28 Desember 2016

2016 in Review

imgsrc

Sisa 2016 sudah bisa di hitung jari, satu lagi tahun yang ‘mengesankan’ terlewati. Dan ya, jarak saya dengan kematian berkurang satu tahun lagi.

Sepertinya jelas banget bagaimana kesan saya pada tahun ini, ya? Tapi saya gak mau menyalahkan diri sejauh itu, soalnya saya yakin banyak orang yang juga setuju kalau 2016 bukan tahun yang terbaik. Khususnya dengan banyak kebencian dan kehilangan yang tersebar di media.

Bagi saya sendiri, ini tahun yang berkesan. Kehidupan seolah mengejek saya yang akhir tahun lalu berkata saya siap dengan tanggung jawab. Mengejek saya yang tahun lalu bilang menerima sisi menyebalkan masyarakat. Mengejek saya yang mengharapkan tantangan. Rasakan! Serunya, selagi saya mencoba untuk bangkit lagi, menghindari lantai kaca dengan kegelapan tak berujung dibaliknya. (Iya, tau, lebay)

Dan sebab itu saya juga minta maaf untuk semua aura negatif yang saya sebarkan, semua keluha, semua sindiran, juga penggunaan kata depresi atau jenis penyakit mental lainnya yang tidak tepat. Semoga saya tidak menyakiti hati siapa pun, harapan yang egois, memang.

Tapi yah, kalau dipikir-pikir ini gak buruk-buruk amat. Pelatihan olimpiade itu bakal jadi kenangan yang saya inget terus, waktu jalan-jalan ke IPB juga, ato pas saya melawan kebiasaan dengan berangkat dadakan ke obralan Gramedia buat borong buku Agatha bareng Intan, juga waktu ketemu Tere Liye.

Tahun ini juga awal dari banyak hal yang mungkin jadi sesuatu yang berarti buat saya. Saya mulai nonton Dan and Phil, dan ini obsesi paling lama yang pernah saya jalani. Dan sekedar inget dua orang ini, bikin saya bisa senyum pas lagi sedih-sedihnya.

Saya juga mulai belajar gambar digital. Yah, meski awalnya gak mau serius-serius banget, soalnya saya tau bakal gagal. Tapi makasih buat Iis sama Indri yang bikin saya jadi mau nerusin ini. Maksud saya, saya emang suka gambar dari SD, tapi isu kepercayaan-diri saya sering mengganggu jadi makasih kalian.

Dan soal tontonan, tahun ini saya banyak nonton Anime. Dan saya gak nyesel.

Walau ya, hasilnya saya jadi keteteran di menulis dan membaca, tapi selalu ada cara buat memperbaikinya, kan?

Bahkan soal saya yang sering sakit hati tahun ini, itu juga kabar baik. Toh itu artinya candaan saya tentang betapa saya gak punya perasaan itu gak bener. Dan itu juga berarti mungkin saya gak sepengecut yang saya kira dulu.


Saya gak ngerayain tahun baru, tapi setelah ini semuanya bakal terasa aneh. Semester baru, tanggalan baru, dan hey, uang baru! Jadi yah, saya berharap banyak pada 2017. Betapa pun saya tau ekspektasi lebih sering memberikan kekecewaan, saya gak mau memulainya dengan pesimistis. Jadi yah, semoga ini jadi tahun yang baik untuk kita semua.

17 Desember 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 19

Saat Fauzi membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah plafon putih yang sangat ia kenal, lalu hidungnya mencium bau antiseptik yang membuatnya semakin yakin tentang keberadaan dirinya sekarang. Fauzi melihat ke sekitarnya, dan mendapati ibunya meringkuk tidur di sofa. Wajahnya terlihat lelah seperti biasa, dan menyadari bahwa hal itu seringkali dsebabkan olehnya menghantamnya dengan rasa bersalah.

‘Harusnya aku tidak sak—’ Fauzi menghentikkan monolog pikirannya sendiri, ia memang sudah terbiasa sakit untuk terbaring di ranjang rumah sakit, tapi kali ini, ‘aku tidak sedang sakit’. Fauzi menggali memorinya, yang terakhir ia ingat, ah, tentu saja jus jeruk buatan Kak Lily. Lalu ia tertidur, tertidur, apa karena itu mereka membawanya ke mari? Hanya karena ia ketiduran di rumah Profesor Owl?

Fauzi berusaha untuk duduk, kepalanya terasa pening. Apa ini efek tidur terlalu lama? Ia melihat ke jendela, langit memang sudah gelap.  Tapi selama apa ia tidur? Ia mengangkat tangan kanannya, oh, benda itu sudah tak ada di sana. Ia mencari ponsel, tidak ada juga. Akhirnya ia memindai dinding, dan mendapati sepucuk jarum pendek yang mengarah ke angka sembilan.

Tunggu sebentar! Ia punya janji dengan Alya! Astaga, apa yang ia lakukan di tempat seperti ini! Ponsel, ponsel, di mana benda sialan itu. Fauzi menyandarkan punggungnya, ah, tidak mungkin juga Alya menunggu sampai selarut ini, dia pasti pulang, tapi apa yang aan Alya pikirkan tentang dirinya?

Daripada itu, yaampun dia belum melihat Faiza seharian. Ia harus menjenguknya, yaah, meninggalkan ibunya tak akan terlalu masalah. Lagipula, Fauzi mengenal Rumah Sakit Mariana sebagaimana ia mengenal rumahnya sendiri, ibunya tak akan khawatir.

Saat keluar dari ruang inapnya, Fauzi dikejutkan oleh seorang gadis yang mengurut kening di sofa lobi. Dengan cepat ia langsung mengenali tas biola yang tergeletak di sampingnya.

“Alya, aku kira—” Fauzi menghentikkan kalimatnya saat melihat Alya melotot marah padanya.

“Tujuh jam” Alya menggerutu “bagaimana kau bisa sepulas itu sementara ...” Alya menghela nafas keras. “Entah bagaimana keadaan Faiza dan Aldo, dan bahkan kenapa aku peduli?!”

Fauzi tak tau harus bilang apa, dia hendak bertanya banyak hal mengenai pernyataan Alya tadi. Tapi menurut pengalamannya, hal itu akan sulit jika keadaannya sudah begini.

“Kau mau—” Fauzi tak tau apa ini akan berhasil, Faiza biasanya langsung tenang, tapi “es krim?”

“Es krim? Es krim?!” Alya menampakkan raut tak percaya “Zi, kita dalam masalah besar, dan kau menawariku es krim?!”

“Rasa cokelat” lanjutnya “Dan aku jelas-jelas tak tau apa yang sedang kau bicarakan, jadi percuma marah padaku”

Alya menghela nafas panjang lagi untuk ke sekian kalinya. “Aku mau rasa vanilla”

***

“Lalu aku harus membangunkan semua orang satu persatu seorang diri” Alya mengakhiri kisahnya bersamaan dengan tandasnya eskrimnya.

Tak ada kedai es krim yang buka malam-malam begini, lagipula ini rumah sakit. Jadi mereka pergi ke toko swalayan yang letaknya ada di seberang jalan di luar gerbang. Setelah membeli eskrim—dan camilan lainnya—mereka berjalan perlahan kembali ke gedung inap Fauzi.

“Padahal kau bisa saja meminta bantu Profesor Owl dan Dokter Agung, mereka bisa dibangunkan dengan membuka kelopak matanya dengan paksa” Fauzi untuk pertama kalinya berkomentar, mendengar kematian Kak Lily membuatnya tak bisa berkata-kata. Baru beberapa bulan mereka mengenal, sekarang dia sudah pergi lagi, apa yang akan dikatakannya pada Fira? Gadis itu sangat menyukai Kak Lily.

“Kenapa kau baru bilang sekarang?” Alya meringis, usaha sok heroiknya membangunkan semua orang ternyata sama sekali sia-sia.

“Aku tidak tau benda itu akan digunakan lagi. Atau, memasang musik keras-keras,”

“Aku berpikir kesana, tapi nanti mereka berdua bangun”

“Benar juga, di mana mereka sekarang?”

Alya tidak segera menjawab, ponselnya berdering di sakunya. Buru-buru di angkatnya anggila itu, dan benar saja, wajahnya langsung panik begitu melihat nama yang terpampang di sana.

“Halo?” sapanya ragu, sedetik kemudian dia meringis dan menjauhkan ponsel itu dari telinganya. Setelah menunggu beberapa saat, Alya akhirnya berani membalas “Iya, pak, maaf” ia diam lagi “Iya, pak” kemudian menutup panggilan itu.

Fauzi tanpa basa-basi langsung bertanya “siapa?”

“Polisi,” ungkap Alya “selalu saja begitu ya? Hubungan kita dengan polisi. Padahal mereka saja yang tidak becus” ia mendengus “Sebaiknya kita cepat pergi dari sini, tidak aman, lagipula aku tak bawa biolaku”

“Hah?”

