2 Januari 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 1

Ruangan itu remang-remang, selain karena lampu ruangan yang rusak dan tak ada yang mau mengganti juga karena cuaca di luar yang amat muram. Hujan turun untuk pertama kalinya setelah musim panas yang panjang, aroma tanah menguar menyibak kerinduan terhadap udara lembab. Ada dua orang dalam ruangan itu, seorang pria gemuk berkepala pelontos dengan singlet putih menutupi badannya yang terlipat-lipat, noda-noda lemak tampak menghiasi sekitar leher mulutnya. Ia memegang remote televisi sambil berbaring di sofa usang yang sudah terlihat bagian dalamnya.

Di sisi lain ruangan seorang wanita mengunyah permen karet sambil menatap lamat-lamat pada layar laptopnya. Matanya yang dikelilingi lingkaran hitam sangat cocok dengan pipinya yang dalam dan rambutnya yang awut-awutan dalam gelungan yang asal-asalan. Ia mengenakan kaus ketat yang tertutup jaket kebesaran serta jeans yang sudah di sayat sana-sini.

Untuk sesaat tidak ada suara lain selain suara televisi dan bunyi klak-klik-klak-klik dari remote dan keyboard. Itu pun terhalangi dengan suara derasnya hujan. Butuh waktu lama bagi mereka untuk menyadari ada seseorang yang mengetuk pintu, baru setelah beberapa menit si tamu mulai kesal dan mengetuk dengan kasar.

Keduanya saling menoleh satu sama lain, lalu mengangguk bersamaan. Si pria gendut merogoh sesuatu dari balik sofa, sebuah benda berwarna hitam mengkilat muncul di tangannya, sebuah revolver. Si wanita mengambil juga mengambil benda hitam dari dalam sebuah pot hiasan di lemari, tapi bentuknya lebih simetris dan sepertinya lebih cocok untuknya, dia menekan tombolnya untuk memeriksa apa alat itu masih menyala. Sekilas terlihat percikan kilat kecil diantara dua tanduk logamnya.

Mereka berjalan mengendap ke arah pintu masuk di ruangan samping, yang melewati pintu tak berdaun yang menghubungkan ruangan itu. Si wanita mengintip tamu dengan membuka sedikit gorden jendela, kemudian menatap si pria gendut sambil menggeleng, aku tak mengenalnya.

Si pria gendut mengangguk paham, dia membuka kunci pintu dengan perlahan lalu membuka pintu itu. Suara hujan yang lebat memekakkan telinga dan bias air hujan menerpa wajahnya. Pria berambut ikal kemerahan di hadapannya sudah hampir menghela nafas dan bersiap masuk, tapi moncong senjata api yang melekat di kepala menahannya.

“Hati-hati dengan benda itu, sobat” katanya gugup, tapi suaranya tidak terdengar jelas dalam terpaan hujan. “Ini aku”

Leon?” si pria botak menurunkan revolvernya.

“Kaupikir siapa?” dengusnya. “Kalian ini seperti tidak mengenaliku saja” dia bergegas masuk ke dalam rumah dan mengusap-usap lengannya. “Aku harap itu pertanda baik”

“Kau mengubah penampilanmu? Lagi?” tanya si wanita, seraya berjalan kembali ke lemari dan mengembalikan pengejut listriknya.

“Ya, dan kalian juga harusnya begitu. Lihatlah dirimu, Mawar, itu sebabnya kau belum menikah. Dan, Gilang, aku heran kenapa ada wanita yang mau tidur denganmu”

“Karena ada pistol di pelipis mereka, dan ada uang di sakuku. Itulah sebabnya, Leon” Gilang menyembunyikan lagi pistolnya ke dalam sofa. Temannya, Leon yang tadi hendak duduk di sana mengurungkan niatnya. “Kau tau? Ada alasan lain kenapa kami hidup urakan begini”

“Benarkah?” Leon berjalan dapur, ingin menyeduh susu coklat, mencoba menghangatkan diri setelah menempuh hujan lebat di luar.

“Menyelamatkan nyawa kami darimu” Mawar menjawabnya sambil terkikik.

“Oh, baguslah kalau begitu. Dengan begini kita semua impas” dia masuk dan mengambil kursi lain untuk duduk di sebelah sofa Gilang. “Ngomong-ngomong mana yang lain?”

