9 Januari 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 2


“Jangan bilang kau sengaja mempelajarinya” kata Fauzi. Ekspresinya yang menujukan rasa tidak percaya masih tidak berubah. Atau setidaknya itulah yang terlihat. Di bawah langit mendung dan kejadian akhir-akhir ini yang membuat wajahnya memucat, tak ada yang bisa ditunjukkan wajah itu selain ekspresi terkejut.

“Bicaramu konyol, Zi. Tentu saja aku sengaja mempelajarinya” Aldo melipat kedua tangannya di belakang kepala, lantas meluruskan badan di atas kursi taman itu. Di sebelahnya Profesor Owl menahan tawa melihat tingkahnya. “Aku terpikir untuk membuatnya sebagai sandi” lanjut Aldo “seperti cerita detektif yang sering kau baca”

“Ngawur!” katanya sambil menjitak kepala temannya itu “Kau harus berhenti bersikap kekanakkan. Lagipula tidak satupun cerita detektif yang aku baca menggunakan huruf alay sebagai sandi” antara bercanda atau pun serius, tidak ada yang tau dengan nada suara Fauzi yang lelah.

“Oh tentu saja ada” kata Aldo, berlagak keren mengabaikan kepalanya yang berdenyut-denyut. “Seperti pesan kematian yang ditulis dengan darah untuk merujuk pelaku pembunuhan”

Fauzi mendelik “Cerita detektif macam apa yang kau baca?” suaranya bergetar seiring angin menghembus kearahnya. Aku benci dingin, katanya dalam hati, bahkan meskipun hujan sudah di nanti-nanti selama musim kemarau lalu, ia tetap tidak bisa menghilangkan perasaan tidak sukanya pada suhu dingin. “Kalau niatmu untuk menjadi keren, ada banyak sandi lain yang bisa digunakan”

“Benar, sandi biasa, dan semua orang tau, jadi di mana letak rahasianya? Dengar, suatu hari nanti saat tren alay ini menghilang, aku akan tetap mengingatnya, saat itu kita bisa berkomunikasi tanpa ketahuan penjahat seperti Pak Rano”

Fauzi merinding, bukan hanya angin yang tiba-tiba berembus lagi, tapi juga karena nama yang baru disebutkan Aldo. Demi apa pun, dia benci orang itu.

“Profesor, temanmu itu, kau tau di mana dia?” tanya Fauzi mengabaikan Aldo, dan kembali pada topik semula tentang salah satu teman Profesor Owl yang mencuri data tentang Kotak Tidur dan menjualnya pada kelompok Pak Rano.

Itulah kejadian yang mengusik Fauzi saat ini. Melihat dampaknya pada Faiza yang saat ini terbaring di rumah sakit, Fauzi yakin Pak Rano akan berulah lagi jika ada kesempatan. Dan berikutnya dia akan menjadi lebih daripada kejam, seiring bertambahnya dendam akibat kebenciannya pada mereka. Ia bersyukur Fira–temannya yang menggagalkan pengeboman di Hotel Chandra—kini ada jauh di luar sana, tapi perasaan syukur itu tertepis dengan kenyataan ada orang lain yang mungkin akan menjadi pelampiasaanya. Alya, gadis pemain biola. Apalagi sebenarnya Alya-lah yang menggagalkan usaha perampokan dengan Kotak Tidur itu.

Profesor Owl menggeleng, “Seperti yang kukatakan dia menghilang. Tapi tenang saja, seingatku tak ada benda berbahaya lain di dalam flashdisk yang dicurinya itu”

Fauzi mendesah. Teringat perkataan Kak Lilyadik Profesor Owl—, aku menyortir semua temuan berbahayanya. Profesor Owl memang ceroboh, dan Fauzi tidak bisa menyalahkannya karena itu.

Kemudian Splash! Seciprat air, membuyarkan lamunan Fauzi.

Mereka mengerang sebentar sebelum akhirnya melihat siapa pelakunya, seorang anak itu yang memegang alat penyemprot air.

“Oh, kamu” kata Fauzi ketika sadar ia mengenal anak itu. Seorang anak yang mereka temui di Blok S perumahan Intan Mutiara saat sedang mencari Alya “Ngapain disini?”

“Memangnya gak boleh?” kata anak kecil itu, dan splash, splash, menembakkan air lagi.

“Boleh, boleh, aduh ampun!” kata Aldo, menutupi wajahnya dari semprotan air.

Tapi, tembakkan itu cepat terhenti. Profesor Owl mengambil alat yang digunakan anak kecil itu.

“Maaf” katanya “Ini berbahaya” ia lantas membuangnya ke tempat sampah di samping kursi taman.

Aldo dan Fauzi melihat satu sama lain heran karena merasa tindakkan Profesor Owl tadi berlebihan.

“Jangan main itu lagi, ya?” kata Profesor Owl lagi.