“Kau tadi bertanya di mana mereka kan? Aku mengurung mereka dalam gudang, lalu melapor pada polisi. Tadi polisi menelepon dan berkata untuk tidak main-main dengan polisi” Alya mendesah “Itu artinya ada pekerjaan orang dalam, penguntit tanpa identitas itu mungkin anak buah mereka yang bersembunyi, dan bisa saja ...”

“... sedang mengawasi kita saat ini”

Fauzi dan Alya berjalan lebih cepat, ruang rawat inap Fauzi hanya tinggal beberapa meter lagi ketika Fauzi tiba-tiba teringat sesuatu dan mengungkap tanya “Kalau begitu, Aldo dan Faiza, sekarang, mereka ...”

 “Ayo lebih cepat, kita harus menyusun rencana” kemudian ia melanjutkan “dan tidak, kali ini kita tidak akan mengendap-endap lalu kabur seperti yang kau lakukan dulu. Ini akan jadi rencana sungguhan, paham?”

Es krimnya tidak terlalu efektif rupanya, gumam Fauzi.

“Daripada itu,” Fauzi agak ragu, dia sebenarnya agak tersinggung karena tekanan tadi tapi saat ini mungkin memang lebih baik menyingkirkan egonya untuk sementara. “Alya, setidaknya istirahat dulu malam ini. Maksudku ini hari yang berat untukmu.—Tidak—Dengar, aku tau kau mengkhawatirkan Faiza dan Aldo, aku juga, bahkan mungkin lebih dari dirimu. Tapi percayalah, mereka baik-baik saja saat ini”

“Dan bagaimana kau yakin? Rano mau membunuhku tadi, kau tidak memperhatikan ya?”

“Kalau kau tanya begitu” aku juga tidak tau “Dia bilang agar kau tidak mengganggu rencananya kan? Apa rencananya? Menghabisi kita semua? Itu artinya dia belum menjalankannya kan?”

“Zi” ujar Alya putus asa “itu empat jam yang lalu, dan kita praktis tidak tau apa yang dia rencanakan. Kita tidak tau apa-apa sama sekali. Menunda sama sekali tidak terdengar bagus”

“Percaya padaku, mereka masih hidup saat ini.”

A/N

At this point I feel everything is pointless and getting too complicated. why? WHY?

14 Desember 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 18

Alya tak tahu banyak soal cara menarik perhatian orang yang menguntitnya. Ia pernah membaca soal berjalan melewati jalur yang rumit atau berbentuk lingkaran untuk mengetahui seseorang sedang menguntit kita atau tidak. Tapi keadaannya berbeda, penguntit itu mengawasi mereka dari sini, bersembunyi di antara pedagang kaki lima ini.

Alya menyeruput es cendolnya lagi. Sebenarnya, kalau ia mau, Alya bisa saja benar-benar membuat jalur lingkaran itu, hanya saja ia tidak yakin apa itu cukup aman. Selain itu, ia tidak berniat membuang-buang waktu, Aldo dan Faiza, entah di mana dan bagaimana keadaan mereka sekarang.

Seseorang menepuk bahunya, Alya terkejut bukan main. Tapi ia kembali tenang setelah melihat bahwa itu adalah tukang dawet yang tadi. Pria tua itu mengucapkan sesuatu, tak terlalu jelas di telinga Alya yang sedang mendengarkan musik, tapi ia bisa membaca gerak bibirnya. Alya mengerutkan dahi sejenak, lalu dengan cepat menjawab “Iya!”

Sang kakek menunjuk seorang pria yang berdiri di sebuah persimpangan jalan. Jantung Alya berdebar, ia tidak menyangka bahwa justru penguntit itu sendiri yang menantangnya. Menyampaikan pada kakek ini bahwa orang yang di tunggu Alya sudah datang. Perasaan aneh menyelubungi hatinya, ini diluar antisipasinya, apa jika dia ke sana akan ada jebakan? Alya menggeleng, kalaupun ada, dia sudah siap melawan balik, lagipula senjatanya adalah sesuatu yang tak akan ia sangka.

Alya mengeluarkan biolanya dari dalam tasnya, entah pilihannya untuk ke sana benar atau tidak. Ia mungkin akan mengalami hal yang sama dengan Faiza dan Aldo, tapi berharap semuanya baik-baik saja tanpa mengambil resiko juga terdengar konyol.

Alya menarik nafas panjang, ia siap.

Aneh juga kenapa orang itu memilih persimpangan itu sebagai tempat berkumpul. Alya mengira para penjahat menyukai tempat yang lebih sepi. Persimpangan itu terlalu terbuka, dan banyak orang yang lewat. Persimpangan itu menghubungkan rumah sakit, lapangan parkir serta kompleks perumahan dinas. Tapi entahlah, mungkin dia sangat percaya diri dengan penampilannya yang memang, dari segi manapun tidak mencolok.

“Maaf,” Alya menyapa “Kau siapa?”

Pria itu menoleh, wajahnya di tutupi masker. Tapi melihat ciri fisik lain yang masih bisa terlihat—rambut lurus hitam legam dan mata yang agak kehijauan—Alya bisa bersumpah ia tak pernah melihatnya, baik sebagai tukang rujak maupun tukang sayur, atau apapun yang mungkin menguntit mereka.

Pria itu membuka maskernya, kemudian tersenyum, saat itu lah Alya sadar kalau ia mengenalnya, terlalu mengenalnya.

Alya tidak terkejut, sama sekali. Hanya saja ini tidak masuk akal.

“Aku bahkan tak perlu menjelaskan apapun lagi padamu, kan?” ucap Leon.

“Di mana Aldo dan Faiza?” desisnya. Ini salah, tidak mungkin Leon yang menguntit mereka selama ini. Karena kalaupun iya, untuk apa? Dia sudah sangat dekat dengan mereka. Leon praktis mempunyai jam tangan Fauzi, yang otomatis bisa melacak keberadaan Faiza dan Aldo. Tak perlu ada penguntitan.

“Aku tidak mengerti dengan kalian para wanita” kata-kata Leon terdengar lelah “Faiza, Lily, dan kau. Untuk pertama kalinya ada orang-orang yang sulit aku tangani”

“Aku tidak bodoh” Tapi kalau begitu siapa yang menguntit mereka selama ini?

“Aku tahu itu, itu sebabnya aku mendatangimu seperti ini” Leon nampak tidak sabar “Dengar, Alya, aku tidak menyukai kekerasan—”

“Lain halnya dengan racun” Alya merendahkan kata terakhirnya, ada seseorang yang lewat di belakangnya. Tempat ini terlalu ramai.

“Jangan memotong. Maksudku, kecuali terpaksa aku lebih memilih untuk tidak mendengar jeritan. Kau paham? Jadi—”

Kau memintaku untuk menyerahkan diri? Yang benar saja”

“Memang tidak, aku tidak sebodoh itu mengira kau akan menerimanya, kan? Aku hanya minta agar kau tidak mengganggu renca—”

Alya tau kenapa Leon menghentikkan kalimatnya, alasan yang sama yang membuat bulu ]udu]nya meremang. Di belakangnya, entah siapa, menyampirkan tangan kirinya di pundak Alya. Dan sementara tangan kanannya, memegang sesuatu yang tajam sambil menekannya ke pinggul Alya.

“Tidak Rano, kau tidak akan melakukannya, tidak di tempat seramai ini! Oh Tuhan, Kau selalu mengacaukan segalanya”

“Tapi, Leon, apa yang baru saja kudengar barusan? Kau takut pada gadis kecil ini?” Rano tertawa “aku akan melakukannya, lalu kita lari, oke?”

“Rano!” Leon menegurnya lagi, lalu sambil merendahkan suara “paling tidak, di tempat yang tidak dilihat orang”

Mereka berencana membunuhnya? Alya tau ini akan terjadi, dasar busuk, umpatnya dalam hati. Hampir saja, hampir saja Alya percaya pada omong kosong manis bahwa Leon akan melepaskannya.

Kalian kenal Rio kan?” Retoris Alya penuh kebencian. Ini bukan akhir hidupnya, Alya masih bisa melakukan sesuatu. Diangkatnya biolanya ke dagu, lalu tangan kanannya yang memegang gesekkan. Rano tak akan menyakitinya di keramaian, meskipun ia bergerak. “Ode to Joy, lagu favoritnya” dan nada-nada ceria mulai mengisi kehenigan dalam kebingungan dua pria itu.

Rano yang pertama kali menguap, kemudian Leon, lalu orang-orang yang berlalu lalang. Suara Tiffany Alvord yang berdendang di telinganya mencegah Alya untuk ikut jatuh tertidur, dan saat ia bisa merasakan Rano sudah jatuh, Alya menghentikkan permainannya. Ia berjinjit dengan hati-hati, dan menahan jangan sampai ia memekik tanpa sengaja.