Gilang menatapnya heran, “yang lain? Apa maksudmu mereka? Kau mengucapkannya seolah mereka pernah sudi menginjakkan kaki di sini saja”

Leon mengangguk paham sambil memeperhatikan berita di televisi. Segerombolan penculik gadis pemain biola di tangkap, korban tidak di sakiti. Leon mengurut keningnya sebentar.

“Beritanya ada di mana-mana” kata Mawar “tapi tak satupun yang membahas kotak kecil pemancar ultrasound pembuat tidur. Kalau polisi-polisi itu memang becus, harusnya pencipta alat itu juga di tangkap”

Leon terkekeh, “Kalau begitu kau pasti benar-benar sudah lupa perencanaan pengeboman di Hotel Chandra enam bulan lalu, Mawar. Penangkapan Rano juga tidak menyebut-nyebut tentang bom itu, hanya penyanderaan”

“Kali ini beda, Leon, dan kau tau itu”

“Sama, sayangku. Rano sama-sama terlibat, dan kau mungkin tidak tau, tapi alasan gagalnya operasi juga sama”

“Apa yang kau bicarakan?” Mawar menoleh, memandang heran pada Leon. Kilat menyambar mematikan sambungan listrik rumah itu “Oh, sial!” serunya.

“Kau boleh saja duduk seharian di situ, mencari informasi, tapi tak akan menemukan apapun selain yang bisa di ketahui polisi. Saat ini kemampuan IT mu itu tidak berguna”

“Karena listriknya mati, benar, dan menyambar stop kontak charger laptop ku” Mawar meraba-raba samping laptopnya, dan mencabut ekor chargernya. “Sekarang jelaskan maksudmu”

“Aku akan membuat kopi” kata Gilang, mencoba menghindari perbincangan itu. Dari sudut matanya, ia bisa melihat Leon tersenyum mengejeknya, dan ia berusaha sekuat tenaga untuk tidak berbalik dan meninju wajahnya keras-keras.

“Gilang sudah tau?”

“Dia tidak memberitahumu karena kau sebenarnya memang tidak ada urusannya dalam masalah ini” kata Leon, ia tadinya hendak pindah ke sofa, tapi teringat akan revolver itu, tidak jadi, takut meletup tanpa sengaja. “Sebaliknya, aku dan dia punya kaitan erat”

“Oh, Demi Tuhan, berhenti membuatku penasaran”

“Mereka dilindungi, Mawar, mereka dilindungi, itu kenapa polisi tidak menangkap dokter bodoh itu” Leon berdiri, hendak mencari lilin, hari sudah hampir gelap, tanpa lampu ataupun cahaya televisi, keadaan bisa gawat.

“Dilindungi? Dari polisi? Siapa yang bisa melakukannya? Selain ...”

“Selain kita? Benar, ‘kita’ lah yang melindungi mereka” Leon akhirnya menemukannya dari dalam lemari, “hei, apa pengejut listrik ini bisa menyalakan api?”

Mawar menggeleng, sebagai tanda bahwa pengejut listrik itu tidak bisa menyalakan api dan ia tidak mengerti ucapan Leon.

“Mereka hanya anak-anak, benar, dan seorang dokter. Tapi ada banyak hal yang menolong mereka, kecerdikan, tekhnologi, kenekatan, pengkianatan serta kegegabahan Rano. Seharusnya kita tidak pernah memberinya kesempatan kedua” Leon merogoh sakunya mencari-cari korek.

“Akan ku ingat itu” katanya mengangguk. “Aku punya korek” dia merogoh sakunya sendiri, “kau juga mau rokok?”

“Tidak. Kau seperti tidak kenal aku saja” ia mengambil korek itu setelah Mawar menyulut rokoknya.

“Lalu apa lagi”

“Kau tidak mendengarkanku dengan baik, Mawar. Aku bilang ‘pengkhianatan’. Saat aku menyebutkannya, yang ku maksud bukan hanya Rio. Kau ingat Lily? Aku sendiri tidak bisa melupakannya” senyumnya membayang jelas diterangi cahaya lilin.

