16 Januari 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 3


Fauzi hanya bisa melongo saat orang itu menutup pintu ruang rawat inap Faiza. Dia kemudian melihat ke arah Faiza yang sama sekali tak menunjukkan ekspresi tertarik.

“Itu tadi, Adrian Chapman, iya kan?” katanya nyaris dengan menggebu-gebu

Faiza mengangkat bahu, tidak peduli.

“Astaga! Dia itu benar-benar Adrian Chapman, Faiza!”

“Lantas?” jawab Faiza sambil menatap kakaknya heran

“Adrian Chapman! Dia salah satu peneliti paling terkenal di Amerika! Sejajar William Stafford Nye! Kau pasti juga kenal dia Faiza! Astaga apa yang harus aku lakukan?”

Gadis itu sempat tertegun kemudian ia menjawab “Pertama, tidak, aku tidak mengenal siapa itu Adrian Chapman. Kedua, bukan, dia bukan peneliti terkenal dari Amerika, dia dokterku. Ketiga, wahai kakakku yang baik dan tegas, kumohon berhenti bertindak seperti remaja penggemar fanatik grup musik yang isinya laki-laki setengah cantik”

“Oh, aku memang penggemar fanatik! Penggemar fanatik orang-orang yang mempunyai pengaruh besar bagi dunia. Dia Adrian Chapman, aku tidak mungkin salah”

Faiza mendelik “Aku tidak suka dia”

“Eh?”

“Dia membuat kakakku kehilangan jati diri”

Fauzi tertawa dan Faiza tersenyum. Tapi kata-katanya barusan hanya setengah canda saja. Entah bagaimana, ada sesuatu dalam dirinya yang memintanya untuk tidak menyukai pada dokter itu. Tapi dia juga sadar bahwa mungkin perasaan itu diakibatkan oleh sesuatu yang kekanakkan dalam dirinya yang benci perubahan.

Faiza amat menyukai dokter lamanya, bukan menyukai yang berlebihan. Dokter Agung sangat ramah dan senang bercanda. Jadi ketika dokter itu bilang dia harus pergi ke luar kota untuk membantu sebuah rumah sakit yang baru saja mengalami musibah (Faiza melihat beritanya di televisi, seluruh gedungnya terbakar dan sebagian besar perawat di sana tak bisa meloloskan diri karena menolong pasien melarikan diri, sementara wabah penyakit sedang menyebar di kawasan itu) ia menjadi sangat sedih dan membenci semua orang.

Dia juga membuat-buat alasan supaya menyakinkan dirinya untuk semakin tidak menyukai dokter itu. Seperti betapa kejamnya dokter itu karena tidak ikut membantu rumah sakit yang terbakar itu (padahal alasannya jelas karena dokter baru itu memang baru menjadi dokter sehingga kredibilitasnya dalam keadaan darurat diragukan), atau karena rambut dokter itu tidak hitam dan kulitnya sepucat mayat yang membuat dia seperti orang barat yang telah mengkolonisasi negara Faiza puluhan tahun lalu, atau karena dokter itu berpura-pura bersikap ramah dengan topeng penuh senyum padahal Faiza (berkhayal) tau bahwa dokter tersebut mengumpat setiap kali harus datang dan menyuntiknya.

Meski sadar dia hanya membuat alasan-alasan itu untuk menyenangkan diri sendiri, dia tetap tidak mau merasa bersalah atau menghapus keyakinan itu dari benaknya.

“Hei” bisik Fauzi, padahal mereka hanya berdua saja di sana “jika ada kesempatan, mintalah tanda tangannya”

Faiza melongo, nyaris menunjukkan ekspresi jijik yang sering ditujukan Fauzi pada Aldo.

“Fauzi ...” katanya pelan “aku rasa seharusnya kau yang berbaring di ranjang ini”

“Aku serius! Kalau bukan Adrian Chapman kau pikir dia siapa?”

“Dia mengenalkan diri sebagai dokter Kamil”

“Eh?”