Alya melihat ke sekitarnya, semua orang tertidur, dia benar-benar membuat kekacauan.

A/N

Saya tau ini pendek, tapi biasanya juga pendek

10 Desember 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 17

“Kita tak bisa terus diam begini, Aldo” ucap Faiza. Badannya terasa kaku karena hampir seharian berbaring. Sebenci apapun ia berbaring di ranjang rumah sakit. Setidaknya ia masih bisa bergerak, di sini, kaki dan tangannya diikat, dan lama-kelamaan udara terasa semakin pengap “Dan kau bilang tadi kita di bawah tanah? Kita bisa kehabisan oksigen”

Aldo tidak menjawab. Ia sudah sejak semalam di sini, sudah lebih lemah daripada saat Faiza datang. Badannya sudah tidak kaku, malah lemas sama sekali, ia tidak bisa merasakan apa-apa lagi.

“Aldo? Aldo?” Faiza terus memanggilnya. Tapi suara dengkuran membuatnya lebih tenang, setidaknya itu berarti Aldo masih hidup. Masih hidup? Tidak, apa maksud pikirannya itu tadi? Tidak, pasti ada cara untuk keluar.

Sayangnya ia kehabisan ide brilian. Sama sekali tak terpikir trik apapun. Ia tau ini percuma, tapi Faiza terus berusaha melepas sabuk yang menahan lengannya. Ia tau itu justru akan semakin membuat badannya lemas, dan mempercepat habisnya oksigen, tapi ia tak tau lagi harus apa.  Keputusasaan sepertinya membuatnya mengeluarkan semua tenaganya. Dengan mengerahkan tarikan di lengan kanan, Faiza tanpa sadar menumpukan semua berat badannya ke kiri. Dan tanpa disadari membuat pusat sebuah inersia, saat sadar meja tempatnya berbaring mulai miring, semuanya sudah terlambat. Ia menjerit begitu tubuhnya (beserta meja itu) terguling ke lantai, dan menimbulkan suara bedebum keras.

Herannya Aldo tidak bangun, dan luar biasa lagi Faiza tidak jatuh. Ia benar-benar penasaran dengan kualitas sabuk yang menahannya. Tapi posisinya kini lebih tidak nyaman, seluruh badannya tertumpu kekiri, menyebabkan sakit di bagian tanggannya, sayang mengembalikan meja ini ke tempatnya berdiri malah lebih tidak mungkin. Dan dengan posisi telinga yang kini lebih dekat dengan lantai, apa ini halusinasi Faiza saja atau dia memang mendengar suara derap langkah menuju ke arahnya?

***

Leon mengerutkan kening, rumah sakit lebih ramai dari biasanya saat ini. Benar juga, ada pasien yang baru saja menghilang, tapi seingatnya dia sudah merencanakan segalanya dengan matang. Kepergian Faiza dilakukan sesuai prosedur, jadi seharusnya kekacauan tidak tercipta secepat ini. Kecuali, kecuali kalau dirinya sudah ketahuan.

Ia mendengus, kalau begini dia tidak bisa jadi Dokter Kamil lagi. Di raihnya sebuah kotak di kursi belakang. Saat dibuka kotak itu berisi beberapa stel pakaian yang dilipat rapi dalam sebuah plastik. Leon memilah-milah, apa yang cocok untuk keadaan seperti ini?

Matanya kembali menatap ke balik jendela mobil, dari pelataran parkir ia bisa melihat jelas tentang kondisinya. Alya baru saja ke luar gedung UGD sambil menggendong tas biolanya (untuk apa?) saat ini dia mungkin sudah mengetahui kebenarannya, dan hancur sudah rencana Leon untuk menyergapnya di lokasi pengolahan limbah cair. Di sudut lain, anak buahnya yang mengurus penjualan ilegal sampah rumah sakit malah sedang asik bercengkrama dengan pria yang tak di kenalnya (tidak berguna). Tapi betapa terkejutnya Leon ketika ia melihat seorang pria paruh baya memasuki rumah sakit dengan tenang. Bahkan meski ia menutupi identitasnya dengan topi, Leon tau itu Rano, gesturnya yang mengeluarkan aura pembuat masalah sudah sangat dikenalnya. Matanya melirik kerumunan polisi di depan gedung rawat Faiza. Ini bukan rumah sakit, ini medan perang.

Sementara itu Alya yang mematung di depan gedung UGD sedang memikirkan hal lain. Daripada memikirkan masa kini dan keadaan bahaya yang sedang menimpanya, ia memikirkan segala yang terjadi pada mereka selama seminggu terakhir. Tepat sejak pergantian dokter Faiza. Ia sekarang mengerti bagaimana Faiza tidak kunjung sembuh walau kondisi fisiknya bisa dikatakkan ajaib. Tapi soal penjualan sampah rumah sakit itu, kejadiannya sudah cukup lama kan? Dan bagaimana dengan orang yang Fauzi bilang sedang menguntit mereka?  Apa dia di sini sekarang? Apa dia orangnya Rano?

Perasaan muak menyelubungi hati Alya. Kenapa harus mereka? Mereka tidak melakukan kesalahan? Orang-orang itu yang berbuat kejahatan, dan apa yang ia dapat dari berbuat kebaikan? Diburu? Tidak, diburu adalah istilah yang digunakkan jika mangsa ikut berlari. Mereka bahkan tak sadar bahwa mereka dalam bahaya, hanya karena kebodohan yang orang dewasa sebut kekhawatiran. Alya tak mau menyalahkan Profesor Owl, tapi kalau dia mengatakannya sejak awal, mereka mungkin bisa lebih waspada. Dan bukannya menjadi buah yang siap dipanen, untuk kemudian dipotong-potong dan dijual sebagai rujak.

Eh? Kata rujak itu memberinya perasaan tidak enak. Fauzi pernah mengatakan sesuatu, apa ya?

“Alya, ya?” lamunannya dihancurkan oleh sebuah suara yang terdengar ragu. Alya menoleh, wajahnya yang tadi dirundung kekelaman mendadak cerah saat mengenali orang dihadapannya.

“Bang Tama! Eh, iya kan?”

Alya bisa melihat pria itu langsung tersenyum lega menyadari ia mengingatnya. Harus ia akui pribadi petugas pos ini sulit untuk diingat, kalau bukan karena ia sudah melihat dan memikirkannya lebih dulu di tempat limbah cair tadi sudah pasti ia tak akan serefleks itu.

“AKu takut salah orang tadinya” ia tertawa canggung. Alya tiba-tiba teringat dengan kertas yang ia temukan disana, buru-buru dikeluarkan dan diberikan pada pria itu.

Keduanya sama-sama terdiam, sampai Alya mengungkap tanya “Itu apa?”

“Yah, seperti yang kau lihat, cuma resi distribusi natura biasa” katanya sambil mengantonginya.

“Banyak ya?” lanjutnya. Ia sendiri agak bingung cara menghadapi orang ini. Sikapnya tak bisa diprediksi. Meski ia sendiri mengategorikannya sebagai penggugup, tapi Alya tidak sepenuhnya yakin.

“Memang, untuk persedian satu bulan sebuah instansi terpencil soalnya. Dan mereka butuh orang yang bukan amatir” Orang itu membusungkan dada. Alya tertawa mendengarnya, lumayan juga, rasanya sebagian bebannya luruh dengan tawanya.

‘Dasar tukang rujak amatiran’ entah kenapa ingatan Fauzi yang berkata begitu tadi pagi menghantamnya. Dia mengejeknya tadi pagi, sekarang lihat kondisinya sekarang.

“Ngomong-ngomong, Alya lagi apa di sini” tanya pria itu lagi.

“Oh, itu, temanku sakit” jawabnya singkat. ‘aku rasa aku melihat tukang rujak ini sebagai tukang sayur tadi pagi’

Apa yang tadi sedang dipikirkannya sebelum Bang Tama muncul ya? Rujak, Kebodohan, Mangsa, Kejahatan, oh penguntit! Ya, benar! Dimana penguntit itu sekarang?

“Dihalaman depan itu, banyak pedagang kaki lima kan?” tanya Alya.

Bang Tama mengerutkan dahi “Iya, soalnya kalau menjenguk orang kan baiknya bawa sesuatu. Alya sepertinya sedang memikirkan sesuatu ya? Sejak tadi tidak terlalu memperhatikanku”

Dia pasti di sini, penguntit itu, dia yang selalu melaporkan segalanya, entah pada Rano atau Dokter Kamil. Sekarang apa yang harus ia lakukan?

“Alya?”

“Aku harus melindungi diri” ucap Alya tiba-tiba “Eh, maaf, ucapanku melantur. Ngomong-ngomong Bang Tama lihat orang yang mencurigakan kah di sekitar sini?”

“Orang mencurigakan?” ia malah balik bertanya “Maksudnya gimana?”

