20 Januari 2016

Kualat

Saya pasti kena kualat.

Setelah beberapa waktu lalu menyindir kinerja ekskul Mustra secara implisit; lalu secara kurang ajar memikirkan cerita nyinyir dengan tema yang sama, kemudian sok-sokan ngambek seharian gara-gara gak ada yang mau latihan. Dan terakhir dengan sombong berkata bahwa tidak peduli dengan hiruk pikuk isu sertijab yang mengacaukan jadwal latihan, yang penting latihan.

Hari itu hari Jum’at. Hari paling panjang dalam seminggu. Bukan berarti hari itu jam lebih dari dua puluh empat jam, tapi karena bel pulang sekolah satu jam pelajaran lebih lama dari biasanya. Dan sudah sepantasnya menyebabkan rasa putus asa.


Hari itu, saya bahkan sudah menghukum diri sendiri—karena malam sebelumnya tidak belajar kimia—dengan pergi ke sekolah tanpa membawa komik ataupun novel. Pokoknya, kata saya pada diri sendiri, istirahat nanti harus belajar kimia. Memang sih, dengan kenyataan saya membawa ponsel hal itu tidak terwujud. Jam istirahat saya habiskan dengan membaca cerita di wattpad. Saya belajar kimia sekilas saja.

Intinya, saya mencoba membuat nyaman diri sendiri hari itu. Rasa bersalah dan ketakutan karena tidak belajar boleh saja menghampiri tapi rasa gelisah dan sebal saya membuat malas melakukan apapun. Kenapa sebal? Saya sudah menyebutkannya di paragraf dua.

Makanya pula, saya sebenarnya tidak terlalu khawatir ketika jam menunjukkan angka jam empat dan saya masih duduk di lobi kantor bersama Mbip menunggu Hania menyelesaikan tesnya. Satu-satunya yang menganggu saya adalah karena saya belum shalat Ashar dan saya kebelet pipis. Itulah satu-satunya alasan saya mau pergi ke ruang multi dan meninggalkan Mbip dan Hania. Supaya saya bisa menaruh tas dan pergi ke langsung ke mushala.

“Bu Senny!” panggilan dengan nada marah itu hanya guyonan. Tapi cukup untuk mengejutkan saya ketika melihat siapa yang baru saja bicara. Kak Uji, Kak Asha, Kak Eja dan Kak Sophie. The Big Four (eaaa). Satu kata terlintas di benak saya ‘sertijab’

Saya dipersilakan masuk dan Kak Asha melanjutkan pidatonya. Saya nyaris tidak mendengarkan karena sibuk dengan perasaan tidak nyaman diri sendiri, sampai Kak Uji meminta saya memanggil Muti. Saya tidak sadar dengan apa maksudnya itu sampai Muti bertanya

“Kan Hania juga angklung”

Dan saya menjawabnya dengan spontan “kan kamu yang mau sertijab”

Saat itu saya baru sadar kalau Muti jadi kandidat ketua, tidak mengejutkan sejujurnya. Muti memang cukup akrab dengan kakak kelas dan adik kelas—dan itu menjadikannya koordinator yang baik—dia juga rajin.

Saya kembali masuk ke ruang multi bersama Muti yang sudah selesai merajuk tentang betapa dia tidak ingin menjadi ketua. Nadia berbisik bahwa saya menjadi kandidat ketua, dan saya menyebutnya pembohong. Bukan hanya sekali mereka mengejek saya dengan sebutan itu untuk menyindir tindakan berlebihan saya dalam memaksa mereka latihan—yang seringnya berakhir dengan kenyataan bahwa latihan dibatalkan—.

Dan Kak Asha berbaik hati menyebutkan kembali kandidat ketua Umum. Ketua Materi sendiri sudah bisa dipastikan adalah Icha, yang meski masih kelas sepuluh kemampuannya tentang angklung melebihi kakak kelasnya. Saya tidak ingat bagaimana urutan Kak Asha menyebutkan kandidat ketua, tapi urutan ini saya buat demi kepentingan dramatisasi.

Mutiara Allivia Permana Putri, mudah ditebak. Indri Hardiyanti, cukup masuk akal, meski kurang aktif dan kurang rajin dari Muti, Indri bisa dikatakan punya musikalitas yang lebih baik dan dia juga sudah pandai berorganisasi.

Fatiah Nur Madina. Saya memekik kaget. What the heck?!

Mari saya ceritakan bagaimana diri saya. Masuk ekskul angklung hanya karena ia terlihat sebagai satu-satunya ekskul yang paling santai, tidak mencoba berbaur jangankan dengan kakak atau adik kelas, bahkan dengan yang lain kelas pun jarang, dan yang paling parah, pengalaman berorganisasi yang nyaris nol. Waktu SMP, saya ikut ekskul paskibra dan hanya bertahan selama enam bulan, lalu ikut ekskul MIPA yang tak punya struktur organisasi sama sekali. Saya pernah menjadi Seksi kebesihan di kelas sepuluh dan bendahara sewaktu kelas enam, tapi hanya itu saja.