“Tidak cocok? Aku juga berpikir begitu. Dia pasti bukan orang baik, lihat saja rambutnya diwarnai begitu” Faiza mendengus

“Kau tidak boleh menilai buku dari sampulnya” katanya

Faiza tersentak, kaget mendengar ucapan kakaknya “Aneh mendengarnya darimu”

“Baiklah, kalau begitu abaikan aku” Fauzi mendengus, “ada hal lain yang mau kau sampaikan tentangku?”

“Ada” kata Faiza serius, “Kau harus berhenti menjengukku setiap malam, lihat kantung mata itu, kau tampak mengerikan”

“Tapi kau bilang, kau bosan di rumah sakit” kata Fauzi, wajahnya murung menyadari dia tidak diinginkan.

“Saat kubilang begitu, yang kumaksud adalah pulang. Bukan membuatmu merasa harus menjagaku sepanjang waktu. Kau sendiri yang bilang, rumah sakit adalah salah satu tempat paling penuh kasih sayang di dunia. Mereka takkan membuatku menderita, kecuali untuk kebaikan, bahkan jika itu artinya kematian”

“Kau belum bisa pulang, Za. Dan aku menemanimu karena aku tau betapa bosannya terbaring di sana sepanjang hari selama berhari-hari, tak ada yang lebih tau selain aku. Dan melihatmu menempati posisi yang seharusnya tidak pernah kaudapatkan membuat hatiku sakit. Kau ada di sana gara-gara aku, seharusnya aku datang lebih cepat, seharusnya aku tidak pernah membiarkanmu pulang sendiri, seharusnya aku menurutimu untuk beristirahat, seharusnya aku—”

“Baiklah, cukup” pintu ruangan itu dibuka, Aldo masuk sambil membawa sebuah buku tebal. Wajahnya menunjukkan ia tidak puas, meski belum bisa dipastikan pada apa “Ibuku bilang, kesehatan seseorang tergantung pada mental mereka” katanya “Kalau kau terus menerus membuatnya murung begitu, dia tidak akan sembuh”

Faiza menatap Aldo heran, lalu melihat Fauzi lagi. Ada sesuatu yang telah berubah dalam diri mereka berdua, hanya saja ia tidak bisa menyebutkannya secara konkrit.

“Dengar, aku tau kita telah melalui hal buruk. Tapi aku tidak menemukan alasan kenapa kita harus terus meratapinya daripada bersyukur karena kita bertiga masih hidup. Dan Fauzi, dia benar, kau tampak mengerikan, jadi berhentilah datang sebagai monster dalam kegelapan”

Fauzi meninju pelan bahu sahabatnya, Aldo benar, mereka seharusnya bersyukur karena masih bisa hidup. Tapi, perasaannys masih belum sepenuhnya membaik.

“Zi, ini kukembalikan” kata Aldo menyodorkan buku tebalnya “terlalu banyak yang harus dihafalkan, terlalu rumit, aku tidak akan memecahkan sandinya dengan mudah”

“Itu poin pentingnya, Aldo, sulit dipecahkan, makanya di sebut sandi” sahut Fauzi.

“Za, bagaimana kalau kita membuat semacam grup detektif?” Aldo mengabaikan Fauzi

Faiza yang kaget mendapatkan pertanyaan tiba-tiba hanya bisa mengerutkan kening.

“Dia membaca beberapa novel detektif, dan jadi norak” Fauzi menjelaskan. Faiza ber-oh-ria dan menahan tawanya, pantas saja.

“Apa yang akan kita selidiki?” sahut Faiza. Fauzi meringis sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, mengisyaratkan itu ide buruk.

Wajah Aldo mendadak menjadi cerah, dan dia mulai mengusap dagu seolah ia punya janggut untuk dielus. “Hmm, pertanyaan yang bagus. Kita bisa mulai dari rumah sakit ini, siapa tau salah satu pasiennya adalah korban percobaan pembunuhan”

“Wow, terdengar sangat nyata” Fauzi memandangnya sinis

“Lalu, bagaimana kita bisa tau?” kata Faiza, menyemangati temannya itu.