“Misalnya,” Alya sendiri ragu, apa standar seseorang yang mencurigakan “Orang yang sebenarnya menyamar untuk mengawasi orang lain”

“Yang seperti itu memang ada?” pria itu tertawa kecil “Imajinatif juga ya, kau ini”

Alya meringis, manusia yang terlalu santai dengan kehidupan kadang melupakan bahwa hal-hal buruk juga bisa terjadi di sekitar mereka. Terjebak dalam delusi bahwa Tuhan tak akan menguji orang-orang baik, memikirkan itu Alya tiba-tiba merasa malu, mengingat keluhan dalam lamunannya yang sebelumnya.

Daripada itu, sebaiknya ia melakukan sesuatu. Saat ini juga. Tak ada gunanya bersembunyi bagai tikus, bahkan meski Alya tak tau wajah penguntit itu.

“Aku pergi dulu ya, Bang! Dah!”

Tama melihat Alya pergi menjauh, kelihatannya gadis itu tak ingin di usik melihat dia baru saja memasang handsfree di telinganya. Dilihatnya lagi resi natura yang gadis itu tadi berikan, sudah ia duga ada yang mengawasinya di tempat pertemuan tadi. Tapi ia lebih penasaran dengan fakta Alya yang berjalan ke arah barisan pedagang kaki lima, yang juga tak jauh dengan lapangan parkir, dimana ia baru saja melihat mobil Leon terparkir. Dan apakah itu Rano yang baru saja melewati gerbang? Tama bersiul, ia membalikkan badan ke arah gedung UGD. Bagaimana keadaan anak yang satu lagi ya?


A/N
Gilak, banyak banget ganti pov-nya, minor sih tapi tetep aja. What a wreck. saya cuma pengen buru-buru tamat huhu

7 Desember 2016

Revenge (Our Problem, #3) - Bagian 16

Rano berjalan tanpa tau arah. Pikirannya melayang pada bayangan keputusasaan di mata Gilang sebelum orang itu mati, lalu ia tersenyum masam. Langkah kakinya menjadi ragu di persimpangan, orang-orang bantuan dari Gwen sudah tidak mengikutinya lagi dan kini dia sendirian. Apa yang akan dia lakukan setelah ini? Memikirkan hal itu dia jadi sebal sendiri, lalu memilih mengambil jalur untuk kembali ke gubuk kecil mereka di tepi hutan.

Ponsel dalam saku Rano bergetar. Tapi itu bukan saku di mana ia menaruh ponselnya sendiri. Rano mengangkatnya, setelah sebelumnya mengerutkan dahi membaca nama yang tertera di sana.

“Gwen!” Leon berteriak dari seberang sambungan “Kau di sana? Maaf aku mengganggu, aku punya sedikit masalah”

Rano tidak menjawab, ia justru lebih terkejut dengan kenyataan bahwa Leon mengenal Gwen. Pria itu memang misterius, tapi Rano tidak pernah menganggapnya punya posisi sehebat itu.

“Kenapa kau diam? Oh, maaf, apa kau sedang rapat? Begini, Lily tewas—” Leon terdiam sebentar, seolah memikirkan kata-kata yang tepat “—seperti rencanaku, tapi Owl melihatnya, dan dia lari. Aku sedang mengejarnya, tapi aku tak yakin apa dia sudah menelepon polisi. Keadaannya mungkin akan sulit, bisa kau kirimkan The Gecko?”

Rano semakin tak bisa berkata-kata, apa ini? Leon menangani Lily? Bagaimana mungkin?

“Aku anggap, ya.” lalu sambungan terputus.

Rano mengerutkan keningnya lagi, apa yang membuat Leon sebegitu terburu-burunya, meminta bantuan pada Gwen, sampai ia tak sadar kalau ia baru saja menelepon ponsel Gilang? Rano mengangkat bahu. Tapi kalau Leon memang membutuhkan bantuan, kenapa ia tidak datang saja? Varanus bukannya tidak bisa setenang cecak.

Rano membuka aplikasi GPS, ia lalu memasukkan nomor ponsel Leon untuk mencari jejaknya. Dilihat dari rutenya, dia habis dari rumah Owl, tapi kemana ia akan pergi? Leon menunggu sebentar, tapi ia masih tidak bisa mendapat petunjuk, kalau ia menunggu sampai Leon berhenti, mungkin segalanya sudah terlambat. Rano menggaruk-garuk kepalanya, bingung apa yang harus ia lakukan.

Lalu terpikir suatu ide lain. Rano mengambil ponselnya sendiri di sakunya yang lain. Dia mencari-cari nomor Gwen diantara daftar kontaknya yang tidak seberapa.

“Halo?” ujarnya.

“Oh, kau sudah selesai? Tidak perlu melapor seperti ini—”

“Tadi Leon menelepon” potong Rano, ia tidak ingin membuang waktu, bukannya sengaja bersikap tak sopan pada pimpinan Lacertuor itu “Dia bermaksud menghubungimu, tapi sepertinya saking buru-burunya malah menekan nama Gilang. Dia bilang dia butuh The Gecko, apa maksud—”

“Itu saja? Kalau begitu tenang saja Rano, wah kau ini teman yang setia ya?” Lagi-lagi satu obrolan yang cepat, Gwen menutupnya. Entah kenapa kalimat terakhirnya tidak terlalu ia sukai.

Rano mendengus, ia kembali ke aplikasi GPS di ponsel Gilang. Kini dia sudah berlalu sangat jauh dari terakhir Rano melihatnya. Sudah tidak ada tikungan yang mungkin akan Leon lewati, hanya ada satu tempat yang mungkin akan jadi tujuannya, rumah sakit Mariana.

Rano mengangguk-angguk paham.

***

Alya duduk sambil diam-diam memperhatikan Profesor Owl di sampingnya, sejak tadi pria itu menghentak-hentakkan kakinya tidak sabar. Sesekali ia menjenggut rambutnya sendiri dan bergumam tidak jelas.

Alya kebetulan melihat keributan di depan gedung UGD tadi. Seorang pria dengan jubah putih menggendong seorang anak laki-laki tak akan terlalu menarik perhatiannya, jika saja anak itu bukan Fauzi. Sekarang Alya paham kenapa Fauzi tidak membalas pesannya, tapi kalau begitu siapa yang membacanya?

Sejak tadi Profesor Owl sama sekali tidak membuka mulut, ataupun memberi sedikit informasi mengenai apa yang terjadi pada Fauzi. Alya terpaksa mengira-ngira, tapi semua pemikirannya mengarah pada kesimpulan buruk, dan ia tidak menyukainya.

“Dokter Owl,” Alya memutuskan untuk mulai menyapa lagi. Sejak tadi pria itu tidak menggubrisnya, tapi sekarang setelah keadaannya lebih tenang Profesor Owl menoleh ke arahnya. Pria itu menangis. Alya merasa canggung, ia tidak terbiasa melihat pria dewasa menangis di depannya. “Maaf, tapi, apa yang—”

“Lily meninggal” Profesor Owl menjawabnya, air mata masih mengalir dari pipinya tapi dia sendiri tidak menampilkan ekspresi apapun. Ia seolah melihat ke arah lain, dan bukannya menatap Alya.

Alya mau tak mau terkejut mendengar fakta itu. Dia memang baru pertama kali ini bertemu dengan Profesor Owl, bahkan belum pernah sekalipun dengan Kak Lily. Tapi tetap saja, mendengar cerita Fauzi selama ini, dari e-mail-e-mailnya ia merasa sudah sangat dekat dengan mereka.

“Leon. Rupanya semua ini ulah Leon” dia melanjutkan sambil menegakkan badannya, tatapannya lurus ke depan walau tak pasti apa yang ditatapnya. “Tidak, Ini semua salahku, sejak dulu selalu begitu, ceroboh dan bodoh, Leon, Rano, semuanya salahku” Profesor Owl membenamkan kepalanya dalam tangannya.

Alya benar-benar bingung. Bukan berarti dia sebodoh itu tidak mengerti kata-kata Profesor Owl. Tapi siapa Leon yang ia maksud? Orang yang sama dengan yang di sebut para pencuri limbah rumah sakit itu? Dia yang mendalangi semua ini? Tapi apa yang sedang terjadi? Rano? Orang itu punya hubungan dengan Rano?

“Aku ...” Alya tak tau apa yang harus ia lakukan “ada yang bisa aku bantu?” dan bukan maksudnya untuk mendapat jawaban langsung dengan bertanya.

Seorang pria berjubah putih keluar dari pintu dihadapan mereka. Ia menggosok kacamatanya dengan gugup. Lalu menghampiri Profesor Owl dengan tatapan iba. “Kau tidak baik-baik saja, Owl” sahutnya.

“Dokter Agung,” Alya menyapanya. Pria itu adalah dokter yang mengurus Faiza sebelum Dokter Kamil menggantikannya, dari cerita Faiza, Alya tau dia pria yang bisa dipercaya “Bagaimana Fauzi?”