Kakak kelas mulai menanyakan kami mengenai kesiapan kami. Indri langsung mengundurkan diri mengingat posisinya di ekskul BKC sudah merepotkannya. Saya ditanya dan berkata bahwa saya ragu dengan kemampuan saya sendiri, dan Kak Asha berbaik hati menyemangati saya. Muti berkata bahwa ia tidak mengerti kenapa dia bisa dipilih (seharusnya saya yang bertanya begitu) dan Kak Asha menjawab bahwa mereka punya trik sendiri mengenai itu.

Saya memohon agar Muti tidak mundur, karena saya sendiri tidak berniat melakukannya, melihat kakak kelas tidak mencari pengganti untuk Indri, saya tidak mau jadi calon tunggal.

Kami diminta keluar agak jauh supaya tidak mengintip proses pemungutan suara. Dan saya mengambil kesempatan itu untuk pergi ke kamar mandi. Mbip menggerutu dan saya berusaha menenangkan diri. Ketika kembali, dua orang adik kelas sedang dalam perjalanan menjemput kami dan Indri menegur saya karena tidak merespon panggilannya.

Saya jelas bukan satu-satunya orang pecinta drama. Karena penyerahan jabatan ketua umum itu juga dibuat dramatis. Saya dan Mbip berdiri di depan, Kak Uji—menggantikan Kak Asha selaku ketua umum karena sepertinya ia agak terlalu sentimental—berdiri di antara kami sambil memegang kunci ruang multi. Dan Kak Uji menyerahkannya pada saya, saya memekik dua kali sebelum mengambilnya. Mbip memeluk saya, dan semua orang menyelamati saya.

Saya ditanya tentang kesan. Satu-satunya yang bisa saya keluarkan adalah gelakkan tertahan dan “pengen ketawa” saya sudah tertawa. Keadaannya jadi canggung dan saya bahkan terlalu malu untuk menceritakannya.

Hania menenangkan saya dengan menjadi pendengar yang baik seperti biasanya. Dan di rumah saya menenangkan diri dengan membaca komik dan internetan sampai larut. Tapi tetap saja, keterkejutan itu membuat saya sampai lupa makan dan tidak bisa tidur, dan seolah menyuburkan kebiasaan buruk baru saya: mengumpat dengan kata yang dalam kamus bahasa ponsel saya diketegorikan sebagai ‘very rude

Dan disini saya hendak menyampaikan apa yang tidak pernah saya sampaikan, sesuatu yang jelas lebih bermakna daripada ‘pengen ketawa’. Karena jelas saya lebih bisa mengungkapkannya dengan tulisan daripada kata-kata langsung. 

Awalnya saya mengenal mustra sebagai ekskul degungan. Yang meski dalam skala lebih kecil, tetap melibatkan kerjasama kelompok. Dan mengingat sejak tahun lalu kami aktif dalam angklung, kerjasama yang dibutuhkan jauh lebih besar. Kemudian sebuah fakta mengganggu saya.

Mustra tidak pernah jadi prioritas. Anggota-anggotanya terutama angkatan saya adalah pemalu, dan kami tunduk dalam perintah walau karena kurangnya komunikasi juga nyinyir pada pemimpin. Saya merasa putus asa pada fakta itu.

Di belakang ngomongin di depan butuh.

Ini jelas bukan kerjasama yang sehat, bahkan seorang introvert seperti saya sekalipun mengerti hubungan sosial yang baik amat penting dalam kelompok yang saling melengkapi. Dan karenanya saya sempat terpikir untuk keluar ekskul mustra, tidak mau terlibat kehancurannya, tapi itu tindakan pengecut.

Intinya saya sama dengan kalian, ragu pada diri sendiri dan tak percaya pada orang lain. Tapi keadaan akan makin sulit jika hal itu diteruskan. Saya hanya berharap, semoga kita bisa menjalin hubungan lebih baik, dan dengan begitu bersemangat pula dalam latihan. Jangan pernah terpikir kalau tidak apa-apa kalian tidak latihan karena ada orang lain yang latihan. Bayangkan jika semua orang berpikir begitu, akibatnya sering banyak latihan batal. Mustra adalah kelompok, ia ada karena kita ada.

Berhentilah bersikap manja, cobalah bertanggung jawab, pemerintah bisa berkata kalian cukup dewasa untuk memilih pemimpin tapi dengan kenyataan kalian lebih mementingkan diri sendiri daripada kelompok itu menunjukan betapa menyedihkannya kalian.

Juga cobalah memahami betapa pentingnya keberadaan kita. Pernahkan terpikir kalau puluhan tahun kedepan angklung dan gamelan mungkin sudah punah? Mustra adalah budaya, dan budaya adalah jati diri, dan tidakkah nasionalisme yang mulai luntur seiring jaman membuat kalian malu pada para pendiri bangsa? Kepunahan eksistensi mustra ada di bawah hidung kalau kalian mau tau.

Dan tak ada yang bisa menjaganya selain diri kita sendiri.

Saya berlebihan, saya tau, jadi sebelum ada yang muntah lebih baik tulisan ini diakhiri saja.

Salam


0 komentar:

Posting Komentar

Minta kritik/saran/pendapatnya dong^^