Anak kecil itu mendesah “Iya sih, pak gulu juga bilang gak boleh, yaudah deh” dengan santai anak itu meninggalkan mereka dan bergabung dengan anak-anak lain.

Satu-satunya yang disesalkan Fauzi tentang pertemuan singkat itu adalah, dia tidak semoat menanyakan nama anak itu. Lagi. Mungkin lain kali.

“Apa itu barusan?” tanya Aldo sambil menyeringai aneh.

“Kalian tidak lihat? itu tadi suntikan,” kata Profesor Owl serius.

“Memang, sih, tapi kan sudah tidak ada jarumnya” Fauzi mendukung sahabatnya.

“Masalahnya, itu bisa saja bekas. Dan, Fauzi, kau jelas tau kalau obat sejatinya adalah racun, kita tidak tau apa bahayanya”

“Tapi, kalau memang begitu, kenapa benda seperti ada pada seorang anak kecil?”

“Ah, Fauzi” kata Aldo dia cepat berpindah pihak “Kita sudah dua kali menghadapi manusia tidak berperasaan, dan kau masih bertanya? apa pula guna puluhan novel detektif yang kau sembunyikan di rumah profesor Owl?”

“Meh, sok pintar!”

Profesor Owl tersenyum.

Sementara itu, jauh dari keributan dari perdebatan kecil Aldo dan Fauzi. Seorang gadis terbaring di ranjang rumah sakit. Tangannya terhubung dengan selang yang menghubungkannya dengan tabung infus yang menggantung di sebelahnya. Selain itu ada pula alat yang terhubung dengan hidung dan mulutnya, membantunya tetap menghirup oksigen.

Faiza terlelap dalam tidurnya, dalam mimpinya yang kurang nyenyak. Ia bisa melihat dengan jelas dirinya dalam ruangan, penuh dengan daging sapi menggantung di kanan-kiri, seharusnya tempat itu dingin tapi Faiza tidak merasakan apapun selain perasaan heran karena dia tak bergerak bebas meski tangan dan kakinya lebih bebas dari apapun di ruangan itu.

Tiba-tiba pintu besi muncul di ruangan itu. Pintu itu bergetar begitu kuat dan memanggil-manggil namanya. Terbesit di benaknya bahwa ia harus ikut membantu pintu itu. Pintu itu ingin Faiza keluar, maka ia Faiza jadi ingin sekali keluar dari ruangan itu. Dia mencoba melangkah, tapi rasanya sulit sekali. Ia mencoba berteriak, menjawab panggilan pintu, tapi yang keluar hanya desahan serak yang memilukan.

Faiza tidak menyerah, ia terus berusaha mendekati pintu itu, hanya itu satu-satunya jalan keluar. Tapi badannya jadi lemas dan suara-suara di sekitarnya bukan hanya jeritan si pintu yang memanggil namanya. Seseorang bergumam, dan meskipun jelas, kata-katanya terpotong-potong.

“... mati ...”

Mendengar itu Faiza jadi ketakutan. Ia berusaha sekuat tenaga untuk berteriak, seolah dengan cara itu ia bisa membuka pintu, tapi suara yang keluar tidak lebih menyedihkan dari raungan anak kucing.

“... minus puluhan derajat ...”

Angin melewati tengkuknya, angin setebal kabut itu menyamarkan pandangannya, sekarang daging-daging yang menggantung di sekitarnya bertaburan es putih. Faiza menggigil, ia meringkuk dan pandangannya mengabur seiring makin tebalnya kabut di sekitarnya.

“... jantung yang kuat ...”

Saat itulah, pintunya terbuka. Dua orang anak laki-laki berlari menghampirinya, Fauzi memeluknya erat-erat menyuruhnya bangun dan Aldo yang berdiri di sampingnya menyiratkan wajah seolah Faiza telah mati. Aku sudah bangun, ia ingin menjerit, tapi tak ada apapun yang keluar.

“... mahal ...”

Kini pandangannya gelap. Dan Faiza baru bisa tidur dengan nyenyak.

Dia memang sering memimpikan tentang kejadian akibat Kotak Tidur itu, kejadian yang menyebabkannya harus berbaring di rumah sakit, kejadian yang hampir merengut nyawanya, kejadian ketika dia di sekap dalam kulkas raksasa tempat penyimpanan daging. Puluhan kali dia memimpikannya, tapi tidak satu kalipun dia mendengar gumaman seseorang. Sayangnya kita mudah melupakan detail-detail kecil dalam mimpi. Dan saat Faiza terbangun di ruang rawat inapnya, tak sedikitpun yang ia ingat selain kenyataan ia memimpikan hal yang sama lagi. Dan tak sedikitpun terpikir olehnya bahwa seseorang telah duduk di sampingnya saat ia tidur, dan menggumamkan kata-kata itu.

0 komentar:

Posting Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^