“Aku bisa beri penjelasan medis, tapi intinya dia akan baik-baik saja” ujarnya.

Alya menghela nafas lega, “Kalau begitu, aku akan pergi ke ruangan Faiza untuk mengabarkan ini”

“Alya, kau tadi bertanya soal apa kau bisa membantu” Suara serak Profesor Owl terdengar dipaksakan, “Bisakah kau pulang dan melupakan apa yang sedang terjadi?”

Tapi anehnya, dengusan eras justru datang dari Dokter Agung “Berhenti berpikir kau bisa mengatasi segalanya sendiri, Owl. Kau tidak bisa, dan bukan maksudku untuk menyakitimu dengan mengatakan hal itu. Masalah ini sudah terlalu serius, tak ada gunanya menyembunyikannya lagi”

“Baiklah” Alya menginterupsi dengan ragu “sekarang aku benar-benar bingung”

“Kau tak akan mau mengatakannya sendiri kan? Baiklah, aku yang akan lakukan, dan jangan coba-coba menghentikkanku” Dokter Agung berbalik, lalu berdiri di depan Alya. Meski wajahnya jauh dari ramah entah mengapa dia tidak terlihat menakutkan “Alya, alasan Owl berusaha mencegahmu pergi ke ruangan Fauzi adalah karena ia sudah tak ada di sana”

Alya lagi-lagi tergagap karena keterkejutan, ‘Faiza?’ Tanyanya dalam hati, lalu cepat-cepat menambahkan ‘juga?’ Pikirannya dibanjiri oleh ide bagaimana kejadian buruk yang menimpa teman-temannya berhubungan. Aldo hilang di rumah Dokter Kamil, Fauzi keracunan saat bersama Dokter Kamil, dan Faiza hilang saat dokternya Dokter Kamil, ‘semua ini ulah Leon’ ‘Leon akan membunuhmu, bung’ “Biar kutebak,” ujar Alya ragu “Dokter Kamil adalah Leon?”

“Lihat, Owl, anak-anak ini, mereka tidak bodoh”

A/N

Saya dalam urgensi menyelesaikan kisah ini secepatnya. Desember memang selalu menyeramkan. Doakan saya.

26 November 2016

(Review) Hyōka

imgsrc

Saya bener-bener suka sama anime ini.

Begitu beres nonton episode terakhirnya, saya bengong beberapa saat dan menghela nafas. Hal yang biasa terjadi ketika mengkhatamkan sebuah dunia imajinasi yang bagus. Seandainya ia buku, mungkin saya malah bakal meluk terus di bawa tidur. Sayang resiko bawa tidur laptop itu besar. Jadi yang saya lakukan adalah memimpikannya. Lumayan juga, seenggaknya saya gak perlu mimpiin film horror yang baru saja saya tonton di hari yang sama waktu itu.

Oke, Hyōka, alias Ice-cream, menceritakan kehidupan seorang siswa SMA Kamiyama bernama Oreki Hōtarō yang punya  motto hidup untuk tidak melakukan hal yang tak perlu ia lakukan dan jika ia harus melakukn sesuatu, dia akan melakukannya dengan cepat. Untuk alasan itu, dia tidak terlalu menonjol diberbagai bidang kehidupan.

Tapi suatu hari ia mendapat surat dari kakak perempuannya yang sedag berada di India. Bahwa, sang kakak mendengar klub Sastra Klasik SMA Kamiyama akan segera dibubarkan karena mereka tidak punya anggota. Sebagai mantan anggotanya, Oreki Tomoe tidak ingin hal itu terjadi. Maka ia meminta Hōtarō agar mau menjadi anggotanya. Hōtarō juga tak bisa menolak, ia tahu benar kakaknya jago beladiri taiho dan aikido.

Namun rupanya, begitu sampai di ruangan Klub, ada seorang gadis yang sudah datang bernama Chitanda Eru. Putri satu-satunya keluarga Chitanda yang punya rasa ingin tahu yang tinggi. Dia memasuki Klub Sastra untuk sutau alasan pribadi. Hōtarō sama sekali tidak terganggu dengan keberadaannya, tentu saja, rasa ingin tahu gadis itu selalu membuatnya melakukan hal-hal merepotkan. Mulai mengenai misteri bagaimana Chitanda bisa terkunci di ruangan klub, lalu misteri mengenai rahasia Klub Sastra Klasik 45 tahun lalu, dan lain-lain. And you how the story goes then.

Pertama, saya nyesel banget kenapa baru nonton anime ini sekarang. Padahal keberadaanya udah cukup lama—2011-2012—dan saya juga bukannya gak tau. Seenggaknya, setiap nyari resensi A.B.C Murders pasti ada yang ngomongin ini. Bahkan beberapa orang yang saya tau juga suka fiksi-detektif pernah ngomongin anime ini di twitter.

imgsrc

kayaknya dulu saya pernah liat ada yang posting foto ini di twitter, lupa siapa
back then, all I was thought is what a weird anime, turns out it symbolize Hōtarō interest in Chitanda

Lalu ngomong-ngomong tema. Yup, Hyōka punya tema umum detektif, dalam balutan kisah school-life dan minim romance. Ini tema yang jarang banget yang saya tonton—maksud saya school-life—soalnya, ujung-ujungnya romance. Dan bukan berarti saya sebenci itu sih sama romance, tapi seringnya alurnya ketebak dan yaah, pokoknya bukan cangkir teh saya.

Nah, Hyōka ini, selain karena minim romance—tapi ada kok, tenang aja—nuansa detektifnya kental banget. Dan salutnya, masih realistis karena karakter-karakternya cuma memecahkan misteri biasa dan bukannya pembunuhan. Maksud saya, saya selalu minder ketika karakter fiksi seumuran saya melakukan hal diluar logika seolah itu mungkin, tapi bukan berarti yang dilakukan Oreki dkk ini juga mungkin sih, tapi seenggakknya gituu. Eh, tapi salah saya juga sih yang bogoh pisun sama genre fantasi.

Dan hal lain yang bikin saya suka sama anime ini adalah banyak banget referensi ke Agatha Christie (yeah, I knew, I’m so lame, and sentimental) mulai dari salah satu judul arc-nya “Why Didn’t She Ask EBA” yang merupakan plesetan dari Why Didn’t They Ask Evans serta jelas-jelas di arc-“Welcome to KANYA FESTA!” yang mengambil referensi dari ABC Murders. Saya seneng juga karena bukunya gak di spoiler waktu Houtarou nanya Mayaka tentang isinya. Satu lagi juga, di ending sebelas episode terakhir, yang Mayaka-nya cosplay jadi Poirot dan latar-nya judul-judul novel-novel misteri terkenal.

I’m such a those annoying gurl, aren’t I?

Meski sederhana, pemecahan kasus-kasusnya sendiri tidak terduga lo. Walau untuk arc “Why Didn’t She Ask EBA” dan “Welcome to KANYA FESTA!” itu saya langsung tau apa motif ‘pelaku’nya, yah, kalau ide utamanya udah tau dari novel Agatha Christie, kan tinggal nebak apa sebenernya keinginan pelakunya kan? Tapi cuma sampe motif sih, saya gak pernah berhasil ikut tahu siapa pelakunya. Dan saya terkejut sendiri rupanya saya suka sama permainan kata-kata dan pemecahan trik di cerita detektif, alih-alih sekedar analisis psikologi-nya.

Karakter-karakternya, juga, yaampun saya cinta sama karakter-karekternya.

Dan bukan karena mereka sempurna, justru sebaliknya, karakter-karekternya realistis. Semuanya punya kekurangan, dan dengan begitu ceritanya berjalan. Saya akhirnya tau darimana ide karakter ‘gak suka bersosialisasi’ di LN wattpad itu muncul, walau saya rasa mereka berlebihan. Tapi ya, karakter Hōtarō yang sering dijadiin ikon depresi di tumblr ini—gak juga sih—memang bisa di relate ama banyak orang ya? Terutama bagi para introvert yang mempertanyakan apa kesendirian mereka sungguh pilihan mereka sendiri atau diberikan orang-orang? Dan kalau itu pilihan, kenapa?, pun kalau orang-orang yang memberikannya, kenapa? (saya ovethingking, maaf)

Hubungan dan perkembangan karakternya juga menarik. Saya tadi bilang minim romance, kan? Dan dengan begitu maksud saya adalah romancenya nyesek. Berbeda dengan SG, perkembangan hubungan Hōtarō-Chitanda ini halus banget, nyaris gak keliatan. Juga Satoshi-Mayaka yang bener-bener gak bisa saya pahami. Perkembangannya, terutama Hōtarō, yang dari apatis mulai peduli dan menurut saya ... apa ya istilahnya, I can’t even, too many feels.