“Tentu saja kita harus bertanya pada setiap pasien rawat. Mungkin kita juga bisa menemukan bahwa pembunuh itu berkeliaran di rumah sakit”

“Lalu, lalu?” tanya Faiza

“Oh, ayolah, kalian pasti bercanda kan?” Fauzi mulai putus asa.

Faiza dan Aldo memandangnya heran, mereka sama-sama tau kalau Aldo memang sedang bercanda, tapi sikap Fauzi itulah yang berlebihan. Lalu Aldo menjawabnya dengan agak mendengus “Tentu saja, memangnya kapan aku pernah serius, iya kan?”

“Aku hanya—maksudku” Fauzi menghela nafas, ia sadar bukan salah Aldo untuk berkata seperti itu “Aku tidak ingin kita terlibat hal-hal seperti itu lagi, dan Aldo, kau berkata seolah-olah rumah sakit adalah tempat orang jahat berkumpul. Aku takkan menyangkalnya, a-aku ... ketakutan”

Faiza akhirnya dapat melihat apa yang terjadi pada Aldo dan Fauzi dengan jelas. Ia tak heran dengan Aldo yang tiba-tiba penuh semangat, ia seolah baru ingat dengan kebiasaannya yang selalu tertarik dengan hal-hal baru, dan membaca novel detektif sudah lebih dari cukup untuk membuatnya jadi seperti dirinya yang biasa. Sementara Fauzi, Faiza berharap dia bisa mengerti bagaimana sebenarnya perasan kakaknya itu. Tapi ia hanya bisa paham hanyalah, karena Fauzi yang melihat Alya berlumuran darah, Fauzi yang selalu diandalkan, Fauzi yang melihat orang-orang yang disayanginya menderita karena kesalahan yang ia buat. Dan saat ini, tak ada yang bisa mencegah Fauzi dengan emosi naik-turunnya karena rasa bersalah atas semua yang terjadi.

Sudah bisa dipastikan kejadian besar seperti itu bisa mengubah seseorang. Menjadi baik atau buruk itu tergantung bagaimana sudut pandang seseorang terhadap kejadian itu. Fauzi mungkin selama ini sudah berusaha sekuat tenaga untuk bertahan, menghadapi setiap tekanan yang ia terima dengan gagah berani, tapi ia akhirnya harus menghadapi titik di mana ia melihat segalanya dari sudut pandang lain, sudut yang menunjuknya sebagai manusia paling sombong. Hal ini diperparah dengan Alya yang sama sekali belum bicara dengannya sejak kejadian naas itu—walau itu artinya baru tiga hari lalu—

Wajar saja, Alya pasti terguncang ketika memeluk tubuh kakaknya yang sudah tidak bernyawa. Hanya saja, berbeda dengan Fauzi, ia masih memiliki kekuatan untuk bisa memaafkan dirinya, anehnya kekuatan itu justru berasal dari kata-kata Fauzi saat terakhir mereka bertemu.

Aku lakukan apa yang benar dan menurutku benar, hanya itu

Terbesit di pikirannya bahwa kakaknya telah melakukan hal yang sama. Mungkin terdengar gila, tapi ia bangga kakaknya mati sebagai pelindungnya, sebagai orang baik dan bukannya sebagai kambing hitam keluarga, dengan begitu seolah kakaknya akan menjadi pelindungnya selamanya. Hilang semua rasa takut, ragu, dan benci dalam dirinya. Selama ini ia tak pernah sendirian, dan tidak akan pernah.


Alya duduk sendirian di teras kayu rumahnya ketika Fauzi, Faiza dan Aldo sedang berbincang. Gaun hitam yang ia gunakan berkibar oleh semilir angin kering. Hal aneh yang melingkupi musim hujan kota ini adalah: meski hujan turun terus menerus dalam lima hari kerja, pada hari Sabtu dan Minggu matahari terus bersinar terik seperti halnya musim kemarau. Perlahan ia mulai memainkan biolanya, melatunkan Ode to Joy, nada-nada ceria yang selalu menjadi favorit kakaknya. Angin berembus mengitari Alya, ia tau kakaknya ada di sana, dan akan terus di sana.

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^