dia hanya tinggal mengendap-endap dan membebaskan Rano, membunuhnya, lalu pergi dengan tenang. Apa yang lebih menyenangkan selain hidup tanpa hambatan? Mawar menunggu tanpa bisa berhenti tersenyum seolah lupa pada pertanyaan menakutkan yang ia tanyakan pada dirinya sendiri ketika masih di depan rawa. Apa dirinya bisa keluar dari tempat itu?

0 komentar:

Posting Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^