Daritadi ngomongi Hōtarō mulu. Habis gimana ya, dualisme karakter Chitanda, sikap Satoshi—akhirnya saya ngerti kenapa dia gak ngedippin mata sebagai pemanis di lagu ending kedua—dan perasaan Mayaka, bahkan karakter misterius Tomoe—yang wajahnya gak pernah muncul bagai Mrs. Bellum di Power Puff Girls tapi perannya seperti yang disebut Poirot sebagai “setiap detektif hebat punya saudara yang sebenarnya lebih jenius dari mereka”—. Banyak yang bisa dibahas, tapi saya bingung mulai dari mana. Mungkin kalau kalian nonton kalian bakal ngerti, atau enggak? Karena gak ada orang yang pernah membaca buku yang sama, apa ini juga berlaku dengan anime?

Yah, saya yang sama sekali awam soal hal ini cuma bisa komen itu aja.

Ngomong-ngomong, saya juga sempat tertohok sama salah satu bahasan tentang ‘bakat’-nya Hōtarō. Hal ini bahkan di bahas dua kali di dua arc yang berbeda. Betapa orang-orang yang berbakat malah menyia-nyiakan bakatnya dan membuat sakit hati mereka yang berusaha memiliki kemampuan itu. Saya inget betapa saya bingung sama perasaan saya sendiri ketika temen nunjukkin gambar buatan dia—yang bagus sekali—dan bilang kalau itu adalah pertama kalinya dia ngegambar orang. Atau seorang penulis—wattpad yang bukunya dibaca ratusan kali—yang ngaku kalau dia gak suka baca. Sejak saat itu saya terang-terangan bilang kesal atau iri ketika menunjukkan kekaguman.


Tapi pada akhirnya kita gak pernah bisa mengubah orang lain kan? Maksud saya, lebih baik fokus pada diri sendiri, bersyukur dan melakukan yang terbaik yang kita bisa. Apa kata orang? Hasil tak pernah mengkhianati usaha.

ōōōōōō

19 November 2016

(Review) Steins;Gate


Pendahuluan


Pada dasarnya, saya suka kisah fiksi, entah apa bentuknya. Baik itu, novel, film, bahkan sekedar klip. Dan beberapa waktu ini saya tertarik dengan anime. Yaah, gak bisa dibilang baru-baru ini juga sih, soalnya kebiasaan nonton anime ini kebetulan ‘pernah’ difasilitasi stasiun lokal kita ter’cinta’. Kalian ngerti lah maksud saya, walau itu artinya memang gak terlalu spesial.

Meski begitu, tetap saja, hobi satu ini gak terlalu banyak peminatnya. Maksud saya, kalau-pun ada saya gak yakin saya bakal dapat tempat. Kebiasaan mengkategorikan manusia dengan teror masa lalu soal ‘fake-fans’ mencegah saya bercerita pada siapa pun. Untungnya ada ‘Ai yang sudah lebih dulu ‘menggilai’ bidang ini sebelumnya, dan saya bertemu teman baru bernama Dewi.

Sayangnya, karena kami bertiga beda kelas semua dan memang gak seakrab itu jadi susah kalau mau diskusi—what?—lagipula sama seperti kecintaan saya pada buku, perbedaan genre favorit kadang jadi halangan. Akhirnya saya fangirling sendirian, dan itu gak enak.

Sebenernya solusinya mudah aja, saya tinggal tuangkan dalam tulisan sebagaimana biasanya. Tapi moral saya terganggu dengan kenyataan bahwa akses saya menonton anime ini illegal. Ya, saya download file gratisnya di Internet. Saya yang sering koar-koar tentang buku bajakan ini download file illegal di Internet.

Saya dilemma, merasa gak pantes komen tapi sekaligus bergolak soal anime yang saya tonton. Rasanya bakal gila—yah, gak juga sih—jadi, setelah mencari beberapa pembenaran, saya akhirnya menaruh sisi sok idealis saya dan mulai menulis. Toh, yang satu ini juga penting sebagai klarifikasi.

Sebelumnya, saya ingatkan lagi kalo saya sama sekali gak pro dalam hal ini. Saya bahkan gak nonton terlalu banyak, jadi kalau kalian baca postingan ini buat cari review berkualitas, kalian salah tempat.

Steins;Gate

Oke, langsung saja. Saat ini, ketika saya menulis ini, saya baru saja menamatkan OVA dari Steins;Gate.

Ya, saya tau ini anime lama, dan saya juga tahu masih ada satu episode 23b yang belum saya tonton. Soal satu episode itu, sengaja gak saya tonton dulu karena saya gak mau bias sama cerita aslinya. Dan soal kenapa saya nonton ini ... jadi gini.



Saya pernah menulis cerita bertema time-traveler berjudul Tujuh Detik Menghilangnya Aku yang merupakan fan-fiksi dari kasus Agatha Christie’s Missing Eleven Days. Lalu salah satu pembaca wattpadnya bilang begitu. Dan ternyata setelah saya browsing itu sebuah game yang di adaptasi jadi anime 2011 lalu. Bahkan meski sudah tau fakta ini lumayan lama, saya baru menyempatkan diri buat nonton bulan November ini. Lagipula, saya baru namatin Erased, yang punya tema time-traveler dan rasanya bakal bosen nungguin episode Bungou Stray Dogs season 2 yang tayang seminggu sekali.

Jadi saya menonton.

Kesan pertamanya, sejujurnya gak begitu bagus, visualnya gak memukau Erased yang baru saja saya tamatin (dan ini saya maklumi mengingat tahun produksinya) dan saya syok sama karakter dan ceritanya yang, sumpah gaje parah. Padahal saya udah masang ekspektasi tinggi gara-gara banyak yang bilang ini anime bagus dan masuk juga dalam Anime Recommendation-nya Dan Howell. Tapi itu bagus juga sih, saya akhirnya nurunin ekspektasi untuk terpukau setelahnya.

Hal pertama yang saya ngeh waktu nonton sih tentang betapa miripnya karakter-karakternya sama Anime When Supernatural Battles Became Commonplace, bukan berarti saya nuduh njiplak ato begimana (apalagi WSBBC masih baru-baru ini). Malah sebaliknya saya malah seneng gara-gara ngerasa ketemu temen lama. Yang mirip tuh, jelas karakter utamanya, Okabe yang mirip Andou, sama-sama chuunibyou tapi rela berkorban. Lalu, Kurisu dan Tomoyo, yang sama-sama tsundere, malah dua-duanya sama-sama berambut merah. Mayuri bahkan bisa dimirip-mirip sama Hatoko.


Ada elemen lain juga sih, semacam nama Kiryuu tapi ini gak penting. Dan yang paling saya suka juga koneksi antara anime ini sama Bungou Stray Dogs  dan Erased. Atau mungkin tepatnya sama sastra Jepang secara umum. Soalnya BSD itu memang udah jelas-jelas pake nama-nama sastrawan dan karya-karya mereka, yang akhirnya bikin saya penasaran. Dan melihat banyak elemen sastra di anime ini, bikin saya salut sendiri sama penghormatan budaya orang Jepang.

Yang saya maksud ini lo. Pertama, nama Rintarou yang jadi nama tokoh utama, lalu seiyuu Dazai ternyata sama dengan Okabe. Dan Akutagawa. Yang nonton BSD pasti tau tokoh jahat tapi kesannya kayak korban ini. Kekuatannya di sebut Rashomon yang juga adalah judul karya terbesarnya. Dan ternyata setelah saya cari, ada pula karya lainnya yang berjudul Kumo no Ito

Kumo no Ito

Dan hal ini jadi salah satu elemen penting di Erased, dan bahkan disebut juga di SG. Kecil sih, tapi tetep aja akhirnya saya jadi searching sana-sini dan dapet ilmu (ceilah). Ngomong-ngomong soal laba-laba, baik Erased dan SG sama-sama menampilkan kupu-kupu. Awalnya, saya juga pikir itu Cuma gara-gara laba-labanya. Tapi ternyata, olala, ada hubungannya sama hukum fisika.

Bener-bener deh.

Untuk ceritanya sendiri, seperti yang sudah saya bilang. Episode awalnya cukup mengecewakan, tapi setelah paham karakternya menonton episode berikutnya jadi tidak sulit. Sampai episode sepuluh, kalau tak salah, kisahnya masih berputar di pengumpulan karakter dan masalah. Dan khasnya anime, karakternya gak imbang dan ujung-ujungnya harem.

Tapi di episode sebelas, ketegangan mulai meningkat dan kisahnya menampilkan apa yang bisa diharapkan dari cerita time-traveler. Bahkan saya mengangkat pesan yang sama di cerita time-traveler saya itu. Keegoisan manusia yang menentang waktu itu salah. Kalau dalam 7DMA, semuanya jelas salah diciptakannya mesin waktu. SG, lebih spesifik soal salahnya ingin mengubah takdir. Pada akhirnya dia harus menghadapi penderitaan dari keegoisannya, dan berjuang dengan keegoisan yang lebih besar.