Mawar terdiam, ia ingat Lily. Dan ia juga tau kenapa Leon tidak bisa melupakannya. Wanita itu tidak bisa dibandingkan dengan dirinya, begitu muda, begitu cerdik, begitu cantik.

“Aku tau kau tidak pernah mendengar cerita lengkapnya, meski kejadian ini sudah terjadi lama sekali. Aku dan dokter itu dulu berteman, juga dengan Rano. Owl namanya, Owl punya minat besar tentang fisika dan alat-alat elektronik, meskipun dia sendiri kuliah sebagai dokter. Sebenarnya, dia membiayai kuliahnya itu dengan memperbaiki mesin-mesin perusahaan besar. Aku juga banyak belajar darinya. Dia memang jenius dalam hal itu, sampai terlalu fokus dan malah mengabaikan karirnya sebagai dokter, dan hanya menjadi dokter magang sampai sekarang. Aku sebaliknya, amat tertarik dengan ilmu kedokteran”

Ketika Leon tersenyum lagi, Mawar bergidik, bulu kuduknya meremang membayangkan dia melihat Leon ... melakukan apa saja yang bisa seorang Leon lakukan.

“Dulu, dia mengerjakan sesuatu untuk Rano, tapi si pelit itu tidak mau membayar dan Owl jadi kesal karena itu adalah sumber pencahariannya. Dan yang Rano lakukan adalah membantai habis keluarganya, kecuali dua orang: Owl dan adiknya, Lily. Owl memang tidak pernah macam-macam lagi setelah itu, seluruh semangat hidupnya hancur karena dia tidak tau kalau Lily masih hidup dan bekerja untuk kita.

“Dia menyendiri di hutan dekat sungai, dan akhirnya bersahabat dengan penduduk sekitar seiring kota itu tumbuh pesat. Kau tau bagaimana selanjutnya rencana pengeboman hotel Chandra digagalkan, kan? Tanpa sadar, Owl kembali berinteraksi dengan Rano setelah bertahun-tahun, ia membuatkannya Sumbu Lambat. Empat orang anak tetangganya ikut dengannya ketika mengantarkan sumbu itu ke Bali, dan empat anak itu lah yang menggagalkan rencana Rano, semudah membalikkan telapak tangan. Lily, yang selama ini diculik dan dipekerjakan Rano, bebas.

“Tapi, kau tau sendiri bagaimana posisi Rano dan anak buahya itu. Lily tidak mengenaliku saat aku datang ke rumahnya dan mengaku sebagai teman Owl—walau saat itu aku memang masih teman Owl—Owl berhasil meyakinkannya akan baik-baik saja meminjamkan flashdisk tempat temuan-temuan berbahayanya disembunyikan oleh Lily, dia bilang aku tidak akan mengerti, tapi dia salah. Kotak Tidur berhasil diciptakan, benar? Walau operasinya digagalkan oleh ... ya, lagi-lagi anak-anak ini”

“Maksudmu anak-anak yang sama?”

“Yep. Pengkhianatan dan hubungan adalah masalah terbesar kita, Mawar. Rio dan adiknya, Lily dan kakaknya. Ketika memutuskan memasukkan seseorang dalam tim, seluruh hubungannya harus dihapuskan. Dan selalu musnahkan masalah sampai ke akar-akarnya”

“Dan apa maksudmu dengan mengatakan hal itu?”

“Aku bukan orang yang kejam, Mawar. Tapi anak-anak itu sudah merepotkan dua kali, di kesempatan lain, mungkin mereka akan dapat piring cantik. Mereka mungkin memang benar-benar tidak sengaja terlibat dengan kita, tapi masalah utamanya ada pada Lily. Dia sudah tau siapa aku, dia punya banyak kesempatan untuk menghancurkan kita, dan bagiku keselamatan adalah nomor satu. Kemudian ...” Leon merendahkan suaranya “kau tahu kenapa Rano bisa punya kesempatan untuk mengacau lagi? Seperti kataku, ‘hubungan’ itu adalah masalah. Jadi, aku ingin kau melacak di mana dia sekarang dan kita lihat apa dia seorang perokok atau bukan”

Meski begitu, Gilang pasti mendengar Leon. Karena kemudian suara cangkir pecah mengalahkan suara hujan.

0 komentar:

Poskan Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^