Intinya, saya suka banget sama anime ini. Meski romance antara Kurisu dan Okabe kurang kerasa perkembangannya, juga visualnya itu. Tapi tetep aja, dari segi cerita, permainan emosi, dan sisi sci-fi nya, gak salah banyak yang muji anime ini.

Akhir kata, saya kok bingung sendiri ini review macam apa, alih-alih nilai animenya malah cerita gimana perasaan saya pas nonton. Ah, tapi kan kalian liat label pos ini ngalor-ngidul, jadi bebas laaah.

***

Beberapa menit setelah selesai nulis ini, saya nonton episode 23b, dan akhirnya inget beberapa hal yang ingin saya tambahin. Saya memuji betapa saling terkaitnya semua tokoh baik minor maupun mayor dalam anime ini, nyaris tak ada yang sekedar cuma lewat doang.

Dan episode 23b ini, mungkin semacam pemuas untuk semua shipper Mayuri dan Okabe alih-alih Okabe dan Kurisu ya? Memang sih, seperti yang saya sebut sebelumnya, perkembangan romance antara Okabe sama Kurisu ini kurang halus, terkesan tiba-tiba. Lagipula, inti perjuangan Okabe kan menyelamatkan Mayuri dari ‘takdir’ kematian. Jadi kalo jadinya sama Kurisu emang agak aneh. Tapi teuteup, ending 23b malah lebih rese dari 23a, saya bahkan gak ngerti apa maksudnya itu.

Ngomong-ngomong, liat kedua episode beda versi ini bikin saya jadi mikir soal keajaiban niat. Motivasi Okabe di 23a, kan dirinya di masa depan, dan dirinya di masa depan itu kan gak bakal ada kalo gak ada dia di masa sekarang. Dengan kata lain, keberhasilannya di episode 23a itu sebenernya karena ada setitik harapan juga meski keliatannya dia udah putus asa banget, sedang di 23b itu... yaah, itu balasan Mayuri dari perjuangan Okabe selama ini kan.

Kalau secara logika, saya lebih suka berakhir di episode 23b, soalnya ya memang lebih rasional (tapi tetep aja, apaan coba endingnya itu). Tapi karena sebenernya, jauh dilubuk hati saya ini drama-queen, 23a yang menang.


Tapi serius lo, niat itu luar biasa ya.

12 November 2016

Speech from the Useless

salaaah

Peringatan : Aura negatif. Mungkin bukan sesuatu yang mungkin layak di publikasikan, tapi seri label MUSTRA SMAN1C harus punya akhir yang dramatis.

28 Oktober sudah dipastikan menjadi pentas terakhir kelas XII di ekskul angklung semenjak kabar bahwa bimbingan belajar intensif akan di mulai sejak November. Dan saya punya alasan kenapa LPM acara itu tidak saya buat seperti biasanya. Alasan yang pertama, sebab fokus saya terbagi dengan acara inti kegiatan pada hari itu. Gebyar Literasi apalah itu, namanya panjang banget saya gak hafal.

Literasi, ya? Seharusnya ini membangkitkan minat saya dong? Memang, banget malah. Apalagi saya ikut lomba resensi. Tapi secara keseluruhan saya kecewa. Acara yang diwarnai dengan kegiatan wirausaha itu banyak membawa stress dan bikin saya ngerasa bersalah kalau harus bahagia karena alasan pribadi. Selain itu, entahlah, saya hanya tidak bisa merasakan kalau acara itu adalah acara literasi. Terlalu banyak musik, ice breaking, dan tetek bengek lainnya.

Sementara untuk penampilan angklung saat itu sendiri, saya tak bisa berkomentar banyak. Ada kebanggan tersendiri karena untuk pertama kalinya semenjak saya menjabat, penampilan itu di kondekturi oleh Icha. Walau kenyataan menyakitkan bahwa itu mungkin pengalaman pertama dan terahir bagi saya. Tentu faktor ini juga menyebabkan aransemen kami tidak sehebat gubahan Kak Uji, bahkan konon hal ini menjadi suatu masalah tersendiri, yang kemudian ngebuat saya agak sakit hati (tapi saya yakin ini cuma salah paham aja). Tapi tetap saja, itu pengalaman yang berbeda. Pengenalan pertama pada anak kelas sepuluh dengan makna digeder, serta saringan siapa yang benar-benar—apa istilahnya—setia(?).

Tapi yang mau saya bahas di sini bukan hanya kejadian tanggal 28 Oktober itu. Saya mau ngomel, bongkar aib, serta mengeluh soal sepuluh bulan terakhir.

Menjadi ketua angklung, jujur saja, memberi dampak buruk bagi hidup saya.

Semenjak pertama kali menjabat, saya sadar saya memegang sebuah tanggung jawab yang gak kecil, tapi saya benar-benar gak tau sama-sekali tentang apa yang harus saya lakukan. Hubungan saya dengan kakak kelas maupun adik kelas saat itu, benar-benar kaku. Lalu ketika semua tidak berjalan dengan baik, saya depresi.

Ditambah lagi, saya dikeliling orang-orang hebat. Apa ya? Ada isu kalau kreativitas jarang sejalan dengan eksak. Omong kosong! Orang-orang disekitar saya ajaib, dan saya merasa terpencil karena isu itu berlaku pada saya. Awalnya, saya merasa sendirian, orang-orang pergi mengurusi urusan mereka sendiri. Tidak peduli. Bahkan meski saya berteriak. Dan saya tidak bisa marah, saya ingin memarahi yang pergi, bukan yang susah payah datang dan menghabiskan waktu.

Tapi seiring waktu saya sadar, saya hanya mengurut kepala tanpa melakukan apapun. Orang-orang sibuk, menunggu, dan saya hanya mengeluh. Ah, tapi bukankah saya sudah bilang kalau sejak awal saya bahkan gak tau apa yang saya lakukan?

Ini pembelaan diri, saya tidak menyangkalnya. Pengetahuan saya tentang musik sama sekali nol. Saya bahkan gak ngerti kenapa saya bisa terpilih, atau bahkan di calonkan sekalipun. Oke tidak sepenuhnya, saya bisa menebak, mungkin Kakak kelas merasa akrab dengan wajah saya sekalipun saya tak pernah bicara dengan mereka. Mungkin kontak pesan humas penuh karena saya terus menerus menanyakan kepastian. Atau mungkin ada yang mampir ke LPM penuh protes dan ingin balas dendam. Tapi tetap saja, saya bukan orang yang cocok sama sekali malah untuk jabatan ini.

Lalu, overthingking saya bilang kalau saya ini adalah apa yang mereka sebut sebagai Kuda Hitam. Supaya calonnya tiga lagi, seperti tahun lalu, atau entahlah, saya punya perasaan kalau mereka sendiri tidak seniat itu mencalonkan saya. Hanya saja, ayolah, semua anak kelas XI saat itu pasif. Jadi tak ada pilihan, belum tentu dia kepilih juga.

Itu suudzon parah, tentu saja. Maaf ya kak.

Seperti yang saya bilang, Menjadi ketua angklung, memberi dampak buruk bagi hidup saya. Tapi bukan dalam arti yang jelek. Itu seperti sebuah kritikan yang membangun, hukuman yang mendidik, obat pahit untuk si sakit. Tapi tetap saya tidak enak, apalagi sepuluh bulan.

Saya sudah tau kalau namanya berharap pada manusia itu sia-sia. Tapi sepuluh bulan ini saya terus menerus ditampar oleh fakta ini. Manusia, benar-benar makhluk yang sulit dimengerti. Entah bagaimana mereka merasa bisa melakuan segala sesuatu yang mereka mau. Di satu saat mereka berkata dengan mulut berbusa tentang solidaritas, tanggung jawab dan integritas. Disaat lain, dengan entengnya menginjak semua itu dengan alasan sepele.

Saya membicarakan soal datang latihan sesuai jadwal. Tentu semua orang mempunyai prioritas, dan saya tidak sekejam itu untuk tidak mentolerirnya. Saya paham jika ada kegiatan osis yang bentrok, ada yang sakit, ada kerja kelompok, bahkan kegiatan ekskul lain yang lebih keren. Tapi ngantuk? Males? Mau nonton film? Mau beli novel? “ntar aja kak kalo ada event”?

Bahkan dengan semua kebobrokkan saya di bidang musik, saya punya alasan kenapa masih bertahan. Kalian pernah dengar kata punah? Dinosaurus punah, burung dodo punah, orang jepang yang memiliki kemampuan ninja hanya tinggal satu orang. Dan bukan hal fisik saja, banyak ragam bahasa dan budaya punah hanya karena sudah tak ada yang pengikutnya lagi. Manusia tidak akan pernah melihat mereka lagi. Ah, memang kenapa? Ini jaman modern, yang kuno-kuno memang lebih baik hilang saja.

Budaya adalah harga diri bangsa. Hal terakhir yang bisa kita korbankan untuk gengsi. Lagipula, kuno dan modern itu masalah perspektif saja. Saya tidak menampik banyak yang salah dengan negara kita, tapi bukan berarti kita gak bisa berbuat apa-apa. Kita bukan sekedar penerus bangsa. Kita adalah pembangun bangsa, saat ini, detik ini juga, tak perlu menunggu untuk berkarya.

Bermain angklung itu sederhana, dan itulah kenapa saya memilih masuk ke ekskul ini. Mempertahankan budaya. Saya tidak mau jadi orang munafik yang menulis ini di salah satu tugasnya dan tidak melakukannya.

Tapi apa yang saya bisa harapkan dari manusia? Saya tidak bisa berharap bahwa semua orang sejalan dengan saya, mempunyai niat mulia mereka masing-masing ketika mendaftar alih-alih menjadi orang yang numpang tenar dengan ikut tampil tiap ada event.

Namun saya bersyukur menemukan emas diantara kubangan lumpur. Selalu ada hikmah dalam setiap kejadian bukan? Dan saya rasa inilah dia. Di saat-saat tersulit, kita tau siapa teman sejati. Dia yang tak pernah memperkeruh suasana dengan ikut mengeluh, dia yang tidak mendorong terlalu jauh, alih-alih melebarkan tangan siap menangkap kala jatuh. Orang yang mengerti, bahkan menghargai prinsip hidup saya yang sok  idealis ini. I’m really glad to meet them.

Akhir kata saya hanya ingin minta maaf dan terimakasih, orang bilang dua kata ini sebaiknya tidak disatukan, tapi biarlah.

Maafkan saya yang tidak berguna ini, maafkan saya yang tidak berguna ini, maafkan saya yang tidak berguna ini. Maafkan juga kata-kata menyakitkan yang terlontar dari post ini, kalian boleh sebut saya pengecut sebab tidak menyatakannya secara langsung, tapi kemampuan verbal saya memang rendah, dan, ya, saya memang pengecut.

Selain itu terima kasih. Untuk kalian yang menghargai prinsip saya, untuk kalian yang menghargai saya, untuk kalian yang meluangkan waktu da tenaganya untuk kepentingan bersama. Terimakasih banyak.

Kita pembangun bangsa, benar? Pikullah beban itu seperti saya memikulnya, jangan dianggap enteng, saya mohon. Sudah cukup banyak yang meremehkan budaya, terlalu banyak. Dunia ini jahat, dan saya tak tau bagaimana mengubahnya, tapi semoga dengan kebaikan-kebaikan kecil kita, kita bisa mempercantiknya laksana bintang di gelap malam.

N.B

Saya sudah mikirin struktur pos ini sejak lama sekali. Dan karena baru ditulis hari ini, saya melupakan banyak hal.

Not really, but you get what I mean

Butuh beberapa waktu sebelum saya bisa tenang, setelah menghadapi satu lagi pemandangan menyebalkan. Biasanya gak selama ini sih, tapi mungkin karena terasa anti-klimaks saya jadi lebih emosional.

Daripada itu, saya ingin mengklarifikasi beberapa hal. Tentu, menjadi terpilihnya saya menjadi ketua angklung mungkin sebuah kesalahan. Tapi yang paling penting, saya gak menyalahkan siapa pun. Lalu, pada akhirnya semua ini sudah terjadi, dan bagian dari takdir hidup saya. Jadi, lets get over from this whining rn, shall we?

Kamu sebenernya mau ngomong apa sih, fat? Begini-begini, setelah perasaan saya membaik, saya kembali memikirkan semuanya perihal mustra ini. Saya tau, itu mungkin bukan pilihan yang bagus mengingat saya mungkin bisa kepikiran lagi, tapi kali ini saya memandangnya dengan sudut yang berbeda.

Sama seperti setiap saat saya menyetrika baju SMA, the thought of ‘sh*t, I AM at the end of HS’ pops up and gave me exsistential crisis. Tapi hal ini sekaligus memaksa saya flashback tentang apa saja yang sudah berlalu, untuk apa saya membuang waktu selama ini.

Waktu sertijab kemarin, Icha bilang sesuatu tentang “seharusnya ini acara sedih, soalnya kek Fatiah bukan ketua kita lagi” saya hanya meringis tentang betapa ironisnya kata-kata itu. Sebab saya sejujurnya senang pada akhirnya bisa bebas dan tidak menciptakan lebih banyak kekacuan, dan saya yakin justru itulah yang terbaik untuk mustra. Tapi setelah dipikir-pikir saya seharusnya memang sedih, namun bukan karena saya bukan lagi ketua. Simply, karena saya bukan lagi bagian dari mustra.

Saya bukan lagi bagian dari mustra, saya mengalami jeda dalam sebuah misi melestarikan budaya, malah mungkin akan menjadi pengkhianat saat bergabung dengan industri kimia suatu saat nanti (aamiin). Dan itulah saat saya akhirnya merasa amat bersyukur tanpa merasa perlu dikasihani.

Maksud saya, bagaimana akhirnya saya bisa bergabung dengan mustra saja bisa disebut lucu. Di formulir pendaftaran sekolah saya hanya melingkari pilihan Pramuka dan Rohis sebab kedua hal itu memang wajib. Tapi ketika diminta memilih ekskul lain, saya bahkan tidak memilih mustra. Wait, what?

Benar pemirsa, saya tidak memilih mustra, sebab memang tidak ada pilihannya. Kamu milih apa, fat?—err—saya milih padus—dengan niat busuk gak bakal ikut—Lalu saya amaze terhadap sebuah penampilan pas demo ekskul.

Waktu itu tim angklung kolab bareng padus, dan itu kereeeen. Saya bertanya pada Hania mengenai pilihan ekskulnya, dan dia jawab belum tau. Lalu, entah siapa yang lebih dulu mengusulkan, kami sepakat untuk ikut angklung. Tapi, eh, tapi kok ini gak ada brosurnya? Mana brosurnya, mana?

Maka dengan hopeless, kami memutuskan ikut degung. Seandainya kami sedikit lebih pandai bahasa Sunda, kami gak akan sesedih itu sebab di brosur degung itu jelas-jelas tertulis kalau di degung juga belajar angklung.

Di kelas saya saat itu, X-3, rasanya hanya saya sendiri yang ikut degung. Sampai dalam suatu pelajaran BK, seseorang menghampiri meja saya dan menyapa dengan gaya ramah. Kira-kira dia berkata ‘hai! Ikut degung juga? Nanti sabtu bareng ya!’ dan orang itu tak lain-tak bukan adalah ... jeng-jeng-jeng Mbip!

Tak lama, saya bertemu orang-orang lain dan menawarkan fotokopian brosur degung itu lagi (saya gak ingat kenapa saya bisa punya banyak) Dan hari sabtu akhirnya datang dan kami latihan pertama kali. Suasananya canggung banget waktu itu. Tapi yah, saya seneng belajar hal baru. Saya menyentuh jenglong untuk pertama kalinya seumur hidup dan semua soal koordinasi dan struktural ini bikin saya merinding gak jelas—in a good way, of course—.

Sayang latihan degung itu gak lama, karena kita lalu belajar angklung juga. Dan waktu itu juga sama berkesannya. Hujan deras banget di luar, jadi meski jadwal latihan udah lewat kita masih desek-desekkan main angklung di rukes sman1c yang lama. Kondekturnya Kak Asha waktu itu, kita main lagu-nya Bruno Mars sama Geisha.

Ngomong-ngomong latihan buat pertama angklung saya dulu juga rasanya berkesan banget. lagunya Ignorance sama lgu Kotak, saya lupa judulnya. Terutama ketika waktu saya pulang dan tertidur di angkot, saya kira saya kecapean banget nyampe mimpiin lagu itu. Padahal emang angkotnya muter lagu itu.

Terus juga tampil di perpisahan yang riweuh gila. Saya lupa bawa ciput ninja item akhirnya harus relain ciput biasa saya di robeek. Atau karena ngantri make up dsb. Pas sertijab tahun sebelumnya juga lucu banget. Kak Asha hebat banget promosinya, saya sakit perut kalau inget.

Yaah, yang mau saya bilang cuma. Meski saya baru aja ngungkapin stress selama setahun terakhir. Saya gak lantas ngelupain semua hal seru yang udah saya alamin selama dua setengah tahun ini.

Dan justru semua yang gak enak itu yang bikin yang enak jadi lebih nikmat kan? Maksud saya, setelah pusing mikirin ini-itu pas persiapan, atau kesal karena keterlambatan, atau dag-dig-dug menunggu panggilan, atau apapun perasaan negatif itu, begitu naik panggung liat semua orang ngeliatin kita dan sadar kalo kita udah ngelakuin semua yang kita bisa, yaah, it’s literally a good feeling.


Saya bersyukur bisa masuk mustra, saya bersyukur bisa ketemu sama banyak jenis orang serta banyak jenis perasaan, dan itulah hal paling penting yang dunia perlu tau.